Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
POV: WAHYU
Jumat malam pukul delapan, perpustakaan kampus satu sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang tersebar di berbagai sudut—semuanya terlihat serius dengan buku atau laptop masing-masing. Lampu-lampu neon di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya putih yang dingin.
Wahyu duduk di pojok belakang lantai dua—tempat yang dia pilih karena jauh dari tangga, jauh dari lalu-lalang orang, jauh dari segala kemungkinan gangguan. Di depannya terbuka buku Pengantar Ilmu Hukum, satu buku tentang Teori Hukum, dan laptop yang menampilkan draf makalah untuk mata kuliah Filsafat Hukum.
Makalah itu sudah setengah jalan. Judulnya: "Keadilan Substansial vs. Keadilan Prosedural: Dilema dalam Sistem Peradilan Indonesia."
Topik yang dia pilih sendiri. Bukan secara kebetulan.
Wahyu mengetik pelan-pelan, memilih setiap kata dengan hati-hati. Makalah ini bukan sekadar tugas akademis baginya—ini adalah sesuatu yang benar-benar ingin dia katakan, melalui bahasa yang bisa diterima oleh sistem akademis.
Tentang bagaimana keadilan prosedural—mengikuti semua prosedur hukum yang benar—belum tentu menghasilkan keadilan substansial yang sesungguhnya. Tentang bagaimana orang bisa kalah bukan karena tidak benar, tapi karena tidak mampu membuktikan kebenarannya melalui prosedur yang mahal dan panjang.
Tentang ayahnya.
Tanpa menyebutnya secara eksplisit, tentu saja.
Wahyu sedang membaca ulang paragraf yang baru dia tulis ketika ponselnya bergetar. Pesan dari grup WhatsApp BEM.
Ardi: "Tim, ada update: proposal kegiatan semester depan harus dikumpulkan minggu depan Jumat. Wahyu, bisa bantu review proposal bagian event nasional? Lu yang paling detail soal ini."
Wahyu mengetik balasan singkat.
Wahyu: "Bisa. Kirim draftnya kapan pun siap."
Dia meletakkan ponsel, kembali ke makalah.
Tapi konsentrasinya terpecah.
Minggu depan: proposal BEM, presentasi kelompok Kewirausahaan Sosial, dan ada kemungkinan pemberitahuan hasil ujian Hukum Perdata.
Ditambah translation project baru yang sudah masuk dua hari lalu—klien dari platform yang sama, kali ini meminta penerjemahan dokumen perjanjian ekspor impor. Dua puluh halaman. Bayaran seratus dolar.
Seratus dolar.
Wahyu menghitung cepat di kepalanya. Seratus dolar, kurs saat ini sekitar lima belas ribu dua ratus. Berarti satu juta lima ratus dua puluh ribu rupiah.
Cukup untuk sewa kost, makan, dan sedikit sisa untuk dikirim ke ibu.
Dia membuka email, membalas klien: "Accept. Will start Monday. Estimated completion: next Friday."
Send.
Wahyu menutup email, kembali ke makalah.
Dia mengetik satu paragraf lagi, lalu berhenti.
Matanya terasa berat.
Dia melihat jam di pojok layar laptop: pukul sembilan lewat empat puluh menit.
Sudah hampir dua jam dia duduk di sini tanpa bergerak, tanpa makan, tanpa minum. Tadi sore dia hanya makan nasi bungkus satu porsi sebelum langsung ke perpustakaan setelah kelas.
Riani pernah bilang sesuatu tentang ini. Tentang bagaimana tubuh tidak bisa terus dipakai seperti mesin. Tentang bagaimana kelelahan yang menumpuk akan meledak suatu hari.
Wahyu menggeleng pelan. Bukan sekarang. Setelah makalah selesai.
Dia kembali mengetik.
Pukul sepuluh malam, makalah itu selesai sampai bagian tiga dari lima. Wahyu menyimpan file, menutup laptop, meregangkan punggungnya yang sudah sangat pegal.
