Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 23 Berusaha Perhatian
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden setiap ruangan, namun suasana di dalam rumah itu terasa jauh dari kata hangat. Suara denting sendok dan piring di dapur menjadi latar belakang kesibukan pagi ini.
"Bara!" panggil Mamah Sarah, suaranya melengking memecah keheningan rumah besar itu.
Bara yang baru saja menuruni tangga dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan kaos yang tampak kusut, ia melangkah malas menuju dapur. "Iya, Mah. Ada apa?" sahutnya sambil mendekat ke arah Mamahnya yang sedang sibuk merapikan piring.
Mamah Sarah berbalik, berkacak pinggang sambil menatap putranya dengan tatapan menyelidik. "Kamu mau kapan ke rumah sakit? Sudah jam berapa ini? Kasihan Papah kamu cuma dijagain sama... istri kamu itu."
Bara menguap pelan, lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering. "Bentar, Mah. Aku baru juga bangun. Paling dua puluh menit lagi aku siap-siap," jawabnya santai setelah menghabiskan air dalam sekali teguk.
Ia melirik jam tangannya yang tergeletak di meja konter. "Lagian aku juga nunggu Reno jemput ke sini. Mobil aku kan dibawa Renata ke rumah sakit semalam."
Mama Sarah mendengus, raut wajahnya kembali masam saat teringat menantunya. "Oh, iya. Mamah sampai lupa kalau mobil kamu dipinjam dia. Makanya, punya istri itu yang perhatian dikit, udah tau mobil dapet pinjam, bukannya jemput suaminya, malah biar orang lain yang menjemputnya, bikin repot aja."
Bara tidak menanggapi sindiran itu. Ia hanya berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa dengan mata yang masih terasa berat.
"Oke lah," lanjut Mama Sarah sambil menunjuk ke arah Bara dengan sendok kayu. "Tapi kamu jangan tidur lagi! Awas aja kalau kamu balik ke kamar terus molor lagi!"
"Iya, Mah, iya," jawab Bara singkat, mencoba mengakhiri pembicaraan sebelum Mamanya mulai membanding-bandingkan Renata dengan orang lain lagi—sesuatu yang jujur saja, mulai membuatnya merasa jengah di pagi yang masih terlalu dini ini.
Mama Sarah meletakkan cangkir dengan denting yang cukup keras, wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Bara, kamu tahu semalam Maya jenguk Papah kamu? Dia setia banget nungguin kamu sampai larut malam, lho."
Bara mengembuskan napas panjang, tatapannya masih tertuju pada gelas di depannya. "Iya, Mah, aku juga tahu. Orangnya juga chatting-an sama aku semalam," jawabnya datar, seolah hal itu bukan sesuatu yang istimewa.
Mendengar itu, Mama Sarah justru semakin gencar. "Lagian kamu kenapa semalam nggak ke rumah sakit? Mama pengen tahu kamu itu ngapain saja di luaran sampai istri kamu yang harus jaga sendirian."
Bara memijat pelipisnya, rasa kantuknya kini berganti menjadi kekesalan yang mulai merayap naik. "Ya ampun, Mah! Aku kan punya kerjaan. Otomatis aku sibuk sama pekerjaan aku dong. Mana mungkin aku di luaran cuma party atau main-main nggak jelas sementara Papah lagi kritis," jawabnya dengan nada sedikit meninggi, merasa integritasnya sebagai pemimpin perusahaan diragukan.
Mama Sarah sedikit terkejut dengan reaksi tegas putranya, namun ia segera menguasai diri dan melipat tangan di dada. "Ya... Mamah cuma mengira kamu di luaran main-main. Pas kamu bicara begitu, Mama jadi tahu sekarang kalau kamu memang beneran sibuk."
Bara hanya diam, ia lebih memilih tidak memperpanjang perdebatan. Ia tahu benar tabiat Mamanya; bicara dulu, baru mencari pembenaran kemudian. Suasana dapur kembali hening, hanya menyisakan suara mesin pembuat kopi yang menderu pelan, seolah ikut merasakan ketegangan antara ibu dan anak itu sebelum Reno datang menjemput.
Tiba kemunculan sang adik, Siska melangkah dengan gaya yang sangat kontras dengan suasana rumah yang kaku. Melihat penampilannya benar-benar "skena" habis—kaos oversized dari band antah-berantah, celana kargo longgar, dan beberapa aksesori cincin dan gelang yang beradu setiap kali ia bergerak. Ia mendekat ke arah Mama Sarah, meraih tangan sang ibu lalu menciumnya singkat.
