NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12: Di Antara Oli dan Baris Kode

Sinar matahari sore di Jakarta biasanya membuatku ingin segera merebahkan diri di kasur. Tapi hari ini berbeda. Setelah pulang sekolah, aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku membujuk Kak Hazel untuk mengantarku ke sebuah tempat yang, jujur saja, beberapa bulan lalu tak pernah kubayangkan akan menjadi tempat "nongkrong" favoritku.

Bengkel Modifikasi Pak Edi.

Begitu Kak Hazel mematikan mesin motor di depan bengkel, aku langsung disambut oleh aroma yang kini sudah sangat kukenal. Campuran antara oli mesin yang pekat, karet ban yang panas, dan sedikit bau bensin. Suaranya pun ramai—dentingan kunci pas yang beradu dengan baut logam, suara kompresor angin, dan sahutan para mekanik yang sedang sibuk.

Mataku langsung mencari satu sosok di antara deretan motor yang sedang dibongkar. Di sana, di sudut bengkel dengan tangan yang penuh dengan noda hitam oli, ada Kak Luq.

Berbeda dengan minggu lalu, saat dia terlihat seperti mayat hidup setelah shift di gudang logistik, hari ini wajahnya tampak jauh lebih segar. Meskipun dia berkeringat dan bajunya kotor, ada binar di matanya yang sudah lama tidak kulihat. Dia terlihat... hidup.

"Kak Luq!" panggilku sambil melangkah masuk, menghindari genangan oli kecil di lantai.

Kak Luq menoleh. Dia sedang memegang kunci torsi, mencoba mengencangkan baut blok mesin sebuah motor sport yang dimodifikasi. Dia meletakkan kunci itu, menyeka tangan yang penuh oli ke lap kain di celananya, lalu senyum tipis—tapi tulus—terukir di wajahnya.

"Rea? Tumben datang sore-sore," sapanya. Suaranya terdengar lebih bertenaga daripada saat dia masih bekerja di gudang.

Aku tersenyum lebar. "Bosan di rumah, Kak. Lagipula, aku mau nunjukin sesuatu."

Aku berjalan menuju kursi plastik tua di pojok bengkel. Aku sudah menyiapkan "kantor" kecilku di sana. Mengeluarkan laptop dari tas ransel, aku langsung membuka coding environment-ku. Di sampingku, Kak Hazel ikut duduk, mengeluarkan dua botol minuman dingin yang ia beli di jalan tadi.

"Gimana, Luq? Capek nggak?" tanya Kak Hazel sambil memberikan minuman pada Kak Luq.

Kak Luq meneguk minuman itu dengan cepat. "Capek sih, Zel. Tapi beda. Di sini gue emang kerja fisik, tapi Pak Edi ngerti jadwal gue. Gue masih punya sisa tenaga buat mikir. Nggak kayak di gudang kemarin yang bener-bener kayak mau mati."

Aku mengangguk lega mendengarnya. Aku mulai mengetik, fokusku terbagi antara memperhatikan Kak Luq yang kembali bekerja dan menatap layar laptopku. Aku sedang mengembangkan aplikasi Stock Management sederhana untuk bengkel ini. Pak Edi masih mencatat stok baut, oli, dan ban di buku tulis yang sudah lusuh dan robek di sana-sini. Aku ingin mengubahnya menjadi sistem digital.

"Kak, sini deh," panggilku saat Kak Luq sedang mengambil jeda sebentar. "Aku lagi nyoba buat script buat input stok baut. Tapi logikanya kok error terus ya? Pas aku klik submit, datanya malah masuk ke kolom harga, bukan kolom jumlah."

Kak Luq berjalan mendekat. Dia tidak duduk, dia hanya berdiri di belakangku, mengamati layar. Bau oli dari bajunya tercium, tapi entah kenapa, bau itu kini terasa seperti aroma ketenangan bagiku.

Dia melihat baris kodeku cukup lama. Dia tidak langsung menyentuh keyboard.

"Rea, lo liat baut mesin motor ini?" tanya Kak Luq tiba-tiba sambil menunjuk ke arah motor yang sedang ia kerjakan. "Kalau lo mau ngerapatin blok mesin, lo nggak bisa asal putar bautnya sekuat tenaga. Ada urutan dan torsinya. Kalau lo salah masukin urutan baut pertama, baut yang kedua bakal miring dan mesinnya nggak bakal rapat."

Aku menatapnya bingung. "Maksudnya, Kak?"

"Logika koding lo itu kayak baut mesin. Baris ke-20 ini, kamu naruh fungsi add_data sebelum kamu memvalidasi input-nya. Jadi, datanya langsung 'tumpah' ke mana aja. lu harus kunci validasinya dulu, baru datanya bisa masuk ke 'blok' yang bener."

Mataku membelalak. "Oh! I get it! Aku naruh fungsi save sebelum validation selesai!"

