Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
"Marcello, tempatkan tim alfa di perimeter rumah sakit. Jika ada kendaraan yang mendekat tanpa kode akses, netralkan bannya segera. Gunakan amunisi non-letal jika memungkinkan, aku tidak mau suara tembakan mengagetkan Alicia," perintah Dante dengan nada dingin dan taktis.
"Dante!" Alicia berteriak, menarik kabel headset Dante hingga pria itu nyaris tersungkur ke depan. "Berhenti bicara soal amunisi! Ini sakit sekali! Katakan sesuatu yang romantis atau aku akan menyuruh Bambang menjatuhkanmu dari helikopter ini!"
Dante menarik napas panjang, menatap istrinya dengan penuh pengabdian di balik kepanikannya yang tersembunyi. "Alicia... kau adalah wanita terkuat yang pernah kukenal. Bahkan Kau menghadapi peluru di Sisilia dengan mangga muda di tangan, dan sekarang kau menghadapi ini. Kau adalah Ratu Vallo, dan setelah ini, seluruh dunia akan berlutut di depanmu dan putra kita."
"Benarkah?" Alicia merintih pelan.
"Ya. Dan aku berjanji, setelah ini kau boleh membeli seluruh koleksi tas musim gugur di Paris tanpa perlu meminta izin dariku lagi," tambah Dante.
"Nah... itu baru romantis sayang," Alicia tersenyum tipis sebelum kontraksi hebat lainnya datang.
Rumah sakit pribadi Vallo di Roma telah disulap menjadi benteng. Lantai paling atas dikosongkan sepenuhnya. Bambang berdiri di depan pintu ruang bersalin dengan kewaspadaan maksimal. Ia baru saja mengganti tas pink Alicia dengan sebuah senapan serbu.
Di dalam ruangan, suasana sangat tegang. Dante menolak keluar. Ia berdiri di samping kepala Alicia, membiarkan tangannya diremas hingga kukunya memutih.
"Aku... aku benci ini, Dante! Kenapa melahirkan harus sesakit ini?! Dan kenapa dokter ini memakai masker hijau? Hijau bukan warnaku!" Alicia masih sempat-sempatnya mengkritik seragam medis.
"Fokus, Alicia! Tarik napas!" perintah Dante, suaranya kini terdengar seperti komandan lapangan.
"Jangan memerintahku seperti anak buahmu!" balas Alicia galak.
Setelah perjuangan selama berjam-jam, suara tangisan bayi yang melengking akhirnya memecah ketegangan di ruangan itu. Seorang bayi laki-laki dengan rambut hitam lebat dan kulit yang bersih lahir ke dunia.
Dokter meletakkan bayi itu di dada Alicia. Seketika, semua kemanjaan, keluhan tentang warna, dan amarah Alicia menguap. Air mata haru mengalir di pipinya, menghapus sisa-sisa eyeliner mahal yang ia pakai.
"Dia... dia sangat tampan, Dante," bisik Alicia. "Lihat hidungnya, persis sepertimu saat kau sedang sombong."
Dante menatap putra pertamanya dengan tatapan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun, tatapan yang penuh dengan kelembutan yang murni. Ia mencium kening Alicia dan kepala kecil bayinya. "Terima kasih, Alicia. Terima kasih telah memberikan arti baru bagi nama Vallo dan hidupku."
Satu jam kemudian, Marcello dan Bambang diizinkan masuk untuk melihat sang pewaris dari balik kaca.
"Lihat itu, Marcello," bisik Bambang. "Tuan muda kecil kita. Dia terlihat tenang."
"Iya, sampai dia mulai meminta susu dengan suhu tepat 37,5 derajat celcius atau dia akan merobek laporan intelijen kita," sahut Marcello sambil terkekeh pelan. "Dia punya darah Alicia di nadinya, dia akan menjadi penguasa yang sangat... merepotkan."
Bambang mengeluarkan ponselnya, mengambil foto buram dari kejauhan (karena Dante melarang penggunaan flash). "Aku harus mengirim ini ke grup para istri. Nyonya Alicia memintaku memberi kabar kepada para pasukannya."
Di dalam kamar, Alicia sudah kembali ke mode aslinya. Sambil menggendong bayinya, ia menatap Dante yang sedang mengupas jeruk untuknya.
"Dante... bayinya sudah keluar, jadi sekarang aku boleh kan meminta renovasi ulang vila Amalfi? Aku baru sadar warna marmer di sana terlalu dingin untuk kulit bayi. Aku ingin marmer Italia yang lebih hangat, warna peach muda."
