Membelenggu Liarmu dengan Mahar
Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.
Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.
Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.
Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR
BAB 22: "Sajadah yang Basah dan Aroma Cilok di Gerbang"
Matahari Kediri belum sepenuhnya naik ke puncak langit ketika Zain dan Shania melangkah keluar dari rimbunnya kebun durian. Aroma tanah basah yang tadi menemani obrolan filosofis mereka perlahan berganti dengan aroma kayu bakar dari dapur umum pesantren. Di sana, para santri mulai sibuk menyiapkan sarapan besar, sebuah rutinitas yang selalu membuat Shania merasa berada di sebuah dunia yang bergerak dengan ritme pengabdian yang tenang.
Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya meredam sifat asli Shania. Sifat yang oleh Zain disebut "liar," namun bagi Shania sendiri adalah sisa-sisa kebebasan dari masa lalunya yang gemerlap sebelum ia "terjebak"—atau mungkin lebih tepatnya, "diselamatkan"—oleh mahar sang Ustadz.
"Mas, tadi benar ya? Hukum waris?" tanya Shania sambil menyampirkan tas kain kecil berisi beberapa durian kupas yang mereka bawa pulang.
Zain menoleh, menahan senyum melihat istrinya yang berjalan sedikit melompat-lompat kecil di jalan setapak.
"Kenapa? Sudah mau menyerah sebelum berperang? Hukum waris itu kunci, Shania. Dalam Islam, keadilan dimulai dari bagaimana kita mengelola peninggalan."
Shania mendengus di balik cadarnya.
"Aku, tahu itu penting. Tapi membayangkannya saja sudah membuat kepalaku seperti diisi rumus matematika yang lebih rumit dari durian tadi. Asal Mas ingat, taruhannya adalah cilok depan gerbang. Dua porsi. Pakai bumbu kacang yang pedasnya minta ampun."
Zain tertawa kecil, suara rendahnya yang menenangkan itu beradu dengan suara kicauan burung pipit.
"Iya, Sayang. Cilok dengan level pedas yang bisa membuatmu istighfar berkali-kali. Tapi syaratnya, kamu harus paham bagian Ashabah dan siapa saja yang berhak mendapatkan seperdelapan."
"Siap, Kapten!"
Shania memberikan hormat dengan tangan kanannya, membuat beberapa santriwati yang sedang menjemur mukena di kejauhan tersenyum-senyum melihat kedekatan pasangan tersebut.
"Pelajaran di Balik Tirai"
Sesampainya di rumah, suasana berubah menjadi lebih serius namun tetap hangat. Zain tidak langsung membiarkan Shania beristirahat. Baginya, setiap detik adalah kesempatan untuk menanamkan benih ilmu ke dalam hati istrinya yang lincah itu.
Mereka duduk di ruang tengah, di atas karpet beludru hijau yang sering menjadi saksi bisu Shania mengulang hafalannya. Zain membuka sebuah kitab kuning tipis, sementara Shania menyiapkan buku catatan kecil dengan sampul bermotif bunga-bunga—kontras sekali dengan kitab-kitab gundul di rak buku Zain yang tampak tua dan berwibawa.
"Kita mulai dari yang paling dasar, Shania. Ahli waris dari pihak laki-laki," ujar Zain mulai menjelaskan.
Selama hampir dua jam, ruang itu hanya diisi oleh suara berat Zain yang membedah hukum Faraidh dan gumaman Shania yang berusaha keras menghafal istilah-istilah seperti Zawil Furud.
Ada satu momen ketika Shania terdiam cukup lama. Ia menatap catatan tentang bagian seorang istri.
"Mas..." panggilnya pelan.
"Iya?"
"Kenapa bagian perempuan seringkali terlihat lebih sedikit secara hitungan angka? Bukankah di zaman sekarang banyak perempuan yang juga bekerja?" tanya Shania.
Ini adalah sisi kritisnya yang selalu muncul—sisi yang dulu membuatnya sempat enggan menyentuh agama lebih dalam karena merasa "tidak adil."
