NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

POV: RIANI

Sabtu pagi, Riani bangun dengan perasaan yang berbeda dari biasanya.

Bukan euforia yang meledak-ledak—bukan seperti yang selalu digambarkan di film-film romantis ketika dua orang akhirnya mengakui perasaan masing-masing. Lebih tenang dari itu. Seperti bangun di pagi hari setelah hujan panjang dan menyadari langit sudah bersih—tidak ada drama, hanya kejerihan yang sederhana.

Dia meraih ponselnya.

Tidak ada pesan pagi dari Wahyu—dia tidak mengharapkan itu, Wahyu bukan tipe yang mengirim pesan selamat pagi. Tapi ada pesan dari semalam, jam sebelas, yang mungkin Riani sudah baca tapi ingin baca lagi.

Wahyu: "Besok aku ada kerjaan pagi. Tapi kalau kamu mau, sore bisa ketemu. Bukan untuk sesuatu yang perlu direncanakan. Hanya kalau kamu tidak ada kegiatan."

Riani membaca itu dengan senyum yang tidak bisa dia tahan.

Hanya kalau kamu tidak ada kegiatan.

Cara Wahyu untuk bilang "aku ingin ketemu" tanpa membuat dirinya terlihat terlalu ingin ketemu.

Riani mengetik balasan yang tadi malam sudah dia kirim.

Riani: "Sore jam 4 oke. Di mana?"

Wahyu: "Tempat biasa. Atau mana saja yang kamu mau."

Riani: "Tempat biasa."

Sabtu siang, sebelum pergi ke taman kampus, Riani menghabiskan waktu di kamar kosnya mengerjakan tugas yang sudah tertunda—review dua jurnal untuk mata kuliah Perilaku Organisasi. Dua jam dengan fokus yang lumayan, diselingi satu kali makan siang mi kuah dari warung depan kost.

Pukul tiga lebih, Dinda mengirim pesan.

Dinda: "Ri, kamu jadi ketemu Wahyu sore ini?"

Riani: "Iya. Jam 4."

Dinda: "Mau ke mana?"

Riani: "Taman kampus kayaknya."

Dinda: "TAMAN KAMPUS LAGI??? Ri, tolong dong sekali-sekali pergi ke tempat yang lebih proper. Makan di luar, nonton, apalah."

Riani tertawa membaca itu.

Riani: "Din, ini baru awal. Santai."

Dinda: "Kalian sudah berbulan-bulan kenalnya! Itu bukan 'baru awal'!"

Riani: "Untuk Wahyu iya. Baru awal."

Dinda tidak membalas selama beberapa detik.

Lalu:

Dinda: "Oke, fine. Aku mengerti. Tapi tetap update aku ya!"

Riani: "Selalu."

Pukul empat kurang lima, Riani tiba di taman kampus.

Wahyu sudah ada—seperti biasa, datang lebih awal. Dia duduk di bangku yang sama, menatap sesuatu di ponselnya. Mengenakan kaos navy gelap dan celana jeans abu-abu—bukan hoodie, meski cuaca sore ini agak mendung.

Dia melihat Riani datang dan menyimpan ponselnya.

Riani duduk di sampingnya.

"Kerjaan pagimu selesai?" tanya Riani.

"Selesai. Dokumen dua puluh halaman. Kirim tadi jam dua belas."

"Cepat. Biasanya berapa lama kamu kerjakan dokumen dua puluh halaman?"

Wahyu berpikir sebentar. "Tergantung kompleksitasnya. Yang tadi dua hari."

"Berarti kamu mulai dari Kamis malam?"

"Kamis malam dan Jumat sore setelah kelas."

Riani mengangguk. Dalam kepalanya dia menghitung—Kamis malam berarti setelah mereka ngobrol di taman. Wahyu pulang, dan alih-alih merenungi percakapan mereka, dia langsung kerja.

Tapi Riani tidak mengomentari itu. Itu cara Wahyu memproses—dengan melakukan sesuatu, bukan hanya duduk dan berpikir.

"Hasil ujian Hukum Tata Negara keluar belum?" tanya Riani.

"Belum. Mungkin minggu depan."

"Kamu yakin?"

"Materinya dikuasai."

Riani tersenyum. Keyakinan Wahyu tentang akademiknya selalu datang bukan dari kesombongan tapi dari fakta—dia memang menguasai materinya.

"Wahyu," Riani bersuara setelah beberapa saat.

"Hmm."

"Aku mau tanya sesuatu yang mungkin agak personal. Kamu tidak harus jawab kalau tidak mau."

Wahyu menoleh, menunggu.

"Setelah kasus ayahmu selesai nanti—setelah putusan keluar—kamu berencana apa? Maksudku, jangka pendek. Semester depan."

Wahyu menatap ke depan, mempertimbangkan.

"Tetap kuliah. Tetap kerja untuk firma hukum. Mungkin kurangi pekerjaan sampingan lain karena proyek firma cukup untuk nutup kebutuhan." Dia berhenti sebentar. "Dan mungkin pindah kost."

Riani mengerutkan kening. "Pindah kost?"

"Yang sekarang kondisinya kurang layak. Kalau pendapatan lebih stabil, bisa cari yang lebih baik."

"Itu bagus. Kamu sudah survei?"

"Belum. Masih menunggu putusan sidang."

Riani mengangguk. Ada sesuatu yang hangat di dadanya mendengar Wahyu berbicara tentang masa depan dengan cara yang berbeda dari biasanya—bukan sekadar survival, tapi perencanaan yang ada nuansa harapannya.

