Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Obat Palsu
Pagi jam delapan, Alvian sudah sampai di klinik, tapi pintu belum terbuka. Gerbang besi masih tergembok, lampu teras juga mati. Biasanya jam segini Mbak Sari sudah nyapu halaman sambil dengerin radio dangdut dari HP jadulnya.
Dia celingukan. Tukang bubur di seberang jalan baru gelar dagangan. Bau kuah kuning sama kerupuk sudah tercium sampai sini, tapi Mbak Sari yang biasanya cerewet nawarin “Bubur dulu, Dok?” juga nggak kelihatan batang hidungnya.
Alvian tarik napas, telapak tangannya refleks ngecek gagang pintu. Dingin, terkunci rapat.
Dia keluarkan HP dari saku celana bahan, jempol udah siap mencet kontak “Mbak Sari Resepsionis” saat dari ujung gang kelihatan sosok perempuan jalan pelan-pelan. Kerudung krem, tas selempang hitam, langkahnya kecil-kecil kayak nahan sesuatu.
“Maaf, Dok... kesiangan,” suara Mbak Sari pelan, hampir ketelan suara motor lewat.
Alvian nyimpen HP lagi. Dia perhatikan wajah Mbak Sari dari jarak tiga meter aja udah kelihatan pucat. Biasanya pipinya merah karena bedak, hari ini kuyu, tangannya juga nggak lepas dari perut sambil sesekali meringis.
“Kok diem aja, Mbak? Belum ngopi?” Alvian coba bercanda sambil bantu nerima kunci dari tangan Mbak Sari yang gemeteran.
Mbak Sari nyengir tipis, tapi matanya sayu. “Sudah, Dok. Tapi ini perut saya mules dari subuh tadi. Kayak masuk angin duduk di perut, nggak mau keluar.”
Begitu pintu terbuka, Mbak Sari nggak langsung nyalain lampu atau nyapu. Dia narik kursi resepsionis, duduk, terus langsung ndeprok, jidat nempel meja. Tasnya ditaruh sembarangan sampai isinya hampir tumpah.
Alvian taruh kotak bekal dari rumah ke meja pantry. Biasanya dia bakal nanya “Tahu isi bekal hari ini apa, Mbak?” biar Mbak Sari ngomel lucu. Tapi sekarang dia langsung ganti ke mode dokter. Instingnya bilang ada yang tidak beres.
“Mules seperti apa? Melilit? Muntah? Atau BAB?” tanyanya sambil nyuci tangan di wastafel kecil belakang meja resepsionis.
“Melilit, Dok. Bolak-balik kamar mandi. Sudah 4 kali sejak bangun. Nggak muntah, tapi badan agak meriang, kaya mau demam.” Suaranya keluar dari balik lengan yang dipakai bantal.
Alvian keringkan tangan pakai tisu, jalan mendekat. “Tadi malam makan apa?”
“Sama kayak biasa, Dok. Nasi, tempe, sambel. Beli di warteg samping rumah yang pojokan. Yang jual ibu-ibu pakai cepol.”
Alvian ngangguk. Warteg itu emang langganan Mbak Sari. Dia sendiri pernah diajak makan di sana sekali. Rame, tapi lalatnya juga rame.
“Oke. Sini masuk ruang periksa. Saya cek dulu. Sekalian rebahan, Mbak. Jangan dipaksa duduk.”
Mbak Sari menurut. Pelan-pelan dia berdiri, masih pegangin perut, jalan ke ruang periksa di sebelah. Ruangannya nggak besar, cuma cukup satu bed pasien, lemari obat kaca, sama meja Alvian. Kipas setengah kecengklak, tapi masih lancar.
Mbak Sari langsung tiduran di bed, sepatunya dia lepas, kaos kakinya motif beruang. Alvian tarik tirai biar privasi, terus pakai sarung tangan lateks. SOP.
“Maaf ya, Mbak. Saya tekan perutnya. Kasih tau kalau sakit.”
Jari-jari Alvian mulai dari kuadran kanan atas, berputar pelan searah jarum jam. Lepas, tekan, lepas, tekan. Mbak Sari gigit bibir.