"EH! Tumben kamu berangkat kuliah jam segini?" tanya Mama Sarah, matanya meneliti dari ujung kepala sampai ujung kaki putri bungsunya itu dengan dahi berkerut.
"Iya, Mah. Aku ada prodi tambahan, dosennya baru bisa jam segini," jawab Siska santai.
Setelah itu, ia berbalik menuju Bara. Dengan wajah yang dibuat-buat manis, ia menyodorkan tangan kanannya tepat di depan dada kakaknya. Namun, Bara yang pikirannya masih kosong, hanya menatap tangan itu dengan bingung. Ia meraih tangan Siska dan menjabatnya, mengira adiknya hanya ingin berpamitan saja.
"Dasar nggak peka!" gerutu Siska sambil menarik tangannya kembali dengan kasar.
Bara mengernyitkan dahi, benar-benar heran. "Haa? Kan sudah salimnya, mau ngapain lagi? Kok malah jadi sewot?"
"Atuh aku minta uang jajan, Kak! Masa aku jalan kaki gitu ke kampusnya? Terus aku juga butuh makan siang, mikir kids!," cerocos Siska sambil memutar bola matanya.
Bara baru tersadar, ia terkekeh pelan sambil meraba saku celananya yang kosong. "Ohh... bilang kek dari tadi. Gue nggak pegang cash sekarang. Nanti gue transfer tengah hari, pas jam makan siang."
Siska mendengus, meski dalam hati ia tahu kakaknya tidak akan lupa. "Iya deh, awas aja kalau nggak ditransfer. Bisa-bisa aku makan angin di kampus nanti."
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Siska menyampirkan tas kanvasnya dan melangkah keluar rumah dengan terburu-buru, meninggalkan Bara yang masih memegangi kepalanya yang mulai terasa pening menghadapi tuntutan orang-orang di rumah.
Tepat lima menit setelah Siska berdiri di teras sambil menunggu ojek online, muncul sebuah mobil yang sangat ia kenal berhenti tepat di depannya. Kaca mobil sedikit turun, menampilkan wajah Reno yang tampak segar pagi itu. Kaca kembali tutup, kemudian Reno segera turun dari mobil dan melangkah mendekat dengan senyum lebarnya.
"Pagi, Siska!" sapanya ramah.
"Pagi juga, Kak!" balas Siska dengan semangat yang sama.
Namun, langkah Reno terhenti. Matanya menatap Siska dengan fokus yang tidak biasa, meneliti penampilan adiknya Bara itu dari atas sampai bawah. Dahi Reno berkerut, seolah sedang berusaha mengenali sosok di depannya.
"Gue baru pertama kali lihat pakaian lo kayak begini," ucap Reno heran, nada suaranya terdengar sangat terkejut.
Siska tertawa kecil, sedikit salah tingkah. "Iya sih, hehehe... Tapi Kak Reno, aku emang kelihatan aneh ya pakai baju begini?"
Reno segera melambaikan tangannya dengan cepat. "Enggak-enggak! Jangan salah paham. Jujur, kalau kayak begini lo kelihatan skena abizz! Sumpah, cocok banget."
Wajah Siska langsung berbinar. "Hehehe... keren kan? Akhirnya ada yang menghargai selera fashion gue."
Reno mengangguk-angguk setuju, lalu bertanya, "Emangnya lo mau kemana pagi-pagi, dengan penampilan lo begini?"
"Mau ke kampus dulu, ada kelas tambahan," jawab Siska singkat.
"Oh... dikirain gue mau main atau mau ke konser," ucap Reno sambil merogoh dompet di saku belakang celananya. Ia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu yang masih panas, lalu menyodorkannya pada Siska. "Nih, buat jajan di kampus. Biar lo makin semangat kuliahnya."
Mata Siska membelalak melihat lembaran merah itu. Ia segera menerimanya dengan senang hati. "Wah! Makasih banyak ya, Kak! Emang Kak Reno orang paling ganteng banget sedunia! Jauh lebih ganteng daripada Kakak gue sendiri yang pelitnya minta ampun," canda Siska sambil terkekeh.
Reno tertawa mendengar itu. "Sst, jangan keras-keras, nanti orangnya dengar. Ya sudah, hati-hati di jalan."
Siska mengangguk. Sementara itu, Reno merapikan kemejanya dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui Bara yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu.
Suara bel mulai nyaring keras hingga terdengar orang rumah. Segera Mamah Sarah perintah Bi Sumi untuk membuka pintu.
