NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Minggu pagi keluarga kecil

Minggu pagi datang dengan suasana yang lebih santai dari biasanya. Sinar matahari masuk lembut melalui celah kamar, menerangi ruangan dengan cahayanya yang hangat.

Anindia dan Keanu sudah bersiap sejak pagi. Tidak ada pakaian formal ataupun penampilan yang terlalu rapi seperti hari kuliah. Semuanya terasa lebih ringan, lebih santai, khas akhir pekan bersama keluarga kecil mereka.

Anindia mengenakan blouse berwarna lembut dipadukan dengan rok panjang sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, memberikan kesan manis tanpa usaha berlebihan.

Sementara Keanu berdiri tak jauh darinya dengan pakaian kasual andalannya. Kaos hitam polos dan celana jeans hitam membuatnya terlihat santai, tapi tetap menarik seperti biasa.

Shaka juga sudah siap dengan pakaiannya. Ia duduk anteng sembari memainkan mainan di tangannya.

Keanu yang sedari tadi berdiri di dekat tempat tidur akhirnya mengangkat Shaka ke dalam gendongannya. Dengan satu tangan menopang tubuh kecil putranya, ia melangkah santai ke tengah kamar.

Tanpa aba-aba, Keanu memutar pelan tubuhnya sekali. Shaka langsung terkekeh riang. Tawa kecilnya pecah seketika, kedua tangannya bergerak antusias sembari menatap ayahnya dengan mata berbinar.

Keanu ikut tersenyum melihat reaksi itu. "Seneng banget, hmm?" Ujarnya lembut.

Bukannya berhenti, ia kembali memutar pelan lagi, membuat Shaka semakin tertawa sampai tubuh mungilnya bergerak-gerak gemas di gendongan.

Anindia yang berdiri di dekat lemari langsung tersenyum sendiri. Ia mengambil tas kecilnya yang sudah disiapkan sejak tadi. Setelah memastikan semua barang Shaka masuk di dalamnya, ia pun berjalan menghampiri keduanya.

"Udah siap, Mas?" Tanya Anindia lembut begitu berdiri di depan mereka.

Keanu menoleh sekilas ke arah Anindia, lalu mengangguk santai. Tangannya masih menopang Shaka yang kini sibuk memainkan kaos ayahnya sendiri.

"Siap," jawab Keanu singkat. "Tinggal berangkat sebelum anaknya terlalu semangat," tambahnya.

Shaka mengoceh kecil, seolah menanggapi. Hal itu jelas saja membuat Anindia langsung terkekeh pelan.

Keanu melangkah lebih dulu ke arah pintu kamar. Namun sebelum benar-benar melangkah, satu tangannya menggenggam erat tangan Anindia. Jemarinya memegang lembut tangan Anindia, sementara tangan satunya tetap kokoh menggendong Shaka di sisi tubuhnya.

Anindia sempat menoleh sekilas ke arah tangan mereka yang saling bertaut, lalu tersenyum kecil tanpa sadar.

Dengan langkah santai, mereka keluar dari kamar bersama. Minggu pagi itu baru saja dimulai, dan suasananya sudah terasa hangat sejak awal.

Tiba di teras rumah, langkah mereka sedikit melambat. Di sana, ayah dan ibu Keanu sudah duduk santai menikmati pagi.

Secangkir kopi hangat berada di tangan ayah Keanu, sementara teh hangat tersaji di atas meja kecil, tepat di depan ibu Keanu.

"Wah, pagi-pagi udah rapi semua. Mau kemana?" Tanya ibu Keanu dengan senyum hangat.

Anindia tersenyum mendengar pertanyaan itu. Lalu, ia melangkah sedikit mendekat ke arah mertuanya sambil membetulkan posisi tas kecil di pundaknya.

"Mau ngajak Shaka rapihin rambut dulu, Ma," ujar Anindia lembut. "Udah mulai panjang soalnya."

Ibu Keanu langsung menoleh ke arah cucunya. Matanya memperhatikan rambut tipis Shaka yang memang mulai sedikit menutupi dahinya.

