Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : KULTIVASI DAN PULAU DI DEPAN MATA
"Kultivasi itu bukan soal mengumpulkan kekuatan sebanyak-banyaknya," jelas Samudera yang melayang di sudut kamar. "Itu kesalahpahaman paling umum yang pernah aku lihat selama ribuan tahun."
Adapun Haifeng duduk bersila di lantai kamar dengan telapak tangan terbuka di atas lutut, matanya setengah terpejam dalam konsentrasi yang masih belum sempurna tapi jauh lebih baik dari kemarin. "Apakah Ayahku juga salah paham?"
"Wei Changsong sangat berbakat dan sangat keras kepala dalam ukuran yang sama." Samudera memiringkan kepalanya. "Dia mengembangkan qi-nya seperti orang yang menumpuk air di dalam gentong. Semakin besar, semakin berat, semakin kuat tumbukan ketika dilemparkan. Itu bekerja, dan bekerja dengan sangat baik, tapi gentong yang terlalu penuh tanpa saluran yang tepat akhirnya akan retak dari dalam."
Haifeng membuka matanya sedikit lebih lebar. "Itu yang membunuhnya. Bukan hanya hukum langit yang rusak."
"Hukum langit yang rusak memang mempercepat prosesnya. Tapi retakan di pondasinya sudah ada sebelum itu." Samudera turun sedikit lebih dekat ke tinggi kepala pemuda yang duduk. "Kau berbeda dari ayahmu, karena kau datang ke kekuatan ini dari arah yang berbeda. Kau mulai dengan memahami arus sebelum memiliki kekuatan untuk menggerakkan arus itu."
"Apa maksudmu seperti navigasi?"
"Persis seperti navigasi." Garis lengkung di bibirnya muncul. "Jadi kultivasilah dengan cara yang sama. Jangan isi gentong, tapi gali salurannya."
Haifeng menutup matanya lagi dan kembali ke latihannya, mencoba menemukan cara membiarkan qi bergerak alih-alih mendorongnya.
Namun ketukan di pintu datang dengan interval yang sangat teratur, seperti seseorang yang sudah mengetuk beberapa kali sebelum ini dan setiap kali memutuskan untuk menunggu dulu sebelum mencoba lagi.
"A-anu... Tuan Muda Haifeng." Suaranya terdengar dari balik pintu, sangat lirih untuk kondisi kapal yang tidak terlalu berisik. "Ma... makan malam sudah siap."
Haifeng membuka matanya. "Terima kasih, Hua Ling. Aku segera ke sana."
Tidak ada respons langsung. Kemudian langkah kaki yang bergerak cepat dari depan pintu ke arah yang lain.
Ruang makan kapal pada jam makan malam memiliki kualitas yang berbeda dari jam-jam lain karena jauh lebih hangat, ramai, dan penuh oleh suara yang tidak perlu dianalisis lebih jauh dari sekadar suara orang yang sudah cukup hari ini dan sekarang sedang makan.
Seperti Bai Mei yang tertawa di sudut kiri meja karena sesuatu yang Zhao Feng katakan. Wanita itu tertawa tanpa ditahan-tahan, berbeda dari caranya beberapa hari lalu ketika setiap ekspresinya selalu punya lapisan kedua yang tidak langsung terlihat.
"Aku bilang juga apa," kata Zhao Feng kepada Sun Li dengan nada orang yang berhasil membuktikan sesuatu. "Dia sudah berubah."
"Siapa yang berubah?" Bai Mei pun segera menatapnya.
"Kau. Sejak kapan kau bisa tertawa seperti itu tanpa menyembunyikan sesuatu di baliknya?"
"Jangan sok tahu." Bai Mei mengambil sendoknya. "Mungkin aku menemukan mutiara laut dan sudah menyimpannya tanpa memberitahu siapa pun."
"Mutiara laut tidak mengubah cara seseorang tertawa."
"Kau tidak tahu seberapa besar mutiara yang kutemukan."
Zhao Feng membuka mulutnya, menutupnya, lalu kembali ke makanannya. Sementara Sun Li di sebelahnya menyikut lengannya pelan.
"Sejujurnya," kata Sun Li, "apakah perubahan ini karena obrolanmu dengan Tuan Muda Haifeng waktu itu?"
Bai Mei lantas mengambil lauk dari piring di depannya dan meletakkannya di piringnya sendiri dengan gerakan yang tidak terburu-buru.
"Diam itu artinya iya," timpal Ma Chao.
Bai Mei masih tidak menjawab. Tapi telinganya memerah sedikit di bagian atas yang tidak sepenuhnya tersembunyi oleh rambutnya.
"Cinta yang dimulai dari ketidaksukaan ya," lanjut Ma Chao dengan merasa sangat bijaksana. "Itu memang toxic. Tapi di situlah nikmatnya masa muda."
Bai Mei pun meletakkan sendoknya. Tangannya bergerak ke piring besar di tengah meja, memilih kaki gurita rebus yang paling besar dengan penuh pertimbangan, menusuknya dengan garpu, dan menyumpalkan itu ke mulut Ma Chao sebelum pria itu sempat menutupnya.
"Makan dulu sana," katanya. “Urusi urusanmu sendiri.”
Zhao Feng dan Sun Li kompak mendadak sangat tertarik pada isi piring mereka masing-masing.
