_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayya Badmood.
Hari minggu yang cerah, namun ayya masih betah goleran di ranjangnya, belum mandi pastinya.
Semalam ia tak berhenti mengumpat kelakuan Louis yang ternyata memberitahukan chat nya pada galih dan yang lain, like.. Pada saat itu juga roy selfie bersama untuk memberi ayya banyak stok foto gemas ke empat pemuda nakal itu.
" Hufff... Foto tengil mereka ku hapus ajalah.." Gumam ayya setelah beberapa menit melamun.
Bangun tidur yang diingat malah foto-foto yang Louis kiri semalam.
Berniat menghapus satu persatu, ayya pun membukanya lagi.
Namun berbeda dengan semalam, entah kenapa pagi ini melihat fotonya lagi membuat ayya sedikit terhibur dengan tingkah mereka.
" Mereka makannya banyak banget anjay, sampe jadi tower tuh piring bekas makan mereka.."
" Willy sengaja kasih tau makanannya buat apa? biar ngiler? Pengen? Aku diet ga bakal tergiur mah, tapi itu.. Kak galih pipinya sampe gembung begitu, kekenyangan deh keknya.."
Swipe!
Ayya sontak menjauhkan ponsel saat seluruh layarnya berisi wajah Louis dan cowok yang belum ayya kenal.
" Plenger banget mukanya.."
" Eh..."
Slide selanjutnya membuat ayya sontak menjauh, siapa yang tidak terkejut saat mendapat selfi langka dari seseorang yang disukainya.
" Ah, cowo ini lagi.. Skip!"
Ngieeng... Ngieeng...
Suara mesin potong rumput terdengar keras dari samping rumah ayya. Tanpa berbicara toleransi saat itu juga ayya bangun dan langsung keluar menuju balkon kamar.
Jelas saja saat ini di bawah sudah ada galih dengan dua tukang kebun yang sudah bersiap untuk memulai potong rumput..
Arrgh! Ayya menahan kekesalan saat mesin itu kembali dihidupkan.
Ngieeeng... Ngieng..
Ayya sudah tak tahan, namun belum sampai ia membuka suara tiba-tiba galih mendongak menatap ayya, galih sudah menduga bahwa kegiatannya pagi ini bakal mengganggu ayya lagi.
" Keganggu lagi? Sorry, but.. you should know, kalau sebelumnya eyang anna udah izin sama tan-.."
Ah berisik! Ayya acuh dan kembali masuk kamar tanpa menghiraukan pernyataan galih.
Sontak sikap ayya barusan membuat galih keheranan.
" Belum didengerin jelas malah di tinggal pergi, lain kali perlu dikasih paham biar lebih punya adab." Ucap galih sembari lanjut menghidupkan mesin pemotong rumputnya.
Mengingat semalam mereka have fun malam mingguan di warung angkringan favorit, yang lebih fun lagi saat berebut mengirim foto ayya.
Balasan ayya terhadap foto mereka sangat lucu, dia bilang kesal? tapi masih saja dilihat dan dibalas, siapa yang tidak happy mengerjai ayya seperti mereka berempat? hahaha..
_
Skip senin pagi-
Upacara senin tengah berlangsung, namun belum dapat 20 menit sudah ada beberapa siswi tumbang di lapangan.
Salah satunya termasuk shani dan hanin, ahh moment kata ayya.
Apalagi saat melihat si galih yang bergegas membantu para anggota PMR untuk mengangkut siswi itu ke UKS.
" Caper, iew!" Ayya berdecih malas.
" Eh kak shani pucet banget tau.."
" Tenang aja, udah ada pacarnya yang panin tadi."
" Hah? Siapa? jangan bikin gosip kamu ghe..??!"
Ayya sudah menduga jika gosip shani-galih saat ketahuan di Koridor penghubung taman bakal menyebar, ulah siapa lagi kalau bukan si karina, teman kelasnya yang suka nyebar rumor ga jelas.
" Tanya aja sama ayya, dia yang liat jelas pas itu.."
Whats?! Ayya mendelik kaget saat beberapa teman kelas lain yang berdiri di sampingnya itu menatapnya.
" Ayy, jawab atuh kita penasaran.. Apa bener kak galib waktu itu mau cium kak shani??"
Astaga!? Apa-apaan? Rumornya sudah keterlaluan hingga saat itu juga ayya menatap karina kesal, karina pun terkekeh canggung berharap ayya tak memarahinya sekarang.
' Fyuh, ga penting sih buat bela si galih, tapi apa salahnya aku membela yang baik.' Batin ayya yang kemudian tersenyum pada teman kelas samping.
" Guys, jangan percaya rumor.. kadang ada yang benar dan enggak, bahkan dilebih-lebihkan, so.. be aware buat nelen informasi." Ucap ayya.
" Jadi? apa bener kak galih pacar kak shani?" Tanya yang lain.
