NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: GEMA MASA LALU DI BALIK BANGSAL NOMOR 4

​Waktu adalah sungai yang mengalir tenang namun menghanyutkan. Di usia 31 tahun, Adrian Diningrat telah bertransformasi dari seorang pemuda yang penuh amarah menjadi pria dengan kematangan yang mengintimidasi. Garis wajahnya kini lebih tegas, menunjukkan beban kekuasaan yang ia pikul di puncak Diningrat Grub. Sementara itu, Rhea Candrakirana di usianya yang ke-25, bukan lagi gadis lugu yang bisa digertak dengan kontrak kertas. Ia telah menjelma menjadi calon dokter yang tenang, dengan sorot mata yang penuh empati namun tajam dalam menganalisa keadaan.

​Di sisi lain, Vier Diningrat yang kini berusia 26 tahun, sedang berada di puncak energinya sebagai dokter muda yang idealis. Namun, di usianya yang semestinya penuh dengan kesenangan itu, ia justru menemukan dirinya terikat secara emosional pada Nara, gadis berusia 23 tahun yang kecantikannya tampak memudar oleh penyakit, namun jiwanya tetap membara.

​Sore itu, suasana di kediaman utama keluarga Diningrat mendadak tegang. Ian duduk di ruang kerjanya, menatap foto kiriman Yusuf di atas meja. Foto Vier dan Nara di taman atap rumah sakit.

​"Yusuf, berapa lama lagi sampai media mencium hal ini?" tanya Ian, suaranya berat.

​"Tim humas kita sudah melakukan blackout informasi, Tuan Muda," jawab Yusuf, yang kini berusia 34 tahun, tetap setia dengan setelan jasnya yang tanpa celah. "Namun, ada desas-desus bahwa pendukung Pradikta mulai menyebarkan informasi ini di forum-forum gelap. Mereka ingin membenturkan keluarga kita dengan isu 'Cinta Terlarang Sang Penindas dan Korban Politik'."

​Ian menghela napas. Di usia kepala tiga, ia menyadari bahwa cinta seringkali datang di waktu yang paling tidak tepat. "Panggil Vier ke sini. Sekarang."

​Tiga puluh menit kemudian, Vier masuk ke ruangan Ian dengan napas terengah-engah. Ia masih mengenakan jas putih dokternya yang sedikit kusut.

​"Kalau Kakak mau menyuruhku menjauh dari Nara, lupakan saja," ucap Vier sebelum Ian sempat membuka mulut.

​Ian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati adiknya. "Duduklah, Vier. Aku tidak akan menyuruhmu menjauh. Aku hanya ingin bertanya: seberapa siap kamu melindungi gadis itu saat dunia mulai melempari kalian dengan batu?"

​Vier tertegun. Ia mengira akan terjadi perdebatan sengit seperti biasanya. "Aku mencintainya, Kak. Lebih dari sekadar rasa kasihan karena dia pasienku."

​"Cinta saja tidak cukup di keluarga ini, Vier. Kamu berumur 26 tahun, sudah saatnya kamu paham bahwa namamu adalah magnet bagi skandal," Ian menatap adiknya dengan tatapan seorang pelindung. "Ayah Nara adalah saksi kunci yang bisa membersihkan nama kakek kita atau justru menghancurkannya selamanya. Pradikta tahu itu. Jika mereka tahu Nara adalah kelemahanmu, mereka akan menyakitinya untuk menghancurkan aku."

​Vier mengepalkan tangannya. "Maka bantu aku, Kak. Jangan biarkan politik merenggut kebahagiaanku seperti politik merenggut Cansu darimu."

​Mendengar nama Cansu disebut, suasana ruangan seketika mendingin. Ian memalingkan wajahnya. "Aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat: bawa dia keluar dari rumah sakit umum. Aku akan memindahkan dia ke klinik pribadi kita yang paling aman."

​Di rumah sakit, Rhea sedang menemani Nara. Mereka duduk di ranjang pasien sambil melihat album foto lama milik Nara.

​"Ayahku dulu seorang fotografer, sebelum... semuanya berubah," ucap Nara pelan. Tangannya yang pucat membelai foto seorang pria paruh baya yang sedang memegang kamera.

​Rhea menatap foto itu dengan seksama. "Dia terlihat seperti pria yang hebat, Nara."

​"Dia pria yang hebat sampai dia mencoba membongkar korupsi pembangunan pelabuhan yang melibatkan kakek Vier," Nara tersenyum pahit. "Ironis, bukan? Sekarang cucu dari pria yang memenjarakan ayahku adalah orang yang memberiku alasan untuk tetap ingin hidup."

​Rhea menggenggam tangan Nara. Di usianya yang ke-25, Rhea sudah banyak melihat pasien yang menyerah, namun Nara berbeda. Ada api perlawanan di sana. "Vier sangat tulus padamu, Nara. Di balik sikap konyolnya, dia sangat takut kehilanganmu."

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Pak Totok masuk dengan membawa rantang besar, disusul Mbok Yem yang membawa bantal leher empuk.

​"Nona Nara! Ini Mbok bawakan sup ayam kampung spesial!" seru Mbok Yem dengan semangat 58 tahun-nya yang tak pernah padam. "Harus dimakan sampai habis, biar pipinya merah lagi!"

