Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pelabuhan di Tengah Badai
Vanya berdiri di depan pintu unit apartemen mewah di kawasan pusat kota. Tangannya yang sedikit gemetar menekan bel berkali-kali. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dengan sentakan kasar, menampakkan sosok wanita dengan rambut acak-acakan dan piyama yang kancingnya salah posisi.
"Siapa sih malam-malam—Vanya?!" Sesilia terbelalak, kantuknya hilang seketika melihat sahabatnya berdiri di sana dengan gaun malam yang indah namun wajah yang tampak hampa.
"Sesil... gue numpang tidur di sini dulu ya malam ini," ucap Vanya lirih.
Sesilia segera menarik tangan Vanya masuk. "Masuk, masuk! Tumben banget lo kabur dari istana Jacob. Ada apa? Billy macem-macem? Atau si Devan berulah lagi?"
Sesil bukan sekadar asisten di bisnis perhiasan Lumina Jewelry milik Vanya. Dia adalah sahabat sejak masa sekolah yang tahu setiap tetes air mata Vanya. Sejak Vanya harus membagi fokus untuk menyelamatkan Jacob Group, Sesilia-lah yang ia percayakan menjabat sebagai Wakil Direktur di perusahaan perhiasannya.
"Hugo ada di rumah?" tanya Vanya pelan sambil melepas sepatu hak tingginya.
"Baru pulang tadi sore, sekarang lagi tidur. Dia tepar banget habis penerbangan jauh," jawab Sesil sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Hugo, suami Sesilia, bekerja sebagai kepala cabang perusahaan perhiasan Vanya di Belanda. Mereka adalah pasangan pejuang jarak jauh. Anak pertama mereka yang sudah sekolah tinggal bersama neneknya di Amerika untuk pendidikan, sedangkan anak kedua mereka yang baru berusia tiga bulan sedang lelap di kamar bayi.
"Gue nggak mau pulang, Sil. Gue baru aja ninggalin Devan di pinggir jalan, nyuruh dia naik bis, terus gue pergi kencan sama Billy tapi akhirnya gue batalin di tengah jalan," Vanya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu yang nyaman.
Sesilia duduk di sampingnya, memberikan segelas air hangat. "Lo lagi main tarik ulur ya sama Devan? Gue dapet laporan dari kantor kalau dia beneran kerja keras jadi asisten lo hari ini."
"Gue harus tegas, Sil. Kalau gue lembek sedikit aja, dia bakal balik jadi Devan yang dulu. Tapi liat dia kotor dan capek tadi... hati gue sakit juga," Vanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Itu namanya lo masih sayang, Vanya Benjamin," sahut Sesil sambil menepuk bahu sahabatnya. "Lo punya segalanya. Lo punya Jacob Group, lo punya Lumina, lo punya kuasa. Tapi lo tetep cuma manusia biasa kalau soal perasaan. Tidurlah di kamar tamu. Besok pagi kita berangkat bareng ke kantor biar Devan makin panas liat lo nggak pulang semalaman."
Vanya mengangguk kecil. Di rumah sahabatnya ini, di antara aroma bayi dan kehangatan keluarga kecil yang harmonis, Vanya merasa sedikit tenang. Ia merindukan kedamaian seperti ini—sesuatu yang selama tiga tahun pernikahan tidak pernah ia dapatkan di Mansion Jacob yang penuh intrik dan pengkhianatan.
Malam itu, di apartemen Sesil, Vanya memejamkan mata, membiarkan egonya beristirahat sejenak sebelum besok ia harus kembali memakai topeng "Wanita Bertangan Besi" di depan suaminya sendiri.
Sinar matahari pagi menembus jendela apartemen Sesilia. Vanya baru saja selesai bersiap ketika ia menyalakan ponselnya. Seketika, rentetan notifikasi masuk seperti air bah.
100 Panggilan Tak Terjawab dari Devan.
200 Pesan Belum Terbaca dari Devan.
"Astaga, Van... itu HP lo nggak nge-lag?" tanya Hugo yang baru keluar dari kamar dengan wajah bantal. Ia melirik layar ponsel Vanya yang terus bergetar.
Vanya hanya menatap layar itu datar. "Aneh, bukan?"