Aku segera memperbaikinya. Benar saja, saat aku menjalankan programnya, semuanya berjalan lancar. Aku tertawa senang. "Kak Luq, harusnya Kakak jadi programmer, bukan mekanik!"

Kak Luq tertawa, suara tawanya terdengar lepas. "Gue belajar banyak hal dari mesin, Rea. Logika mesin sama logika komputer itu sebenarnya sama. Keduanya butuh ketepatan dan urutan yang bener. Kalau salah satu aja, sistemnya bakal crash."

Tiba-tiba, Pak Edi, pemilik bengkel, datang menghampiri kami. Dia pria paruh baya yang perawakannya kekar dan wajahnya selalu terlihat serius. Aku sempat takut dia akan marah karena kami sibuk dengan laptop, tapi ternyata dia malah melihat layar laptopku dengan antusias.

"Luq, teman mu ini lagi bikin apa?" tanya Pak Edi dengan logatnya yang khas.

"Lagi bikin sistem manajemen bengkel, Pak. Biar Bapak nggak perlu pusing nyari stok baut atau oli lagi. Semuanya bisa kelihatan di layar," jawab Kak Luq.

Pak Edi tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Kak Luq. "Wah! Kalau bisa beneran, saya kasih bonus kopi tiap hari! Luq, pinter banget kamu temenan sama orang pinter."

Aku tersipu malu. Tapi ada rasa bangga yang luar biasa. Bukan karena pujian Pak Edi, tapi karena melihat Kak Luq. Dia bangga padaku, dan aku pun bangga melihatnya bisa bertahan di tempat ini.

Sore itu, bengkel berubah menjadi ruang belajar. Di antara suara gerinda yang beradu dengan besi dan tawa para mekanik, kami bertiga—aku, Kak Luq, dan Kak Hazel—duduk bersama. Kak Hazel sesekali membantu membacakan data manual yang ada di buku tulis Pak Edi untuk kumasukkan ke database aplikasi.

Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi oranye keunguan, aku mulai membereskan laptopku. Aku punya tugas Mandarin yang harus kukejar untuk beasiswa.

"Kak," panggilku pelan saat Kak Luq sedang membersihkan tangannya dari sisa oli. "Aku ada tugas HSK Level 1. Bab tentang perkenalan diri. Susah banget nadanya."

Kak Luq menghampiriku, lalu duduk di kursi plastik di sebelahku. "Coba ucapin."

Aku mencoba melafalkan karakter mandarin yang tertulis di bukuku. " Wǒ... wǒ jiào Rea."

Kak Luq tersenyum. "Kurang pas nadanya. Coba lagi. Wǒ itu nada ketiga, harus turun terus naik."

Dia mengajariku dengan sabar. Di tengah kebisingan bengkel, suaranya terdengar sangat jelas. Saat itu, aku menyadari sesuatu. Kak Luq mungkin belum bisa kuliah sekarang, dia mungkin masih harus berkutat dengan oli setiap hari. Tapi dia adalah guru terbaik yang pernah kupunya. Dia tidak hanya mengajariku coding atau bahasa, dia mengajariku tentang bertahan hidup.

"Kak," kataku saat dia selesai mengoreksi pelafalanku. "Makasih ya udah nemenin aku hari ini. Besok, aku bakal bawain catatan tentang beasiswa dari web kedutaan China buat kita pelajari bareng. Kita harus punya rencana cadangan kalau seandainya seleksi pertama lebih susah dari yang aku bayangin."

Kak Luq menatapku, matanya terlihat berkaca-kaca sejenak sebelum dia tertawa kecil. "kamu tuh ya, ambisius banget. Tapi gue sukaa. Besok kamu datang, kita bahas itu bareng."

Malam harinya, saat kami pulang dibonceng Kak Hazel, aku menyandarkan kepalaku di punggungnya. Aku menatap lampu jalanan Jakarta yang lewat dengan cepat. Pikiranku melayang ke masa depan.

Aku membayangkan diriku di China, mungkin sedang duduk di perpustakaan besar, memikirkan masa-masa saat aku dan Kak Luq duduk di sudut bengkel yang penuh oli.

Aku tahu, jalan menuju ke sana masih sangat panjang. Akan ada ribuan karakter Mandarin lagi yang harus kuhafal, ribuan baris kode yang harus kubetulkan, dan ribuan rintangan yang mungkin akan membuat kami ingin menyerah.

Tapi, setelah melihat Kak Luq hari ini, aku tidak lagi takut. Kalau dia bisa bangkit dari keterpurukan gudang logistik dan menemukan semangat baru di bengkel ini, kenapa aku harus takut dengan ujian beasiswa?

Aku membuka laptopku sejenak saat sampai di kamar. Aku menambahkan satu baris komentar di bagian atas proyek aplikasi bengkelku:

# Project: Building Foundations. Dedicated to my mentor, Luq. We are not just building an app; we are building our future.

Aku menutup laptop, tersenyum pada Mbul (*kucingku) yang sedang tidur di sudut kasur. Hari ini produktif. Hari ini penuh harapan. Dan aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!