NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Jangan Mengecewakanku

Suasana rumah yang tadinya terasa sedikit dingin karena kedatangan mama Widya, mendadak kembali sunyi. Selena membawa cangkir kopinya ke ruang kerja kecil yang terletak di sudut sayap kanan. Ia berniat menyelesaikan bab krusial dalam draf novel terbarunya, namun konsentrasinya buyar saat ponselnya bergetar di atas meja kayu ek.

Nama yang muncul di layar membuat Selena menghela napas panjang: Riana.

Riana adalah rekan sesama penulis sekaligus "saingan" tidak resmi di platform digital tempat mereka bernaung. Riana dikenal dengan gaya tulisannya yang dramatis, namun di dunia nyata, ia jauh lebih dramatis lagi.

"Halo, Riana?"

"Selena! Oh Tuhan, jadi itu benar?" Suara melengking Riana langsung memenuhi telinga Selena. "Aku baru saja melihat unggahan di akun gosip high-society. Foto kau dan Biru Hermawan di kapel pribadi? Kau benar-benar menikah dengan 'Pangeran Es' itu?"

Selena memijat pangkal hidungnya. Ia lupa bahwa meski acara itu tertutup, tembok-tembok di kalangan elit punya telinga dan kamera. "Iya, Ri. Itu benar. Ada apa?"

"Ada apa? Selena, kau bercanda! Semua orang di komunitas penulis sedang heboh. Mereka bilang kau melakukan 'riset lapangan' paling mahal sepanjang sejarah. Menikah dengan CEO demi bahan novel? Atau ini benar-benar karena... kau tahu, masalah keuangan keluarga Pratama yang katanya sedang goyang?"

Kalimat terakhir itu seperti siraman air es bagi Selena. "Gosip itu tidak berdasar, Ri. Dan ini bukan untuk riset."

"Oh, ayolah. Kita semua tahu kau suka menulis tentang contract marriage dan CEO dingin. Sekarang kau benar-benar hidup di dalamnya. Tapi Selena, hati-hati ya. Kabar yang beredar di luar, Biru Hermawan itu tidak 'tersentuh' bukan karena dia setia, tapi karena dia punya rahasia gelap. Ada yang bilang dia hanya memanfaatkan wanita untuk memperbaiki citra perusahaannya yang kaku."

"Terima kasih atas 'perhatiannya', Riana. Tapi aku punya banyak pekerjaan," potong Selena dingin sebelum mematikan sambungan telepon.

Selena mencoba kembali menatap layar laptopnya, namun kata-kata Riana terus terngiang. Memperbaiki citra perusahaan? Rahasia gelap?

Gangguan tidak berhenti di sana. Saat ia mencoba mencari inspirasi di media sosial, sebuah notifikasi dari grup WhatsApp keluarga besarnya muncul. Tante-tantenya mulai mengirimkan daftar "aturan" menjadi istri keluarga Hermawan—mulai dari cara berpakaian di acara amal hingga larangan untuk tetap aktif menulis cerita-cerita "picisan" yang bisa mencoreng nama baik suami.

Tante Miranda: "Selena sayang, sekarang kamu sudah jadi Nyonya Hermawan. Mungkin sudah saatnya berhenti menulis novel-novel online itu. Biru pasti tidak suka istrinya terlalu banyak mengumbar imajinasi di depan publik. Fokuslah mengurus rumah dan kesehatan suamimu."

Selena meletakkan ponselnya dengan kasar. Ia merasa identitasnya sebagai "Bhebz"—penulis yang bebas—mulai terkikis oleh status barunya sebagai "Istri Biru Hermawan".

Rasa sesak mulai merayap di dadanya. Apakah Biru juga berpikiran sama? Apakah Biru memberikan aset-aset besar itu hanya untuk membungkamnya agar ia menjadi hiasan rumah yang patuh?

Tiba-tiba, keinginan untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar "fiksi" dalam hidup Biru menguat. Selena berdiri, menutup laptopnya, dan memutuskan untuk pergi ke supermarket organik terdekat. Jika ia harus menjadi istri, ia akan melakukannya dengan caranya sendiri—termasuk tetap menulis dan tetap "mengganggu" Biru dengan perhatian-perhatian yang pria itu anggap tidak perlu.

Namun, saat ia melewati ruang kerja Biru yang pintunya sedikit terbuka, ia melihat sebuah map medis yang tertinggal di atas meja. Map itu tanpa nama di bagian depan, hanya ada logo rumah sakit ternama di Singapura. Selena teringat wajah pucat Biru pagi tadi.

