Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Abram mengangguk perlahan, tangannya masih terus meraba batu di dadanya. Rasanya seperti mengenal sesuatu yang sudah menjadi bagian dirinya tapi baru saja dikenali dengan benar.
"Jadi sekarang... apa yang terjadi pada ku? Mengapa aku bisa mengobati orang itu dengan cara yang tidak kuketahui sebelumnya?" tanyanya penasaran.
"Kau kehabisan energi karena mengekstrak kekuatan dari batu untuk menyembuhkan wanita itu tanpa tahap persiapan. Seharusnya kau istirahat selama minimal sehari dan mengumpulkan energi alami dari sekitar sebelum menggunakan kekuatan batu ini. Selain itu, kau juga tidak boleh bermalas-malasan, tubuhmu perlu dilatih agar bisa menahan dan mengendalikan kekuatan yang mengalir melalui dirimu. Tanpa latihan yang tepat, kau hanya akan menyia-nyiakan bakat yang ada padamu," kata Gur Zeno.
Abram mengangguk dengan penuh pemahaman. "Baik, Guru Zeno. Aku akan mengikuti segala yang kau katakan."
"Kemarilah mendekat," kata Guru Zeno sambil mengajak Abram ke sebuah alas bulu yang terletak di tengah gua.
Abram bergerak dengan perlahan, tubuhnya mulai terasa sedikit lebih ringan seiring dengan setiap langkah. Ia berdiri di depan kakek tua itu dengan sikap hormat.
"Duduklah," perintah Guru Zeno dengan suara yang tenang.
Abram pun duduk dengan tegak di atas alas bulu. Tanpa basa-basi lagi, kakek tua itu meletakkan ujung jari telunjuknya tepat di tengah dahi Abram.
Saat itu, sebuah aliran panas menyebar dari dahinya ke seluruh tubuhnya, seolah ribuan buku kuno terbuka sekaligus di dalam pikirannya.
Ia melihat gambar-gambar tentang tanaman obat, cara membaca aliran energi tubuh manusia, teknik menyembuhkan berbagai penyakit dari ringan hingga berat, dan bahkan cara mengumpulkan energi alam untuk memperkuat diri.
Pada saat yang sama, kekuatan kembali mengalir ke setiap urat dan ototnya, membuat tubuhnya terasa segar dan kuat seperti baru saja bangun dari tidur panjang.
"Wah... aku sekarang bisa merasakan setiap aliran darah di dalam tubuhku, bahkan bisa melihat titik-titik energi yang ada di sekitar kita!" teriak Abram dengan kagum, matanya penuh dengan keheranan saat melihat kedua tangannya yang kini tampak lebih jelas dan seolah menerapkan cahaya samar. "Seolah aku menjadi seorang dokter yang hebat!"
Guru Zeno menggelengkan kepalanya dengan senyum lembut. "Lebih tepatnya menjadi seorang tabib, orang yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tapi juga jiwa dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Dokter mengandalkan obat dan alat, tapi tabib mengandalkan pemahaman mendalam tentang keseimbangan hidup."
Ia kemudian membungkuk sedikit, menatap mata Abram.
"Nak, ada satu aturan utama yang harus kau patuhi selama hidupmu: kamu harus menjadi orang yang rendah hati dan selalu siap menolong orang lain. Jangan pernah menggunakan ilmu dan kekuatan yang kamu miliki untuk menyakiti orang atau mencari keuntungan semata. Jika mereka yang kamu bantu ingin membayar balas budi, biarkan mereka melakukannya sesuai kemampuan mereka. Tapi jika mereka tidak mampu, jangan pernah memaksakan untuk mengambil bayaran darinya. Keseimbangan yang baik hanya bisa terjaga jika kekuatan digunakan dengan niat yang suci."
Abram mengangguk dengan penuh semangat, tangannya mengepal erat. Rasa tanggung jawab yang besar mulai tumbuh di dalam hatinya, bersama dengan tekad untuk menjadi orang yang berguna bagi banyak orang.
"Baik, Guru. Aku akan selalu mengingat pesan mu ini dan menjalankannya dengan sepenuh hati," kata Abram mengangguk dengan mantap.
di tunggu kelanjutannya