(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Kembalinya Pewaris Asli
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Udara di ruang makan terasa berubah berat, kontras dengan suasana hangat beberapa menit sebelumnya.
Tuan Herman yang berdiri di ambang pintu memperhatikan Raka dari atas sampai bawah, tatapannya sulit ditebak, antara terkejut, tidak percaya, atau justru meremehkan.
Di belakangnya, pria muda yang sejak tadi berdiri dengan postur percaya diri ikut menatap Raka dengan alis sedikit terangkat.
“Bukannya ini...” gumam pria muda itu pelan.
Raka sendiri tetap berdiri tenang, ekspresinya datar, jauh berbeda dari dirinya yang semalam baru saja pulang dengan hati yang hancur.
“Paman,” ucap Raka akhirnya sambil mengangguk kecil.
Tuan Herman tertawa pendek, tetapi terdengar sedikit kaku. “Wah, wah... ini kejutan besar,” katanya sambil melangkah masuk. “Anak yang hilang dari keluarga Pradipta ternyata masih ingat jalan untuk pulang.”
Nada bicaranya terdengar santai, tetapi ada sesuatu yang tajam terselip di balik setiap kata, Tuan Rendra langsung maju satu langkah.
“Kalau kau datang hanya untuk mencari masalah, lebih baik kau pulang,” ucapnya dingin.
Namun Herman justru tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangan. “Tenang, Kak,” balasnya. “Aku ini keluargamu, masa tidak boleh untuk mampir?”
Tatapan matanya kembali beralih pada Raka.
“Tapi serius, aku tidak menyangka,” katanya pelan. “Setelah bertahun-tahun menghilang demi perempuan itu, kamu akhirnya kembali juga.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit menegang, Selina mendecak kecil dari samping. “Sepertinya Om Herman, tidak tau etika,” ucapnya dingin.
Herman hanya tersenyum tipis. “Selina, kau masih sama galaknya.”
Lalu pria itu menarik kursi tanpa dipersilakan dan duduk santai di meja makan, seolah rumah itu miliknya sendiri.
Pria muda di belakangnya ikut duduk dengan tenang. “Kenalkan,” ujar Herman sambil menepuk bahu pria muda tersebut. “Ini Kevin, Anakku. Sekarang dia banyak membantu urusan grup.”
Kevin tersenyum tipis sambil mengangguk sopan ke arah semua orang. “Senang bertemu lagi, Kak Raka.”
Namun entah kenapa, sapaan itu terdengar terlalu dibuat-buat. Raka mengangguk kecil tanpa banyak respons.
Ia masih ingat Kevin, sepupunya yang sejak kecil selalu berada di bawah bayang-bayang persaingan keluarga besar. Sosok ambisius yang diam-diam sering dibanding-bandingkan dengan dirinya sebagai calon penerus perusahaan.
Tuan Herman melirik hidangan di meja lalu terkekeh kecil. “Wah, sarapan keluarga?” tanyanya sambil melirik Raka lagi. “Atau ini masakan seorang suami yang teladan?”
Bi Narti sampai menegang, Selina langsung memasang wajah tidak suka. Namun sebelum suasana semakin buruk, Raka justru menarik kursi dan duduk dengan tenang.
“Kalau Paman mau makan, silakan,” katanya datar. “Masih hangat.”
Jawaban itu membuat Herman sedikit mengernyit, ia tampaknya berharap reaksi lain, Raka yang dia kenal selalu meledak-ledak, kini terlihat lebih tenang.
“Maksudku bukan itu,” ucap Herman sambil tersenyum tipis. “Aku hanya penasaran saja, setelah meninggalkan semuanya, akhirnya kamu sadar juga ya, kalau dunia ini tidak semudah yang kamu pikir?”
Raka menuangkan teh ke dalam cangkirnya tanpa terburu-buru. “Banyak hal yang ku pelajari di luar,” jawabnya tenang. “Setidaknya aku jadi tahu siapa yang tulus dan siapa yang tidak, dan hanya memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan dirinya sendiri.”
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi meja makan langsung terasa hening, tatapan Herman berubah tipis. Sedangkan Kevin perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memperhatikan Raka lebih serius.
Tuan Rendra yang sejak tadi diam tanpa sadar menyipitkan mata, sudah lama sekali ia tidak melihat putranya berbicara seperti ini. Kalimat yang cukup tajam untuk membuat lawan berpikir dua kali.
Herman terkekeh kecil, meski senyum di wajahnya tampak sedikit dipaksakan. “Baguslah,” katanya santai. “Karena kebetulan aku datang untuk membahas sesuatu yang sangat penting.”
Ia berhenti sebentar lalu melirik Raka. “Soal kursi pewaris Pradipta Grup.”
Suasana langsung membeku beberapa saat, Nyonya Shanum menggenggam cangkirnya sedikit lebih erat.
