Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Riset" di Luar Nalar
Siang ini, suasana kantor mendadak jadi sedikit lebih tenang—setidaknya dari gangguan suara tawa Gibran yang menggelegar. Namun, bagi Sia, ketenangan itu justru membuatnya makin was-was. Catatan kecil Arkan soal “riset Bab Terakhir” terus terbayang di kepalanya.
"Bab terakhir? Dia mau menamatkan Nightshade secepat itu?" gumam Sia sambil menatap layar komputernya yang menampilkan jadwal rapat mingguan. "Apa alurnya sudah mentok ya? Atau dia lagi writer's block makanya butuh riset dadakan? Aduh, jangan sampai Bima dan Raya berakhir gantung cuma gara-gara Arkan kehabisan ide!"
Sia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir kekhawatiran soal plot novel itu. Bagi Sia, menyelesaikan Nightshade adalah proyek besar yang sangat emosional. Ia sama sekali tidak berpikir jauh ke arah hubungan pribadi mereka yang lebih serius, fokusnya hanya satu: memastikan Arkan tidak merusak ending cerita yang sudah dibangun dengan susah payah selama berbulan-bulan.
Tepat pukul dua belas siang, Arkan keluar dari ruangannya. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja biru muda yang lengannya digulung santai—penampilan yang selalu sukses membuat Sia lupa cara bernapas sejenak.
"Sia, ayo. Dokumen untuk 'proyek khusus' sudah siap kan?" ujar Arkan dengan nada formal yang dibuat-buat di depan staf lain.
Sia segera berdiri, menyambar tasnya. "Sudah, Pak. Mobil sudah siap di bawah."
Begitu mereka masuk ke dalam lift dan pintu tertutup rapat, barulah Arkan mengembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya luruh, dan sorot matanya yang tajam mendadak berubah jadi sayu dan hangat saat menatap Sia.
"Ternyata masih melelahkan ya, harus terus memasang wajah batu di depan mereka setelah semalam aku sudah terang-terangan 'tumbang' di depan Mama," gumam Arkan sambil menyandarkan kepalanya di dinding lift.
Sia tertawa kecil melihat perubahan drastis itu. "Ya itu kan memang wajah asli kamu, Kan. Masa gitu disebut akting? Malah kalau kamu senyum-senyum di depan karyawan lain, malah jadi aneh. Lagian kita mau ke mana sih? Riset bab terakhir itu maksudnya apa? Kamu beneran mau namatin The Velvet Night minggu ini? Jangan buru-buru, Kan. Pembaca bisa demo kalau ending-nya nggak matang."
Arkan hanya tersenyum misterius. "Ikut saja. Ini lokasi riset paling autentik yang pernah ada."
Ternyata, "lokasi riset" yang dimaksud Arkan adalah sebuah pasar malam yang sedang buka di pinggiran kota. Saat mereka sampai, matahari baru saja terbenam, digantikan oleh lampu-lampu neon warna-warni yang mulai menyala terang. Bau arum manis, jagung bakar, dan suara musik dangdut dari wahana komidi putar memenuhi udara.
Sia terbelalak. "Arkan? Serius? Kamu mau riset di sini? Pakai mobil mewah dan kemeja mahal kamu?"
Arkan tertawa sambil melepas kancing paling atas kemejanya. "Bima itu orang yang sangat terstruktur, sama seperti aku. Dan di bab-bab akhir, aku ingin dia merasakan sesuatu yang benar-benar di luar kendalinya. Sesuatu yang merakyat, berisik, dan... manis. Kayak kita sekarang."
Arkan menarik tangan Sia, menuntunnya masuk ke kerumunan orang. Tidak ada yang mengenali Arkananta Dewangga di sini. Di tempat ini, dia bukan CEO, melainkan hanya seorang pria yang sedang berkencan dengan kekasihnya.
"Kita mulai dari sana," Arkan menunjuk wahana bianglala besar yang berputar pelan.
"Kamu nggak takut ketinggian?" tanya Sia ragu.
"Selama ada kamu yang bisa aku pegang tangannya kalau aku takut, nggak masalah," goda Arkan.
Mereka naik ke salah satu kotak bianglala yang sudah agak berkarat catnya. Saat bianglala itu bergerak naik, Sia bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari sudut yang berbeda. Lampu-lampu kendaraan di kejauhan tampak seperti aliran emas yang tidak pernah berhenti.
"Kan," panggil Sia pelan saat mereka sampai di titik tertinggi. Bianglala itu sempat berhenti sebentar untuk menaikkan penumpang di bawah.
"Ya?"
"Kenapa harus sekarang? Maksudku... nulis bab terakhir. Apa karena pembaca sudah menagih, atau karena kamu merasa ceritanya sudah selesai?"
Arkan menatap Sia, cahaya lampu neon warna merah dan biru memantul di matanya. "Dulu, aku menjadi Nightshade sebagai pelarian. Aku merasa hidupku terlalu monoton, cuma soal angka dan kontrak. Aku menciptakan Bima sebagai versi diriku yang lebih berani dalam hal perasaan. Tapi sekarang..." Arkan meraih jemari Sia, mengusapnya lembut dengan ibu jari. "Sekarang aku nggak butuh pelarian lagi. Karena duniaku yang nyata jauh lebih indah daripada apa pun yang aku tulis."
Sia merasa hatinya mencelos. "Jadi, kamu mau berhenti nulis?"
"Bukan berhenti. Tapi memulai bab baru yang lebih nyata. Aku mau Bima dan Raya bahagia, supaya aku juga punya alasan untuk mengejar bahagiaku sendiri tanpa rasa bersalah pada karakter yang aku ciptakan."