Dia berdiri, mengambil salah satu buku dari mejanya—buku Teori Hukum yang belum sempat dia baca—dan berjalan menuju rak referensi untuk mencari sumber tambahan.
Di antara rak-rak buku yang tinggi dan sunyi, Wahyu berjalan pelan, menelusuri judul-judul buku. Satu buku menarik perhatiannya: Hukum, Keadilan, dan Masyarakat oleh seorang pakar hukum yang sering dikutip dalam jurnal-jurnal yang Wahyu baca.
Dia menarik buku itu, membuka halaman pertama, mulai membaca sambil berdiri.
Lima menit berlalu.
Lalu seseorang berdiri di ujung rak yang sama.
Wahyu tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa.
Bau sabun yang familiar—lembut, sedikit floral—sudah cukup sebagai petunjuk.
Riani.
Wahyu mengangkat kepala. Riani berdiri di ujung rak, membawa beberapa buku dan earphone yang tergantung di leher. Dia terlihat terkejut melihat Wahyu—tapi terkejut yang menyenangkan, bukan tidak nyaman.
"Wahyu!" Riani berbisik—otomatis menyesuaikan volume suara dengan suasana perpustakaan. "Kamu juga masih di sini?"
"Iya."
"Dari tadi?"
"Dari jam delapan."
Riani melirik jam di ponselnya. "Ini sudah hampir jam sebelas. Kamu belum pulang?"
"Perpustakaan tutup jam sebelas."
"Kamu makan?"
Wahyu tidak menjawab.
Riani menatapnya dengan tatapan yang sudah Wahyu hafal—campuran antara khawatir dan frustrasi ringan. "Wahyu."
"Nanti."
"Itu artinya belum."
"Riani—"
"Aku beli roti tadi di vending machine." Riani membuka tasnya, mengeluarkan dua bungkus roti tawar berisi cokelat. "Kamu ambil satu."
Wahyu menatap roti itu.
Lalu menatap Riani.
"Kamu sengaja bawa dua karena tahu aku ada di sini?"
Riani terdiam. Lalu, dengan ekspresi yang cukup lucu karena ketahuan, dia menjawab, "Aku tadi lihat motormu di parkiran."
Wahyu mengambil satu bungkus roti dari tangan Riani. "Kamu tahu motor aku?"
"Honda Beat hitam. Plat B 4321 SAW." Riani mengucap nomor plat itu dengan lancar. Lalu tampaknya menyadari apa yang baru dia katakan, karena pipinya langsung memerah. "Aku nggak hafal dengan sengaja. Cuma... sering lihat."
Wahyu menatap Riani dengan ekspresi yang tidak bisa dia sepenuhnya sembunyikan—sesuatu di antara geli dan hangat.
"Kamu hafal plat nomor motorku."
"Itu bukan apa-apa—"
"Riani."
"Apa?"
"Terima kasih atas rotinya."
Riani menutup mulut. Lalu tersenyum—senyum yang sedikit malu tapi tulus.
Mereka kembali ke meja masing-masing. Tapi meja Riani ternyata tidak jauh dari meja Wahyu—di baris yang sama, hanya dua meja di sebelah kirinya.
Selama setengah jam berikutnya, mereka bekerja dalam keheningan yang familiar. Wahyu melanjutkan membaca buku yang dia ambil, sesekali mencatat sesuatu di buku catatannya. Riani mengetik di laptop dengan earphone terpasang di satu telinga.
Pukul sebelas kurang lima belas, petugas perpustakaan mengumumkan bahwa perpustakaan akan tutup dalam lima belas menit.
Wahyu mulai mengemas. Buku dikembalikan ke tas, laptop dimasukkan, charger digulung.
Di meja sebelah, Riani mengemas juga. Mereka selesai hampir bersamaan.
Wahyu berdiri. Riani berdiri juga.
Mereka berjalan bersama menuju tangga, lalu keluar dari gedung perpustakaan ke udara malam yang lebih segar.
"Kamu naik motor?" tanya Riani.
"Iya. Kamu?"
"Motor juga." Riani melirik arah parkiran. "Bareng ke parkiran?"