Selina perlahan melipat tangan di dada, sedangkan Tuan Rendra hanya menatap adiknya tanpa ekspresi.
Herman tersenyum kecil sebelum melanjutkan, “Karena selama ini pewaris utama menghilang tanpa tanggung jawab, direksi mulai berpikir mungkin posisi itu perlu diberikan pada orang yang benar-benar siap.”
Tangannya perlahan menepuk bahu Kevin. “Dan kurasa... Kevin cukup pantas dipertimbangkan.”
Kalimat itu menggantung di udara, semua mata perlahan tertuju pada Raka, membuat ruangan mendadak hening.
Beberapa detik berlalu tanpa suara setelah ucapan Herman menggantung di udara, bahkan para pelayan yang masih berdiri di sudut ruangan ikut menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun.
Kevin terlihat tetap tenang, tetapi sorot matanya jelas mengarah pada Raka, seolah menunggu reaksi pria itu.
Namun berbeda dari dugaan semua orang, Raka justru terlihat santai. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas meja, lalu menyandarkan tubuh dengan senyum kecil yang sulit ditebak.
“Tidak bisa,” ucapnya tenang.
Herman sedikit mengernyit. “Hm?”
Raka mengangkat pandangannya lurus ke arah sang paman, sorot matanya begitu tenang sampai terasa dingin. “Karena aku yang akan menjadi penerus Papa.”
Deg.
Kalimat itu membuat suasana seketika berubah, Bi Narti sampai refleks menundukkan kepala lebih dalam, sedangkan beberapa pelayan saling berpandangan dengan gugup.
Selina yang semula melipat tangan perlahan menaikkan sudut bibirnya tipis. Sementara Tuan Rendra tetap diam, tetapi tatapannya berubah tajam ke arah putranya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raka sendiri yang mengucapkan kalimat itu. Herman tertawa kecil beberapa detik kemudian, tetapi tawa itu terdengar dipaksakan.
“Kamu serius Raka?” tanyanya sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Setelah bertahun-tahun menghilang, tiba-tiba datang lalu bilang mau mengambil posisi penerus?”
Nada suaranya mulai berubah, lebih tajam.
tetapi Raka tetap terlihat tenang tanpa terdistraksi.
“Bukankah sejak awal posisi itu memang milikku?” balasnya datar.
Kevin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Kak Raka,” katanya dengan nada sopan, meski terdengar sedikit meremehkan, “memimpin grup sebesar Pradipta bukan perkara mudah. Ini bukan soal nama keluarga saja.”
Tatapan Raka beralih pelan ke arahnya. “Aku tahu,” jawabnya singkat.
Kevin tersenyum kecil. “Kalau begitu Kakak juga pasti tahu, selama Kakak pergi, aku yang turun langsung ke banyak proyek perusahaan. Aku ikut rapat direksi, mengurus ekspansi, dan menangani investor asing,” katanya tenang. “Sedangkan Kakak?”
Tatapannya turun sekilas ke pakaian sederhana Raka.
“Katanya kerja serabutan.”
Suasana langsung terasa menusuk, Nyonya Shanum tampak tidak nyaman, sementara Selina langsung mendecak pelan.
“Sepertinya kalian memang sengaja mencari masalah,” gumamnya dingin.
Namun Herman justru ikut tersenyum tipis.
“Kevin hanya realistis,” katanya santai. “Perusahaan sebesar ini tidak bisa dipimpin oleh orang dengan pengalaman mencuci piring atau memasak sarapan.”
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi cukup untuk membuat ruangan terasa semakin tegang. Bi Narti sampai menggigit bibir bawahnya pelan.
Tatapan Tuan Rendra perlahan berubah dingin ke arah Herman, tetapi sebelum pria itu sempat membuka suara, Raka justru terkekeh kecil.
Namun entah kenapa membuat semua orang berhenti bicara,.Raka menyandarkan tubuhnya lalu menatap sang paman dengan tenang.
“Paman benar,” ucapnya pelan. “Aku memang tidak pantas...”
Ia berhenti sebentar, tatapannya perlahan bergeser ke Kevin.
“Tapi setidaknya, Aku tetap pewaris sah dari keluarga Pradipta, dan tidak ada hak untuk kalian mengklaim apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Kalimat itu membuat senyum Herman sedikit memudar, sedangkan Kevin tampak mulai kehilangan santainya.
Raka lalu menoleh pada Tuan Rendra.
“Papa,” ucapnya tenang, “aku memang pergi terlalu lama, dan aku juga terlalu banyak salah.”
Ia berhenti sesaat. “Tapi jika Papa masih mengizinkan, aku akan mengambil tanggung jawabku kembali.”
Semua mata beralih pada Tuan Rendra, termasuk Herman, yang rahangnya perlahan mulai mengeras.
Karena untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, pewaris asli Pradipta Grup akhirnya kembali.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km