Hugo terkekeh, ia berjalan menuju dapur. "Bukan aneh, Van. Tapi itu tandanya dia mulai mencoba melangkah ke arahmu. Pria kalau sudah panik begitu, artinya egonya sudah kalah sama rasa takut kehilangan."
Tiba-tiba, suara bel apartemen berbunyi dengan brutal. Ting-tong! Ting-tong! Suaranya tidak sabaran, seolah-olah orang di luar sana ingin merobohkan pintu.
"Vanya, tolong buka! Gue tanggung lagi mandiin anak nih!" teriak Sesilia dari kamar mandi, suaranya bersaing dengan tangisan kecil bayinya. "Hugo, jagain masakannya!"
"Iya, iya!" sahut Hugo yang sedang memegang spatula dan memakai celemek motif bunga milik istrinya.
Vanya menghela napas, ia melangkah menuju pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, sebuah bayangan besar langsung menerjangnya. Devan memeluk Vanya dengan sangat erat, napasnya memburu seperti orang yang baru saja lari maraton.
"Vanya! Kamu ke mana aja sih?! Nggak pulang, nggak angkat telepon!" Devan melepaskan pelukannya sebentar, memegang kedua bahu Vanya dan menatapnya dengan mata merah. "Kamu tuh cewek, Vanya! Bikin khawatir aja! Kenapa nggak kasih kabar?!"
Vanya hanya diam, terpaku melihat kekacauan di wajah suaminya. Devan masih memakai kemeja yang sama dengan kemarin, tampak sangat berantakan dan tidak tidur semalaman.
"Siapa, Van?" Suara pria terdengar dari dalam. Hugo keluar dari dapur, masih memegang spatula dengan celemek yang melilit pinggangnya. "Siapa yang datang—"
Mata Devan seketika gelap. Melihat seorang pria asing berpakaian santai berada di dalam apartemen tempat istrinya menginap semalaman, naluri primitifnya meledak.
BUKK!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang Hugo. Hugo yang tidak siap langsung jatuh terduduk di lantai, spatulanya terlempar.
"BRENGSEK KAU! JADI INI ALASAN ISTRiku TIDAK PULANG?!" raung Devan.
Sepuluh menit kemudian, suasana menjadi sangat tegang namun konyol. Vanya dan Devan duduk di sofa, menghadap Sesilia yang berdiri dengan tangan di pinggang dan wajah yang siap meledak karena marah. Sementara itu, di kursi seberang, Hugo sedang mengompres pipinya yang lebam dengan es batu sambil memangku anak kecilnya, Leo, dan mengajaknya bermain seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maafkan saya... saya benar-benar khilaf," ucap Devan tertunduk lesu, suaranya sangat pelan. Ia baru sadar pria yang ia pukul adalah suami dari sahabat istrinya sekaligus kepala cabang perusahaannya sendiri.
Hugo hanya tersenyum tipis, meski ringisan sesekali muncul. "Tidak apa-apa, Tuan Devan. Pukulanmu lumayan juga."
"Heh! Kalau bukan karena lo orang yang disayang sahabat gue, udah gue laporin polisi lo!" semprot Sesilia pedas ke arah Devan.
Vanya segera menendang kaki Sesilia di bawah meja, memberinya kode untuk diam.
Devan menoleh ke arah Vanya. Mendengar kata "disayang sahabat gue" dari mulut Sesil, matanya seketika berbinar-binar. Ada secercah harapan yang muncul di hatinya. Ia menatap Vanya dengan pandangan memohon, seolah bertanya: 'Benarkah kamu masih sayang aku?'
Melihat tatapan memuja dari Devan, Vanya langsung memalingkan wajah. Tangannya bergerak diam-diam memberikan isyarat "Tidak, Tidak" dengan jari, mencoba menyangkal kata-kata Sesilia meski wajahnya sendiri kini mulai memerah menahan malu.
"Sudah, ayo berangkat ke kantor. Kamu sudah cukup membuat keributan di rumah orang," ucap Vanya dingin, mencoba mengembalikan wibawanya, meski ia tahu Devan tidak akan melepaskan pandangan itu darinya sepanjang hari.