Zain menutup kitabnya perlahan. Ia tidak marah atau merasa didebat. Ia justru senang, Shania tidak sekadar menelan ilmu, tapi memikirkannya.
"Shania, lihat, saya," pinta Zain lembut.
Shania mengangkat wajahnya.
"Dalam Islam, angka bukan satu-satunya penentu keadilan. Seorang laki-laki mendapatkan bagian lebih besar karena di pundaknya ada kewajiban mutlak untuk menafkahi. Kamu, sebagai istri, mendapatkan bagianmu sepenuhnya untuk dirimu sendiri. Kamu, tidak wajib membiayai dapur, tidak wajib membelikan baju untuk suami, tidak wajib membayar listrik. Semua itu tanggung jawab, saya. Jadi, harta yang kamu punya adalah milikmu, sementara harta yang saya punya, ada hakmu di dalamnya. Sekarang, siapa yang lebih kaya?"
Shania tertegun. Penjelasan itu masuk ke logikanya dengan cara yang sangat manis, seperti cara Zain menyuapinya durian tadi pagi. Tanpa sadar, ia menggenggam pulpennya lebih erat.
"Jadi, aturan ini sebenarnya untuk melindungi wanita agar tidak terbebani secara finansial?"
"Tepat. Allah itu Maha Adil, Shania. Dia tidak pernah membelenggu hamba-Nya tanpa memberikan perlindungan di balik belenggu itu."
Shania mengangguk-angguk paham. Diam-diam, ia merasa bersyukur memiliki Zain. Jika ia menikah dengan pria lain, mungkin pertanyaan kritisnya akan dijawab dengan bentakan atau tuduhan kurang iman. Tapi Zain, pria ini memperlakukannya seperti mutiara yang harus dibersihkan perlahan dari debu-debu keraguan.
"Janji Gerbang Pesantren"
Sore harinya, sesuai janji, Zain melepaskan sejenak atribut keustadzannya. Ia hanya mengenakan kemeja koko kasual berwarna navy dan celana kain hitam. Shania sudah siap dengan gamis berwarna marun dan cadar hitamnya yang senantiasa rapi.
Mereka berjalan kaki menuju gerbang depan pesantren AL-MUAMMAR. Di sana, sebuah gerobak sederhana dengan uap panas yang mengepul sudah menunggu. Mang Dadang, penjual cilok langganan santri, tersenyum lebar saat melihat pasangan "fenomenal" itu mendekat.
"Eh, Ustadz Zain! Tumben sore-sore ke sini, biasanya dititip ke santri," sapa Mang Dadang ramah.
"Iya, Mang. Ada yang baru lulus ujian kecil-kecilan, minta hadiah," jawab Zain sambil melirik Shania yang matanya tampak berbinar di balik cadar.
"Dua porsi ya, Mang! Bumbunya banyakin, pedasnya maksimal!" seru Shania penuh semangat.
Zain hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ingat perutnya, Dek. Nanti kalau sakit saat shalat malam, siapa yang susah?"
"Tenang, Mas. Ini namanya 'penyeimbang'. Setelah tadi otak panas belajar hukum waris, sekarang perut yang harus dipanaskan," canda Shania.
Sambil menunggu cilok disiapkan, mereka berdiri di pinggir jalan raya yang tidak terlalu ramai. Angin sore Kediri berhembus pelan, menerbangkan ujung jilbab Shania.
"Mas, boleh aku tanya satu hal?"
Shania berbisik, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Mang Dadang.
"Tanya apa?"
"Tadi Mas bilang, mahar itu bukan untuk mengikat kakiku agar tidak lari, tapi mengikat hatiku. Kalau suatu saat nanti aku berbuat salah lagi... apa Mas akan tetap memegang talinya?"
Zain menatap lurus ke depan, ke arah hamparan sawah di seberang jalan yang mulai menguning.
"Shania, tali ini tidak ada di tangan saya. Tali ini ada di tangan Allah. Saya hanya penjaga yang dititipi untuk memastikan kamu tetap berada di jalur yang benar. Selama kamu masih ingin menggenggam tangan saya, saya tidak akan pernah melepaskannya. Seburuk apapun harimu, sejauh apapun kamu ingin berlari, pulanglah ke rumah. Ada sajadah yang selalu menunggu untuk kita basahi bersama."
