Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Gedung Vara Interior Design & Atelier berdiri angkuh dengan fasad kaca gelap yang memantulkan langit mendung Jakarta. Di dalamnya, suasana mendadak membeku saat SUV putih milik Isvara berhenti tepat di depan lobi. Tidak ada lagi senyum ramah atau sapaan hangat yang dulu sering menghiasi wajah Isvara dua tahun lalu. Saat pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan, yang turun adalah seorang wanita dengan aura yang begitu tajam, seolah setiap langkahnya sanggup mengiris udara.
Isvara melangkah masuk dengan dagu tegak. Sepatu hak tingginya berdentum di atas lantai granit hitam, menciptakan ritme yang membuat para staf di lobi menahan napas. Mereka yang tadinya sedang berbisik-bisik soal proyek, langsung terdiam kaku. Isvara tidak menoleh sedikit pun. Tatapan mata elangnya lurus ke depan dingin, kosong, dan sangat mengintimidasi. Kehidupan yang penuh penghakiman di kediaman Prayudha telah membunuh Isvara yang lama, menyisakan sosok predator yang siap menerkam siapa saja yang dianggapnya tidak kompeten.
"Selamat pagi, Bu Isvara," sapa seorang resepsionis dengan suara sedikit bergetar, punggungnya membungkuk lebih rendah dari biasanya.
Isvara hanya melewatinya. Tanpa kata, tanpa anggukan. Baginya, keramahan adalah kemewahan yang sudah lama ia buang. Di depan lift pribadi, Sinta dan Rima sudah berdiri menunggu dengan iPad di tangan. Sinta, asisten senior yang tenang, langsung membukakan pintu lift begitu Isvara mendekat.
"Bu Maya Prayudha sudah menunggu di Glass War Room, Bu. Beliau datang sepuluh menit lebih awal," lapor Sinta saat pintu lift tertutup.
Isvara menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. "Glass War Room? Berani sekali dia memilih ruangan itu," gumam Isvara dengan nada rendah yang berbahaya.
Glass War Room adalah ruangan paling ikonik di kantor Isvara. Sebuah kubus kaca transparan yang menggantung di tengah-tengah lantai kantor, memberikan pemandangan 360 derajat ke seluruh area staf di bawahnya. Ruangan itu dirancang untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali. Siapa pun yang duduk di sana akan merasa seperti sedang diadili, dan Isvara sengaja mendesainnya untuk mengintimidasi klien yang keras kepala.
Pintu lift terbuka. Isvara melintasi koridor minimalis menuju jembatan kaca yang menghubungkan kantor utama dengan Glass War Room. Di dalam sana, Maya Prayudha tampak duduk dengan gelisah, sesekali merapikan jas kerjanya. Meskipun Maya adalah seorang manajer operasional yang handal di Prayudha Group, berada di wilayah Isvara selalu membuatnya merasa kecil.
Klek.
Pintu kaca terbuka otomatis. Isvara masuk, auranya langsung memenuhi ruangan yang didominasi meja marmer hitam panjang dan kursi kulit Italia tersebut.
"Selamat pagi, Kak Isvara," sapa Maya, mencoba tersenyum meskipun matanya menunjukkan ketegangan. "Maaf aku langsung masuk ke sini, stafmu bilang—"
"Duduk, Maya," potong Isvara tanpa basa-basi. Ia berjalan ke ujung meja, menduduki kursi kebesarannya yang menghadap langsung ke arah matahari.
"Aku tidak punya banyak waktu. Katakan apa yang diinginkan ibumu sampai kau harus menggangguku di jam sepuluh pagi."
Maya berdehem, meletakkan tabletnya di atas meja marmer. "Ini soal proyek Grand Prayudha Resort di Bali. Mami meninjau ulang moodboard yang Kakak kirim kemarin. Beliau merasa pemilihan marmer Statutario untuk lobi terlalu berlebihan. Mami minta diganti dengan material lokal yang lebih ekonomis."
Isvara menyandarkan punggungnya, menatap Maya dengan tatapan mata elang yang tidak berkedip. Tekanan di dadanya mulai terasa, sebuah pengingat bahwa jantungnya tidak menyukai ketegangan, tapi Isvara menolak untuk terlihat lemah.
"Katakan pada Ibu Widya," suara Isvara terdengar sangat tenang namun setiap katanya seperti hantaman palu. "Jika dia ingin membangun penginapan kelas menengah, jangan gunakan jasaku. Vara Design tidak mengenal kata 'ekonomis' jika itu merusak estetika. Marmer itu adalah identitas kemewahan Prayudha. Jika kalian ingin memangkas biaya di bagian yang paling krusial, silakan kerjakan sendiri interiornya."
Maya tampak serba salah. "Tapi Kak, Mami bilang ini soal efisiensi anggaran—"
"Efisiensi atau ketidaktahuan?" Isvara mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Maya refleks mundur satu inci. "Ibumu membenciku, Maya. Kita semua tahu itu. Dia berusaha menjatuhkan standarku agar dia punya alasan untuk memutus kontrak dengan firmaku. Tapi sampaikan padanya, selama aku masih menyandang gelar Nyonya Kalandra secara hukum, standar Prayudha Group ada di tanganku."
Di bawah meja, tangan kiri Isvara meremas lututnya kuat-kuat. Rasa nyeri itu kembali tajam dan menghujam. Oksigen di dalam kubus kaca itu seolah mendadak habis. Isvara bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di tengkuknya, namun wajahnya tetap kaku, tanpa ekspresi, seperti topeng yang terbuat dari es.
Sinta yang berdiri di balik pintu kaca, menangkap kode dari perubahan cara bernapas Isvara yang sedikit lebih pendek. Ia segera masuk dengan nampan berisi segelas air mineral dan meletakkannya tepat di samping tangan Isvara.
"Lanjutkan, Maya. Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Isvara meraih gelas itu, meminumnya perlahan untuk menstabilkan detak jantungnya yang mulai liar.
Maya hanya bisa terdiam, terpaku pada tatapan mata elang kakak iparnya yang begitu mendominasi. Di ruangan kaca itu, di bawah pengawasan seluruh staf yang bekerja di bawah sana, Maya menyadari bahwa Isvara bukan lagi wanita lemah yang bisa mereka tindas dengan kata-kata. Isvara telah menjadi benteng yang kokoh, meskipun ia tahu, benteng itu sedang retak di dalam.
Aku sesak Isvara...