Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Ada apa, Rani?" tanya Dokter Rahmat dengan nada tegas namun tetap penuh perhatian saat bertemu dengan Suster Rani yang sedang menekuk tubuh sedikit, tangan menopang dinding saat napasnya masih terengah-engah akibat berlari cepat dari ruang operasi.
Suster Rani mengenakan baju operasi yang masih terlihat basah akibat keringat, wajahnya pucat dan mata penuh kepanikan.
"Dokter... pasien yang dioperasi tadi sore, Bapak Joko, kondisinya tiba-tiba menjadi kritis!" ujarnya dengan suara gemetar, tangannya sedikit bergetar saat menjelaskan.
"Darah mulai keluar lagi dari sayatan operasi, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Kami sudah berusaha menekan perdarahan tapi tidak berhasil. Detak jantungnya juga sangat lemah, hanya sekitar 30 kali per menit, dan tekanan darahnya terus turun!" kata Suster Rani degan nafas tersengal-sengal.
Dokter Rahmat menghela nafas dalam-dalam, matanya mengerut karena kekhawatiran.
Bapak Joko adalah pekerja pabrik yang terkena kecelakaan saat bekerja, dan operasi yang baru saja ia lakukan selama lima jam penuh sudah dianggap berhasil. Tapi kini, komplikasi yang tidak diharapkan muncul dengan sangat tiba-tiba.
"Siapa yang sedang merawatnya sekarang?" tanya Dokter Rahmat sambil sudah mulai berjalan cepat menuju arah ruang operasi, dengan Suster Rani dan Abram mengikutinya dari belakang.
"Suster Lina dan Dokter Ali, tapi mereka tidak bisa mengendalikan perdarahan, Dokter. Mereka bilang hanya Anda yang tahu detail operasi dengan baik dan mungkin bisa menemukan cara untuk menyelamatkannya," jawab Suster Rani sambil berlari menyusul langkah kaki Dokter Rahmat yang semakin cepat.
Abram yang mengikuti di belakang. Ia tahu betapa pentingnya pasien tersebut bagi Dokter Rahmat, dokter itu telah memberikan segala yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa Bapak Joko, dan kini semua usaha itu bisa sia-sia dalam sekejap.
Saat mereka memasuki koridor rumah sakit yang lebih ramai dengan petugas medis yang berlarian ke sana kemari, Abram merasakan kekuatan energi di dalam dirinya mulai bergerak, seolah ingin keluar untuk membantu.
Tiba-tiba, Dokter Rahmat berhenti sejenak dan menoleh ke arah Abram. Wajahnya menunjukkan perjuangan batin antara keinginan untuk menyelamatkan pasien dan kekhawatiran terhadap keselamatan Abram.
"Abram, kamu tidak perlu ikut datang. Ini adalah urusan rumah sakit dan saya bisa menangani sendiri," kata Dokter Rahmat, ia tak mau Abram kembali pingsan karena menyelamatkan orang lagi.
"Tapi Dokter, kondisinya sangat darurat kan? Saya bisa membantu," ujar Abram dengan suara tegas, matanya menunjukkan keyakinan.
Ia tahu bahwa mentransfer energi lagi dalam waktu yang singkat akan sangat berbahaya bagi dirinya, tapi melihat kondisi yang genting ini, ia tidak bisa tinggal diam.
Dokter Rahmat menggeleng perlahan. "Tidak bisa, Abram. Kamu baru saja mentransfer energi padaku. Jika kamu melakukannya lagi sekarang, efek sampingnya bisa lebih parah, bahkan bisa membuatmu pingsan atau lebih buruk dari itu."
"Saya tidak peduli, Dokter. Bapak Joko membutuhkan bantuan. Saya bisa memberikan sedikit energi saja untuk menstabilkan kondisinya sebelum Dokter melakukan tindakan lebih lanjut," kata Abram dengan suara yang tidak bisa ditolak.
Sebelum Dokter Rahmat bisa menjawab, suara mesin monitor dari ruang operasi yang semakin keras terdengar, menandakan bahwa kondisi Bapak Joko semakin memburuk.
Tanpa berlama-lama, mereka bergegas masuk ke dalam ruang operasi yang penuh dengan alat-alat medis yang berkedip-kedip dan aroma alkohol yang menusuk hidung.
Di atas meja operasi, Bapak Joko terbaring dengan mata tertutup, tubuhnya ditutupi oleh selimut steril kecuali bagian perut yang masih terbuka karena sayatan operasi.
Darah mengalir deras dari bagian tersebut, dan beberapa petugas medis sedang sibuk menekan area perdarahan sambil memantau monitor yang menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan.
Dokter Ali yang sedang menangani pasien segera menghampiri Dokter Rahmat dengan wajah penuh keprihatinan.
"Dokter Rahmat, kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan tapi perdarahan tidak kunjung berhenti. Tekanan darahnya sudah hampir mencapai titik kritis," ujar Dokter Adi dengan suara serius.
Dokter Rahmat segera memasang sarung tangan steril dan mulai memeriksa kondisi pasien dengan cermat.
Sementara itu, Abram berdiri di sudut ruangan, merasakan energi di dalam dirinya semakin aktif.
Ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membantu. Dengan hati-hati, ia mendekat ke arah meja operasi dan menyentuh tangan Dokter Rahmat yang sedang bekerja.
"Dokter, izinkan saya memberikan sedikit energi pada Bapak Joko. Cukup untuk menstabilkan kondisinya selama beberapa menit saja," bisik Abram dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Dokter Rahmat.
Dokter Rahmat melihat mata Abram dengan tatapan penuh rasa syukur dan kekhawatiran sekaligus. Ia mengangguk perlahan, menyadari bahwa tidak ada pilihan lain lagi.
Abram kemudian menjepit tangan Bapak Joko yang lembut, dan sedikit demi sedikit, ia mengalirkan energi hangat dari tubuhnya ke dalam tubuh pasien tersebut.
Sinar cahaya keemasan yang lebih lembut dari sebelumnya muncul di antara jari jemari mereka.
Dalam beberapa detik, monitor mulai menunjukkan perubahan, detak jantung Bapak Joko perlahan mulai meningkat, dan perdarahan yang semula deras kini mulai berkurang. Petugas medis di sekitarnya terkejut melihat perubahan yang terjadi dengan cepat.
Setelah sekitar lima menit, Abram menarik tangannya dengan cepat, wajahnya menjadi sedikit pucat dan kali ini ia bisa menopang tubuhnya.
"Sekarang, Dokter... silakan lakukan tindakanmu," ujar Abram dengan suara lemah dan akhirnya ia duduk di kursi.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya