"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA BELAS
Kanaya bersiul pelan, tangannya memegang hair dryer untuk mengeringkan rambut. Ia baru saja selesai mandi dan membersihkan diri, merasa luar biasa segar dan bersemangat.
"Cerah banget hari ini,.... Semoga pasangan hama dan gulma ini nggak pulang cepet-cepet." Gumam Kanaya sambil cekikian.
Ini sudah dua hari sejak kepergian Andra dan Nisrin ke puncak untuk berlibur bersama, dan selama itu juga Kanaya merasa sangat tenang di rumah.
Entah lah, Kanaya perlahan bukan lagi kehilangan rasa cintanya pada Andra, ia bahkan mulai risih dengan keberadaan pria itu di dekatnya.
Panggilan telepon dari Andra bukan satu atau dua kali lagi dirinya abaikan.
"Semoga nenek lampir itu juga beneran nggak akan dateng ke sini lagi, telingaku sakit kalau dia udah buka mulut."
Ucap Kanaya penuh harap. Ketenangan Kanaya beberapa hari ini memang semakin lengkap karena Samira juga tak ada datang berkunjung ke rumah seperti biasanya.
Jelas saja ibu mertuanya itu sudah tak mau berinteraksi baik dengan Kanaya, apalagi tanpa adanya Andra dan Nisrin.
Getar ponsel di atas meja nakas menarik perhatian Kanaya, ia sempat memutar bola matanya malas karena berpikir bahwa Andra lah yang lagi-lagi mengiriminya pesan.
"Apa lagi sih dia?! Bukannya fokus aja bikin anak yang setengah mati dipengenin sama bini keduanya, masih aja ganggu pagiku."
Gerutunya, ia kembali fokus mengeringkan rambut dan memilih untuk mengabaikan pesan tersebut.
Tapi lagi-lagi ponselnya bergetar, kali ini beberapa pesan masuk secara beruntun hingga membuat layar ponselnya menyala cukup lama.
Nama yang tertera membuat Kanaya langsung
melempar hair dryer di tangannya ke atas meja dan berlari cepat meraih ponsel canggihnya.
"Esmeralda? Apa nih?"
Dengan tidak sabaran Kanaya membuka pesan yang dikirimkan Esmeralda dan seketika senyum di bibirnya terlihat semakin merekah cerah.
Wanita itu cekikikan sambil melompat-lompat kecil seperti anak kecil yan diberikan mainan.
Esmeralda:
"Lapor, Miss. Ikan buntal udah masuk ke dalam jaring, enteng banget ini ngegaetnya. Disenyumin dikit langsung ngembang isi celananya. Baru ketemu udah transfer duit. Lumayan banget buat jajan cromboloni sama matcha, hehehe."
Kanaya semakin tertawa senang saat Esmeralda
Mengiriminya sebuah foto di mana Daris tengah merangkul bahu wanita itu dengan senyum menjijikkan yang mesum.
"Dasar laki-laki lont-te, pantes aja anaknya doyan perempuan. Keturunan dari bapaknya ternyata." Gerutu Kanaya sambil mendengus.
"Liat itu senyumnya, mana lebar banget. Senyum dikit lagi pasti sobek itu sampe kening." Komentar Kanaya sambil memperhatikan foto tersebut.
Ia kemudian menyimpannya dengan baik ke dalam file khusus dan memberinya nama "file keramat".
"Liat aja nenek lampir, ku kumpulin bom waktu ini sebelum ke ledakin di depan mukamu." Ucap Kanaya sambil terkekeh kecil, ia tersenyum licik bak tokoh berkarakter jahat di film-film.
Sambil menarik nafas panjang yang lega, Kanaya mengetikan pesan balasan dan mengirimkannya langsung kepada Esmeralda.
"Lanjut, Esme. Kalau kerja kamu bagus, mantap dan makin ekspres,... Aku siapin bonus. Jalan-jalan ke beberapa negara di Eropa, mau kan? Kamu tinggal pergi bawa diri, semuanya aku yang urus."
Kanaya mengetuk-ngetukan jarinya di belakang ponsel menunggu balasan dari Esmeralda yang terlihat sedang mengetik balasan untuknya.
"Mau dong, Miss. Siap, ini bulan depan juga pasti dua udah ngebet pengen kawin. Aku jamin. Ini juga dari tadi dia ngegesek-gesekin selangkangannya mulu, kecil sih kayanya."
Tawa Kanaya pecah, wanita itu tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya memerah matang.
Tangan lentiknya terlihat menepuk-nepuk ranjang karena tawanya sulit berhenti.
"Lucu banget lagi nih perempuan satu,..." Ujarnya sambil mengusap air di ujung matanya yang keluar karena ia terlalu lama tertawa lepas.
"Nggak apa-apa burungnya kecil, yang penting kan duitnya. Porotin aja sampe puasss. Pokoknya kamu lanjut aja kerjaan kamu sampe dia bener-bener kesengsem dan nggak bisa hidup tanpa kamu. Kalau berhasil, apapun kamu bisa dapet. Aku yang jamin."
"Siap, Bu. Siap lanjut lagi beroperasi menggulung ikan buntal."
Kanaya menggelengkan kepalanya tak habis pikir, ia meletakan ponselnya kembali di atas meja dan melanjutkan aktivitasnya bersiap-siap.
"Masih ada sisa waktu setengah jam lagi, aku sarapan dulu deh."
Kanaya menjepit rambutnya yang baru selesai dicatok, ia kemudian keluar kamar dan berjalan menuju dapur.
Bak perempuan single yang bahagia, Kanaya kembali bersiul dan bernyanyi sambil meliuk-liukan panggul juga pingganganya dengan sendual.
Baru ditinggal Andra beberapa hari saja ia sudah sebahagia dan setenang ini, Kanaya jadi tak sabar untuk segera bercerai.
Tapi tentu saja ia tak akan mundur begitu saja, meski
Muak setengah mati, Kanaya akan sedikit memaksakan diri untuk bertahan karena ia ingin menyaksikan bom meledak di rumah ini dan menonton reaksi setiap orang yang juga meledakkan bom tepat di depan wajahnya tempo hari.
"Siapa tuh?" Kanaya menghentikan aksi menarinya saat mendengar suara pintu rumah yang dibuka lebar.
Tak lama kemudian, suara heels yang beradu dengan lantai dan langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya.
"Jangan bilang si hama sama gulma itu udah pulang... . Masa cepet banget sih?!"
Kanaya meletakan apel di tangannya dan hendak mengecek tepat saat seorang perempuan berpakaian rapi dan modis muncul di hadapannya membuat Kanaya terlonjak kaget.
"Aaargh! Kenapa ngagetin sih?! Harusnya bilang dulu kalau mau dateng. Lagian, kita kan janjiannya mau ketemu setengah jam lagi. Kenapa jam segini udah dateng nyusulin."
Cerocos Kanaya sambil menatap Leah yang hanya memandanginya dengan sorot mata datar.
"Ya apa salahnya aku berkunjung? Nggak boleh?"
Tanya Leah acuh tak acuh, ia berjalan menuju ruang tengah dan menghempaskan diri di atas soffa.
Kedua matanya mengedar menyusuri setiap inci rumah, memperhatikan foto-foto keluarga yang terpajang di dinding.