Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tuntun aku ke sana
Debu jalanan yang gersang mendadak terbelah oleh dentingan logam yang memekakkan telinga.
Di sebuah lembah sempit yang diapit tebing terjal, Tian Shan menghentikan langkahnya. Matanya yang sedalam sumur tua menatap tajam ke arah kerumunan di depan.
TRANG! KLANG!
Satu kelompok pendekar berpakaian seragam hitam—terlatih, efisien, dan penuh niat membunuh—sedang mengepung lima orang berjubah abu-abu kusam.
Orang-orang berjubah itu bertarung dengan putus asa, namun gerakan mereka kaku, seolah-olah daratan adalah medan yang asing bagi tubuh mereka.
"Sepertinya mereka mengincar orang-orang berjubah itu," gumam Tian Shan. Ia menyilangkan lengan di dada, memperhatikan teknik serangan para pengepung yang mengincar titik vital tanpa ragu.
Salah satu pengepung menebaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi, merobek tudung salah satu pelarian tersebut.
Saat kain itu jatuh, terungkaplah sepasang telinga yang meruncing dengan selaput tipis transparan di tepinya—bukan telinga manusia. Kulitnya pucat dengan semburat kebiruan yang berkilau di bawah terik matahari.
Mata perak Tian Shan sedikit melebar. Ingatannya melesat ke masa silam, ke sebuah samudera di Alam Abadi yang kini telah ia leburkan ke dunia fana ini.
"Ras Duyung?"
Tanpa peringatan, Tian Shan melesat. Langkahnya tidak lagi ringan; sebagai Pendekar Bumi, setiap pijakannya membuat tanah bergetar pelan, seolah bumi sendiri memberikan dorongan pada kakinya.
Para pemburu itu bahkan tidak sempat menoleh.
SLASH!
Tian Shan muncul di tengah mereka. Ia tidak menggunakan kecapi, cukup dengan jari-jarinya yang kini sekeras logam perak.
Dengan satu ayunan tangan, ia memenggal dua kepala sekaligus.
Kecepatan dan berat serangannya begitu mutlak sehingga tulang leher mereka hancur sebelum bilah imajiner dari Qi-nya lewat.
Tiga orang sisanya mencoba berbalik, namun Tian Shan sudah menghujamkan telapak tangannya ke dada pemimpin mereka.
KRETEK!
Zirah besi pria itu remuk. Jantungnya hancur seketika. Dua sisanya tewas dalam hitungan detik saat Tian Shan memutar tubuhnya, melepaskan gelombang tekanan gravitasi yang meremukkan organ dalam mereka hingga mereka memuntahkan darah hitam.
Sunyi. Lembah itu kini hanya menyisakan aroma amis darah dan debu yang perlahan mengendap.
Tian Shan menoleh, menatap sisa-sisa Ras Duyung yang kini gemetar ketakutan. Mereka memegang belati tulang dengan tangan yang tidak stabil, mata mereka penuh dengan ketakutan primitif.
"Ras Duyung ... Apa yang kalian lakukan di sini, jauh dari air?" tanya Tian Shan. suaranya rendah namun mengintimidasi.
"Berhenti di sana, Manusia!" salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut biru laut yang kotor, berteriak. "Apa kau juga berniat memburu kami untuk diambil mutiara jiwanya? Pergi!"
Tian Shan menyipitkan mata. Ia terus melangkah maju, mengabaikan peringatan mereka. "Sepertinya ras dari alam abadi nasibnya cukup sial ya di dunia baru ini?"
"Ras Abadi? Bagaimana kau bisa tahu tentang itu?" wanita itu tertegun, kewaspadaannya berubah menjadi kebingungan yang mendalam. "Siapa kau sebenarnya? Tidak ada manusia di dunia fana yang mengingat asal-usul kami!"
BOOM!
Tian Shan menghentakkan kakinya ke tanah dengan kekuatan penuh ranah ketiganya.
Tanah di sekitar mereka retak hebat, melepaskan gelombang kejut yang membuat para duyung itu terhempas ke belakang dan jatuh terduduk.
Tekanan gravitasi yang berat membuat mereka sulit untuk sekadar berdiri kembali.
"Siapa aku tidak penting," ucap Tian Shan sembari berdiri tegak di tengah retakan tanah. "Aku hanya penasaran. Di mana kerajaan kalian bersembunyi? Di dunia yang sudah kacau ini, seharusnya tidak ada tempat bagi kalian untuk membangun istana di bawah air tanpa terdeteksi."
"D-dasar manusia bajingan!" salah satu duyung pria mencoba mengutuk, namun ia terbatuk karena tekanan Qi Tian Shan yang menyesakkan paru-parunya.
Wanita duyung itu menatap Tian Shan dengan tatapan ngeri. Ia menyadari bahwa pemuda berambut putih di depannya ini memiliki aura yang lebih menyerupai Legenda kuno dari legenda kuno mereka daripada seorang pendekar biasa.
"Kami ... kami tidak punya kerajaan lagi," ucap wanita itu akhirnya dengan nada pasrah. "Hanya sebuah pemukiman tersembunyi di Danau Bayangan. Jika kau ingin membunuh kami, lakukan sekarang. Tapi jangan siksa kami lebih jauh."
Tian Shan menarik kembali auranya. Tekanan berat itu menghilang seketika, membuat mereka bisa bernapas lega kembali.
"Tuntun aku ke sana," perintah Tian Shan. "Aku ingin melihat apa yang tersisa dari ras yang dulu pernah memandang dunia fana."
Para duyung itu saling pandang dengan penuh keraguan, namun melihat mayat para pemburu yang hancur di sekitar mereka, mereka tahu bahwa tidak ada pilihan lain.
Dengan langkah gontai dan penuh kecurigaan, mereka mulai menuntun Tian Shan menuju ke kedalaman hutan, menuju sebuah rahasia yang telah lama terkubur oleh waktu.
lanjut thor💪