NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Dingin Yang Mulai Mencair

[KEDIAMAN PRATAMA]

Pukul 15.00..

Sampai saat ini sosok yang dinanti-nanti belum juga muncul di pelupuk mata. Jovina kini berjalan mondar-mandir di ruang tengah, wajahnya tampak sangat gelisah.

"Chandra, bagaimana ini?" suaranya terdengar gemetar. "Sudah jam tiga, tapi adikmu belum pulang juga. Apa kau sudah mencoba menghubunginya?"

"Sudah, Bu. Sudah berkali-kali aku telepon, tapi panggilanku tak pernah diangkat," jawab Chandra. Tangannya mengepal frustrasi.

"Kau di mana, Judika? Apa kau sengaja menghindar? Apa kau masih sangat marah pada kakak?" batinnya menjerit.

"Sudahlah Ibu, tenanglah sebentar," ujar Chandra berusaha menenangkan ibunya, meski dirinya sendiri sedang panik. "Aku akan pergi mencarinya sekarang. Ibu tunggu di sini saja, siapa tahu saat aku keluar, Judika justru pulang."

"Baiklah, tapi tolong hati-hati di jalan, Nak," pesan Jovina sambil menahan tangan putranya. "Dan jika kau bertemu dengannya, meskipun dia bicara kasar atau bersikap dingin, Ibu mohon bersabarlah. Jangan kau balas emosinya. Jangan kau marahi, apalagi sampai menyakiti fisiknya. Mengerti?"

Chandra mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. "Aku mengerti, Bu. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk sabar. Kalau begitu, aku pergi dulu. Ibu jaga diri baik-baik di rumah."

"Hmm."

***

[RUANG MUSIC HARMONI]

Sementara itu, di ruang latihan musik terlihat Yongki, Hendy, Nathan, Jericko dan Tamma sedang beristirahat di sela latihan mereka untuk persiapan kompetisi minggu depan.

"Kak Juna sama Judika mana, ya? Kok belum datang juga?" tanya Tamma sambil melihat jam tangannya.

"Kamu nanya sama siapa, Tamma?" ejek Jericko sambil menyipitkan mata.

"Sama kalianlah! Memangnya aku ngomong sama hantu yang nongol di pojokan itu?" balas Tamma tak kalah sinis.

"Dasar alien tengil!" seru yang lain bersamaan membuat suasana yang tadinya hening kembali riuh ringan.

"Mungkin sebentar lagi nyusul. Sabar aja," ujar Jericko mencairkan suasana.

Namun keheningan kembali menyelimuti ruangan saat sosok yang datang bukanlah dua orang yang mereka tunggu, melainkan Chandra. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat cemas.

"Maaf aku mengganggu latihan kalian," sapa Chandra sopan.

"Eh, Chandra! Tidak kok. Kami juga lagi istirahat," jawab Nathan ramah.

"Eemm..." Yongki menyeringai sedikit. "Pasti kamu ke sini mau cari Judika, kan?"

Chandra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hehe... Iya, benar."

"Sayang sekali, Chandra. Judika tidak ada di sini," kata Hendy sambil mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya hari ini dia libur latihan. Seperti yang kamu lihat sendiri, dia benar-benar tidak ada."

"Memangnya dia ke mana? Apa ada di antara kalian yang tahu keberadaan adikku sekarang?" tanya Chandra dengan nada memohon.

"Nah, itu dia masalahnya. Sepulang sekolah kami tidak sempat bertemu dengannya, begitu juga kak Juna," jelas Tamma.

Detik kemudian..

"Maaf kakak terlambat!"

Suara teriakan dari pintu masuk membuat semua kepala serentak menoleh. Di sana berdiri Arjuna dengan napas sedikit terengah.

"Itu kak Juna!" seru Jericko lega.

Namun kelegaan itu hanya sesaat. Melihat Arjuna datang sendirian tanpa sosok Judika di belakangnya membuat perasaan mereka kembali tak menentu.

"Kak Juna, panggil mereka serentak.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Seperti lihat hantu saja," canda Arjuna yang kemudian menyadari kehadiran Chandra di antara mereka. "Eh, Chandra? Kamu ada di sini juga?"

"Iya," jawab Chandra singkat. "Aku ke sini mau cari adikku. Sudah jam segini dia belum pulang ke rumah sama sekali."

Mendengar itu, Arjuna justru tersenyum tenang. "Kamu tenang saja. Adikmu yang keras kepala itu aman kok. Dia lagi di rumahku."

"Benarkah? Lalu dia mau pulang tidak, Juna?" tanya Chandra penuh harap.

"Menurut kamu bagaimana?" balas Arjuna sambil menaik-turunkan alisnya.

Wajah Chandra seketika berubah mendung. Pikirannya langsung melayang ke hal-hal buruk. 'Pasti dia menolak pulang. Dia masih sangat benci padaku.'

