Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
Anastasia melangkah masuk dengan langkah tegas dan dagu terangkat.
Hal pertama yang dia lihat, adalah sosok pria berawal dingin sedang duduk dengan aura dominasi yang sangat pekat.
Alessandro Magnus, dia tidak memakai jubah kebesaran nya, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang berotot penuh bekas luka pertempuran, yang membuat nya ketampanan nya bertambah seratus kali lipat.
Mata pria itu setajam elang, menatap lurus ke arah Anastasia yang melangkah masuk dengan gaun pengantin yang robek di bagian bawah.
"Jadi, ini hadiah dari Raja untukku?" tanya Alessandro, suaranya terdengar berat, rendah, dan dingin.
"Seorang wanita yang datang dengan kondisi berantakan dan pakaian compang-camping?" lanjut Alessandro bangkit dari duduknya, langkah kakinya terdengar menggema di seluruh aula.
Anastasia berhenti tepati tidak jauh dari Alessandro, dia tidak menunduk, justru dia menatap balik pria itu dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Dan ini penguasa Magnus? Menyambut istrinya dengan tatapan menghina tanpa sepatah kata selamat datang?" tanya Anastasia, sinis.
Nero yang berdiri di belakang Anastasia langsung menahan napas, bahkan beberapa prajurit yang berjaga di sekitar sana, langsung pucat pasi.
"Dia gila, wanita ini benar-benar gila, berani bicara seperti itu pada Grand Duke," batin Nero, cemas.
Sementara Alessandro terdiam sejenak, alisnya yang tebal sedikit terangkat, dia tidak menyangka gadis yang selama ini dikenal penakut itu berani membalas ucapannya dengan nada menantang.
"Istri?" ulang Alessandro tertawa hambar.
Tawa yang tidak menyentuh matanya sama sekali.
"Kamu pikir pernikahan ini nyata? Bagi mereka di ibu kota, mungkin iya, tapi bagi ku di sini, kamu hanyalah mata-mata yang dikirim untuk memata-matai setiap gerak-gerik ku," ucap Alessandro, dingin.
Alessandro melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di depan wajah Anastasia, tinggi badannya yang menjulang membuat Anastasia harus sedikit mendongak, namun tidak ada tanda-tanda gentar sedikit pun di wajah gadis itu.
"Mata-mata? Sayang sekali, penilaianmu salah besar, Grand Duke," ucap Anastasia dengan suara tenang namun menusuk.
"Aku tidak punya minat untuk ikut campur dalam politik kotor kalian, aku hanya butuh tempat tinggal yang aman tanpa drama murahan, jika kamu tidak ingin diganggu, aku pun tidak akan mengganggumu. Sesederhana itu," lanjut Anastasia, menatap tajam ke dalam mata Alessandro.
Alessandro menyipitkan mata nya, dia mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menyentuh dahi Anastasia.
"Kamu cukup berani bicara omong kosong. Apa kamu tidak takut padaku, Hem?" tanya Alessandro, dengan suara berat nya.
"Takut hanya untuk mereka yang lemah," jawab Anastasia tanpa mengalihkan pandangan.
"Dan aku, Alessandro Magnus, sama sekali bukan tipe wanita lemah yang kamu bayangkan," lanjut Anastasia, tersenyum miring.
Aula menjadi hening kembali, ketegangan di antara keduanya begitu kuat hingga Nina, yang berdiri di belakang, merasa seperti sedang berdiri di tengah-tengah badai petir.
"Baiklah," ucap Alessandro akhirnya menarik wajahnya dan berbalik membelakangi Anastasia.
"Karena kamu merasa cukup kuat untuk bertahan hidup, jangan salahkan aku jika nanti kamu mati karena kecerobohanmu sendiri, Tuan Han akan menunjukkan kamarmu, jangan mencoba keluar tanpa izin, atau kepalamu akan jadi hiasan di pintu gerbang," ucap Alessandro, tanpa melihat ke arah Anastasia.
"Ancaman yang membosankan," gumam Anastasia cukup keras untuk didengar Alessandro.
Alessandro berhenti melangkah, bahunya sedikit menegang, namun dia tidak menoleh, justru dia melambaikan tangannya ke arah seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Antarkan Grand Duchess ke kamar nya," perintah Alessandro dingin.
