NovelToon NovelToon
Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Tuan Putri Manja Dan Dua Pangeran Penakluk Hati.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Godaan yang tak bisa di tolak.

Setelah beberapa saat Rion memijat Kedua kakinya, akhirnya Zinnia memintanya untuk berhenti. Bukan karna merasa tak nyaman tapi dia mulai merasa kakinya lebih baik, dan ringan.

" Rion, kurasa sudah cukup.. Terimakasih.. sekarang Kakiku terasa lebih baik. "

" Apa pijatanku tak enak? "

Zinnia tersenyum terkekeh.

" Lumayan.. Untuk orang sepertimu.. " Balas Zinnia sambil melompat turun dari atas meja kerja, berdiri tepat di hadapan Rion yang masih berjongkok, lalu memeluk leher lelaki itu erat sekali, tubuhnya menempel rapat sambil merengek dengan nada paling manja yang dia bisa keluarkan.

" Aku lapar. "

Rion mengangkat wajahnya, melihat perubahan drastis dalam waktu singkat itu, dia sampai menggeleng-geleng kepala tak habis pikir, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum. Dia sudah mulai terbiasa dengan perubahan suasana hati gadis ini, dan anehnya dia tak pernah merasa kesal atau jengkel sama sekali.

" Baiklah, aku pesankan makanan. Mau makan apa? "

" Apa saja yang penting aku kenyang asal jangan batu dan kayu.. " jawab Zinnia cepat, masih memeluk erat leher Rion.

Rion terkekeh mendengar jawaban itu, suaranya rendah dan terdengar hangat. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan memesan berbagai macam makanan dari restoran terbaik langganannya.

" Dan jangan lupa buah strawbery.. Dan aku mau gratis semuanya. " tambah Zinnia lagi, memanjatkan permintaan dengan nada makin manja seolah sedang menawar di pasar.

" Ia.. ia.. " Balas Rion pasrah, tak ada sedikitpun keberatan di nada bicaranya. Apapun yang gadis ini mau, apapun yang dia minta, akan dia berikan secepatnya.

Beberapa menit kemudian semua pesanan sudah terkonfirmasi dan tinggal menunggu datangnya saja. Rion bangkit berdiri, menarik tangan Zinnia yang masih bergelayut manja di lehernya, kemudian mengangkat gadis itu untuk akhirnya duduk di sofa besar di sudut ruangan. Tapi gadis itu tak mau diam. Begitu duduk sebentar, dia bangkit lagi, berjalan kesana kemari melihat-lihat isi ruangan itu, berputar-putar seperti anak kecil yang baru masuk ke tempat baru.

Dan dia melakukannya tanpa alas kaki sama sekali, kaki jenjang dan putihnya melangkah ringan di atas karpet tebal. Rion hanya duduk diam di tempatnya, matanya tak pernah lepas dari sosok itu, sesekali tersenyum melihat tingkah polos dan manja gadisnya, tapi dia tak mendekat atau mengganggu, membiarkan Zinnia menjelajah sesuka hatinya.

Sampai akhirnya langkah Zinnia berhenti tepat di depan dinding besar di ujung ruangan. Matanya terbelalak melihat sebuah lukisan berukuran besar yang terpasang rapi disana. Di dalamnya tergambar seekor kucing Sphynx tanpa bulu, posturnya tegap dan elegan, di lehernya melingkar sebuah kalung berhiaskan batu blue sapphire yang berkilau indah, seolah barang mahal itu memang dibuat khusus untuk makhluk itu saja.

" Rion.. apa itu kucing asli atau hanya lukisan saja? " Tanya Zinnia seraya menunjuk ke arah dinding, matanya masih terpaku pada gambar itu.

Rion mengikuti arah tunjukannya, lalu menjawab pelan.

" Asli, itu kucing milik kakekku.. "

" Apa kucing itu masih hidup? " tanya Zinnia lagi, rasa penasarannya makin besar.

" Sudah tidak ada, makannya dipajang di dinding sebagai kenangan. "

" Kalungnya bagaimana? " pertanyaan itu keluar cepat, seolah itu hal terpenting yang mau dia ketahui.

Rion menatap wajah gadis itu, senyum tipis muncul di bibirnya.

" Masih ada. Kenapa? kamu tertarik dengan kalungnya atau kucingnya? "

" Dua-duanya.. " jawab Zinnia jujur tanpa ragu.

" Kalungnya masih ada tapi kakek yang menyimpannya. Apa kamu mau melihatnya langsung? "

" Ya mungkin lain kali. "

Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, ketukan di pintu terdengar.

Tok tok tok!

" Masuk ! " Persilahkan Rion.