Melihat raut sedih itu, Arjuna tak tega menggoda lebih lama.

"Jangan berpikir yang macam-macam," kata Arjuna lembut. "Aku sama kak Herry sudah bicara baik-baik sama dia. Tenang saja, dia sudah janji kalau nanti malam dia akan pulang ke rumah."

Seketika senyum manis merekah indah di bibir Chandra. Wajahnya yang tadi kusam kini kembali bersinar cerah.

"Benarkah itu, Arjuna?"

Arjuna mengangguk yakin. "Eemm. Awalnya dia memang ngotot tidak mau pulang. Bahkan dia berniat menjauh dari kalian berdua selama dua minggu. Tentu saja kami tidak setuju."

"Beruntung kak Herry pandai membujuknya. Akhirnya dia luluh dan setuju pulang, meskipun dia minta pulangnya agak malam."

"Ah, syukurlah. Tidak apa-apa. Selama dia mau pulang, itu sudah lebih dari cukup bagiku," ucap Chandra lega luar biasa.

"Nanti kalau dia sudah sampai rumah," saran Arjuna dengan nada serius, "Ambil hatinya, rangkul dia. Ajak ngobrol, tapi jangan bahas kesalahan masa lalu. Bicarakan hal-hal ringan yang bisa buat dia senyum dan nyaman."

"Baiklah. Aku akan lakukan itu," jawab Chandra dengan semangat membara. "Aku akan melakukan apa saja demi mendapatkan kembali adikku yang dulu. Aku ingin melihat dia tersenyum lagi."

***

[KEDIAMAN PRATAMA]

[Ruang Tengah]

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jovina dan Chandra masih setia menunggu di ruang tengah. Mata mereka tak lepas dari pintu depan. Berharap sosok yang mereka rindukan segera muncul.

"Chan, kenapa adikmu belum datang juga? Ini sudah jam sembilan," keluh Jovina, rasa khawatirnya kembali muncul.

"Sabar ya, Bu. Sebentar lagi pasti dia sampai," hibur Chandra, meski hatinya pun sebenarnya ikut gelisah.

Tiba-tiba, suara klason mobil terdengar jelas dari halaman depan.

TIN..

TIN..

"Itu pasti Judika, Chan! Adikmu pulang!" seru Jovina antusias.

Ibu dan anak itu langsung berlari kecil menuju pintu utama dan segera membukanya lebar-lebar.

^^^

CKLEK..

Setelah pintu terbuka, terlihat di depan mata mereka berdiri sosok yang beberapa jam yang lalu mereka tunggu.

Judika berdiri dengan wajah datar, namun tak ada lagi tatapan tajam atau penuh kebencian seperti sebelumnya. Di sebelahnya Arjuna tersenyum memberi kode bahwa semuanya berjalan lancar.

"Sayang, kau sudah pulang, Nak!" suara Jovina bergetar haru. Dia segera mendekat dan dengan lembut mengelus rambut hitam putra bungsunya.

Anehnya, kali ini Judika tidak memberontak. Tidak menepis tangan ibunya, dan tidak menolak sentuhan kasih sayang itu. Melihat itu, Chandra dan Arjuna saling bertukar pandang dan tersenyum lega.

Detik berikutnya, Jovina langsung memeluk tubuh putra bungsunya dengan erat, seolah takut jika dilepas putranya akan hilang lagi.

Sementara Judika, dia sama sekali tidak membalas pelukan ibunya. Tubuhnya membeku di tempat dengan tangan kanannya mengepal kuat.

Sejujurnya, hati Judika belum sepenuhnya terbuka untuk menerima kehadiran ibu dan kakaknya kembali. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih menyimpan rasa sakit serta dendam yang membekas.

Bagaimana tidak? Judika tidak bisa melupakan sikap keduanya yang begitu keras kepala dan buntu hati. Ibunya sama sekali tidak bersedia memaafkan atau memberi kesempatan kedua bagi ayahnya, padahal ayahnya sudah berulang kali meminta maaf. Bahkan membawa dirinya. Hingga akhirnya ayahnya harus mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan wanita yang cintai itu.

Baru di detik-detik terakhir, saat nyawa ayahnya sudah di ujung, barulah ibunya dan kakaknya menyadari kesalahan mereka dan memaafkan ayahnya. Namun semua itu sudah terlambat. Penyesalan datang selalu di akhir.

Jika saja ibunya mau melunakkan hati dan memberi kesempatan pada ayahnya. Judika secara otomatis memaafkan kesalahan ibu dan kakaknya yang pergi meninggalkan dirinya.

Namun kenyataannya kini sungguh ironis. Ibu dan kakaknya kembali setelah kejadian tersebut. Mereka kembali di saat sosok ayahnya sudah tiada untuk selamanya. Semua ini terjadi karena keegoisan hati ibu serta kakaknya itu.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!