NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 7

*Devan tidak mengetuk dahulu pintu tinggi dan besar itu. Dia langsung mendorongnya dengan kencang sampai Mamanya yang tengah duduk di ruang tamu yang luas itu terkejut dibuatnya.*

Mamanya langsung berdiri menatap pintu yang terbuka, dengan telepon yang masih menempel di telinga. "Iya, pastikan semua berjalan lancar—"

Tutup.

Begitu melihat Devan masuk dengan muka merah, rahang keras, Mamanya bingung, sebab dia belum mengerti apa yang sedang terjadi.

"Van?" Mamanya menaruh ponsel di atas meja. Senyum. Senyum tenang seorang ibu yang sudah seumur hidupnya menjadi seorang sosialita kalangan atas. Anggun, namun tidak terbaca. "Tumben jam segini sudah pulang. Kita lunch bareng, ya? Sudah lama kita tidak makan bareng."

Devan tidak menjawab. Dia berjalan, berhenti tepat di depan Mamanya. Matanya nyalang, menyimpan amarah. Dia masih diam. Dan diamnya Devan lebih berbahaya daripada teriakannya.

"Nathan ke kantor tadi," Devan membuka suara. Datar. Dingin. "Dia menemui Nara."

"Nara?" ucap Mamanya kaget. Dia tidak mengira akan mendengar nama itu lagi.

"Nara yang sama dengan Nara dari lima tahun yang lalu."

"Tunggu, Mama masih belum mengerti. Jelaskan kenapa tiba-tiba ada Nara di sini?"

"Nara asisten baruku, Ma. Pengganti Renata," jawab Devan.

Tangan Mamanya yang mau meletakkan gelas itu berhenti di udara. Gelas kristal itu bergetar pelan di tangannya. Dia tidak mengira Nara yang dia kira telah hilang dari kehidupan kedua putranya kini justru berada sangat dekat dengan mereka. Usahanya lima tahun lalu untuk menjauhkan Nara seolah menjadi sia-sia.

"Pecat dia, Van. Jauhi gadis itu. Dia bukan apa-apa selain masalah!" Dengan nada serius Mama mengatakannya. Langsung tanpa basa-basi, Bukan seperti meminta, lebih tepatnya perintah yang seharusnya tidak dibantah.

Mama menatap tajam Devan. "Mama cuma tidak mau kamu terluka lagi."

"Bukan demi aku, Ma. Tapi Mama tidak ingin Nathan yang terluka."

Hening.

Devan maju selangkah, tangannya meraup kasar wajahnya sendiri. "Apa yang sudah Mama lakukan ke Nara lima tahun lalu?"

Mama ketawa kecil. "Van, kamu capek. Kamu—"

"Aku butuh penjelasannya sekarang, Ma." Suaranya cukup keras, hingga menggema di seluruh ruangan.

"Kamu sedang emosi, Van. Kita bicara lagi nanti," ucap Mama lembut dan tenang seperti biasa. Sepertinya Mamanya sudah terlatih untuk menjaga emosi dan sikap di segala kondisi.

"Dan Mama tahu. Mama tahu semuanya, kan?"

Mata Mama berkaca-kaca. Dengan suara bergetar dia berkata, "Lalu menurut kamu Mama harus apa? Membiarkan kedua putra kesayangan Mama hancur hanya karena seorang perempuan? Mama tidak rela, Van. Kamu ingat, kan, kondisi Nathan waktu itu? Dia hampir mati, Van. Mama hanya meminta agar Nara berada di sini menemani Nathan, paling tidak sampai Nathan melewati masa-masa terpuruknya. Tapi Nara menolak dan memilih pergi!"

"Lalu bagaimana denganku, Ma? Secara tidak langsung Mama juga membuatku mati perlahan dengan menjauhkan Nara dariku!" ucapnya parau.

"Dia sendiri yang ingin pergi! Lantas apa haknya sekarang kembali lagi? Sudah bagus dia menghilang. Nathan sudah baik-baik saja dan kamu sebentar lagi akan menikah dengan Sandra. Tapi lihat sekarang, baru berapa hari dia kembali sudah membuat kedua putra Mama menjadi seperti ini!" Ada kemarahan di setiap kata yang Mamanya ucapkan.

Akhirnya. Meledak juga.

