NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:194.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERTEMU UNCLE ANDREAS

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Siang itu, di ruang interogasi kecil yang terletak di bagian bawah gedung utama, suasana terasa dingin dan kaku. Ruangan itu sederhana, hanya berisi satu meja panjang dan beberapa kursi, serta kaca cermin satu arah di salah satu dindingnya.

Dante masuk ke ruangan itu dengan langkah tegap namun wajah datar. Di seberang meja sudah duduk Andreas yang kedua tangannya terborgol di depan. Pakaiannya kusut dan berantakan, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak jauh lebih tua dan layu dibandingkan terakhir kali Dante melihatnya. Saat melihat kehadiran Dante, mata tua itu langsung berkaca-kaca, dan raut wajahnya berubah menjadi campuran rasa malu, takut, dan sedih.

Dante duduk di kursi yang disediakan, menjaga jarak aman dari pamannya itu. Ia menatap uncle Andreas dengan tatapan tajam namun tanpa ekspresi, menunggu orang itu yang memulai pembicaraan.

"Dante..." panggil Andreas lirih, suaranya terdengar bergetar. "Terima kasih mau menemuiku. Aku tahu aku tidak pantas lagi meminta apapun darimu. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar dan tidak bisa dimaafkan."

Andreas menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak sanggup menatap mata keponakannya itu.

"Aku tidak meminta maaf untuk menyelamatkan diriku sendiri, Dante. Aku tahu hukum harus berjalan dan aku siap menerima resiko atas perbuatanku. Tapi ada satu hal yang membuatku gelisah dan tidak tenang. Ada sesuatu yang belum aku katakan padamu, sesuatu yang mungkin bisa membahayakan dirimu dan rencana masa depanmu."

Dante mengangkat alisnya sedikit. "Apa itu? Jangan bertele-tele. Katakan langsung intinya."

Andreas mengangguk pelan. "Sebenarnya, kerja sama kami dengan pihak kompetitor, Tuan Marco dan kelompoknya, itu bukan sekadar kesepakatan bisnis biasa. Ada pihak lain yang lebih besar dan lebih berbahaya yang mendalangi semuanya dari belakang. Kelompok Marco hanyalah perpanjangan tangan mereka."

Andreas mengangkat wajahnya sedikit, menatap Dante dengan tatapan serius. "Aku baru menyadarinya belakangan ini, Dante. Saat kesepakatan sudah berjalan dan mereka mulai menunjukkan taring aslinya. Pihak yang kami ajak kerja sama ini ternyata memiliki jangkauan yang sangat luas, sampai ke ranah politik dan hukum. Mereka tidak hanya mengincar kekayaan atau aset kita, tapi mereka punya agenda yang jauh lebih besar. Dan aku takut, karena kau memutuskan untuk mengubah haluan organisasi dan memutus hubungan dengan jalur lama, maka kau menjadi target utama mereka. Mereka tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Mereka akan berusaha menghancurkanmu dengan cara apapun."

Dante menyimak penjelasan itu dengan saksama, meskipun di dalam hatinya ia masih ragu apakah perkataan Andreas ini benar atau hanya akal-akalan untuk mencari perhatian atau meringankan hukuman.

"Siapa mereka? Apa nama kelompok atau pemimpinnya?" tanya Dante tegas.

Andreas menggelengkan kepalanya lemah. "Aku tidak tahu pasti, Dante. Mereka bergerak sangat rahasia dan menggunakan banyak kedok. Tapi aku sempat mendengar nama Kelompok Elang Hitam disebut-sebut dalam percakapan mereka. Dan mereka memiliki akses ke dokumen-dokumen rahasia dan data intelijen yang seharusnya tidak bisa diakses sembarangan orang. Aku takut... mereka sudah menyusup jauh ke dalam sistem kita atau bahkan ke lembaga resmi yang berwenang."

Dante terdiam sejenak, mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. Nama Elang Hitam terdengar asing di telinganya, namun deskripsi kekuatan dan jangkauan mereka terdengar mengerikan. Jika apa yang dikatakan Uncle Andreas ini benar, maka ancaman yang dihadapinya jauh lebih besar dan rumit dari pada yang ia bayangkan sebelumnya.

"Apa kau punya bukti atau dokumen yang bisa membuktikan hal ini?" tanya Dante lagi.

Andreas menggelengkan kepalanya. "Tidak ada bukti fisik yang bisa kuserahkan padamu, Dante. Semuanya dilakukan lewat jalur gelap dan komunikasi rahasia. Tapi aku bersumpah demi Tuhan dan demi mendiang ayahmu, apa yang kukatakan ini benar adanya. Aku hanya ingin menebus kesalahanku sedikit dengan memperingatkan mu, Dante. Hati-hatilah. Jangan percaya pada siapapun, bahkan pada orang-orang yang kau anggap paling setia sekalipun. Bahaya bisa datang dari arah yang tidak terduga."