"Hmm, pantesan ayah dan bundanya ikut rapi juga," goda ibu Keanu.

Ayah Keanu tertawa kecil menanggapinya. Sementara Shaka sibuk memperhatikan Oma Opanya dengan wajah polos.

Ayah Keanu meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas meja. Lalu, ia beranjak dari duduknya sembari merapikan sedikit lengan kemejanya.

"Kalau begitu, Papa juga berangkat dulu," ujar ayah Keanu.

Ibu Keanu langsung menoleh sekilas. "Hari Minggu masih kerja?"

"Ada yang harus dicek sebentar," jawab ayah Keanu kemudian.

Keanu mengangguk pelan memahami, sementara Anindia hanya tersenyum sopan. Shaka yang melihat Opanya berdiri malah mengulurkan tangan kecilnya, seolah ingin ikut digendong. Ayah Keanu langsung tertawa melihat tingkah cucunya itu.

Ayah Keanu langsung mendekat ke arah Shaka yang masih berada dalam gendongan putranya. Dengan senyum hangat, ia mengusap kepala Shaka sebelum mengecup pipi chubby itu sekilas.

"Opa pergi dulu ya, anak pintar." Ujar ayah Keanu. "Shaka sama ayah bunda dulu."

Shaka hanya menatap polos, lalu mengoceh kecil sembari menggerakkan tangannya gemas. Ayah Keanu kembali tersenyum melihat respon itu. Tatapannya terlihat begitu lembut setiap kali memandang cucu pertamanya itu.

"Papa pergi dulu, ya," pamit ayah Keanu. Setelahnya, ia melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.

"Ma, kami juga berangkat dulu," ujar Keanu yang kini menoleh ke arah ibunya.

Ibu Keanu mengangguk pelan, "Hati-hati di jalan."

Anindia ikut tersenyum, lalu mencium tangan ibu mertuanya dengan sopan. "Kalau udah selesai kami langsung pulang, Ma."

Ibu Keanu mengusap tangan menantunya sekilas, sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Iya, sayang."

Setelahnya, mereka melangkah bersama. Keanu membuka pintu depan untuk Anindia lebih dulu. Sementara Shaka kini sudah berpindah ke dalam pelukan ibunya.

Keanu menutup pintu perlahan. Setelah memastikan keduanya nyaman, ia berjalan ke sisi kemudi. Tanpa menunggu lama, ia langsung melajukan mobilnya ke arah jalan.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Barbershop langganan Keanu pagi itu cukup ramai. Suara mesin cukur menghiasi bangunan itu.

Awalnya, semua berjalan tenang. Shaka bahkan terlihat antusias melihat suasana baru di sekelilingnya. Matanya sibuk memperhatikan kursi besar, cermin lebar, hingga para barber yang berlalu lalang.

Keanu duduk lebih dulu untuk merapikan rambutnya. Selama itu, Shaka masih anteng dalam pangkuan Anindia sambil memperhatikan ayahnya dari kejauhan.

Namun, suasana berubah ketika tiba giliran Shaka. Begitu tubuh kecilnya didudukkan dan mesin cukur mulai dinyalakan, suara dengung halus langsung memenuhi area sekitar kursi.

Shaka yang awalnya diam langsung terkejut. Bibir mungilnya bergetar pelan sebelum akhirnya tangisnya pecah begitu saja. Tangannya refleks meraih Anindia sambil berusaha menjauh dari suara mesin cukur itu.

Anindia langsung panik kecil. "Ya ampun, sayang," ujarnya buru-buru sambil menggendong kembali putranya.

Sementara Keanu yang berdiri di dekat kursi ikut terkejut melihat reaksi Shaka yang tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

Anindia langsung mengusap punggung Shaka pelan sambil mengayun tubuh kecil itu dalam pelukannya. "Iya-iya, gapapa sayang." Ujarnya lembut berusaha menenangkan.

Namun, Shaka masih merengek kecil. Wajahnya bersembunyi dibalik leher ibunya, seolah benar-benar takut dengan suara mesin cukur tadi.