“Sakit nggak di sini?”
“Enggak, Dok.”
“Di sini?”
“Dikit... nah di situ, Dok.” Mbak Sari nunjuk perut bawah, sekitar dua jari di bawah pusar.
Alvian ngetes nyeri lepas. Tekan, terus lepas cepat. Mbak Sari tidak teriak, berarti belum ada tanda peritonitis. Dia lanjut cek turgor kulit di punggung tangan Mbak Sari. Agak lambat baliknya yang berarti dehidrasi ringan.
Punggung tangan Alvian nempel ke jidat Mbak Sari. Anget. Termometer tembak bunyi beep, 37,8°C. Demam, tapi tidak terlalu tinggi.
Tensimeter digital dipasang. Manset ngembang, angka muncul, 110/70. Nadi 98x/menit. Agak cepat, cocok sama kondisi kurang cairan.
Alvian lepas sarung tangan, buang ke tempat sampah kuning. “Ini kemungkinan gastroenteritis akut, Mbak. Diare karena infeksi. Bisa virus, bisa bakteri dari makanan.”
Dia diem sebentar, mengamati tas Mbak Sari yang tadi hampir tumpah. Dari sela resleting, nyembul ujung plastik klip bening yang khas dari rumah sakit. Ada logo samar.
Alvian mengernyitkan kening. "Tapi saya mau pastikan dulu, Mbak ke RS tidak kemarin?”
Mbak Sari yang tadinya merem langsung melek. “Lho, kok tau, Dok?”
“Hanya tebakan,” Alvian senyum sedikit biar tidak tegang. “Soalnya di tas Mbak ada plastik obat RS. Saya melihatnya tadi pas Mbak taruh tas.”
Mbak Sari ngangkat alis, terus ngangguk capek. “Iya, Dok. Kemaren saya ke RS Harapan. Bukan saya yang sakit. Saudara saya, ponakan, demam berdarah. Saya nungguin semaleman. Nah sekalian saya minta obat maag ke UGD, soalnya perih."
Dia rogoh tas, keluarkan plastik klip. Isinya 2 strip obat. Satu Omeprazole 20 mg, generik, jelas tulisannya. Satunya lagi strip polos, tidak ada huruf, tidak ada logo, juga tidak ada kode. Cuma aluminium kelupas sedikit di ujung. Isinya kapsul biru-putih.
Alvian ambil strip polos itu, memutarnya sambil mengamati dalam. Tidak ada merk, tidak ada kode produksi. Bahkan juga tidak ada tanggal expired. Hanya kapsul.
"Ini obat apa kata dokternya, Mbak?" tanya Alvian.
"Katanya probiotik, Dok. Buat jaga lambung. Suruh minum sehari sekali."
Alvian diam beberapa detik. Kedua alisnya hampir menyatu. Dia tahu, robiotik tidak dalam bentuk kapsul biru-putih. Kalo pun benar, pasti ada merk. Karena rumah sakit tidak mungkin memberikan obat polosan. Apalagi dari UGD.
"Mbak minum ini berapa kali?"
"Baru sekali, Dok. Tadi malem abis makan."
Alvian mengangguk, bangkit dari kursi, mengambil sebuah kertas. "Oke. Obat ini distop dulu ya, Mbak. Kita pake obat klinik aja yang jelas. Saya buatkan resep."
Oralit, Attapulgite, Domperidone, Ciprofloxacin, dosis ringan.
"Mbak istirahat aja hari ini. Klinik saya yang jaga. Gajian tetap jalan," kata Alvian.
"Aduh, nggak enak, Dok."
"Udah, nurut saja. Nanti tular ke pasien malah bahaya. Resep tebus di apotek sebelah, bilang dari saya."
Akhirnya Mbak Sari setuju pulang. Alvian memegang strip polos Mbak Sari sebelumnya, mengambil foto depan belakang, lalu memasukkannya ke dalam kantong kecil.
Saat itu beberapa pasien datang, Alvian meminta mereka antre dan masuk satu persatu.
Kebanyakan adalah ibu-ibu, hanya keluhan ringan, seperti pusing, mual, dan batuk.