Bianglala kembali bergerak turun. Sia terdiam, meresapi setiap kata-kata Arkan. Pria ini benar-benar serius.
Setelah turun dari bianglala, Arkan mengajak Sia mencoba berbagai macam makanan. Mereka makan kerak telor di pinggir jalan, tertawa saat hidung Arkan terkena sisa gula dari arum manis, dan bahkan Arkan mencoba permainan menembak kaleng untuk mendapatkan boneka beruang kecil untuk Sia.
"Lihat! Aku menang!" seru Arkan dengan wajah bangga sambil memeluk boneka beruang berwarna cokelat yang ukurannya bahkan lebih kecil dari telapak tangannya.
"Ya ampun, Pak CEO... itu cuma boneka kecil, tapi senangnya kayak abis menang tender triliunan," ledek Sia sambil menerima boneka itu.
"Ssttt! Ini simbol perjuangan, Sia," Arkan merangkul bahu Sia, membawa mereka berjalan menuju area yang lebih sepi di pinggir lapangan pasar malam.
Mereka duduk di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap ke arah keramaian. Arkan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari saku belakangnya—buku yang selalu ia bawa untuk mencatat ide spontan.
"Sia, kalau kamu jadi Raya... apa yang bakal kamu katakan ke Bima di saat terakhir sebelum cerita mereka selesai?" tanya Arkan serius, pulpennya sudah siap di tangan.
Sia berpikir sejenak. Ia menatap boneka kecil di tangannya, lalu menatap Arkan. "Mungkin... Raya akan bilang; 'Terima kasih sudah membiarkan aku masuk ke duniamu yang kaku. Jangan pernah takut untuk terlihat lemah, karena di mataku, kelemahanmu itulah yang membuatmu jadi manusia paling kuat'."
Arkan terdiam, tangannya bergerak cepat mencatat kalimat itu di bukunya. Ia tampak sangat khusyuk, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Sia adalah emas.
"Terus?" pancing Arkan lagi.
"Terus... Raya bakal bilang; 'Tamatnya cerita ini bukan akhir dari kita. Ini cuma awal dari bab yang lebih panjang, yang mungkin nggak akan pernah selesai ditulis, karena kita yang akan menjalaninya setiap hari'."
Arkan berhenti menulis. Ia menutup bukunya, lalu menatap Sia dengan tatapan yang sangat dalam. "Itu bukan cuma buat Raya, kan?"
Sia tersenyum tipis, pipinya memerah. "Menurut kamu?"
Arkan tertawa rendah, lalu menarik Sia ke dalam pelukannya. Di tengah suara bising pasar malam dan tawa orang-orang di sekitar, Arkan membisikkan sesuatu di telinga Sia.
"Aku sudah memutuskan. Setelah bab terakhir The Velvet Night diunggah, aku mau kita bener-bener mempersiapkan makan malam itu sama Mama. Secara resmi. Sebagai calon istriku, bukan asistenku."
Sia tersentak, ia melepaskan pelukannya dan menatap Arkan tak percaya. "Arkan, kamu... kamu nggak bercanda?"
"Aku nggak pernah bercanda soal hal penting, Sia. Semalam itu cuma pembukaan. Minggu depan, aku mau lamar kamu secara resmi di depan Mama."
"Tapi..."
"Mama pasti bakal setuju. Yang penting sekarang... kamu mau kan, jadi 'Bab Terakhir' sekaligus 'Bab Pertama' dalam hidupku?"
Sia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mengangguk cepat, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Arkan. "Mau, Kan. Aku mau banget."
Malam itu berakhir dengan sangat manis. Mereka pulang dengan bau asap jagung bakar yang menempel di baju, tapi dengan hati yang sangat penuh.
Saat Arkan mengantarkan Sia sampai di depan apartemennya, suasana mendadak jadi sedikit canggung karena emosi yang meluap-luap tadi.
"Jadi... besok di kantor kita masih akting?" tanya Sia sambil memegang gagang pintu mobil.
Arkan menyeringai. "Mungkin sedikit. Tapi kalau Gibran mulai ngeledek, aku bakal langsung tunjukin boneka beruang ini sebagai bukti kemenangan."
"Jangan! Malu-maluin tahu!" tawa Sia pecah.
"Sia," panggil Arkan sebelum Sia keluar. "Satu hal lagi. Aku sudah memikirkan judul untuk bab terakhir nanti."
"Apa?"
Arkan tersenyum lembut. "'Pulang ke Rumah yang Sama'."
Sia tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. "Judul yang bagus, Arkan. Sangat bagus."
Sia keluar dari mobil dan melambaikan tangan sampai mobil Arkan menghilang di tikungan jalan. Begitu sampai di kamarnya, Sia merebahkan diri di tempat tidur, menatap boneka beruang kecil di atas nakasnya.
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari platform novel muncul.
Nightshade Update: Bab 29 - Riset di Pasar Malam.
Sia segera membukanya. Di bagian akhir bab itu, ada catatan penulis yang biasanya berisi ucapan terima kasih. Tapi kali ini isinya berbeda:
“Terima kasih untuk asisten galakku yang sudah mengajarkan bahwa akhir dari sebuah cerita adalah awal dari sebuah kenyataan yang lebih indah. Bab selanjutnya tidak akan ada di sini, tapi di sisa hidupku bersamamu.”
Sia memeluk ponselnya, tersenyum lebar ke arah langit-langit kamar. Ia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan ia sudah tidak sabar untuk mulai menulis "Bab Pertama" yang sesungguhnya bersama Arkananta Dewangga.