NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Sidang Dinkes

Ruang sidang lantai 3, Dinkes Jakarta Selatan. Jam 09.00 tepat.

Clarissa berdiri di luar ruangan sambil terus menatap ponselnya. Dia tampak berusaha menghubungi Alvian yang sampai saat ini belum tiba meski sebentar lagi sidang akan dimulai.

Tangannya meremas kuat. Giginya menggigit bibir dengan kesal.

"Padahal kata Bi Irah dia keluar dari rumah jam delapan. Seharusnya sekarang sudah sampai. Ke mana saja dia ini?!"

Clarissa cemas bukan karena peduli dengan Alvian secara pribadi. Dia hanya tidak ingin reputasi terpengaruh karena apa yang dilakukan pria itu. Setidaknya, alasan itu yang terus Clarissa ucapkan dalam benaknya.

Tidak ada emosional. Murni hanya reputasi.

"Istri ...."

Saat itu suara Alvian terdengar dari ujung lorong. Alvian berlari ngos-ngosan menghampiri Clarissa, tapi sudah dipunggungi sebelum ia sempat mengatakan sesuatu.

"Cepat masuk. Sidangnya akan dimulai."

Alvian menyusul Clarissa dan berjalan di sampingnya.

"Aku bawa ini," Dia mengangkat kotak bekal yang dibawanya. Menambahkan, "Kamu belum sarapan, kan? Nanti kamu makan, sambil ikut sidang."

Namun Clarissa hanya menatap kotak bekal itu tanpa menyentuhnya.

"Daripada mengkhawatirkan masalah yang tidak penting, apa semua persiapan sidang susah kamu siapkan? Jangan sampai tidak bisa menjawab saat hakim bertanya." Nadanya sinis, tapi Alvian tetap suka.

"Kamu duduk di situ." Clarissa menunjuk kursi khusus untuk "orang yang diperiksa". Alvian duduk, merapikan jas alakadarnya, muka ditahan berusaha tidak tersenyum tanpa alasan.

"Siap Ist- ...."

Kalimat Alvian terpotong saat melihat tatapan setajam pisau yang diberikan Clarissa. "Jangan panggil istri di tempat umum," tekannya, sambil melotot.

Alvian malah semakin senang menggoda.

"Dokter, Dokter!"

Mbak Sari memanggil. Tak disangka dia sudah datang begitu awal, duduk di belakang, memberikan semangat.

Selain Mbak Sari, ada beberapa warga yang sering datang ke klinik turut datang menghadiri sidang. Mereka berharap tidak ada hal buruk yang akan menimpa Alvian.

Di depan, ada lima kursi yang empat di antaranya sudah ditempati si empunya. Ketua sidang, dr. Santoso, seorang dokter senior berumur 60 tahun, kumis tebal. Sampingnya 2 dokter dari IDI, dan satu orang dari Dinas Kesehatan. Sisa satu kursi kosong dengan name-tag "Dewan Penasehat", kemungkinan juga dari IDI, tetapi sampai saat ini belum datang.

Di samping, Clarissa duduk dalam jarak tiga kursi dari Alvian. Duduk di kursinya, kursi "ahli", sambil menghadap laptop dan juga sebuah map tebal. Tidak menatap Alvian sedetik pun.

Masih di ruangan itu, berada paling belakang, sekelompok wartawan duduk berdempetan. Tidak boleh rekam, tapi boleh mencatat.

Tuk! Ketua sidang, dr. Santoso mengetuk palu kayu.

"Sidang hari ini resmi dibuka," ucapnya.

"Masalahnya, video viral 8 detik. Ada tuduhan dokter Alvian asal vonis TBC tanpa Rontgen. Kita dengarkan dulu."

Dokter IDI, juga orang pertama yang menyebarkan video ke grup, dr. Tono, berdiri lalu menancapkan flashdisk ke proyektor. Layar dengan cepat menampilkan video ketika Alvian memeriksa Bang Rohim. Volume sengaja dikembangkan, biar semua mendengar dengan jelas.

_"Pak batuk? Coba saya ketuk... Dug dug... Ini TBC nih, saya akan buatkan rujukan."_ Cut.

Layar mati, suasana hening untuk sesaat.

Ketua sidang, dr. Santoso menengok ke Alvian. "dr. Alvian, benar itu Anda?"

Alvian berdiri. "Benar, itu memang saya."

"Benar Anda bilang 'Ini kemungkinan TBC' cuma modal ketuk punggung? Tidak Rontgen dulu? Tidak tes dahak?"

Alvian tarik napas. "Pak, saya tanya-tanya dulu ke pasien. Batuknya sudah 3 minggu, berkeringat tiap malam, berat badan turun 5 kilo, terus di rumah ada yang sakit TBC juga. Itu tanda-tanda kuat."

"Lanjut," kata dr. Santoso.

"Terus saya ketuk punggung, bunyinya beda di atas kanan. Itu tanda paru-paru ada masalah. Karena di klinik saya tidak ada alat rontgen, aturan pemerintah bilang kalau curiga TBC harus merujuknya ke RS. Jadi saya bikin surat rujukan."

"Jadi Anda tidak mengobatinya sendiri?" tanya dokter IDI, dr. Bambang.

"Tidak. Saya cuma bilang curiga. Di surat saya tulis 'suspek TBC', bukan 'vonis TBC'. Obatnya baru bisa diberikan RS setelah melakukan rontgen. Saya tidak berani melakukan lebih jauh."

dr. Tono menerima surat rujukan dari Alvian, membacanya, lalu memberikannya ke dr. Santoso. "Tapi Pak, 8 juta orang sudah menonton. Mereka pikir dr. Alvian bisa menebak penyakit sekali ketuk. Ini buat orang salah paham. Ini berbahaya."