"Bi Sumi! Tolong buka pintunya, itu pasti Reno," perintah Nyonya Sarah dengan nada tegas.
Bi Sumi segera bergegas menuju pintu depan. Tak lama kemudian, Reno melangkah masuk dengan senyum yang masih tersisa setelah perbincangannya dengan Siska tadi. Ia langsung menuju ruang tamu, tempat Bara yang sedang duduk santai.
"Pagi, Tante Sarah," sapa Reno sopan sambil
mengangguk hormat, lalu beralih menatap sepupunya itu. "Woi, Bar! Belum siap juga lo? Gue kira lo udah tinggal nungguin gue doang."
Bara yang masih memegang gelas air putihnya hanya mendongak malas. "Baru juga bangun gue, Ren. Kasih waktu sepuluh menit lagi lah buat mandi," jawab Bara enteng.
Mama Sarah mendengus sambil melirik Bara tajam. "Tuh, lihat Reno. Jam segini sudah rapi, sudah wangi. Kamu malah masih kucel begini, padahal ada janji sama Reno mau ke rumah sakit."
Reno terkekeh pelan melihat ekspresi Bara yang pasrah diomeli ibunya. "Santai aja, Tante. Lagian tadi di depan ketemu Siska dulu, jadi nggak kerasa nunggunya."
"Oh, kamu ketemu Siska?," timpal Mama Sarah lagi. "Ya sudah, Reno, kamu duduk dulu aja di sofa. Tungguin Bara mandi dulu."
Bara akhirnya bangkit dari sofa, menepuk bahu Reno singkat sebelum melangkah menuju tangga. "Duduk dulu aja, Ren. Tenang gue mandinya kilat seperti cahaya," ucapnya sebelum menghilang di balik belokan sekatan dinding.
Reno pun duduk, sementara Mama Sarah mendekat, tampak ingin membicarakan sesuatu selagi putranya itu sedang bersiap-siap.
"Reno, Tante mau tanya jujur," suara Mama Sarah merendah, raut wajahnya tampak menuntut jawaban. "Semalam Bara benar-benar lembur? Sampai-sampai dia tidak bisa menyempatkan waktu ke rumah sakit?"
Reno berdeham kecil, ia melirik Tante Sarah yang kini duduk di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Sebagai ponakan Tante Sarah, sekaligus tangan kanan Bara dalam kerjaan, Reno tahu kapan harus berkata jujur, tapi kali ini ia memutuskan untuk sedikit lebih jujur namun tetap terjaga.
Reno terdiam sejenak, ia meletakkan ponselnya di meja. "Iya, Tante. Semalam kita berdua memang lembur di kantor," jawab Reno terang-terangan tanpa ragu. "Banyak dokumen yang harus diselesaikan waktu itu juga. Terus urusan perusahaan kan nggak bisa ditinggal, apalagi sekarang semua tanggung jawab jatuh ke tangan Bara sepenuhnya."
Mama Sarah menghela napas, tampak sedikit lega namun masih ada sisa kekesalan. "Tante tahu dia kadang sibuk, tapi setidaknya dia bisa datang sebentar. Masa malah istrinya yang dibiarkan sendirian di sana."
"Bara itu orangnya nggak mau kerjanya setengah-setengah, Tante," tambah Reno lagi, mencoba meredam suasana. "Kalau dia ke rumah sakit tapi pikirannya masih di kantor, nanti dia malah nggak fokus jaga Om Baskoro. Makanya dia minta Renata duluan yang ke sana."
Mama Sarah mendengus. "Ya, tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana Renata. Tante itu cuma khawatir dia nggak bisa urus Papah dengan benar. Untung saja semalam ada Maya yang jenguk, dia malah lebih perhatian kelihatannya."
Reno hanya tersenyum tipis, tidak ingin menanggapi lebih jauh soal Maya. Tak lama kemudian, Bara turun dari tangga dengan penampilan yang sudah jauh lebih rapi dan kece.
"Ayo, Ren. Jalan sekarang," ajak Bara sambil merapikan jam tangannya.
"Nah, kalau sudah rapi begini kan enak," sahut Mama Sarah. "Ingat ya, sampai di sana langsung lihat Papah. Jangan malah asyik sama urusan lain."
"Iya, Mah. Bara berangkat ya," pamit Bara singkat.
Disusul dengan ucapan sepupunya itu."Reno, pamit dulu Tante."
"Hati-hati di jalan kalian berdua, Reno kamu bawa mobilnya jangan buru-bur." Balas Sarah dengan rasa khawatir.
