Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7. Siksa
Kegelapan malam menyelimuti kamar yang kini terasa lebih sempit dari sel penjara. Alya masih bersimpuh di balik pintu, kepalanya bersandar pada kayu dingin yang tak bernyawa. Di luar, suara tawa para tamu dan denting gelas perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang mencekam. Arka benar-benar menguncinya. Pria itu telah merampas sisa udara yang bisa ia hirup dengan bebas.
Dunia luar mungkin menganggapnya sebagai Nyonya Dirgantara yang bergelimang harta, namun di balik pintu ini, ia hanyalah seorang pesakitan.
Alya menatap tangannya yang memar. Luka di jarinya yang sempat diobati Arka semalam kini terasa berdenyut lagi, seolah ikut menertawakan kenaifannya. Bagaimana mungkin ia sempat berpikir bahwa Arka memiliki sedikit rasa kemanusiaan? Kelembutan semalam hanyalah fatamorgana, sebuah jebakan sebelum Arka menjatuhkannya ke jurang yang lebih dalam.
"Ayah... kenapa?" bisik Alya pada kehampaan.
Ia tidak ingin percaya pada dokumen yang ditunjukkan Sisil. Namun, di sudut hatinya yang paling jujur, ia tahu bahwa ayahnya bukanlah orang suci. Kebangkrutan itu terjadi begitu cepat, dan kemewahan yang ia rasakan selama ini mungkin memang dibangun di atas air mata orang lain—termasuk air mata ibu Arka. Jika itu benar, maka ia adalah pewaris dosa yang tidak pernah ia minta.
Pukul tiga pagi, pintu kamar perlahan terbuka. Alya yang tertidur di lantai karena kelelahan menangis, tersentak bangun. Ia melihat bayangan tinggi berdiri di ambang pintu. Arka.
Pria itu tidak lagi mengenakan jas. Kemeja putihnya sudah berantakan, dua kancing teratasnya terbuka, dan bau alkohol tercium tajam dari tubuhnya. Arka tidak menyalakan lampu. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit tidak stabil.
Alya mundur dengan menyeret tubuhnya di atas lantai, menjauh hingga punggungnya menabrak kaki ranjang. "Arka... apa yang kau lakukan?"
Arka tidak menjawab. Ia berlutut di depan Alya, mencengkeram kedua tangan gadis itu dan mengangkatnya ke atas kepala. Arka menatap wajah Alya dengan mata yang merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena amarah yang masih membara.
"Kenapa kau tidak jujur padaku, Alya?" suaranya berat dan serak.
"Aku benar-benar tidak tahu tentang rumah itu, Arka! Demi Tuhan, aku tidak tahu!"
"Berhenti menyebut nama Tuhan dengan bibirmu yang penuh dusta!" bentak Arka. Ia mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya yang panas menerpa kulit Alya. "Kau menikmati setiap fasilitas yang kubayar dengan nyawa ibuku. Kau memakai pakaian bagus, makan makanan enak, sementara ibuku kedinginan di lantai rumah sakit tanpa obat!"
"Maafkan aku... maaf..." Alya hanya bisa merintih. Kalimat itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki, meski ia tahu itu tumpul di depan Arka.
Arka melepaskan tangan Alya dengan sentakan kasar. Ia berdiri, lalu menatap ranjang besar yang semalam ia berikan pada Alya. "Mulai besok, kau tidak akan mendapatkan kemewahan apa pun di rumah ini. Kau ingin menebus dosa ayahmu? Maka lakukan dengan cara yang benar."
Keesokan paginya, siksaan fisik yang sebenarnya dimulai.
Nyonya Ratna muncul di kamar Alya pada pukul lima subuh, didampingi oleh dua pelayan senior yang bertampang garang. Mereka membawa tumpukan seragam pelayan berwarna abu-abu kusam.
"Bangun, Putri Pencuri," Nyonya Ratna menendang kaki Alya yang masih terpejam. "Mulai hari ini, kau bukan lagi tamu di sini. Arka sudah menyerahkan kendali atas dirimu kepadaku."
Alya bangun dengan mata sembab. Ia menatap seragam itu dengan bingung.
"Pakai itu. Kau akan membersihkan seluruh mansion ini sendirian. Tanpa bantuan pelayan lain. Jika aku melihat ada setitik debu, kau tidak akan mendapatkan jatah makan malam," perintah Ratna dengan senyum kemenangan.
Alya mengambil seragam itu. Ia tidak membantah. Jika dengan menjadi pelayan ia bisa mengurangi beban dosa ayahnya di mata Arka, ia akan melakukannya. Ia mengganti gaun tidurnya dengan kain abu-abu kasar yang terasa gatal di kulitnya.
Tugas pertama adalah membersihkan aula utama tempat pesta semalam diadakan. Ruangan itu berantakan dengan pecahan gelas, tumpahan minuman, dan sisa makanan. Alya mulai berlutut, menggosok lantai marmer dengan kain lap manual. Ia tidak diizinkan menggunakan mesin pembersih.
