Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Tidak Akan
Sepuluh hari terasa seperti sepuluh tahun bagi Selena. Kesabarannya sudah mencapai batas akhir. Biasanya, Biru memang kerap menghilang untuk urusan bisnis, namun ia tak pernah pergi selama ini tanpa meninggalkan satu pun instruksi atau pesan singkat melalui Cakra.
Rasa rindu yang berpadu dengan kemarahan dan gairah yang belum tuntas membuat Selena nekat. Dengan tangan bergetar, ia memutar kenop pintu kamar pribadi Biru—ruangan terlarang yang selama berbulan-bulan pernikahan kontrak mereka tidak pernah ia injak.
Cklek.
Pintu terbuka, menyuguhkan suasana yang sangat berbeda dari kamar yang biasa mereka tempati bersama. Kamar itu sangat maskulin, dengan dominasi warna abu-abu gelap dan aroma sandalwood bercampur woody yang begitu pekat—aroma khas Biru yang langsung menyerbu indra penciuman Selena.
Lutut Selena terasa lemas. Ia berjalan mendekati ranjang besar yang tertata sangat rapi, seolah-olah pemiliknya baru saja pergi sebentar. Ia menyentuh bantal sutra milik Biru, lalu membenamkan wajahnya di sana.
Harum itu masih ada, sangat nyata, seolah-olah Biru baru saja berbisik di telinganya seperti malam itu di Uluwatu.
"Kamu di mana, Mas?" bisik Selena pilu.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu, meringkuk kecil sambil memeluk bantal Biru erat-erat. Di bawah sana, ia masih bisa merasakan sisa-sisa ingatan tentang bagaimana Biru memperlakukannya dengan begitu dominan.
Selena ingin membenci pria ini, ia ingin menganggap semua ini hanya bisnis, tapi aromanya, ranjangnya, dan kenangan tentang sentuhannya malam itu telah menjerat Selena terlalu dalam.
Tanpa sadar, Selena mulai mencari-cari di laci nakas, berharap menemukan petunjuk tentang keberadaan suaminya. Namun, yang ia temukan justru adalah sebuah botol obat kecil yang sudah kosong dan beberapa lembar hasil laboratorium yang bertuliskan nama Biru Hermawan.
Tangan Selena gemetar hebat saat jemarinya meraba map kulit berwarna hitam pekat di dasar laci itu.
Dengan napas tertahan, ia membuka talinya dan mulai membaca lembar demi lembar dokumen legal di dalamnya. Matanya membelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dengan sangat formal namun terasa seperti hantaman godam.
Surat Wasiat: Biru Hermawan.
Di sana tertulis dengan jelas, jika terjadi sesuatu yang menyebabkan Biru tidak lagi mampu menjalankan fungsinya atau meninggal dunia, kepemilikan 51 persen saham Hermawan Grup akan jatuh sepenuhnya ke tangan Selena. Bukan hanya itu, Biru secara spesifik menunjuk Selena sebagai CEO pengganti untuk memegang kendali penuh atas kekaisaran bisnisnya.
"Apa-apaan ini..." gumam Selena, suaranya pecah.
Ia melempar map itu ke lantai dan berteriak sekeras-kerasnya di tengah kesunyian kamar yang dingin itu. "Aaaaaarrgh! Mas Biru! Apa maksudnya semua ini?!"
Selena mulai mengacak-acak rambutnya sendiri, bertingkah seperti orang gila di atas ranjang yang masih menyisakan aroma suaminya. Ia tidak butuh saham.
Ia tidak butuh jabatan CEO. Yang ia inginkan hanyalah penjelasan mengapa pria yang memberinya kenikmatan luar biasa di Uluwatu itu menyiapkan surat kematian bahkan sebelum pernikahan mereka berjalan lama.
Ia merasa terjebak dalam sebuah plot yang jauh lebih gelap dari novel mana pun yang pernah ia tulis. Ia teringat bagaimana Cakra selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, namun tetap bungkam seribu bahasa.
"Cakra! Kamu di mana?!" jerit Selena lagi, meski ia tahu tidak ada siapa-siapa di rumah itu.
Rasa rindu yang tadi menyelimuti hatinya kini berubah menjadi teror yang mencekam.
Kenapa Biru memberikan harta sebanyak itu padanya? Apakah malam panas tiga ronde itu adalah sebuah salam perpisahan yang sengaja ia ciptakan? Selena merasa dikhianati oleh kenyataan bahwa Biru telah merencanakan "kepergiannya" jauh-jauh hari, sementara ia baru saja mulai membiarkan hatinya jatuh ke pelukan pria kaku tersebut.
Selena jatuh terduduk di lantai, mendekap lututnya di samping surat wasiat yang berserakan. Di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat paling pribadi bagi suaminya, Selena justru menemukan bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal siapa Biru Hermawan yang sebenarnya.
"Brengsek kamu Biru! Kamu pikir aku ini sematre itu hah!" teriak Selena ke arah foto Biru yang terpajang di dinding kamar itu.
Selena meraih botol parfum di atas nakas dan melemparkannya ke arah foto itu. Prang! Kaca bingkai foto Biru retak seribu, tepat di bagian dada pria itu, seolah menggambarkan apa yang sedang terjadi pada jantung aslinya saat ini.
"Kamu pikir dengan memberikan 51 persen saham, aku akan memaafkanmu karena sudah pergi tanpa kabar?" teriaknya lagi, napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan hebat. "Aku tidak butuh perusahaanmu! Aku tidak butuh uangmu! Aku cuma mau kamu ada di sini dan menjelaskan semuanya, Mas!"
Selena jatuh berlutut di depan pecahan kaca itu. Amarahnya yang meledak-ledak tiba-tiba surut, menyisakan rasa perih yang teramat sangat. Ia memandangi wajah Biru yang tampak begitu tenang di balik retakan kaca—wajah yang sama yang sepuluh malam lalu terbenam di ceruk lehernya, membisikkan kata-kata pemujaan yang kini terasa seperti racun.
"Kamu jahat, Mas... Kamu membuatku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia malam itu, hanya untuk meninggalkanku dengan beban sebesar ini," bisiknya parau, air matanya kini menetes membasahi surat wasiat yang berserakan di lantai.
Ia merasa terhina. Bagi Selena, surat wasiat ini adalah bukti bahwa Biru tetap memandangnya sebagai bagian dari transaksi bisnis, sebuah kompensasi atas waktu dan tubuhnya. Biru seolah sudah memprediksi bahwa dirinya akan 'rusak' setelah malam itu, dan saham-saham ini adalah biaya ganti ruginya.
Selena meremas kertas itu hingga lecek. "Aku tidak akan menandatangani apa pun. Aku tidak akan menjadi CEO-mu. Sampai kamu sendiri yang datang ke sini dan menyerahkannya padaku, aku tidak akan sudi menyentuh hartamu ini!"
***
jin ouch jin sentuh itu selena...