Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Ruang Dimensi
Violet pun langsung memeriksa ke arah lemari yang usang. ia pun membuka semua laci, hingga akhirnya matanya tertuju pada laci yang berada dalam lemari.
Ketika membukanya, Violet melihat sebuah kotak berwarna hijau lusuh. Ia pun mengambilnya dan membukanya.
Seketika cahaya yang menyilaukan keluar dari dalam kotak itu, hingga membuat Violet menutup matanya. Setelah cahaya itu menghilang, Violet melihat sebuah gelang usang. Ia pun mengangkatnya dan mengusap perlahan lalu tanpa sengaja jarinya tergores "Ashh..." hingga mengeluarkan darah.
Darah itu menetes ke arah gelang itu, tak lama kemudian, gelang tersebut langsung terpasang di pergelangan tangannya.
Sedangkan Violet, ia merasakan udara di sekitarnya perlahan berubah.
Violet pun membuka matanya dan kemudian matanya berputar mengelilingi ruangan itu.
"Ini... Di mana? Bukannya tadi aku berada di dalam kamar yang gelap?" gumamnya.
Dalam hati, ia masih bergumam pelan. "Kenapa sekarang aku berada di sebuah taman yang luas dengan hamparan bunga yang berwarna-warni, bahkan di depanku terlihat sebuah mansion yang begitu megah."
Masih terkejut dengan semuanya, tiba-tiba sebuah suara terdengar.
"Tuan," suara itu.
"Hah?! Siapa? Tunjukkan padaku wujud dirimu," ucap Violet.
"Aku di sini, tuan," perlahan mulai terlihat kaki, badan, tangan hingga kepala.
Violet terkejut melihat itu. "Kamu... Siapa?"
"Aku penjaga ruang dimensi ini," jawabnya.
"Penjaga... ruang dimensi?" gumam Violet.
Sambil menatap tak percaya, Violet mendekat. Mencoba menyentuhnya." Bukankah... Itu hanya ada dalam novel saja?"
Violet pun menyentuh badannya. Seketika penjaga ruang dimensi itu wajahnya memerah." Tuan, jangan sentuh aku sembarangan."
Violet yang mendengar itu mengerjakan matanya. "Aku kan hanya ingin memastikan."
Penjaga ruang dimensi itu mendengus kesal ketika mendengar jawaban Violet.
Violet terkekeh. "Baiklah, aku minta maaf. Kalau begitu bagaimana kalau kita berkenalan?"
"Oke," ucap ya dengan masih sedikit kesal.
"Namaku Violet Rosalyn. Kamu bisa memanggilku Violet atau Vio. Lalu, nama kamu siapa?" tanya Violet.
Sedangkan penjaga ruang dimensi wajahnya langsung murung . "Aku... tidak memiliki nama. Mereka hanya memanggilku penjaga ruang dimensi."
Violet sedikit terdiam mendengar jawaban itu. Tatapannya yang semula penuh penasaran, perlahan berubah menjadi lembut.
" Tidak punya nama?" ulangnya pelan.
Penjaga itu hanya menggeleng. "Sejak aku berada di sini... aku hanya menjalankan tugas saja. Dan tidak pernah ada yang memberiku nama."
Violet menatapnya lebih lama, seolah sedang memikirkan sesuatu." Ahhh.."
Tiba-tiba saja ia mengejutkan penjaga dimensi itu.
" Kenapa, tuan?" tanya penjaga ruang dimensi.
Violet bukannya menjawab, justru mengangkat sudut bibirnya. Sedangkan penjaga ruang dimensi itu, tiba-tiba bergidik ngeri.
Violet pun menatap tajam dan memegang pundak sang penjaga ruang dimensi.
"Aku sudah tahu... Aku sudah tahu nama apa yang cocok untukmu."
Penjaga itu terkejut. "Tuan... itu tidak perlu..."
"Perlu," potong Violet cepat."Masa seseorang sepertimu tidak punya nama? Itu terdengar menyedihkan."
Sang penjaga pun terdiam. Merasa ada sesuatu yang hangat masuk ke dalam relung hatinya.
Violet yang masih memegang pundak sang penjaga, matanya menatap tajam. "Mulai sekarang... aku akan memanggilmu Aerin."
"Aerin...?" ucapnya pelan. Seakan mencoba merasakan nama itu.
Violet mengangguk "Iya, Aerin. Artinya... seseorang yang menjaga dengan tenang. Cocok untukmu, kan?"
Penjaga yang kini bernama Aerin, menunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Namun, itu tidak cukup untuk menyembunyikan perasaan harunya.
"Terima kasih... Tuan Violet."
Violet tersenyum kecil. "Panggil aku Violet saja. Tidak perlu pakai kata 'Tuan' segala."