Antara rasa ingin tahu dan rasa hormat pada privasi, Selena berdiri mematung di ambang pintu. Sebuah gangguan kecil tentang statusnya kini berubah menjadi kecurigaan besar tentang pria yang baru saja ia nikahi.

*

Selena ternyata begitu sibuk dengan deadlinenya sampai tidak sadar kalau sudah seminggu Biru dan Cakra tidak pulang ke rumah. Hanya satu pesan yang masuk ke handphonenya kalau mereka sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis.

Ketukan di pintu depan itu terdengar sangat berwibawa, tipe ketukan yang tidak menerima penolakan. Selena, yang sedang asyik merajut konflik emosional dalam bab terbaru novelnya, terpaksa melepaskan jemarinya dari papan tik. Ia menghela napas, berusaha mengusir imajinasi tentang tokoh fiksinya dan kembali ke realita sebagai "Nyonya Hermawan."

Saat pintu terbuka, sosok Nyonya Widya Hermawan berdiri di sana dengan keanggunan yang mengintimidasi. Setelan sutra berwarna emerald dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala menegaskan statusnya sebagai matron keluarga penguasa bisnis.

"Satu bulan, Selena. Aku harus menunggu tiga puluh hari hanya untuk melihat wajah menantuku sendiri," ujar Widya sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Aroma parfum klasiknya langsung memenuhi ruangan.

Selena memaksakan senyum sopan. "Maaf, Mama. Biru sangat sibuk di kantor, dan aku juga sedang menyelesaikan beberapa tenggat waktu tulisan."

Widya duduk di sofa beludru, matanya menyapu setiap sudut rumah yang tertata sempurna—namun terasa terlalu sunyi untuk pasangan yang baru menikah. Ia meletakkan sebuah tas kecil di atas meja kopi dengan bunyi denting yang tajam.

"Kesibukan bukan alasan untuk melupakan tujuan utama pernikahan ini, Selena," Widya menatap menantunya dengan tatapan menyelidik. "Biru adalah putra tunggal. Dia adalah masa depan Hermawan Group, dan masa depan itu butuh penerus. Aku tidak ingin mendengar alasan tentang karier atau 'penyesuaian' lagi."

Selena merasakan tenggorokannya mendadak kering. "Mama, kami baru satu bulan menikah. Bukankah terlalu dini untuk—"

"Tidak ada kata terlalu dini untuk sebuah warisan," potong Widya tegas. Ia mengeluarkan beberapa botol suplemen herbal mahal dari tasnya. "Ini untukmu. Dan ini untuk Biru. Aku sudah mengatur janji temu dengan dokter spesialis fertilitas terbaik minggu depan. Kalian harus datang."

Selena tertegun. Janji temu dokter kandungan? Suplemen kesuburan? Pikirannya langsung melayang pada kesepakatan dingin yang ia buat dengan Biru di malam sebelum pernikahan mereka. Tidak ada sentuhan, tidak ada keterikatan emosional. Bagaimana mungkin ia bisa memberikan cucu jika mereka bahkan tidur di sayap bangunan yang berbeda?

"Mama sangat menyayangi Biru, ya?" tanya Selena pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan dari topik yang menyesakkan itu.

Ekspresi Widya melunak sejenak, ada gurat kecemasan yang tulus di matanya. "Dia segalanya bagiku, Selena. Dia bekerja terlalu keras hingga terkadang wajahnya terlihat sangat pucat. Aku ingin dia punya alasan untuk pulang lebih awal. Aku ingin dia punya keluarga kecil yang hangat agar dia tidak hanya memikirkan angka-angka di bursa saham."

Selena terdiam. Ia melihat seorang ibu yang begitu memuja anaknya, tanpa menyadari bahwa pernikahan anaknya hanyalah sebuah transaksi legal. Integritas Selena sebagai seorang wanita terusik. Ia merasa bersalah karena telah menjadi bagian dari sandiwara yang membohongi harapan tulus wanita di depannya ini.

"Kami akan membicarakannya, Mama," jawab Selena diplomatis, meski ia tahu itu adalah janji kosong.

"Jangan hanya bicara, Selena. Lakukan," Widya berdiri, mengusap lengan Selena sekilas sebelum pamit. "Minggu depan jam sepuluh pagi. Jangan mengecewakanku."

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!