NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Nama yang Dipanggil

Celah batu itu lebih sempit daripada yang Wira bayangkan.

Begitu masuk, bahunya sempat tersangkut pada dinding batu yang lembap, lalu kain bajunya terseret akar kering yang menonjol dari sela-sela retakan. Ruang di dalam gelap, hanya ada garis tipis cahaya dari lubang masuk di belakang mereka. Bau tanah basah, lumut, dan batu tua memenuhi hidung. Udara di sana lebih dingin daripada di luar, tetapi justru itulah yang membuat Wira sadar betapa panas tubuhnya setelah berlari tanpa henti.

Panca masuk lebih dulu di belakang Ki Rangga, lalu segera menempel ke dinding sambil mengatur napas. Wira masih berdiri setengah membungkuk, telapak tangannya menekan dada. Dari luar celah, suara kuda dan teriakan masih terdengar, walau kini agak jauh. Paling tidak, untuk sesaat, mereka tidak terlihat.

“Jangan bersuara,” bisik Ki Rangga.

Wira menoleh cepat ke arahnya. Wajah lelaki itu setengah tertutup bayangan, tetapi garis matanya tetap tajam. Dalam gelap itu, Ki Rangga terlihat lebih tua daripada saat di tepi sungai. Ada bekas lelah di ujung rahang dan garis luka tipis di pelipis kiri. Namun geraknya masih tenang, seolah keadaan genting seperti ini bukan hal baru.

Panca berbisik kecil, “Kita aman?”

Ki Rangga tidak menjawab langsung. Ia justru mendekat ke lubang masuk, mengintip ke luar sebentar, lalu kembali menempel ke batu. “Untuk sementara,” katanya. “Tapi mereka akan mencari ke sini kalau jejak kita tidak hilang.”

Wira meraih lengan bajunya sendiri, lalu berkata dengan suara tertahan, “Kau bilang akan menjawab pertanyaanku.”

“Dan aku juga bilang bukan sekarang.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Karena sekarang kita masih diburu.”

Wira menahan diri agar tidak membantah. Ia menoleh ke luar celah sedikit, lalu melihat garis asap naik di kejauhan. Desa mereka masih terbakar. Dari tempat ini, api tidak tampak sebesar tadi, tetapi warna merahnya masih jelas di balik kabut asap. Wira memejamkan mata singkat. Wajah ibunya terlintas di kepalanya. Ia tidak tahu apakah perempuan itu selamat. Ia tidak tahu apakah rumah mereka masih berdiri. Yang ia tahu hanya bahwa beberapa menit lalu hidupnya masih sederhana, dan kini semuanya terbelah.

Panca menyandarkan punggung ke batu. “Aku tidak suka tempat ini.”

“Kau tak perlu suka,” jawab Ki Rangga.

Panca mendengus. “Kau memang pandai sekali menghibur orang.”

Wira hampir menanggapi, tetapi suara dari luar membuat semua orang diam.

Langkah kaki.

Bukan di dalam celah. Di luar.

Ada beberapa orang menyisir area dekat batu tempat mereka bersembunyi. Dari sela retakan, Wira bisa melihat bayangan bergerak cepat di atas tanah. Satu orang berjalan mendekat ke arah mulut celah. Yang lain berhenti tak jauh darinya. Suara mereka samar, tapi cukup terdengar.

“Jejaknya ke sini.”

“Periksa batu itu.”

Jantung Wira terasa jatuh. Panca menahan napas begitu keras sampai dadanya naik turun pendek. Ki Rangga mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar mereka tetap diam. Wira menatapnya. Pria itu sama sekali tidak tampak panik. Ia hanya menunggu, seperti seseorang yang sudah menilai seberapa dekat bahaya dan apa yang harus dilakukan jika bahaya itu benar-benar masuk.

Di luar, bayangan satu orang tampak berhenti tepat di mulut celah.

Wira menahan napas.

Orang itu menunduk sebentar, lalu bersuara. “Tidak ada apa-apa.”

“Cari sisi lain.”

Langkah kaki menjauh.

Wira baru mengembuskan napas perlahan ketika suara itu hilang. Panca mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Aku kira habis.”

“Belum,” kata Ki Rangga singkat. “Mereka masih menyisir area ini.”

Wira menatap Ki Rangga. “Kau sudah lama tahu mereka akan datang?”

Ki Rangga meliriknya sekilas. “Aku tahu mereka pasti mengejar.”

“Karena aku?”