Alvian merespon. "Untuk masalah itu saya sama sekali tidak bisa mengontrolnya. Juga tidak tahu siapa yang sengaja mengedit video tidak lengkap. Yang asli kurang lebih 2 menit-an. Saya punya rekamannya, ini dari CCTV. Boleh saya memutarnya?"

dr. Santoso mengangguk. "Silakan."

Alvian lalu memutar rekaman CCTV. Meski videonya buram, kualitas majapahit, tapi suaranya cukup jelas.

Alvian: "Bapak keluhannya apa?"

Bang Rohim: "Batuk 3 minggu, Dok. Keringetan malem. Berat turun 5 kilo."

Alvian: "Di rumah ada yang sakit TBC?"

Bang Rohim: "Istri saya, Dok. Tahun lalu."

Alvian ketuk punggung. "Ini kemungkinan TBC nih. Paru kanan atas bunyinya ronki basah kasar. BB turun, keringat malam. Abang harus cek dahak ke rumah sakit besok. Saya akan buatkan rujukan."

Alvian nulis surat, lalu memberinya stempel. "Ini suratnya. Langsung ke RS Sentral. Nanti dilanjut di sana."

"Bayar berapa, Dok?"

"Gratis, Pak. Yang penting Bapak berobat."

Selesai, layar berubah hitam. Mbak Sari di belakang menangis, mengelap mata dengan tisu basah.

dr. Santoso melepas kacamatanya. "Jadi Anda memang mengirim pasien bersangkutan ke RS. Tidak kasih obat sendiri?"

"Betul, Pak," jawab Alvian. "Saya tidak punya alatnya, aturan juga tidak boleh."

Dokter IDI yang lain, dr. Siska, angkat tangan. "Tapi kata-kata dr. Alvian saat memeriksa itu, "Ini kemungkinan TBC nih, juga sangat tidak pas. Mestinya bilang 'saya curiga TBC'. Cukup seperti itu. Jika tidak, pasien awam bisa salah tangkap."

Alvian mau jawab, tapi dr. Santoso menengok ke Clarissa. "Dokter Clarissa, Anda dokter di RS rujukan. Kami tunjuk sebagai ahli. Bagaimana menurut Anda, kerjaan dr. Alvian sudah benar atau belum?"

Semua mata tertuju ke Clarissa. Wartawan sudah menyiapkan sebuah judul. "Istri Bela Suami".

Clarissa berdiri, membuka map. Tidak meliat ke Alvian, berbicara ke semua orang masih dengan ekspresi datar seperti lagi laporan di RS.

"Bapak Ketua, Bapak Ibu semua, saya sudah cek ulang semua. Video yang diserahkan dr. Alvian terbukti asli. Ada surat rujukan, juga aturan pemerintah. Dapat saya simpulkan, ...."

"Pertama. Pasien batuk lama, keringat malam, berat turun, ada keluarga sakit TBC. Itu tanda-tanda utama, dan siapa pun dokter pasti curiga TBC."

"Kedua. Hasil ketuk punggung bunyinya berbeda di bagian atas. Itu cocok sama tempat TBC biasanya muncul."

"Ketiga. Klinik Dokter Alvian tidak ada rontgen. Aturan pemerintah jelas, kalau curiga TBC tapi tidak ada alat, wajib kirim ke RS. Suratnya sudah dia buat, tulisannya 'suspek', bukan 'vonis'. Jadi semua sudah benar."

"Keempat. Soal kata 'Ini kemungkinan TBC nih', ke pasien, dokter boleh bicara dalam bahasa yang sederhana. Tujuannya agar pasien paham dan mau berobat. Yang terpenting, di kertas resminya tidak menulis vonis."

"Terakhir. Video 8 detik, itu sengaja dipotong. Seharusnya salah yang memotong dan mengeditnya, bukan dokter yang terlibat."

Clarissa menutup map. "Kesimpulan saya, tidak ada aturan yang dilanggar. Tindakan dr. Alvian sudah sesuai. Sekian, terima kasih."

Dia duduk. Tidak senyum, tidak menengok Alvian. 40 detik, tapi setiap ucapannya menjelaskan setiap detail tanpa melewatkan satu inti pun.

dr. Santoso manggut-manggut. Menulis surat, sementara dua dokter dari IDI dan petugas Dinkes saling berbisik.

dr. Tono masih bersikeras. Dia berusaha membantah Clarissa. "Tapi Dok Clarissa, apa tidak sebaiknya dr. Alvian diberikan teguran? Biar ke depan lebih hati-hati saat menyampaikan ucapannya?"

"Dokter Tono, teguran diberikan jika ada yang salah." Clarissa menengok. "Hasil cek saya tidak ada yang salah dari ucapan dr. Alvian. Setiap orang punya cara komunikasinya sendiri. Jika Dinas Kesehatan mengharuskan setiap dokter berbicara seperti yang Dokter Tono harapkan, pertama harus buat pelatihan, kemudian menetapkan aturan. Baru setelah itu memberi hukuman jika ada yang melanggar."

"..."

dr. Tono terdiam. Mulutnya terbuka tetapi tidak mampu berkata-kata.

Tuk! Tuk!

Dr. Santoso mengetuk palu. "Cukup. Kami sudah mendapat gambarannya. Keputusan dibacakan 15 menit lagi. Sekarang istirahat."

Mendengar itu semua berdiri. Clarissa langsung keluar, tidak melihat Alvian.

Sedangkan Mbak Sari menghampiri Alvian yang masih duduk di kursinya. "Dok, Bu Clarissa tadi lancar sekali. Dua dokter IDI dan petugas Dinkes tadi mati kutu dibuatnya."

Alvian tersenyum sedikit. "Iyalah, istri siapa dulu."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!