Dante hanya bisa tersenyum pasrah, mencium tangan istrinya. "Apa pun untukmu, Ratu-ku. Apa pun."
Bambang di luar pintu mendengar itu dan bergumam, "Aku benar-benar butuh kenaikan gaji... atau setidaknya sebuah asuransi kesehatan mental yang sangat besar."
Satu minggu setelah kelahiran pewaris klan Vallo, suasana di vila Amalfi telah berubah total. Jika sebelumnya vila ini adalah markas intelijen yang dingin, kini ia bertransformasi menjadi pusat logistik bayi paling canggih dan paling absurd di seluruh Italia. Pintu depan yang biasanya dijaga oleh pria bermata elang dengan senapan mesin, kini juga dilengkapi dengan pembersih udara kelas medis dan detektor bakteri otomatis.
Dante Vallo, pria yang sanggup mengintimidasi parlemen hanya dengan satu tatapan, kini berdiri mematung di tengah kamar bayi yang telah dicat ulang menjadi warna "Biru Langit Jakarta Pukul Enam Pagi". Di tangannya bukan lagi dokumen strategi pelabuhan, melainkan sebuah termometer inframerah dan botol susu berbahan kaca anti-pecah.
"Marcello, kenapa suhu air ini 37,2 derajat? Aku sudah instruksikan 37,5 derajat tepat!" suara Dante terdengar seperti komandan perang yang sedang menemukan pembangkangan di barisannya.
Marcello, yang berdiri di samping boks bayi dengan popok kain organik tersampir di bahunya, tampak sangat lelah. "Maaf, Bos. Sensor pemanas airnya sedikit meleset karena kelembapan laut. Saya akan segera melakukan kalibrasi ulang."
"Lakukan sekarang. Istriku akan bangun dalam lima menit, dan jika susu ini tidak sesuai standarnya, dia akan mulai membahas soal pindah ke kutub utara lagi," perintah Dante tegas.
Di luar kamar, Bambang sedang memimpin patroli yang sangat tidak biasa. Sepuluh pria bertubuh raksasa dengan tato melingkar di lengan mereka sedang berbaris di lorong. Namun, alih-alih memeriksa senjata, mereka sedang melakukan inspeksi terhadap "perlengkapan taktis bayi".
Satu pengawal memegang tas berisi tisu basah non-alkohol seolah-olah itu adalah tas peledak sensitif. Pengawal lainnya memegang keranjang berisi mainan edukatif kayu yang telah diperiksa keamanannya oleh tim penjinak bom.
"Ingat!" Bambang memberikan instruksi dengan nada militer yang kaku. "Jika Tuan Muda menangis, radius sepuluh meter harus steril dari suara bising. Jangan ada yang membersihkan senjata, jangan ada yang menyalakan mesin, dan yang paling penting... jangan ada yang memakai parfum beraroma tajam. Nyonya Alicia bilang bau maskulin kita bisa merusak indra penciuman bayi!"
Para pengawal itu mengangguk serempak. "Siap, Komandan!"
Bambang menghela napas, Ia melihat Marcello lewat dengan membawa bak mandi bayi yang memiliki sensor suhu digital. "Marcello, apa Nyonya sudah bangun?"
"Belum. Dia sedang melakukan beauty sleep pasca-persalinan. Tapi aku mendengar dia mengigau soal tas popok merek Hermes," jawab Marcello lirih.
Sementara suasana di dalam vila Amalfi dipenuhi aroma bedak bayi dan deterjen organik, tiga puluh kilometer ke arah utara, suasananya adalah aroma mesiu dan karat.
Dante Vallo berdiri di atas dek kapal kargo yang setengah terbakar. Jaket taktisnya koyak di bagian bahu, dan noda darah kering menghiasi pipinya. Di bawah kakinya, sisa-sisa terakhir dari tentara bayaran faksi Lorenzo bertekuk lutut. Ini adalah malam ketiga Dante tidak tidur. Sejak kelahiran putranya yang diberi nama "Leonardo Vallo" musuh-musuh klan Vallo mengira sang Penguasa telah menjadi jinak, sehingga mereka mencoba memutus jalur suplai hulu ledak di dermaga utama.
"Bos, dermaga utara sudah steril. Tapi kita kehilangan tiga unit truk logistik," lapor seorang kapten lapangan dengan nafas terengah.
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