“Karena benda yang kau bawa.”

Wira langsung mengerutkan kening. Tangannya refleks meraba lipatan kain di pinggang, tempat lempeng kayu kecil pemberian ibunya disimpan. Benda itu terasa aneh sejak awal, tetapi baru sekarang ia benar-benar merasakan bobotnya. “Apa istimewanya benda ini?”

Ki Rangga tidak menjawab langsung. Ia menatap Wira lama, lalu berkata, “Kalau kuberi jawaban sekarang, kau belum tentu bisa memahaminya.”

Wira mengepalkan tangan. “Coba saja.”

Panca menatap mereka bergantian. “Aku juga ingin tahu.”

Ki Rangga menghela napas pelan. “Itu tanda lama. Tanda yang dulu dipakai orang-orang tertentu untuk membuka jalan, mengenali orang, atau menyembunyikan sesuatu. Tidak semua orang bisa memilikinya.”

“Jalan ke mana?” tanya Wira.

“Ke rahasia.”

Wira mengerutkan dahi lebih dalam. “Rahasia apa?”

“Rahasia yang membuat keluargamu diburu.”

Kalimat itu membuat udara dalam celah batu terasa lebih berat.

Panca menatap Wira cepat, lalu kembali ke Ki Rangga. “Keluarga Wira?”

Ki Rangga mengangguk kecil. “Kalau ibunya menyuruh dia menyembunyikan benda itu, berarti ia tahu lebih banyak daripada yang kalian kira.”

Wira merasakan dadanya mengencang. “Kau mengenal ibuku?”

“Lebih dari sekadar mengenal.”

Wira langsung menegakkan kepala. “Apa maksudmu?”

Ki Rangga tidak menjawab seketika. Ia menoleh ke luar lagi, memastikan tidak ada yang mendekat, lalu kembali berbicara dengan suara lebih rendah. “Sekarang belum waktunya membahas masa lalu itu. Kita harus keluar dari jalur ini dulu.”

Wira ingin memaksa, tetapi di luar masih terdengar langkah kaki. Terlalu berbahaya jika mereka terus bertahan di satu tempat. Ki Rangga menyadari kegelisahannya, lalu memberi isyarat. “Ikuti aku. Kita keluar dari sisi atas, bukan dari lubang yang tadi.”

Ruang di dalam celah batu memang lebih panjang dari yang Wira kira. Setelah merangkak beberapa langkah, mereka menemukan lorong sempit lain yang memanjang ke atas, hampir tertutup akar dan batu kecil. Ki Rangga memimpin di depan. Wira merangkak di tengah, sedangkan Panca berada di belakangnya. Dinding lorong itu kasar. Siku Wira beberapa kali tersangkut. Debu halus dan tanah lembap menempel di telapak tangan.

Mereka bergerak pelan selama beberapa saat, cukup lama hingga suara luar mulai memudar. Ruang itu kadang menyempit, kadang melebar sedikit. Di beberapa titik, cahaya tipis masuk dari sela batu di atas, cukup untuk menampakkan goresan panjang di dinding yang tampak sangat tua. Seperti bekas dipahat, atau mungkin dilalui orang-orang sejak lama. Wira menatapnya sekilas, lalu sadar bahwa tempat ini bukan sekadar celah batu biasa. Ada jejak lama di sini.

“Apa ini jalur lama?” tanya Panca pelan.

Ki Rangga menjawab tanpa menoleh. “Mungkin.”

“Bagaimana bisa kau tahu tempat seperti ini?”

“Aku sering lewat daerah ini.”

Wira tidak sepenuhnya percaya, tetapi tidak sempat bertanya lagi. Jalur sempit itu akhirnya membuka ke sebuah ceruk kecil yang agak lebih luas. Di sana, tanahnya kering dan lebih lapang. Ada batu datar yang bisa diduduki tiga orang, serta celah di sisi kiri yang mengarah ke lereng bukit. Dari sana, mereka bisa melihat sebagian lembah lebih jauh. Api dari desa masih tampak, namun kini hanya seperti titik merah yang tertahan kabut.

Wira menghela napas perlahan. Baru sekarang tubuhnya terasa benar-benar lelah.

Panca langsung menjatuhkan diri ke batu datar. “Kalau masih ada tempat di dunia ini yang lebih buruk dari sini, aku tidak ingin tahu.”

Ki Rangga tidak menanggapi keluhan itu. Ia justru menatap Wira. “Tunjukkan benda itu.”

