"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Ambang Kebebasan
Pagi itu, kediaman keluarga Baskara tidak lagi terasa seperti rumah yang hangat bagi Alea. Suasana sibuk menyelimuti selasar depan sejak fajar menyingsing.
Suara langkah kaki para petugas logistik yang mengangkut kotak-kotak terakhir milik Bima menciptakan kebisingan yang ganjil, seolah-olah setiap dentuman peti yang diletakkan di atas bak truk adalah detak jantung Alea yang sedang dipacu.
Hari yang seharusnya membawa kelegaan karena "sang paman" akhirnya keluar dari rumah ini, justru terasa seperti awal dari sebuah ketegangan yang lebih privat.
Alea berdiri mematung di balkon lantai dua, menyembunyikan tubuhnya di balik tirai tipis. Matanya tertuju pada sosok Bima yang berdiri di samping SUV hitamnya, memberikan instruksi terakhir dengan gestur yang penuh otoritas.
Pria itu tampak sangat dominan dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menyingkap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Seolah memiliki radar, Bima mendongak tepat ke arah balkon tempat Alea bersembunyi.
Tatapannya tajam, mengunci mata Alea selama beberapa detik yang terasa abadi, sebuah tatapan yang tidak mengandung perpisahan, melainkan sebuah janji tentang kepemilikan yang lebih absolut.
"Alea, turunlah! Bantu Uncle-mu memeriksa barang-barangnya untuk terakhir kali sebelum dia berangkat," seru Daddy dari ruang tengah, memecah keheningan batin Alea.
Alea turun dengan langkah pelan, jemarinya meremas pinggiran kardigan yang ia kenakan. Di ruang tamu, Bima sedang berjabat tangan dengan Daddy, sebuah pemandangan yang selalu membuat ulu hati Alea nyeri. Daddy menatap Bima dengan rasa hormat dan terima kasih yang tulus, sama sekali tidak menyadari bahwa pria di hadapannya telah merusak kesucian rumah ini dan merusak putri tunggalnya.
"Terima kasih untuk semuanya, Baskara. Aku akan sangat merindukan suasana rumah ini," ujar Bima dengan nada formal yang begitu sempurna hingga Alea ingin berteriak karena kemunafikan itu.
"Sama-sama, Bima. Kau sudah seperti adikku sendiri. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu kapan pun kau ingin berkunjung," jawab Daddy sembari menepuk bahu Bima.
Setelah Bima pergi dengan raungan mesin mobilnya yang menjauh, suasana rumah mendadak sepi. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Menjelang siang, Daddy tampak terburu-buru merapikan koper kecilnya di ruang kerja. Ia baru saja menerima telepon dinas mendadak yang mengharuskannya pergi ke Surabaya selama beberapa hari.
Tepat saat Daddy hendak melangkah keluar menuju mobil jemputannya, ponselnya bergetar. Nama Bima terpampang di layar.
"Halo, Bima? Ada apa? Aku baru saja mau berangkat ke bandara," ujar Daddy sembari memberikan isyarat pada Alea untuk mendekat.
Alea bisa mendengar suara Bima yang berat dari seberang telepon, meskipun kata-katanya tidak terdengar jelas. Daddy mengangguk-angguk kecil, raut wajahnya menunjukkan pengertian.
"Oh, dokumen audit itu? Kau meninggalkannya di meja perpustakaan? Ya ampun, Bima, kau biasanya sangat teliti," Daddy tertawa kecil.
"Kebetulan aku sudah di depan pintu, sopirku sudah menunggu. Bagaimana kalau Alea saja yang mengantarkannya ke rumahmu? Kebetulan dia sedang tidak ada kelas sore ini."
Alea menahan napas. Ia menatap Daddy dengan tatapan yang pura-pura terkejut, padahal jantungnya berdegup kencang karena rencana licik Bima yang begitu mulus.
"Begitu ya? Baiklah, aku akan sampaikan padanya. Hati-hati di jalan, Bima," Daddy menutup teleponnya dan menoleh pada Alea. "Alea, sayang, tolong Daddy ya. Uncle Bima tertinggal dokumen sangat penting di perpustakaan. Karena Daddy sudah sangat terlambat mengejar pesawat, bisakah kau mengantarkannya ke alamat rumah baru Bima? Daddy akan kirimkan lokasinya lewat pesan."
Alea mengangguk pelan, mencoba menjaga ekspresinya tetap datar. "Iya, Dad. Aku akan antarkan sekarang juga."
Begitu mobil Daddy meninggalkan gerbang, Alea langsung berlari menuju perpustakaan. Benar saja, sebuah map cokelat terletak di sana, umpan yang disiapkan Bima dengan sangat rapi untuk memancingnya masuk ke wilayah barunya.