Fitria sekertaris Rion kemudian masuk membawa jinjingan bersikan box makanan yang tadi sempat Rion pesan tadi.

" Tuan, pesanan makanan sudah datang. "

" Ya, terimakasih. Kau boleh pergi. "

" Baik tuan. "

Begitu mendengar itu, wajah Zinnia langsung berseri-seri, matanya berbinar terang bagaikan lampu menyala. Dia langsung berlari mendekat, membantu Rion membawa masuk berbagai Box makanan dan meletakkannya di atas meja, tak sabar membuka satu per satu wadah itu.

Segera ruangan dipenuhi aroma masakan yang menggugah selera. Zinnia langsung duduk dan mulai makan dengan lahapnya, sesekali mengerang puas rasanya, membuat Rion yang hanya duduk memperhatikan saja sampai tertawa melihatnya.

Tiba-tiba Zinnia mengambil sepotong makanan dengan sendoknya, lalu berbalik dan mendekat ke arah Rion. Dia mengangkat tangan, mendekatkan sendok itu tepat di depan mulut lelaki itu.

" Cobalah, ini enak. " pintanya lembut.

Rion terdiam sebentar, dia sama sekali belum lapar, baru saja makan siang beberapa jam yang lalu, perutnya masih terasa penuh. Tapi melihat mata bulat yang menatapnya penuh harap dan sedikit memaksa itu, tak mampu dia tolak. Dia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, mengunyah perlahan sambil terus menatap wajah gadis di hadapannya, merasakan bukan cuma rasa makanan itu, tapi juga rasa bahagia yang mengalir di dadanya.

" Bagaimana enak tidak? " Tanya Zinnia kemudian.

" Lumayan. " Jawab Rion singkat.

Setelah menghabiskan semua makanan dan buah yang dia pesan, Zinnia bergerak mendekat lalu dengan santai duduk tepat di pangkuan Rion, punggung dan kepalanya bersandar nyaman di dada bidang lelaki itu, seolah tempat itu memang dibuat khusus untuknya saja.

" Rion.. apa nama lengkapmu? " Tanya Zinnia tiba-tiba, matanya menatap kosong ke depan seolah baru teringat hal itu.

" Riondra Andreas Putra Rajasa.. Kenapa tiba-tiba tanya hal itu? " Jawab Rion sambil tangannya terus mengelus punggung dan pinggang gadis itu dengan gerakan halus dan teratur.

" Iseng.. " jawab Zinnia singkat.

" Kamu ini.. Berubah-ubah terus ya. " ucap Rion menggeleng, tapi nada bicaranya sama sekali tak ada rasa kesal, malah terdengar penuh rasa sayang.

" Ya tapi kamu masih suka kan? " tanya Zinnia langsung menoleh menatap wajah lelaki itu, sedikit khawatir.

Rion tak menjawab sepatah kata pun, dia hanya tertawa pelan, lalu mendekatkan kepalanya dan mencium pundak putih Zinnia berulang kali sebagai jawaban. Posisi mereka begitu dekat dan akrab, gerakannya begitu alami, membuat mereka terlihat persis seperti pasangan kekasih yang sudah lama bersama. Padahal, jelas-jelas keduanya baru saling mengenal.

Ketenangan itu terpecah saat nada dering ponsel berdering memecah suasana. Dengan satu tangan Rion meraihnya, mengangkatnya tanpa menggeser posisi sedikitpun, Zinnia masih tetap nyaman duduk di pangkuannya.

" Ada apa? " tanya Rion langsung dengan nada tegas khas seorang bos besar.

" Tuan.. Bu Mara klien yang tadi akan bertemu anda, katanya mau ke kantor anda sekarang. Dia tetap ingin berdiskusi sekarang juga. " Ucap Pak Harun di seberang telepon, nadanya terdengar sedikit gugup.

" Bilang padanya aku sibuk. tak bisa di ganggu. " jawab Rion tegas tanpa ragu.

" Sudah saya bilang tapi dia terlalu kukuh dan sekarang hendak menuju kesana. "

" Berikan telponnya padanya sebentar ak ingin bicara dengannya. "

" Baik pak. "

Perhatian Rion sekarang terbagi, dan Zinnia tak suka sama sekali kalau ada orang lain yang merebut perhatian lelaki ini darinya. Kemudian, Dia melingkarkan kedua tangannya erat di leher Rion, mendekatkan mulutnya tepat di telinga lelaki itu, bicara dengan suara bisikan halus dan manja.