Melihat reaksi putranya, Keanu sempat terkekeh kecil. Bahunya bergerak pelan menahan tawa. "Baru juga dengar suaranya," goda Keanu.

Anindia langsung melirik suaminya sekilas. "Mas, jangan diketawain."

Keanu akhirnya mendekat, masih tersenyum hangat. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Shaka yang mulai berantakan karena terlalu banyak bergerak.

"Cowok kok takut begitu, hmm?" Ujar Keanu pelan, nada suaranya jauh lebih lembut daripada godaannya tadi.

Meski begitu, tangannya tetap membantu menenangkan Shaka. Sesekali ia mengusap punggung putranya bergantian dengan Anindia, membiarkan anak itu merasa aman lebih dulu sebelum melanjutkan potong rambutnya lagi.

Barber yang sejak tadi berdiri di dekat kursi itu hanya tersenyum maklum melihat reaksi Shaka. Ia memang sudah beberapa kali menangani anak kecil yang takut dengan suara mesin cukur.

"Gapapa, Mas. Anak kecil biasanya emang kaget dulu sama suaranya." Ujar barber itu santai, sambil mematikan mesin cukur untuk sementara waktu.

Tatapannya berpindah sekilas ke arah Anindia dan Keanu. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat bagaimana pasangan muda itu yang sama-sama berusaha menenangkan putra kecilnya.

"Iya Mas, terima kasih sebelumnya," jawab Keanu kemudian.

Barber itu kemudian bersandar santai sejenak di kursinya, jelas tidak keberatan menunggu. Apalagi Keanu memang sudah cukup lama menjadi pelanggan tetap di tempat itu.

"Pelan-pelan aja, Mas." Ujar barber itu lagi pada Keanu. "Biar dia nyaman dulu."

Anindia langsung menatap barber itu dengan ekspresi tidak enak. Tangannya masih mengusap pelan punggung Shaka yang mulai sedikit tenang dalam pelukannya.

"Maaf ya, Mas... Jadi ngerepotin," ujar Anindia pelan sambil tersenyum canggung.

Barber itu langsung menggeleng cepat. "Santai aja, Mbak. Gapapa kok." Jawabnya ramah. "Namanya juga anak kecil."

Meski begitu, Anindia tetap merasa bersalah karena sejak tadi barber itu harus menunggu. Apalagi barbershop pagi itu cukup ramai dan beberapa pelanggan lain juga mulai berdatangan.

Keanu yang menyadari istrinya mulai kepikiran langsung melirik sekilas. "Gak usah dipikirin, sayang."

Anindia menghela nafas kecil, lalu kembali menatap Shaka yang kini mulai berhenti menangis meski sesekali masih merengek pelan.

Keanu kemudian mengusap kepala Shaka lagi sambil tersenyum tipis. "Malu tuh sama Om-nya." Goda Keanu ringan. "Udah ditungguin dari tadi."

Setelah beberapa menit ditenangkan, tangisan Shaka akhirnya perlahan mereda. Nafasnya sudah lebih teratur, meski sesekali ia masih menempel manja di bahu Anindia.

Keanu melirik barber di depannya, lalu mengangguk kecil sebagai tanda kalau mereka bisa mencoba lagi.

Kali ini, Shaka tidak langsung didudukkan sendiri. Keanu memilih memangku putranya agar anak itu merasa lebih nyaman. Satu tangannya melingkar menjaga tubuh kecil Shaka, sementara tangan satunya sesekali mengusap pelan kepala putranya.

Anindia yang berdiri di samping ikut tersenyum lega melihat Shaka mulai lebih tenang. Tangannya sesekali membantu mengalihkan perhatian Shaka dengan mainan kecil yang tadi dibawa dari rumah. Perlahan, proses potong rambut itu akhirnya kembali berjalan dengan jauh lebih lancar.

Di tengah suasana yang mulai tenang itu, beberapa gadis yang berjalan melewati depan barbershop sempat melirik ke arah mereka.

Pandangan mereka berhenti cukup lama pada Keanu yang memang masih terlihat sangat muda. Begitu juga dengan Anindia yang berdiri menemani Shaka.