Jam sepuluh, klinik sudah agak sepi. Alvian melepas sarung tangannya, membuka laptop bekasnya, menelusuri browser. "kapsul biru putih probiotik polos bpom".
Dia mencarinya dengan teliti. Tapi sepuluh menit berlalu tidak ada hasil apapun. Hanya ada iklan toko oren.
Alvian diam merenung. Mengusap pelipis, kemudian mengganti kata kunci pencarian. "Obat palsu kapsul biru putih".
Ternyata yang muncul malah sebuah artikel dari tahun 2021. Isinya, "BPOM Sita Ribuan Obat Palsu Berkedok Probiotik di Jakarta Utara. Ciri: kapsul biru-putih, tanpa merk, dijual ke klinik kecil."
Alvian menatap layar laptop, menarik napas panjang.
"..."
HP di samping tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan muncul dari "Istri Galak Tapi Cantik" yang bertanya, "Jadi datang atau tidak?"
Ya. Alvian sebelumnya bilang mau antar makan siang ke rumah sakit. Namun sekarang klinik tidak ada yang jaga, jadi mungkin hal itu sulit dilakukan.
"Sepertinya tidak bisa. Mbak Sari sakit, aku di sini jaga sendirian."
Satu menit tidak ada balasan. Alvian pikir Clarissa sudah meninggalkan obrolan sampai suara notifikasi terdengar, "Ting".
"Sakit apa?"
"Diare akut. Tapi sudah kukasih obat."
Alvian sengaja tidak membahas cerita soal kapsul polos.
"Oh ya, sebagai gantinya akan kupesankan makanan online."
Clarissa membaca, membalas singkat.
"Oke. Hati-hati di sana."
Alvian tersenyum melihat balasan pesan itu. "Hati-hati di sana". Baru kali ini Clarissa bilang seperti itu tanpa embel-embel sarkas.
___
Rumah. Jam 21.00 WIB.
Mereka makan malam bersama. Lagi-lagi Alvian membelinya, ayam bakar madu.
Di tengah suara dentingan pisau dan garpu, Clarissa membuka suaranya, "Mbak Sari, gimana kondisinya?"
"Sudah tanya tadi lewat pesan, katanya sudah mendingan, sudah nggak BAB terus."
Clarissa mengangguk samar. "Bagus jika begitu. Bagaimana dengan diagnosa-nya?"
"Infeksi. Bisa virus, bisa bakteri dari makanan. Mungkin dari warteg." Alvian diam, sementara Clarissa tampak lebih tertarik dengan hal ini.
"Entah ini kebetulan atau tidak, di rumah sakit tadi juga banyak keluhan seperti itu. Diare, kepala pusing, badan meriang. Dari pengakuan, mereka menunjukkan gejala setelah minum probiotik tanpa merk dari RS Harapan."
Alvian menoleh, tapi tak mengeluarkan sepatah katapun.
"RS seharusnya tidak mungkin memberi obat sembarangan. Apalagi obat tanpa merk yang tidak jelas asal-usulnya. Aku sudah melaporkannya ke KSM penyakit dalam. Tapi mereka bilang harus tunggu hasil lab terlebih dahulu."
Clarissa berhenti sejenak, lalu menatap Alvian. "Besok, Mbak Sari kerja atau tidak?"
"Kerja. Dia bilang mau kerja, memangnya kenapa?"
"Jika begitu besok aku ke klinik. Mau bertemu dengannya, tanya tentang obat."
Alvian tak bisa menolak apalagi membantah. Habis makan, Clarissa langsung ke kamar, mungkin membuat laporan di sub-folder baru, tentang obat polos, kapsul biru putih tanpa merk.
Alvian masih di ruang tamu, mengelap meja. Dia lihat pintu kamar Clarissa tertutup, membuka HP, lalu membuka email rahasia. Kirim foto kapsul ke alamat email isinya angka acak. Keterangan Obat Palsu, Kapsul Biru-Putih. Jakarta. 2026.
Setelah e-mail terkirim semua jejak dihapus tak menyisakan apapun.