Tangannya yang halus kini mulai kasar. Cairan pembersih lantai yang keras membuat luka di jarinya terasa perih luar biasa, terbakar oleh zat kimia. Namun ia terus menggosok, mengabaikan keringat yang mengucur di dahinya.
Saat matahari mulai tinggi, Sisil datang. Ia mengenakan pakaian olahraga yang modis, seolah-olah mansion ini adalah klub pribadinya.
"Wah, lihat siapa ini. Pelayan baru kita sangat rajin ya?" Sisil berjalan di atas lantai yang baru saja dibersihkan Alya dengan sepatu kotornya. "Aduh, sepertinya aku membawa lumpur dari taman. Bersihkan lagi ya, Alya."
Sisil dengan sengaja menginjak-injak area yang sudah bersih itu. Alya hanya menunduk, memeras kain lapnya dengan tangan gemetar.
"Kenapa diam saja? Ayo gosok lagi!" bentak Sisil.
Tiba-tiba, Arka lewat di lorong atas. Ia berhenti sejenak, melihat ke bawah ke arah aula. Ia melihat istrinya—wanita yang beberapa hari lalu memakai gaun pengantin jutaan rupiah—kini bersimpuh di kaki Sisil, membersihkan kotoran sepatu wanita lain.
Ada sesuatu yang berdenyut di dada Arka. Rasa puas yang ia harapkan ternyata tidak datang. Sebaliknya, ada rasa mual yang aneh melihat pemandangan itu. Namun, egonya segera menepis perasaan itu. *Ini adalah hukuman yang pantas untuknya,* pikir Arka keras kepala.
Arka melanjutkan langkahnya menuju kantor tanpa berkata apa-apa.
Sore harinya, tubuh Alya sudah di ambang batas. Ia belum makan sejak pagi, hanya meminum air keran dari kamar mandi karena ia terlalu takut untuk masuk ke dapur utama. Saat ia sedang membersihkan kaca jendela besar di perpustakaan, pintu terbuka.
Arka masuk. Ia membawa sebuah amplop.
Alya mencoba berdiri tegak, namun kakinya lemas. Ia berpegangan pada pinggiran meja.
"Ini," Arka melempar amplop itu ke meja. "Surat dari rumah sakit ibumu."
Jantung Alya mencelos. "Ibu? Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Biayanya membengkak. Operasi jantung keduanya harus dilakukan minggu depan jika kau ingin dia selamat," Arka menatap Alya dengan pandangan yang datar. "Aku sudah membayar uang mukanya."
Alya mengembuskan napas lega, namun ia tahu ada harga yang harus dibayar. "Terima kasih, Arka. Apa pun... aku akan melakukan apa pun."
"Memang harus begitu," Arka mendekat, ia meraih tangan Alya yang merah dan pecah-pecah karena cairan pembersih. Ia menatap telapak tangan itu cukup lama, ada konflik yang terbaca di wajahnya. "Besok, ayahmu akan datang berkunjung. Dia ingin melihat putri kesayangannya."
Alya membelalak. "Ayah akan ke sini?"
"Ya. Dan kau harus berakting di depannya. Kau harus menunjukkan padanya bahwa kau sangat bahagia, sangat dicintai, dan hidup bagaikan ratu. Jika dia tahu kau diperlakukan seperti pelayan, aku akan memutus semua dana rumah sakit ibumu dalam sekejap."
Alya gemetar. Ini adalah siksaan psikologis yang paling berat. Ia harus membohongi orang tuanya sendiri saat ia sedang sekarat di dalam rumah ini.
"Kau mengerti?" Arka mencengkeram tangan Alya lebih keras, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Aku mengerti... aku akan melakukannya," bisik Alya pasrah.
"Bagus. Bersihkan dirimu. Bau sabun murahmu ini memuakkan. Malam ini kau kembali tidur di ranjang. Aku tidak ingin ayahmu melihat lingkaran hitam di matamu besok."
Arka melepaskan tangan Alya dan berbalik pergi. Alya jatuh terduduk di lantai perpustakaan. Ia menatap tangannya yang kasar, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang setengah bersih.
Ia terjebak dalam lingkaran setan. Untuk menyelamatkan ibunya, ia harus mengkhianati nuraninya dengan berbohong pada ayahnya. Dan untuk memuaskan dendam Arka, ia harus membiarkan dirinya dihancurkan perlahan-lahan.
Malam itu, di bawah selimut yang sama dengan aroma Arka, Alya tidak bisa tidur. Ia membayangkan hari esok, saat ia harus memeluk ayahnya dan berkata, "Aku bahagia, Yah," sementara jiwanya sedang menjerit minta diselamatkan dari pria yang kini menjadi pemilik sah atas hidup dan matinya.
Air mata Alya jatuh di atas bantal, dingin dan tak terdengar. Ia mulai bertanya-tanya, berapa lama lagi tubuh dan hatinya bisa bertahan sebelum akhirnya ia benar-benar hancur menjadi debu?