Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sagara sempat terdiam sepersekian detik. Namun anehnya, raut gugup yang tadi terlihat di wajahnya perlahan menghilang. Tatapannya berubah tenang saat ia menatap balik Samudra.
"Saya bekerja di bidang otomotif," jawabnya lugas.
Nara yang berada di sampingnya sempat melirik sekilas. Ia awalnya mengira Sagara akan terlihat gugup atau salah tingkah menghadapi pertanyaan seperti itu. Namun pria itu justru tampak jauh lebih tenang dari perkiraannya.
"Bidang otomotif?" ulang Samudra tertarik.
Sagara mengangguk pelan. "Saya lebih sering menangani perkembangan dan perakitan kendaraan secara langsung dibanding duduk di belakang meja." Nada bicaranya santai, tetapi jelas terdengar teratur. "Menurut saya, kualitas mesin tidak bisa dipahami hanya dari laporan. Kita tetap harus turun langsung melihat bagaimana semuanya bekerja."
Tatapan Samudra berubah sedikit lebih serius. Ia mencoba menggali informasi lebih banyak dengan mempersilahkan pria itu untuk duduk.
"Pandangan yang menarik," ucap Samudra.
"Saya hanya lebih suka hal-hal praktis," lanjut Sagara tenang. "Lagi pula, dunia otomotif terus berkembang. Jika tidak ikut memahami dari dasar, akan sulit bertahan."
Nara mulai memperhatikan pria di sebelahnya lebih lama. Cara bicara Sagara berubah total. Tidak ada lagi kesan montir atau tukang ojek yang santai dan asal bicara seperti biasanya. Pemuda itu terdengar rapi, tenang, bahkan cukup berkelas. Dan yang paling mengejutkan, semua ucapannya terdengar alami. Seolah ia memang terbiasa berada di lingkungan seperti ini.
"Saya dengar keluarga Dirgantara juga mulai masuk ke bisnis kendaraan listrik," ucap Sagara santai sambil menatap Samudra. "Persaingannya pasti cukup ketat."
Kini gantian Samudra yang tampak sedikit terkejut. Tidak banyak orang luar yang mengetahui proyek itu karena masih dalam tahap pengembangan awal.
"Anda cukup mengikuti perkembangan bisnis rupanya," ujar Samudra sambil menyandarkan tubuhnya pelan.
"Saya hanya tertarik saja," ucap Sagara ringan.
Namun, justru itu yang membuat Samudra semakin sulit membaca pria di depannya.
Sementara itu, di sisi lain meja, sudut bibir Nara perlahan terangkat tipis. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar merasa pilihannya tidak salah. Selain tampan, pemuda itu juga ternyata cerdas.
Samudra menatap Sagara lebih lama. Sorot matanya berubah tipis. Tidak lagi sekedar menilai penampilan luar pria di depannya, melainkan mulai mencoba membaca siapa sebenarnya Sagara.
Awalnya, Samudra sempat berpikir, jika pria yang tiba-tiba datang itu bisa saja hanya bagian dari rencana Nara.
Sementara itu, Sagara tetap duduk tenang di samping Nara. Sikapnya santai, tetapi tidak terlihat rendah diri sedikit pun. Dan justru itu yang membuat suasana meja perlahan berubah aneh. Karena pria yang katanya "Kekasih" Nara itu sama sekali tidak tampak seperti orang biasa.
"Menarik," gumam Samudra. Ia menyandarkan kembali tubuhnya ke kursi. "Saya kira Nona Nara hanya dekat dengan kalangan tertentu."
"Kalangan tertentu?" ulang Sagara santai.
Samudra tersenyum tipis. "Dunia keluarga besar seperti kami biasanya cukup ... selektif."
Nara diam sambil menyeruput minumannya pelan. Ia sengaja membiarkan dua pria itu saling membaca.
Sagara hanya terkekeh kecil. "Saya juga cukup selektif," jawabnya ringan.
Alis Samudra terangkat sedikit. "Dalam memilih pasangan?" tanyanya.
"Dalam memilih orang yang layak saya hormati."
Jawaban itu terdengar halus. Namun, entah mengapa, udara di meja langsung berubah lebih tajam.
Nara nyaris tersedak kecil menahan tawanya sendiri. Ia melirik Sagara sekilas. Pria itu masih memasang wajah tenang seolah tidak mengatakan apa pun, padahal kalimatnya jelas menyenggol.
Samudra tersenyum samar. Bukannya tersinggung, ia justru tampak semakin tertarik. "Kalau begitu," ucap Samudra perlahan, "saya jadi penasaran. Dari keluarga mana Tuan Sagara berasal?"
Pertanyaan itu akhirnya datang juga. Nara refleks menoleh pada Sagara. Sementara pria itu tampak diam beberapa saat sebelum memuntahkan kalimat selanjutnya.
"Ayah saya pernah bilang," ucap Sagara santai, "nama keluarga itu tidak terlalu penting jika seseorang belum bisa berdiri dengan kemampuannya sendiri."
Samudra menatap lekat. "Jawaban diplomatis."
"Bukan," sahut Sagara ringan. "Hanya kebiasaan."
Nara ikut memandang Sagara sekarang. Saat ini, ia benar-benar merasa tidak bisa membaca pria di sampingnya.
Cara bicara, tatapan mata, sampai caranya duduk, semua terasa terlalu rapi untuk seorang montir merangkap tukang ojek biasa. Dan semakin lama, justru semakin terlihat seperti seseorang yang memang terbiasa berada di meja pertemuan seperti ini.
"Kalau boleh jujur," lanjut Samudra sambil menyilangkan jemarinya, "Anda tidak terlihat seperti orang yang bekerja di luar ruangan."
Nara langsung melirik Sagara cepat. Sedangkan pria itu malah tersenyum kecil.
"Saya bisa bekerja di mana saja. Termasuk di dunia yang mungkin saja tidak Tuan kenal."
Jawaban itu membuat Samudra akhirnya tertawa pelan. Sementara di sisi lain meja, Nara diam-dian memperhatikan profil wajah Sagara. Dan anehnya, semakin lama melihat pria itu malam ini, semakin muncul satu pertanyaan di kepalanya.
Sebenarnya siapa Sagara?
**** bersambung****