Dante menatap uncle-nya itu dengan tatapan sulit diartikan. Apakah ini sebuah peringatan tulus dari orang yang sedang menyesal, ataukah ini bagian dari strategi lain untuk menakut-nakuti atau mengacaukan konsentrasinya? Dante tidak bisa memastikannya saat ini.

"Aku akan mempertimbangkan perkataanmu, uncle," jawab Dante akhirnya dengan nada datar. "Tapi soal hukuman dan nasib kalian, aku serahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berlaku. Aku tidak akan mencampuri urusan itu lagi. Biarkan keadilan yang menentukan."

Dante berdiri dari kursinya, menandakan bahwa pertemuan ini sudah selesai. "Terima kasih atas informasinya. Beristirahatlah."

Tanpa menunggu respon dari Andreas, Dante berbalik badan dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Di belakangnya, terdengar isak tangis lirih dari Andreas yang semakin tenggelam dalam penyesalan dan keputusasaannya.

Sesampainya di luar ruangan, Dante menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Informasi yang baru saja ia dapatkan menambah beban pikirannya yang sudah cukup berat. Kehadiran pihak ketiga yang lebih besar dan berbahaya di balik layar membuat situasi menjadi semakin rumit dan tidak menentu.

Sore itu, Dante kembali ke kamarnya. Elara sudah menunggunya di sana, wajahnya tampak khawatir melihat raut wajah Dante yang murung dan kusut. Ia segera menghampiri suaminya itu dan membawanya duduk di tepi tempat tidur.

"Bagaimana pertemuanmu dengan Uncle Andreas, Dante? Apa yang beliau katakan?" tanya Elara lembut.

Dante menghela napas panjang, lalu menceritakan sedikit tentang apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, termasuk peringatan tentang keberadaan pihak yang lebih besar di balik layar.

Mendengar penjelasan itu, wajah Elara menjadi semakin cemas. "Jadi maksudnya bahayanya belum benar-benar hilang? Dan ada musuh yang lebih besar lagi yang mengintai kita?"

Dante mengangguk pelan. "Sepertinya begitu. Tapi kita tidak boleh terpancing emosi atau takut berlebihan. Kita harus tetap tenang dan berpikir jernih. Peringatan itu bisa jadi benar, tapi bisa jadi juga hanya akal-akalan."

Dante memegang tangan Elara erat. "Apapun yang terjadi, Elara, aku berjanji akan melindungimu dan memastikan keamanan kita. Tapi untuk itu, aku butuh dukunganmu dan kesabaranmu. Perjalanan kita menuju kehidupan yang tenang dan damai mungkin akan lebih panjang dan berliku dari yang kita bayangkan."

Elara menatap mata Dante dengan tatapan penuh kasih sayang dan keyakinan. "Aku tahu, Dante. Dan aku siap menghadapi apapun bersamamu. Selama kita saling mendukung dan percaya satu sama lain, aku yakin kita bisa melewati semua masalah ini."

Malam itu, di bawah langit yang kembali gelap gulita tanpa bintang, Dante duduk di tepi jendela kamarnya, memandang ke luar dengan tatapan menerawang jauh. Pikirannya dipenuhi berbagai macam pertanyaan dan ketidakpastian. Namun di lubuk hatinya yang terdalam, tekadnya untuk tetap teguh berdiri dan melindungi orang-orang yang ia cintai tidak pernah pudar. Ia sadar bahwa perjuangannya belum selesai, dan tantangan baru mungkin saja datang menghampirinya kapan saja. Namun dengan dukungan Elara dan keyakinan pada tujuannya yang benar, Dante merasa siap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Bunga Yona
up dong
Bunga Yona
Dante banyak banget cobaan mu 🤭
Cheryl Emery
lanjut
Cheryl Emery
semangat 👍
Gretchen Paula
semangat ya 🤭
Gretchen Paula
setiap episodenya aku suka banget thor 😊
Victoria Genevieve
up lagi Thor ini kan libur 😄
Victoria Genevieve
Bayak baget cobaan Dante Thor 😒
si paling cute
lanjut🥺
si paling cute
ledakan apa itu thor
Flowers🪴
semangat ya Dante kamu pasti bisa melaluinya. Kebahagiaan akan berpihak kepadamu😍
Flowers🪴
Ada masalah lagi bang 🥺
Victoria Genevieve
semangat ye🙏
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Victoria Genevieve
👍👍👍👍👍👍👍👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
si paling cute
💪💪💪💪💪💪💪💪
si paling cute
Dante ujian hidup mu berat banget sih. tapi gak apa apa ada aku kok yang semangati🥺
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Flowers🪴
trus bilang lanjut 🤭
Ani.hendra: 👍👍👍👍👍👍
total 1 replies
Flowers🪴
Kasih 👍 dan 💪
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
semangat 👍
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Bunga Yona
Harus happy ending ya thor😔
Ani.hendra: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!