Tak lama setelahnya, pintu ruang makan terbuka dan Haifeng masuk. Tianbao langsung mengangkat tangannya dari sudut meja di pojok ruangan. "Haifeng! Sini, aku sudah sisakan tempat!"
Haifeng melangkah ke arah Tianbao tapi berhenti sebentar di dekat meja Bai Mei. "Makanlah yang banyak."
"Iya, sudah," kata Bai Mei, menunjuk ke piringnya yang penuh.
"Bagus." Haifeng mengangguk pelan. "Besok akan melelahkan bagi kita, kalian juga, makanlah yang banyak." Menatap ke tiga laki-laki di meja Bai Mei.
Kemudian dia melanjutkan langkahnya ke arah Tianbao.
Tiga pasang mata lantas bergerak dari punggung Haifeng yang pergi ke wajah Bai Mei yang kembali ke makanannya. Bai Mei merasakan tatapan itu tanpa perlu melihatnya.
"Kenapa?" katanya sebelum salah satu dari mereka membuka mulut.
"Kami tidak bilang apa-apa tuh," kata Zhao Feng.
"Ekspresi kalian bilang sesuatu."
Sun Li menunduk ke piringnya. Ma Chao masih mengunyah kaki guritanya dengan ekspresi yang sangat sibuk.
Sementara di sudut meja paling pojok, Tianbao sudah menyusun piring-piring dengan menunjukkan dia sudah di sini cukup lama untuk tahu di mana letak posisi terbaik.
"Sejauh mana progresmu?" tanyanya kepada Haifeng yang baru duduk.
"Huh... ternyata masih banyak yang perlu dipelajari." Haifeng mengambil lauk terdekat. "Tingkat tiga bukan akhir, itu hanya titik mulai yang berbeda."
"Tapi kau sudah bisa merasakan qi-mu sendiri sekarang?"
"Mulai bisa. Samudera yang mengajariku. Cara yang benar, katanya, berbeda dari cara Ayahku dulu."
“Oh wanita Jiwa Pedang Samudera yang kau ceritakan itu?” Tianbao mengunyah sebentar sambil memproses itu. "Lalu rencanamu selanjutnya?"
"Latihan bela diri dengan Chen Mo. Dia bilang akan melatihku kalau ada waktu setelah kita sampai di Pulau Long Men." Haifeng mengangkat bahunya. "Aku tidak punya teknik bela diri sama sekali. Itu masalah yang perlu diselesaikan."
Tianbao berdiam diri cukup lama. Lalu, "Long Men. Itu pulau yang ada di peta rampasan kapal hitam itu?"
"Iya."
"Berarti Kerajaan Tengkorak Hitam juga tahu tentang pulau itu." Tianbao meletakkan sendoknya. "Kau tidak khawatir mereka ada di sana?"
"Hampir pasti mereka ada di sana." Haifeng berbicara dengan nada yang tidak mencoba menenangkan secara palsu, hanya menyampaikan apa yang dia tahu. "Tapi Long Men adalah pulau netral. Sudah ratusan tahun berfungsi sebagai pusat perdagangan dan persinggahan. Jelas ada kesepakatan tidak tertulis di sana yang dijaga oleh puluhan sekte dan klan berbeda, bahwa tidak ada konflik besar yang boleh terjadi di dalam wilayahnya. Siapa pun yang melanggar itu akan berhadapan dengan semua pihak sekaligus, bukan hanya satu."
"Jadi mereka tidak akan berani bikin keributan di sana."
"Tidak untuk yang besar. Ketegangan kecil mungkin ada. Tapi pertarungan terbuka, hampir tidak mungkin."
Tianbao mengambil sendoknya lagi. Masih tidak sepenuhnya tenang, tapi setidaknya kekhawatirannya sudah memiliki tempat yang lebih teratur untuk mengunci mulutnya soal itu. "Baiklah. Aku percaya pada perhitunganmu."
"Kau selalu percaya hitunganku."
"Karena hitunganmu biasanya benar." Tianbao menunjuknya dengan sendok. "Tapi kalau kali ini salah, aku yang pertama protes."
"Itu adil."
Pintu ruang makan terbuka lagi. Seorang kru muda masuk dengan langkah yang sedikit lebih cepat, matanya langsung mencari Haifeng di antara meja-meja.
"Tuan Muda." Dia membungkuk singkat. "Mohon maaf mengganggu makan malamnya. Tapi Pulau Long Men sudah terlihat di depan. Kami meminta konfirmasi apakah akan langsung berlabuh atau menunggu pagi tiba."
Haifeng meletakkan sumpit di tangannya dan menatap ke arah jendela kapal yang kecil di sisi ruangan, tidak bisa melihat apa pun dari sini selain gelap dan bintang-bintang, tapi imajinasinya sudah bergerak ke arah yang ditunjuk kru itu.
"Berlabuh saja malam ini," katanya. "Tapi perlahan. Pastikan semua orang tahu kita memasuki wilayah netral. Tidak ada tindakan yang bisa ditafsirkan sebagai ancaman."
Kru itu pun membungkuk dan pergi.
Sementara Tianbao menatap Haifeng dengan ekspresi yang setengah kagum setengah tidak percaya. "Kau baru saja mengambil keputusan berlabuh sambil makan gurita."
"Guritanya enak." Haifeng mengambil sumpitnya lagi. "Keputusan bisa diambil kapan saja."