"Kamu pernah nggak kepikiran," Riani bertanya hati-hati, "seandainya kasus itu sudah selesai dari dulu—seandainya kamu tidak mengalami semua itu—kamu akan jadi seperti apa sekarang?"

Wahyu diam cukup lama.

"Pertanyaan itu tidak produktif," jawabnya akhirnya.

"Aku tahu. Tapi tetap. Pernah kepikiran?"

Wahyu menatap pohon di depan mereka. Satu helai daun jatuh pelan, berputar di udara sebelum mendarat di rumput.

"Mungkin lebih ceroboh," ujarnya akhirnya. Nada suaranya datar tapi ada sesuatu di sana. "Orang yang tidak pernah diuji cenderung tidak tahu batasnya sendiri."

"Tapi kamu juga kehilangan banyak hal."

"Iya."

"Masa SMP dan SMA yang seharusnya bisa lebih baik."

"Iya."

"Teman-teman."

"Iya."

Hening.

"Riani," Wahyu bersuara.

"Apa?"

"Kamu tidak perlu minta maaf atas semua itu."

Riani terdiam. "Aku tidak sedang minta maaf."

"Nada suaramu seperti itu."

Riani menghela napas. "Mungkin iya. Sedikit. Karena aku ada di SMA yang sama dan aku juga tidak pernah menyapa, tidak pernah notice bahwa ada seseorang yang mungkin butuh—"

"Kamu tidak tahu," Wahyu memotong. "Tidak ada yang tahu. Dan bahkan kalau kamu tahu, aku tidak akan membiarkan siapa pun dekat waktu itu."

"Tapi—"

"Riani." Wahyu menoleh, menatapnya langsung. "Aku tidak menyalahkan siapa pun kecuali orang-orang yang memang membuat pilihan menyakiti aku secara aktif. Kamu bukan salah satunya."

Riani menatap Wahyu.

"Oke," ujarnya pelan.

"Oke."

Mereka kembali ke keheningan.

Langit di atas taman mulai lebih gelap—bukan mendung yang mengancam, tapi gradasi sore menuju senja yang berlangsung dengan cepat hari ini.

"Wahyu," Riani bersuara lagi, kali ini dengan nada yang berbeda—lebih ringan.

"Hmm."

"Boleh aku tanya sesuatu yang lebih... tidak serius?"

"Tergantung."

"Kamu pernah nonton film?"

Wahyu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Semua orang pernah nonton film."

"Film apa yang terakhir kamu tonton?"

Wahyu berpikir. "Interstellar. Dua tahun lalu."

"Dua tahun lalu? Itu benar-benar terakhir?"

"Aku tidak punya banyak waktu untuk nonton film."

Riani menatapnya beberapa detik.

Lalu, dengan ekspresi yang sangat serius yang kontras dengan isi kalimatnya, dia berkata: "Wahyu, aku mau mengajak kamu nonton film."

Wahyu menatap Riani.

"Sekarang?"

"Tidak sekarang. Tapi kapan-kapan. Kalau kamu ada waktu. Dan kalau kamu mau."

Wahyu diam.

"Itu bukan tugas kelompok," ujarnya.

"Bukan."

"Bukan urusan BEM."

"Bukan."

"Bukan sesuatu yang perlu dilakukan."

"Bukan."

Wahyu menatap Riani dengan tatapan yang—Riani sudah cukup kenal untuk mengidentifikasinya—adalah cara Wahyu memproses sesuatu yang baru dan tidak familiar.

Sesuatu yang namanya berkencan.

"Oke," kata Wahyu akhirnya.

Riani tersenyum. "Kapan?"

"Setelah sidang putusan. Kondisiku akan lebih jelas setelah itu."

Riani mengangguk. "Deal."

Mereka duduk sampai langit benar-benar gelap dan lampu taman menyala otomatis, menerangi bangku mereka dengan cahaya kuning lembut.

Tidak banyak yang dibicarakan setelah itu—hanya obrolan ringan tentang hal-hal kecil, sesekali hening, sesekali salah satu dari mereka mengomentari sesuatu yang lewat di depan mereka.

Normal.

Sangat normal.

Dan itu, Riani sadari, adalah sesuatu yang keduanya butuhkan—bukan momen-momen besar yang dramatis, tapi momen-momen biasa yang bisa mereka duduki bersama tanpa tekanan.

Ketika akhirnya Wahyu berkata harus pulang karena ada dokumen yang perlu direview malam ini, Riani mengangguk dan berdiri.

Mereka berjalan bersama ke parkiran.

Di persimpangan tempat mereka akan berpisah arah—Wahyu ke kanan, Riani ke kiri—mereka berhenti.

"Wahyu," Riani memanggil.

Dia menoleh.

Riani menatapnya dalam cahaya lampu jalan yang keemasan.

"Aku senang kamu ada," ujarnya sederhana.

Wahyu menatapnya beberapa detik.

Lalu, dengan cara yang sangat khas Wahyu—tidak berlebihan, tidak dramatis, tapi terasa penuh—dia menjawab.

"Aku juga."

Dua kata.

Tapi beratnya terasa seperti lebih dari itu.

Mereka berpisah. Motor masing-masing melaju ke arah yang berlawanan.

Dan Riani, mengendarai Mio pink-nya menyusuri jalan yang sudah dia kenal luar kepala, membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sederhana dan besar sekaligus.

Bahwa ini baru permulaan.

Bukan akhir dari sebuah perjuangan panjang.

Tapi permulaan dari sesuatu yang, jika dijaga dengan sabar dan kejujuran, bisa menjadi sesuatu yang nyata.

Pelan-pelan.

Tapi pasti.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!