Wira ragu. “Untuk apa?”

“Aku ingin memastikan sesuatu.”

Wira menarik lempeng kayu kecil dari lipatan kainnya. Benda itu kusam, warnanya gelap karena usia, tetapi ukiran tanda di permukaannya masih tampak jelas. Rangga mengambilnya, memutar sedikit di telapak tangan, lalu menyipitkan mata.

Panca ikut mendekat. “Kenapa benda sekecil ini bikin orang berebut?”

Ki Rangga mengusap permukaannya dengan ibu jari. “Karena yang terlihat kecil sering kali menyimpan kunci yang lebih besar.”

Wira menatapnya. “Kunci untuk apa?”

Ki Rangga tidak menjawab cepat. Ia tampak sedang menimbang sesuatu di dalam kepala. Lalu berkata, “Pernahkah ibumu bercerita tentang ayahmu?”

Wira langsung tegang. Pertanyaan itu terlalu mendadak. Selama ini nama ayah hanya seperti bayangan jauh di rumah mereka. Kadang disebut sebentar, kadang justru tidak sama sekali. “Tidak banyak.”

“Kenapa?”

“Karena ibu tidak suka bicara soal dia.”

“Dia masih hidup?” tanya Panca pelan.

Wira terdiam. Ia tidak punya jawaban pasti. “Aku tidak tahu.”

Ki Rangga mengembalikan lempeng kayu itu. “Kalau begitu, kita mulai dari yang kau tahu dulu. Kau tinggal di desa ini sejak kecil?”

Wira mengangguk.

“Dan ibumu membesarkanmu sendiri?”

“Iya.”

“Tidak ada kerabat lain?”

Wira menggeleng. “Tidak yang dekat.”

Ki Rangga mengamati wajahnya sebentar, lalu berkata pelan, “Itu berarti ibumu memang sengaja menjaga jarak dari banyak orang.”

Wira ingin membantah, tetapi sebagian dirinya justru mulai mengerti. Ibunya memang tidak pernah banyak bertanya tentang tetangga. Tidak pernah ikut gosip desa. Tidak pernah berbicara panjang soal masa lalu. Dan ketika Wira bertanya tentang ayahnya, jawabannya selalu pendek, seolah topik itu tak boleh dibuka lama-lama.

“Jadi,” kata Wira pelan, “mereka menyerang desa kami karena aku?”

“Bukan hanya karena kau,” jawab Ki Rangga. “Karena kau membawa sesuatu yang membuka pintu menuju seseorang yang mereka cari.”

“Siapa?”

Ki Rangga menatapnya lama. “Kalau kusebut nama orang itu sekarang, kau belum tentu siap.”

Wira menegakkan tubuh. “Aku sudah kehilangan rumahku dalam beberapa jam. Apa lagi yang harus ditunggu?”

Ki Rangga terdiam sesaat. Tatapannya sedikit mengeras, tetapi bukan karena marah. Lebih seperti orang yang tahu jawaban jujur akan menyakitkan. “Kau akan kehilangan lebih banyak kalau kau bergerak tanpa tahu arah.”

Ucapan itu membuat Wira diam. Panca yang sedari tadi mendengarkan hanya menatap tanah. Di luar, angin meniup sela batu, membawa bau asap yang masih menempel dari bawah lembah. Wira merasakan matanya perih, entah karena asap, entah karena amarah yang belum sempat keluar.

“Aku harus kembali ke rumah,” katanya tiba-tiba.

Panca langsung menoleh. “Kau gila?”

“Aku harus cari ibu.”

“Dan kalau mereka masih di sana?”

“Kalau aku tidak ke sana, aku tidak akan tahu.”

Ki Rangga menggeleng sedikit. “Sekarang bukan saatnya.”

Wira menatapnya tajam. “Kau gampang sekali bilang bukan saatnya. Tapi rumahku terbakar. Ibuku masih di sana. Kenapa aku harus diam?”

Ki Rangga berdiri pelan. Geraknya tenang, tetapi ada kekuatan di sana yang membuat Wira secara naluriah tidak maju. “Karena kalau kau berlari kembali sekarang, kau akan masuk ke tengah perang yang lebih besar dari desa ini.”

Wira menahan napas. “Perang apa?”

Ki Rangga menatap ke arah lembah yang jauh. “Perang yang belum kau pahami.”

Panca bergumam pelan, “Aku tidak suka jawaban seperti itu.”