Seorang pria tua dengan pakaian pelayan yang sangat rapi muncul, itu adalah Tuan Han, ketua pelayan kastil di kediaman Magnus.
Tuan Han menatap Anastasia dengan tatapan meremehkan yang disembunyikan di balik senyum sopan.
"Grand Duchess, mari saya antar ke kamar Anda, kamar yang disiapkan memang cukup jauh dari ruang utama," ucap Tuan Han dengan nada yang terdengar seperti sedang merendahkan Anastasia.
Anastasia tahu persis apa maksudnya, mereka sengaja menempatkannya di tempat terpencil agar dia merasa terbuang dan tidak berdaya.
"Jauh atau dekat tidak masalah bagiku, Tuan Han," jawab Anastasia melangkah maju melewati Tuan Han dengan dagu terangkat.
"Asalkan kamarnya punya jendela yang cukup luas untuk melihat siapa saja yang mencoba menyelinap masuk ke kamarku di tengah malam," lanjut Anastasia, tersenyum sinis.
Tuan Han tertegun sejenak mendengar ucapan itu, lalu dia menoleh ke arah Alessandro, namun sang Grand Duke hanya mendengus pelan, seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Silakan ikuti saya, Nyonya," ucap Tuan Han, kini dengan nada yang sedikit lebih kaku.
Anastasia berjalan mengikuti Tuan Han dengan langkah anggun.
Saat dia melewati posisi Nero, dia tidak menoleh, namun langkahnya tetap mantap.
Sementara itu, Alessandro menatap kepergian istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Menarik, sangat menarik," bisik Alessandro pelan pada dirinya sendiri.
Tuan Han menuntun Anastasia melewati lorong-lorong kastil yang remang-remang.
Dinding yang terasa lembap dan dingin, memberikan kesan suram yang memang disengaja untuk mengintimidasi siapa pun yang baru datang. Nina terus menempel di belakang Anastasia, langkahnya bergetar setiap kali ada suara derit pintu kayu yang tertutup angin.
"Ini kamar Anda, Grand Duchess," ucap Tuan Han berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong.
"Grand Duke tidak menyediakan pelayan tambahan karena beliau yakin Anda terbiasa hidup sederhana di kediaman Count Starling," ucap Tuan Ham, dengan tatapan menghina.
"Kamar ini adalah tempat paling tenang di kastil," lanjut Tuan Han.
Anastasia menatap pintu itu, lalu beralih menatap Tuan Han dengan senyum tipis yang meremehkan.
"Tenang? Maksudmu terasing karena jauh dari segalanya? Tidak masalah, lagipula, aku tidak butuh perhatian berlebihan dari orang-orang yang bahkan tidak tahu cara menghormati tamunya," ucap Anastasia, dingin.
Tuan Han tersentak, wajahnya yang keriput sedikit menegang.
"Saya hanya menjalankan perintah, Grand Duchess. Selamat beristirahat," ucap Tuan Han, cepat.
Tanpa menunggu jawaban dari Anastasia, Tuan Han segera berbalik pergi, meninggalkan Anastasia dan Nina di depan kamar tersebut.
Begitu pintu dibuka, bau debu menyambut mereka.
Kamarnya memang jauh dari kata mewah, hanya berisi tempat tidur kayu, lemari tua, dan satu meja kecil.
"Nona ini kejam sekali," bisik Nina sambil menutup pintu.
"Kamar ini sangat jauh dari kamar Grand Duke, bagaimana kalau Nona butuh sesuatu di tengah malam?" tanya Nina, khawatir.
Anastasia tidak menjawab, dia berjalan masuk, lalu meletakkan tangannya di atas meja, menutup mata sejenak, memindai kondisi kamar itu dengan insting pembunuhnya.
Tidak ada jebakan racun atau hal yang membahayakan lain nya, setidaknya untuk saat ini.
"Justru ini yang aku inginkan, Nina," jawab Anastasia sambil membuka kancing gaun pengantinnya yang sudah kotor.
"Semakin jauh aku dari pusat perhatian mereka, semakin leluasa aku bergerak. Ingat, di sini tidak ada yang memantau kita," ucap Anastasia, dengan penuh penakanan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari balik pintu.