Salah satu dari mereka berbicara pekan, tapi masih jelas terdengar. "Ih, masih muda udah punya anak."

Yang lainnya langsung menimpali. "Ceweknya hamil duluan kali."

Tawa kecil langsung terdengar di antara mereka. Anindia yang mendengarnya refleks terdiam. Tangannya yang tadi sedang membetulkan baju Shaka berhenti sesaat. Wajahnya sedikit berubah, jelas mendengar ucapan itu.

Namun, sebelum Anindia sempat mengatakan apapun, Keanu perlahan menoleh. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi, tatapan matanya langsung berubah tajam, dingin, dan penuh peringatan.

Senyum mengejek dari para gadis tadi langsung memudar. Mereka saling melirik canggung sebelum akhirnya buru-buru mengalihkan pandangan dan berjalan pergi.

Keanu tetap diam. Rahangnya sedikit mengeras sebelum akhirnya kembali memusatkan perhatian pada Shaka. Sementara Anindia hanya menunduk diam. Meski mencoba terlihat biasa saja, ucapan tadi masih terngiang di kepalanya.

Keanu langsung menyadari itu. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan Anindia dengan satu tangannya. Jemarinya menggenggam lembut, memberikan sedikit tekanan seolah ingin menenangkan.

Anindia menoleh pelan ke arah suaminya. Keanu membalas tatapan itu dengan ekspresi tenang. "Gak usah dipikirin," ujar Keanu pelan. "Mereka ngomong gitu karena gak tau apa-apa."

Keanu mengusap punggung tangan Anindia dengan ibu jarinya lembut. "Yang jalani kita, bukan mereka."

Anindia terdiam beberapa saat. Dadanya terasa sedikit lebih ringan mendengar itu. Keanu kemudian tersenyum tipis, berusaha mengembalikan suasana seperti semula.

"Lagian," ujar Keanu santai. "Kalau aku emang seberuntung itu dapet kamu cepat, gak salah kan?"

Anindia langsung menatap Keanu dengan tatapan tidak percaya. Di tengah situasi seperti ini, suaminya masih sempat menggoda. Namun tanpa sadar, sudut bibir Anindia terangkat sedikit.

Anindia menghela nafas kecil sambil menggeleng pelan mendengar ucapan terakhir Keanu. "Mas," gumamnya lirih, setengah malu setengah pasrah dengan cara suaminya menenangkan.

Kali ini, Anindia tidak lagi murung seperti tadi. Tangannya membalas menggenggam jemari Keanu sebentar, seolah mengiyakan tanpa perlu banyak kata. Karena memang benar, hanya mereka yang tahu bagaimana perjalanan hidup mereka sebenarnya.

Di tengah semua ucapan orang lain, Anindia sadar satu hal. Selama Keanu tetap berdiri di sampingnya seperti sekarang, semuanya terasa jauh lebih mudah dihadapi.

Tak lama kemudian, proses potong rambut Shaka akhirnya selesai. Rambut tipisnya terlihat jauh lebih rapi, membuat wajah mungilnya semakin terlihat jelas.

Setelah semuanya selesai, Keanu membayar biaya potong rambut mereka sebelum akhirnya melangkah keluar.

Shaka kini kembali nyaman dalam gendongan Anindia. Ia terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Bahkan, tangannya sibuk memainkan kerah blouse ibunya diselingi dengan ocehan kecil. Sementara Keanu berjalan di samping keduanya menuju area parkiran.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, seseorang tiba-tiba menabrak pundak Keanu, membuatnya sedikit terhuyung.

"Mas?" Ujar Anindia refleks menahan lengan Keanu dengan satu tangan agar suaminya tidak terjatuh.

Belum sempat mereka menoleh, suara sinis seorang pria terdengar tak jauh dari mereka.

"Woi, what's up bro?"

Langkah Keanu langsung berhenti. Perlahan, ia mendongak. Tatapannya berubah tajam seketika, rahangnya mengeras saat melihat sosok di depannya.

"Lo?"

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!