Devan mundur. Napasnya berat. Jadi benar. Mamanya tahu. Dan Mamanya lebih memilih menjaga perasaan Nathan daripada dirinya.

"Mama..." suara Devan serak, "Mama yang menyuruh Nara pergi, kan?"

Mama tidak menjawab. Dia mengambil tisu, mengelap ujung matanya yang basah. "Mama hanya ingin melindungi anak Mama. Kamu sama Nathan itu semua yang Mama punya. Mama tidak bisa melihat kalian saling menyakiti karena satu perempuan. Mama tidak bisa!"

"Tapi bukan begitu caranya, Ma!"

Ruangan itu mendadak pengap dan sesak.

Devan terkekeh pelan. "Jadi selama ini... aku membenci Nara karena aku mengira dia sengaja meninggalkanku? Aku selalu mengira Nara begitu egois dan tidak punya hati."

Mama jatuh duduk lagi. Seperti boneka porselen yang retak. Hatinya sakit. Sebagai seorang ibu dia hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Apa itu salah?

Pintu terbuka tiba-tiba.

"Maaf, Tante..."

Sandra.

Dia berdiri di ambang pintu dengan paperbag butik di tangan. Senyumnya beku waktu melihat Devan dengan Mamanya. Mata sembab, muka masam, aura perang jelas tercium di antara keduanya.

"Aku... aku ganggu?" tanya Sandra hati-hati. Padahal telinganya sudah menangkap potongan terakhir percakapan mereka.

Mama langsung memasang topeng kepalsuan lagi. Mengusap air matanya, dan tersenyum. "Oh, Sandra Sayang. Tante sama Devan sedang diskusi persiapan. Kamu sudah selesai fitting?"

Devan tidak menoleh ke arah Sandra. Matanya masih ke Mama. Tapi otaknya menangkap: Sandra pasti sudah mendengar, dan dia tidak peduli akan hal itu.

Sandra berjalan mendekat, menaruh paperbag di sofa. "Udah, Tante. Gaunnya cantik banget." Dia menoleh ke Devan, senyumnya manis tapi matanya menyimpan amarah. "Kamu kok nggak ngabarin kalau mau pulang? Kan kita bisa bareng ke sininya."

Devan tidak menjawab. Dia meluruskan jas, jalan ke pintu. Melewati Sandra tanpa berkata apa-apa.

Klik. Pintu ditutup.

Mama meremas tisu di tangan sampai sobek. Sandra langsung duduk di samping Mama, dan menggenggam tangannya.

"Tante gapapa?" suaranya lembut, khawatir. Tapi di kepala Sandra sudah berputar kencang kekhawatiran seperti badai.

"Tante baik-baik saja. Maafkan Devan, dia sedang stres karena pekerjaan," jelasnya mencoba menutupi.

Sandra mengelus punggung tangan Mama. "Tante tenang. Aku ngerti kok. Kita sama-sama perempuan yang sayang sama Devan. Kita pasti ingin yang terbaik buat Devan."

Mama menatap Sandra. Mengangguk lemah. "Iya, San. Kamu tidak usah khawatir. Semua akan tetap berjalan seperti rencana semula. Cuma kamu satu-satunya menantu Mama untuk Devan."

Sandra tersenyum. Dalam hati: _Aku pastikan akan mengusir jauh perempuan itu, Tante. Aku akan memisahkan Devan dari dia sekali lagi. Kali ini selamanya._

Devan baru duduk di mobil ketika ponselnya berbunyi. Nathan.

_"Kak, aku mau ngomong sesuatu. Soal 5 tahun lalu. Soal Mama dan Nara. Kakak di apart atau di mana? Aku akan ke sana sekarang."_

Devan mematikan HP. Ditaruhnya di dashboard. Kepalanya disandarkan ke setir.

"Nara..." gumamnya pelan. Pertama kali dia menyebut nama itu tanpa marah setelah 5 tahun. Suaranya pecah. Rindu. dan merasa bersalah.

Dia perlu sendiri dulu. Perlu berpikir.

Karena sekarang yang menjadi masalah bukan cuma waktu. Tapi Mamanya sendiri. Dan mungkin... Sandra, tunangannya. Dan Nathan, adik yang dia sayang, yang juga korban.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!