Wira juga tidak suka. Tetapi Ki Rangga jelas bukan orang yang akan berbicara panjang tanpa alasan. Ada pengetahuan di balik sikapnya yang tenang. Wira bisa merasakannya. Orang ini bukan penolong biasa.

Dari bawah bukit, tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi. Lebih dekat dari tadi. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang penunggang kuda tampak menyusuri jalur bawah. Ia berhenti sebentar, menatap ke atas bukit, lalu memberi isyarat ke arah rombongan lain. Berarti jejak mereka belum benar-benar hilang.

Ki Rangga menatap Wira. “Kau harus putuskan sekarang.”

“Putuskan apa?”

“Apakah kau mau hidup dan mencari jawaban, atau kembali tanpa bekal dan ditangkap di tengah jalan.”

Wira menggertakkan rahang. Di kepalanya, bayangan ibunya muncul lagi. Wajah tenang itu. Tatapan tegas yang menyuruhnya jangan menoleh pada siapa pun yang memanggil namanya. Dan suara asing yang tadi memanggil Wira dari kejauhan. Semuanya bercampur jadi satu, membuat dadanya sesak.

Panca menyentuh bahunya pelan. “Kalau kau balik sendirian, kau malah makin hilang.”

Wira menatap sahabatnya, lalu mengembuskan napas pendek. Ia benci mengakuinya, tetapi Panca benar. Ia tidak tahu jalan, tidak tahu siapa musuhnya, tidak tahu siapa Ki Rangga sebenarnya. Jika kembali terburu-buru, ia hanya akan menjadi mangsa berikutnya.

Ki Rangga melihat keputusan itu tumbuh di wajahnya, lalu mengangguk singkat. “Bagus. Kalau begitu, kita bergerak ke utara. Ada tempat aman yang bisa kita capai sebelum malam.”

Wira menoleh. “Tempat aman?”

“Untuk sementara.”

“Di mana?”

Ki Rangga menyimpan lempeng kayu itu ke tangan Wira kembali. “Di sana, kau bisa mulai menjelaskan apa yang kau bawa, dan mungkin juga mencari tahu siapa yang datang pagi ini.”

Wira memegang benda itu erat-erat. Ukirannya terasa dingin di telapak tangan, seolah menyimpan sisa malam atau sisa masa lalu yang lebih tua dari dirinya sendiri. Ia belum mengerti mengapa benda kecil ini begitu penting, tetapi kini ia tidak bisa lagi menganggapnya sekadar kayu tua.

Panca bangkit perlahan. “Jadi kita terus lari?”

Ki Rangga menatapnya. “Bukan lari. Pindah.”

“Apa bedanya?”

“Lari hanya dilakukan orang yang tidak tahu ke mana harus pergi.”

Panca mendengus. “Kau memang pandai membuat orang merasa bodoh.”

Wira hampir tersenyum, tapi perasaan itu hilang cepat ketika teriakan dari bawah kembali terdengar. Mereka harus segera bergerak. Ki Rangga memimpin keluar dari ceruk, menuruni sisi batu yang tidak terlalu curam ke arah jalur kecil yang tersembunyi di balik semak. Wira berjalan di belakangnya, masih memegang lempeng kayu dengan satu tangan dan kain pinggang dengan tangan lain.

Langkah mereka perlahan menjauh dari desa.

Di belakang, api masih menyala.

Di depan, bukit dan hutan menunggu.

Dan di antara keduanya, Wira berjalan membawa pertanyaan yang belum sempat ia susun: siapa yang memanggil namanya, siapa yang membakar desa, siapa ayahnya, dan mengapa ibunya seperti orang yang sudah tahu semuanya sejak awal.

Ki Rangga menoleh sedikit tanpa berhenti berjalan. “Jangan terlalu cepat bertanya.”

Wira menatap punggungnya. “Kenapa?”

“Karena jawaban pertama yang kau terima bisa jadi bukan jawaban yang ingin kau dengar.”

Wira terdiam.

Tetapi dalam dirinya, satu hal mulai mengeras. Kalau hidupnya memang sedang direbut oleh masa lalu yang belum ia pahami, maka ia tidak mau hanya menunggu dan dibawa arus. Ia akan mencari tahu sendiri. Cepat atau lambat, ia akan membuka semua simpul yang menjerat namanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak desa itu diserang, rasa takut Wira mulai bercampur dengan sesuatu yang lain.

Rasa ingin tahu.

Rasa marah.

Dan tekad yang masih kecil, tapi sudah mulai hidup.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!