" Aku mau pulang saja ya, bosan. "

Rion tak menjawab sepatah kata pun, tapi tindakannya bicara lebih keras dari apapun. Dia mempererat pelukannya di tubuh Zinnia, menariknya makin menempel erat seolah mau menyatu, jelas sekali dia tak mau melepaskan atau membiarkan gadis itu pergi kemana-mana. Tangannya masih memegang ponsel dan masih sibuk berbicara, nada bicaranya kembali dingin, tegas dan penuh otoritas, berbeda jauh dari cara dia bicara pada Zinnia.

" Rion aku bosan.. " Keluh Zinnia lagi, suaranya pelan tapi terdengar jelas di telinga lelaki itu.

" Sebentar ya.. " Balas Rion lembut, nadanya berubah total dalam sepersekian detik, hangat dan penuh perhatian, berbanding terbalik dengan nada bicara barusan.

Melihat itu, sifat nakal Zinnia muncul. Jari-jarinya mulai bergerak bebas, meraba-raba leher, tulang selangka dan dada Rion di balik kain kemejanya, gerakannya sengaja dibuat lambat dan menggoda, membuat kulit lelaki itu merinding seketika. Dan belum cukup sampai disitu, Zinnia menundukkan kepalanya lalu dengan sengaja mencium, menjilat dan menggigit pelan bagian leher Rion yang terbuka, tepat di tempat yang paling sensitif.

Rion masih berusaha mempertahankan kewarasannya, masih terus bicara dan bernegosiasi dengan Bu Mara di telepon, tapi setiap detik rasanya makin sulit. Napasnya mulai tak beraturan, otot-otot tubuhnya menegang, api hasrat perlahan menyala dan membakar seluruh kesabarannya. Dan saat bibir Zinnia menggigit sedikit lebih keras... kesabarannya habis seketika.

BRAKK!

Rion melempar ponselnya entah kemana, jatuh di bawah sofa jauh dari jangkauan, lalu dengan gerakan cepat dan kasar dia membalik posisi tubuh mereka. Dalam sekejap Zinnia sudah tergeletak di atas sofa empuk, dan Rion menindih tubuhnya, kedua tangan lelaki itu lalu mencekal kedua tangan Zinnia, sekarang jarak mereka tak sampai satu sentimeter.

" Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan? " Tanya Rion, suaranya serak berat, matanya gelap pekat penuh dengan api yang tak bisa dipadamkan lagi.

Zinnia menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun, malah tersenyum kecil penuh kemenangan.

" Ya aku tahu.. "

" Jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekat sama kamu.. " peringatan Rion keluar rendah dan menegaskan.

" Rion mau apa kamu? " Tanya Zinnia polos, tapi tatapannya mengatakan dia tahu persis apa yang lelaki ini inginkan.

Rion tak bicara lagi, dia tak mau membuang waktu lagi dengan kata-kata. Dengan kepalanya menunduk, dia langsung mencium bibir Zinnia dalam dan liar, mulutnya menelan setiap napas dan desahan gadis itu, tangannya turun mencengkeram erat pinggang ramping di bawah dress merah itu, meremasnya seolah ingin memastikan ini bukan mimpi.

Ciuman itu berlangsung lama, panas dan penuh hasrat, sampai akhirnya Rion pindahkan sasaran. Dari bibir dia turun ke dagu, lalu leher putih mulus yang selalu membuatnya gila, dia mencium, mengisap dan menggigit lembut, meninggalkan bekas-bekas merah keunguan yang jelas terlihat, tanda miliknya yang tak akan hilang dalam waktu dekat.

" Apa tanda yang kemarin sudah hilang ya.. " Bisik Rion di sela ciumannya, suaranya mendesak.

" Aku menutupinya dengan make up.. " jawab Zinnia dengan napas terengah-engah.

" Kalau begitu ku buatkan yang baru.. dan kali ini lebih banyak, lebih jelas.. agar tak bisa ditutupi apapun.. "

" Ah.. jangan !! " pekik Zinnia pelan, tubuhnya melengkung dan jari-jarinya otomatis mencengkeram erat bahu dan punggung Rion, meremas kain kemejanya sampai kusut tidak karuan.

Sensasi yang mengalir dari titik yang disentuh itu menyebar cepat ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggigil hebat, tulang sumsumnya terasa lemas dan panas, otaknya kosong tak bisa berpikir apa-apa lagi, hanya bisa merasakan setiap sentuhan dan tindakan lelaki di atasnya itu.

Dan Rion terus melakukannya, terus menandai setiap bagian tubuh yang bisa dia jangkau, seolah ingin mengingatkan sekali lagi... gadis ini adalah miliknya, dan tak ada siapapun yang berani menyentuhnya selain dirinya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!