Aerin terlihat ragu. "Tapi... aturan disini-?"
"Langgar saja sekali-kali," sahut Violet santai membuat Aerin sedikit terdiam, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.
" Baiklah. Terima kasih Violet, karena sudah memberikanku nama."
"Oh iya, Aerin. Cara keluar dari sini, gimana? Soalnya aku lagi siap-siap untuk pergi dari rumah ini." ucap Violet.
"Kamu hanya perlu pikirkan kata keluar, dan nanti langsung keluar dari dalam dimensi ini," jawab Aerin.
"Oke, aku coba." Violet pun langsung melakukannya sesuai instruksi Aerin.
Dan Wushhh...
Suasana langsung berubah ketika ia membuka matanya. Ia tepat berada di kamar yang sebelumnya.
" Aerin, apa kau mendengarku?" ucap Violet dalam hati.
"Tentu, aku mendengarnya Violet," jawab Aerin.
"Apakah gelang yang aku pakai ini akan terlihat oleh semua orang?" tanya Violet.
"Semua orang tidak dapat melihatnya. Hanya terlihat oleh orang yang akan menjadi pasanganmu kelak,"
" Tapi, sebentar lagi aku akan menikah. Lalu bagaimana aku menemukan pasanganku yang sesungguhnya?" tanya Violet murung.
"Kau tidak perlu khawatir, gelang tersebut yang akan menemukan pasangannya," jawab Aerin.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu Aerin. Oh iya, apa kamu bisa membantuku?" tanya Violet lagi.
" Tentu, tapi... Apa yang harus ku lakukan?" jawab Aerin.
"Kau punya serbuk gatal gak, Rin?"
"Tentu saja ada. Kau tinggal menyebutkan apa yang kamu butuhkan, maka dalam sekejap akan langsung muncul di tanganmu."
"Wah, bagus itu. Nanti kau coba taburkan serbuk gatal itu pada Mama Viony dan juga Papa Darius," suruh Violet dengan semangat.
"Baiklah, aku akan lakukan."
"Oke, aku pergi dulu, Aerin."
Setelah itu, Violet pun menyeret kopernya dan tas gendong berada di bahu kirinya.
Ketika sampai di ruang tamu, mata mereka semua langsung melihat Violet.
Kelvin pun mulai mencairkan suasana. " Baiklah, karena Nona Violet sudah siap, kita pergi sekarang. Dan jangan lupa dengan janjimu, Tuan Darius."
"I-iya, tuan. Kami pasti akan menepati janji," jawab Darius gugup .
"Ayo, Nona Violet. Kita pergi sekarang," ucap Kelvin.
Violet pun mengangguk kepalanya.
"Aerin, taburkan serbuk gatalnya sekarang, dan mulai reaksinya besok setelah acara pernikahan, " ucap dalam pikirannya.
" Baik, Vio," jawab Aerin.
Aerin pun keluar dari dalam ruang dimensi dan mulai menyebarkan serbuk gatal itu pada kedua orang tua tercinta tuannya.
"Rasakan itu, itulah akibatnya pilih kasih pada anak sendiri."
Setelah mengucapkan kata itu, Aerin pun langsung kembali lagi ke dalam ruang dimensi.
Violet, Tuan X dan Tuan Kelvin telah keluar dari rumah itu, meninggalkan kedua orang tua Violet.
Sedangkan Papa Darius dan Mama Viony, entah kenapa merasakan hawa dingin. Seperti ada yang mengintainya setelah kepergian mereka.
" Pa, apa Papa merasakan sesuatu?" tanya Mama Viony.
"Iya, Papa juga merasakannya," jawab Papa Darius.
" Pa, jangan kemana-mana ya, temenin Mama di rumah," ucap Mama Viony memohon.
"Mana bisa gitulah, Ma. Papa harus kerja."
"Tapi, mama merasakan sesuatu hal yang gak beres di rumah ini..." ucap Mama Viony sambil mengusap-usap lengannya yang bulunya terasa berdiri.
"Hah... itu hanya akal-akalanmu saja. Mana ada hantu di siang hari seperti ini," jawab Papa Darius sambil melangkah keluar meninggalkan Mama Viony sendirian.
...****************...
Back to Violet...
Saat ini, Violet tengah duduk di mobil bersama Tuan X. Di depannya, Tuan Kelvin dan supir pribadinya.
Violet melirik ke arah jendela, namun sesekali matanya melirik ke arah Tuan X.
Sedangkan Tuan X yang merasakan itu hanya terdiam. Namun, di balik topengnya, sudut bibirnya perlahan terangkat sedikit.
"Gadis yang cantik dan menarik," ucapnya dalam hati.
...... To be continued ......