Shania merasakan tenggorokannya tercekat. Ia bukan lagi gadis liar yang mengejar kebahagiaan semu di kafe-kafe kota besar. Ia adalah seorang istri dari pria yang mencintainya dengan cara yang paling terhormat, dengan ilmu dan kesabaran.
"Ini Ning, ciloknya. Spesial pedas nendang!" seru Mang Dadang memecah suasana haru.
Shania menerima dua kantong plastik itu dengan riang.
"Makasih, Mang!"
"Malam di Bawah Cahaya Rembulan"
Malam itu, setelah shalat Isya berjamaah dan tadarus bersama, Shania duduk di teras belakang rumah, menikmati sisa-sisa ciloknya yang sudah mendingin namun tetap terasa nikmat. Zain keluar membawa dua cangkir teh hangat.
"Masih dimakan juga? Sudah hampir jam sembilan," tegur Zain, namun ia tetap duduk di samping Shania.
"Sayang kalau dibuang, Mas. Ini berkah perjuangan menghafal ahli waris," jawab Shania sambil tertawa.
Zain menyesap tehnya, lalu menatap langit yang bersih dari awan. Rembulan bersinar terang, memantulkan cahaya di dedaunan pohon durian yang tadi pagi mereka kunjungi.
"Shania, besok ada undangan dari Kyai sepuh di pesantren sebelah. Saya ingin kamu ikut."
Shania menghentikan kunyahannya.
"Aku, ikut? Tapi... aku kan belum lancar-lancar amat kalau diajak diskusi agama sama ibu-ibu Nyai di sana."
"Kamu, tidak perlu menjadi orang lain. Jadi Shania yang jujur saja. Mereka butuh melihat bahwa menjadi istri ustadz bukan berarti kehilangan keceriaan. Saya ingin mereka melihat betapa bahagianya saya memilikimu."
Shania tersipu.
"Mas Zain ini... gombalnya makin pintar ya sejak kita ke kebun."
Zain tertawa kecil, lalu meraih tangan Shania, menyingkirkan plastik cilok yang sudah kosong. Ia menatap telapak tangan istrinya, lalu mengecupnya lembut.
"Bukan gombal, Sayang. Ini syukur. Dulu saya sempat ragu, apa sanggup membimbing wanita selincah kamu. Tapi ternyata, kamu yang justru memberi warna di hidup saya yang tadinya hanya berisi kitab dan doa-doa sunyi."
Shania menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Aroma maskulin suaminya bercampur dengan sisa aroma teh melati, menciptakan rasa aman yang tak tergantikan.
"Mas, besok kuisnya apa lagi?" tanya Shania pelan, hampir berbisik.
"Besok? Mungkin tentang sejarah kepemimpinan Umar bin Khattab. Tokoh yang keras namun hatinya lembut saat mendengar ayat Allah. Mirip seseorang yang saya kenal," sindir Zain halus.
Shania mencubit pinggang Zain pelan.
"Iya, iya. Aku tahu itu sindiran. Hadiahnya apa?"
Zain terdiam sejenak, lalu membisikkan sesuatu di telinga Shania yang tertutup kain hijab. Shania seketika terbelalak, wajahnya memerah hebat di balik cadar.
"Mas Zain! Itu sih bukan hadiah buat aku, itu mah mau Mas saja!" seru Shania sambil memukul lengan Zain berkali-kali.
Tawa Zain pecah, mengisi keheningan malam di Kediri. Di bawah cahaya rembulan, mereka menyadari bahwa pernikahan ini memang sebuah belenggu. Namun, itu adalah belenggu yang paling indah—belenggu yang tidak menahan langkah, melainkan menyatukan arah.
Pagi akan kembali datang, fajar akan kembali menyelinap di sela pohon durian, dan Shania tahu, ia tidak akan pernah ingin melepaskan mahar yang telah mengikat jiwanya pada pria ini.
Bersambung ....
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething