NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Orang di Sebelahmu

Tidak ada yang berbicara setelah membaca pesan itu. Hujan masih mengguyur di luar rumah persembunyian, sementara di dalam ruangan suasana berubah jauh lebih dingin. Tatapan setiap orang perlahan berpindah dari satu wajah ke wajah lain, untuk pertama kalinya musuh tidak lagi berada di luar, musuh mungkin berdiri di antara mereka.

"Ini permainan murahan," ujar Damar sambil menggeleng pelan. "Dia hanya ingin membuat kita saling curiga."

"Mungkin." Leonard menatap kertas itu beberapa saat. "Masalahnya, itu berhasil."

Bintang memperhatikan semua orang tanpa berkedip, Viktor terlihat tegang, Damar tampak kesal, Leonard masih tenang seperti biasa sedangkan Septian terlihat berpikir keras.

"Kita tidak akan menyelesaikan apa pun dengan saling menuduh," ujar Viktor sambil mengembuskan napas panjang.

"Kau yakin?" tanya Bintang sambil melipat kertas itu. "Karena seseorang jelas memberi tahu lokasi rumah ini."

Tidak ada yang membantah karena itu adalah fakta.

Ponsel Viktor tiba-tiba berdering, semua orang langsung menoleh. Viktor melihat layar ponselnya selama beberapa detik sebelum menjawab panggilan itu.

"Ya?" tanyanya singkat.

"Apa kau yakin?" Wajahnya langsung berubah.

Tidak ada yang mendengar jawaban dari seberang, namun perubahan ekspresi Viktor sudah cukup membuat semua orang waspada.

"Baik. Jangan bergerak. Aku segera ke sana."

Panggilan berakhir.

"Ada apa?" tanya Rania.

"Orang-orangku menemukan kendaraan yang digunakan untuk membawa Raka." Viktor memasukkan ponselnya ke saku.

Semua orang langsung berdiri.

"Di mana?" tanya Bintang cepat.

"Gudang tua di kawasan pelabuhan timur."

"Kalau begitu kita berangkat sekarang," ujar Bintang sambil mengambil pistolnya.

"Tunggu." Septian mengangkat tangan. "Terlalu mudah."

"Maksudmu?" tanya Rania.

"Sejak awal mereka selalu selangkah di depan kita." Septian menatap Viktor. "Tiba-tiba sekarang mereka meninggalkan jejak yang begitu jelas?"

Suasana kembali hening karena tidak ada yang bisa membantah logika itu.

"Jebakan?" tanya Rangga.

"Kemungkinan besar."

"Kalau begitu kita tetap pergi." Bintang mengokang pistolnya. "Karena kalau Raka benar-benar ada di sana, aku tidak akan meninggalkannya."

Tiga puluh menit kemudian, iring-iringan kendaraan berhenti sekitar dua ratus meter dari kawasan gudang yang dimaksud. Hujan mulai mereda, tetapi langit malam masih terlihat gelap. Bangunan tua berdiri berjajar di sepanjang pelabuhan seperti bayangan raksasa yang mengawasi mereka.

"Tempat ini membuatku tidak nyaman," gumam Rangga sambil mengamati area sekitar.

"Aku juga," sahut Damar.

Bintang turun lebih dulu, tatapannya langsung tertuju pada sebuah gudang besar di ujung dermaga.

"Itu?" tanyanya.

"Itu." Viktor mengangguk.

Mereka bergerak perlahan, tidak ada suara, tidak ada penjaga, tidak ada tanda-tanda kehidupan dan justru itu yang membuat semuanya terasa salah.

"Terlalu sepi," bisik Rania.

"Karena memang ada yang salah," jawab Leonard pelan.

Mereka berhenti di depan pintu gudang.

"Siap?" Bintang menoleh ke arah Viktor.

Viktor mengangguk danBintang langsung mendorong pintu besi itu.

Krieeet...

Pintu terbuka perlahan, semua orang masuk sambil mengarahkan senjata ke segala arah namun yang mereka temukan membuat seluruh ruangan membeku.

Raka memang ada di sana, ia duduk di kursi dengan kedua tangan terikat tetapi tidak sendirian. Di sampingnya ada seorang pria lain yang juga terikat, pria itu memiliki wajah yang sangat familiar. Wajah yang membuat Bintang langsung berhenti melangkah.

"Mustahil..." gumamnya pelan.

Rania ikut membelalak karena pria yang terikat itu... memiliki wajah yang hampir sama dengan Bintang.

"Siapa dia?" tanya Rangga sambil mengernyit.

Tidak ada yang menjawab, Bintang berjalan mendekat tanpa berkedip dan jantungnya berdegup semakin keras setiap langkah yang ia ambil. Semakin dekat ia melihat wajah pria itu, semakin jelas kemiripan mereka.

Pria itu perlahan mengangkat kepala, tatapan mereka bertemu dan untuk pertama kalinya Bintang melihat dirinya sendiri di wajah orang lain.

"Kau..." gumam Bintang.

"Akhirnya kita bertemu." Pria itu tersenyum tipis.

Rania menelan ludah, sedangkan Viktor terlihat kehilangan warna di wajahnya.

"Dia tidak seharusnya berada di sini," ujar Viktor pelan.

"Mungkin." Suara lain tiba-tiba terdengar dari atas.

Semua orang langsung mengangkat senjata, di lantai dua gudang seorang pria berdiri di balik pagar besi sambil menatap mereka dengan santai. Pria itu tersenyum.

"Tapi malam ini banyak hal yang tidak seharusnya terjadi," ujar Ezra.

"Permainanmu berakhir." Bintang langsung mengarahkan pistol ke arahnya.

"Tidak." Ezra tertawa kecil. "Justru baru dimulai."

Kemudian ia bertepuk tangan sekali. Tepat setelah itu, puluhan lampu di dalam gudang menyala bersamaan dan dari balik peti-peti kayu, kontainer, serta lorong-lorong gelap... puluhan pria bersenjata mulai bermunculan.

Rania membeku, Rangga mengumpat sedangkan Leonard langsung menutup mata sesaat karena mereka akhirnya sadar. Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Raka, mereka datang tepat ke tengah perangkap yang sudah disiapkan sejak awal.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!