Alea sampai di alamat yang diberikan Bima satu jam kemudian. Rumah itu berdiri megah di kawasan elit yang sangat privat, tersembunyi di balik pagar tinggi dan pepohonan rimbun. Desainnya minimalis modern dengan dominasi warna gelap dan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kesan dingin namun mewah. Begitu Alea mendekati gerbang, sensor otomatis langsung mengenali kehadirannya, seolah rumah itu sudah diperintahkan untuk menelan Alea masuk.
Di dalam, aroma cedarwood dan tembakau mahal langsung menyerbu indra penciumannya aroma yang kini ia asosiasikan dengan dosa dan kenikmatan. Alea melangkah masuk ke ruang tamu yang luas. Suasananya sunyi, hanya ada suara gemericik air dari kolam dalam ruangan.
"Kau membawanya?" suara Bima terdengar dari arah balkon lantai atas.
Alea mendongak dan melihat Bima berdiri di sana. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja formal; ia hanya memakai celana kain hitam, bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot liat dan tato di dadanya yang bidang di bawah cahaya temaram sore. Alea menelan ludah, tangannya yang memegang map cokelat sedikit gemetar.
"Ini dokumennya, Uncle," ujar Alea sembari berjalan menaiki tangga spiral menuju lantai atas.
Begitu Alea sampai di hadapannya, Bima sama sekali tidak melirik map tersebut. Ia justru menyambar map itu dengan kasar, melemparnya ke lantai, dan langsung menarik pinggang Alea hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak sedikit pun.
"Kau pikir aku benar-benar melupakan dokumen itu, Alea?" bisik Bima di telinganya, napasnya terasa panas dan menuntut.
Alea terengah, ia menatap mata Bima yang sehitam jelaga. "Jadi... kau sengaja menelpon Daddy hanya untuk ini?"
"Aku harus memastikan pria tua itu sendiri yang memberikan izin agar kau datang kepadaku," Bima menyeringai kejam, jemarinya mulai membelai tengkuk Alea dengan posesif. "Dan kau tidak mengecewakanku, Little Bird."
Alea tidak membantah. Alih-alih takut, ia justru merasa utuh. Ia mengalungkan lengannya di leher Bima, menyerahkan dirinya seutuhnya pada dominasi pria itu. Di rumah ini, ia merasa tidak perlu lagi memakai topeng sebagai keponakan yang polos. Namun, di tengah gairah yang mulai membakar, ponsel Alea yang tersimpan di dalam tas kecilnya terus bergetar. Satu pesan masuk dari Revan muncul di layar.
[Revan]: Alea, tolong jawab teleponku! Ini darurat. Aku menemukan sesuatu di laporan audit rahasia perusahaan ayahku. Ada aliran dana ke perusahaan cangkang yang ternyata atas nama Bima. Dia sengaja menjebak ayahku! Aku punya bukti awal, tapi aku butuh kau mencari dokumen aslinya di ruang kerja Bima. Tolong!
Alea sempat melirik layar ponselnya yang menyala sesaat. Ia tahu Revan, si anak tunggal yang pintar itu, sedang berjuang di ambang kehancuran. Namun, Alea menatap Bima kembali. Ia melihat pria yang telah menandai tubuhnya dan kini menjadi pusat dunianya.
"Ada apa? Siapa yang menghubungimu?" tanya Bima, menyadari perhatian Alea teralih sejenak.
"Tidak ada, hanya pesan operator," bohong Alea sembari menjatuhkan tasnya ke lantai.
Alea memilih untuk mengabaikan jeritan minta tolong Revan. Ia justru menarik Bima lebih dekat, mencium bibir pria itu dengan rasa lapar yang sama besarnya. Bagi Alea, kehancuran keluarga Revan adalah harga yang pantas demi ketenangan hubungannya dengan Bima.
"Revan... dia sedang mencari bukti untuk menjatuhkanmu, Bima," bisik Alea di sela napasnya yang memburu.
Bima berhenti sejenak, sebuah seringai kemenangan yang sangat gelap muncul di wajahnya. "Biarkan bocah itu mencoba, Alea. Dia pikir kecerdasannya cukup untuk melawanku? Dia tidak tahu bahwa besok pagi, ayahnya sendiri yang akan memohon padaku agar aku tidak menghancurkan sisa hidup putranya."
Malam itu, di rumah baru yang megah dan tersembunyi itu, Alea menyadari satu hal yang mutlak: ia bukan lagi sekadar tamu. Meskipun ia harus kembali ke rumah Daddy nanti malam, jiwanya telah ia gadaikan di sini.
Ia telah memilih untuk menjadi burung kecil yang hanya ingin mendekam di dalam sangkar emas milik sang elang, tidak peduli seberapa banyak nyawa yang harus dikorbankan di bawah cakar kekasihnya yang kejam itu.