Terdiam sejenak, ayya pun berucap. " Kalo itu aku ga tau, mau gimanapun status hubungannya, itu privasi mereka dan kita ga boleh berasumsi sebelum jelas statusnya.."
Hem, meski jawaban tidak sesuai yang mereka harapkan, cukup kagum mereka dengan pemikiran ayya di tengah gempuran gen z yang sangat kepo-an.
Skip sudah upacaranya.
Galih hanya berniat menolong karena jiwa pemimpinnya sebagai ketos masih melekat, dirinya benar-benar dididik menjadi pemimpin oleh orang tuanya sejak kecil.
Bukan karena ada siswi cantik, atau hits, atau bahkan yang katanya pacar dia, nyatanya Galih membantu semua yang butuh bantuan.
Upacara selesai Galih lepas tangan dan turut kembali ke kelasnya sendiri, bersama willy pastinya.
Pelajaran minggu ini benar-benar digempur karena akan diadakannya ujian tengah semester minggu depan.
Sebagai siswi IPA yang penuh dengan perhitungan, rumus, dan beberapa ilmu fisika yang rumit benar-benar membuat willy dan yang lain mengeluh panas kepalanya, meski istirahat sudah berlangsung, bekas pemikiran mereka benar-benar melekat dan bikin pusing sendiri.
" Bro leo, apa kagak panas tuh pala daritadi ngerjain soal latihan?" Sikut willy ke Galih.
Galih tak merespon hingga mengundang ledekan teman kelas pada willy.
" Elu will, udah tau juara bertahan gabakal panas, ekstra ram di otaknya ga sama kek kita-kita.."
Hem, willy mengangguk-angguk setuju, melihat Galih lagi lantas willy berdiri dan hendak pergi ke luar kelas menuju kantin tanpa pamit.
Saat itu juga Galih berdiri memanggilnya.
" Mau kemana heh?!!!" Seru Galih.
Willy yang sudah di tengah pintu kelas langsung menoleh ke belakang, melihat Galih yang sudah menekuk wajahnya.
" Kirain bro mau lanjut belajar, soalnya udah 10 menit istirahat berlangsung, gue ga mau waktu jajan gue terbuang sia-sia.."
" Banyak bacot, kenapa ga bilang kalo mau ke Kantin! Gue juga butuh makan ya njink!"
Keduanya pun berjalan keluar kelas menuju kantin bersamaan.
Samoai di kantin, mereka sudah melihat Louis yang tengah makan makan bersama Kania dan ayya, saat itu juga willy berlari untuk gabung dengan mereka.
Sedangkan Galih hanya bisa menghela napasnya panjang-panjang.
" Dasar bocah, harusnya pesen makan dulu baru duduk!" Cibir Galih yang beralih menuju stan kantin.
Sementara itu, ayya sudah ancang-ancang untuk membawa piring bekas makannya itu menuju mamang pencuci piring.
Ia berusaha sekeras mungkin agar tak berinteraksi dengan Galih, apapun itu kebetulannya.
Kebetulan? Ya, ayya selalu menganggap pertemuan dengan galih hanya sebuah kebetulan, entah kebetulan apa yang terus-terusan datang pada mereka berdua.
Seperti sekarang, ayya terkerjap saat ia berdiri hendak mengembalikan piring, Galih sudah berada tepat di belakangnya, dengan membawa piring yang masih fresh dengan makanan hangatnya.
Aishhh! Keduanya saling berhadapan, namun kali ini ayya menolak keras untuk bersitatap dengan Galih hingga tanpa banyak membuang waktu ia lanjut jalan untuk menyelesaikan tugasnya.
" Kenapa tuh anak?" Tanya Galih setelah melihat kepergian ayya yang begitu jutek.
Kania pun menggedik tak tau.
" Badmood kali, biasalah server kita kan di setting begitu hahaha.." Kania tergelak membuat willy, Louis, dan Galih meliriknya sinis.
" Ya ga bisa dijadikan juga lah, sifat buruk begitu jangan dinormalisasi, bikin kita para cowo selalu dibikin ngerasa bersalah.." Ucap willy.
Kania pun memutar matanya malas.
" Kalian aja ga pernah ngerasain jadi cewek, tapi pasti pernah pacaran sama cewek, kan? harusnya dari situ kalian udah bisa ngerti siklus bulanan mood cewek."
Argh, Louis menggeleng malas. " Males mikirin, mending turu.."
" Ah elu!" Kania mendorong Louis yang bersandar di pundaknya.
Galih pun terkekeh, ia sudah mulai makan, sedari tadi mendengar obrolan Kania dengan dua temannya itu, namun menyadari ayya yang belum kembali, ia langsung menoleh untuk mencari keberadaanya.
" Cari apa lo?" Tanya willy.
Galih hanya diam, lanjut makan, namun kembali ia menoleh.