"Oke."
Mereka berjalan berdua menyusuri trotoar kampus yang sepi di bawah lampu jalan. Suara langkah mereka berirama—tidak sinkron, tapi harmonis dengan caranya sendiri.
"Wahyu," Riani berbicara pelan, "makalah yang kamu kerjakan tadi, judulnya apa?"
Wahyu ragu sebentar. Lalu menjawab. "Keadilan substansial versus keadilan prosedural."
"Itu... topik yang pilih sendiri?"
"Iya."
Riani berpikir sejenak. "Keadilan substansial itu artinya keadilan yang sebenarnya, yang dirasakan? Dan prosedural yang mengikuti aturan hukum yang ada?"
Wahyu melirik Riani. "Kamu tahu?"
"Sedikit-sedikit baca dari catatan yang kamu share dulu." Riani tersenyum. "Jadi... makalahmu tentang bagaimana sistem hukum yang prosedural belum tentu menghasilkan keadilan yang sebenarnya?"
"Kurang lebih."
"Dan itu terinspirasi dari kasus ayahmu."
Kalimat itu bukan pertanyaan. Riani mengucapkannya dengan tenang, tidak menghakimi, hanya... mengakui.
Wahyu tidak menjawab.
Tapi dia juga tidak membantah.
Mereka berjalan dalam diam beberapa langkah lagi sampai tiba di area parkiran. Wahyu menemukan Honda Beat hitamnya di sudut—persis di tempat yang biasa. Di sebelahnya, dua motor jauhnya, terparkir Mio pink Riani.
Wahyu mengeluarkan kunci, membuka kunci stang.
"Wahyu," Riani memanggil sebelum dia naik.
Dia menoleh.
Riani menatapnya dengan ekspresi yang serius tapi lembut. "Makalah itu... kamu nulis sesuatu yang penting. Sesuatu yang perlu didengar orang. Dan kenyataan bahwa kamu bisa mengubah pengalaman yang sangat menyakitkan itu jadi sesuatu yang berguna secara akademis dan sosial..." Riani berhenti sebentar. "Itu bukan kemampuan semua orang, Wahyu."
Wahyu memegang kunci motornya erat.
"Kamu selalu punya cara untuk membuat hal-hal berat terdengar... mungkin," ujar Wahyu akhirnya, pelan.
Riani tersenyum tipis. "Itu tugasku."
"Bukan tugasmu."
"Mungkin bukan tugas. Tapi aku mau."
Hening sebentar.
Angin malam bertiup pelan, menggerakkan beberapa helai rambut Riani yang tidak terikat sempurna.
"Hati-hati di jalan," ujar Wahyu akhirnya.
"Kamu juga." Riani mengambil helmnya dari jok motor. "Oh iya, jangan lupa makan sesampainya di kost ya. Satu roti tadi nggak cukup."
"Aku tahu."
"Beneran makan loh. Bukan bilang iya terus tidur langsung."
Sudut bibir Wahyu terangkat sedikit. "Aku makan."
"Janji?"
Wahyu menatap Riani. Lalu, dengan nada yang cukup serius tapi ada sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya serius, dia berkata: "Janji."
Riani mengangguk puas. "Bagus."
Wahyu menyalakan motor, mengenakan helm. Riani juga menyalakan motornya.
Mereka keluar dari parkiran bersamaan, tapi di persimpangan jalan di depan gerbang kampus, mereka berpisah arah—Wahyu ke kanan menuju kosannya, Riani ke kiri menuju kosannya.
Wahyu melirik ke kiri sesaat sebelum berbelok.
Mio pink itu sudah hilang di tikungan.
Wahyu berbelok ke kanan.
Di warung makan terdekat yang masih buka, dia berhenti. Memesan nasi goreng dan teh hangat.
Duduk sendiri di meja luar, makan perlahan di bawah lampu warung yang remang.
Dia makan.
Karena dia sudah berjanji.
Dan entah sejak kapan, janji kepada Riani terasa seperti sesuatu yang tidak ingin dia ingkari.
Bersambung.....