Keduanya pun keluar menuju mobil pribadi Reno yang masih terparkir di depan. Begitu pintu mobil tertutup dan mereka mulai pergi meninggalkan halaman rumah, Reno melirik Bara yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Tadi nyokap lo nanya soal semalam," ucap Reno memecah keheningan. "Gue bilang kita beneran lembur habis-habisan."
Bara menyandarkan punggungnya ke jok mobil, matanya menatap lurus ke depan. "Thanks, Ren. Gue emang butuh itu biar Mama nggak makin banyak tanya."
"Tapi Bar, lo tahu kan Renata di sana sendirian semalaman?" tanya Reno santai namun ada nada serius di dalamnya. "Lo nggak takut dia... ya, lo tahu sendirilah gimana perlakuan nyokap lo ke dia semalam sebelum nyokap pulang."
Bara terdiam sejenak, membayangkan wajah sembab Renata atau ekspresi lelah istrinya itu. "Makanya kita ke sana sekarang. Gue pengen mastiin keadaan Renata, apa dia udah merasa capek jagain Bokap gue semalaman."
"Ngomong-ngomong soal Renata, dia sekarang sudah bangun belum ya?" tanya Bara.
"Coba lo telepon dia," saran Reno. "Gue cuma mau pastiin saja dia sudah bangun atau belum. Kan siapa tahu Renata belum sarapan juga, bisa sekalian kita bawakan."
Bara menoleh ke arah sepupunya dengan alis terangkat. "Masih pagi sudah perhatian banget lo sama istri gue," sindir Bara dengan nada bercanda namun ada sedikit rasa tidak suka yang tersirat.
"Dih... jangan salah paham dulu, Bar!" Reno terkekeh. "Seharusnya lo yang perhatian dikit sama istri lo sendiri. Dia sudah jagain bokap lo semalaman, masa lo nggak nanya kabar dia sama sekali?"
"Iya, iya, nggak usah ngajarin gue soal perhatian. Mudah bagi gue kalau cuma urusan begitu," sahut Bara percaya diri, meski sebenarnya ia merasa sedikit tersindir.
"Alah... omong doang lo," gumam Reno.
Bara kemudian merogoh ponselnya dari saku celana. Ia mencari nama Renata di daftar kontak dan segera melakukan panggilan suara. Ponsel itu ditempelkan ke telinganya, menunggu nada sambung yang terus berbunyi tanpa jawaban.
"Gimana? Diangkat nggak?" tanya Reno melirik sekilas saat panggilan tak kunjung tersambung.
"Belum," jawab Bara singkat, wajahnya mulai menunjukkan sedikit ketidaksabaran. "Mungkin masih tidur kali, atau ponselnya di-silent."
Tepat lampu lalu lintas menunjukan lampu merah yang menyala terang, mobil yang di tumpangi mereka berhenti, seketika Reno melirik Bara. "Tungguin aja dulu, paling nanti diangkat," ucapnya santai.
Benar saja, tak lama kemudian suara lembut itu terdengar dari pengeras suara ponsel Bara. "Halo, Mas."
"Kamu sudah bangun?" tanya Bara tanpa basa-basi. "Kamu habis ngapain? Baru dijawab panggilanku."
"Anu... Mas, aku baru selesai mandi," jawab Renata di seberang sana, suaranya terdengar sedikit terengah karena baru saja keluar dari kamar mandi.
Mendengar itu, pikiran Bara mendadak melantur. "Terus sekarang kamu masih pakai handuk dong?" tanyanya spontan. Seketika bayangan kulit mulus tubuh istrinya yang segar sehabis mandi melintas di benaknya, membuat jakunnya naik turun.
Renata terkekeh pelan mendengar pertanyaan nyeleneh suaminya. "Aneh kamu, Mas. Aku sudah pakai dress harian sekarang."
Bara berdehem, mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat salah tingkah di depan Reno yang mulai senyum-senyum sendiri di sampingnya. "Ehm... begitu. Kamu sudah sarapan belum?"
"Belum, Mas. Ini aku baru mau keluar cari sarapan, sudah mau jam sembilan. Aku masih di ruangan Papah," jawab Renata jujur.
"Baguslah kalau kamu belum sarapan," sahut Bara dengan nada yang sedikit lebih pelan. "Aku jadi bisa bawain kamu sarapan. Tunggu di situ, jangan ke mana-mana."
"Tapi Mas..." Renata belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun panggilan suara terputus. Layar ponselnya kembali menampilkan wallpaper dirinya.