​Pak Totok, yang kini berusia 60 tahun, ikut menimpali. "Iya, Nona. Jangan dengarkan dokter-dokter itu yang cuma suruh makan bubur hambar. Lidah itu butuh hiburan juga!"

​Nara tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat murni hingga membuat Rhea terharu. Di tengah kemelut politik yang belum sepenuhnya usai, orang-orang tua ini membawa kehangatan yang tak ternilai.

​"Terima kasih, Mbok. Pak Totok," ucap Nara tulus.

​Namun, keceriaan itu terganggu saat Yusuf masuk dengan wajah kaku. "Nona Rhea, Tuan Muda Vier... kita harus pindah sekarang. Ada pergerakan mencurigakan di area lobi."

​Operasi pemindahan Nara dilakukan dengan sangat rahasia. Ian memerintahkan Yusuf untuk menggunakan tiga mobil yang identik sebagai pengecoh. Ian sendiri yang menyetir mobil yang membawa Nara, sementara Vier dan Rhea menjaga di bangku belakang.

​Di dalam mobil, suasana sunyi. Nara menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan.

​"Adrian," panggil Nara tiba-tiba.

​Ian melirik melalui spion tengah. "Ya?"

​"Terima kasih karena tidak memisahkan aku dari adikmu. Aku tahu itu risiko besar bagimu," ucap Nara.

​Ian tetap fokus pada jalanan. "Aku hanya sedang membayar utang masa lalu, Nara. Dan jika Vier bahagia, tugasku sebagai kakak jauh lebih mudah."

​Tiba-tiba, sebuah motor sport hitam mendekat dengan kecepatan tinggi dan memepet mobil mereka. Pengendaranya mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti bom asap.

​Duar!

​Asap putih pekat seketika menyelimuti jalanan raya. Ian tetap tenang, ia menekan sebuah tombol di dasbor dan sistem filtrasi udara mobil langsung bekerja.

​"Pegangan!" teriak Ian. Ia melakukan manuver J-turn yang sangat berbahaya, memutar balik mobil di tengah jalan tol yang sedang melaju.

​Vier memeluk Nara dengan erat, sementara Rhea memegangi kursi dengan wajah pucat. Yusuf di mobil belakang segera bertindak, menabrak motor pengejar tersebut hingga terjatuh.

​Mereka sampai di klinik pribadi Diningrat di kawasan Sentul yang tersembunyi. Tempat itu lebih mirip sebuah villa mewah daripada fasilitas medis.

​Setelah Nara beristirahat, Ian, Vier, dan Rhea berkumpul di teras.

​"Ini belum berakhir, kan?" tanya Rhea.

​Ian menatap langit malam. "Pradikta mungkin dipenjara, tapi orang-orangnya masih ada di luar sana. Mereka ingin menggunakan Nara untuk memancing Ayah Nara keluar dari persembunyiannya. Pria itu memegang dokumen asli yang bisa menjebloskan seluruh sekutu Pradikta ke penjara selamanya."

​Ian menoleh ke arah adiknya. "Vier, mulai malam ini, kamu tidak boleh meninggalkan tempat ini. Kamu akan merawat Nara di sini."

​Vier mengangguk mantap. "Aku mengerti."

​Saat itu, ponsel Ian berdering. Sebuah panggilan video dari Milan. Ian ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Di layar muncul wajah Cansu. Ia tampak lebih segar di usianya yang ke-31, rambutnya dibiarkan tergerai tanpa sanggul kaku Ibu Negara.

​"Adrian," sapa Cansu. "Aku mendengar soal keributan di Jakarta. Apa kalian baik-baik saja?"

​Ian melirik Rhea, seolah meminta izin secara diam-diam. Rhea hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.

​"Kami baik-baik saja, Cansu," jawab Ian.

​"Aku punya informasi berharga," ucap Cansu dengan wajah serius. "Ayahku menyimpan cadangan dokumen itu di sebuah brankas di rumah peristirahatan kami di Bali. Jika kamu bisa mendapatkannya, kamu tidak perlu lagi menggunakan Nara atau ayahnya sebagai umpan. Kamu bisa menghancurkan mereka semua sekaligus."

​Ian terdiam. "Kenapa kamu membantuku lagi?"

​Cansu tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini terlihat tulus tanpa beban. "Karena aku ingin kita semua benar-benar bebas, Adrian. Dan aku ingin mawar putihmu itu tetap mekar tanpa harus menyentuh lumpur politik sepertiku."

​Panggilan berakhir. Ian menatap Rhea, lalu menatap Vier. Di usia mereka yang sekarang, mereka bukan lagi anak-anak yang hanya bisa mengikuti arus. Mereka adalah nahkoda bagi kapal mereka sendiri.

​"Siapkan jet pribadi, Yusuf," perintah Ian. "Kita berangkat ke Bali malam ini."

​"Tapi Tuan Muda, ini sangat mendadak," protes Yusuf.

​"Justru itu intinya. Kejutkan mereka sebelum mereka mengejutkan kita."

​Bab kali ini ditutup dengan keberangkatan mereka menuju Bali. Di balik kemegahan yang mereka miliki, ada harga besar yang harus dibayar. Dan bagi Vier, perjuangan cintanya pada Nara baru saja dimulai di garis depan yang sesungguhnya. Komedi Mbok Yem dan ketegangan Ian menyatu dalam satu harmoni yang akan menentukan nasib keluarga Diningrat selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!