"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Hukum Semesta
Tubuh Aluna terasa lunglai seketika. Pijakan kakinya pun goyah, namun Ryuga bergerak dengan sangat cepat, menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh menyentuh tanah.
"Love... lebih baik kita bicarain masalah ini di tempat yang tepat. Bukan di sini," tutur Ryuga sembari merendahkan nada suaranya. Meski jalinan pernikahan mereka jauh dari kata hangat, namun Ryuga berusaha keras untuk menjadi sosok suami yang bisa diandalkan di saat genting seperti ini.
Aluna mengangguk lemah dalam dekapan suaminya. "Iya, Mas," balasnya sangat lirih.
Ryuga bergerak membukakan pintu mobil, meminta Aluna untuk segera masuk dan duduk di samping kursi kemudi. Setelah memastikan istrinya aman di dalam kabin, ia membalikkan tubuh, menatap tajam ke arah pemimpin Geng Bima Sakti yang masih bersimpuh di tanah.
"Vier, kita ketemu di Kafe Renjana. Aluna udah telanjur tahu semua, jadi... lo mesti jelasin ke adik lo sendiri."
Tidak ada jawaban yang keluar. Bibir Xavier seolah terkunci rapat.
Setelah Ryuga menyusul Aluna masuk ke dalam kabin dan mulai melajukan mobil putihnya, Xavier memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Ia merengkuh sepeda motor ZX-25R warna biru metalik--tunggangan kesayangannya--lantas berkendara menyusul mobil Ryuga yang sudah terlebih dahulu melesat membelah guyuran air langit.
Ryuga sengaja memesan ruang privasi yang tertutup rapat. Ia tidak ingin obrolan krusial mereka di pagi ini sampai terganggu oleh keriuhan para pengunjung kafe yang kebetulan sedang cukup padat.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu, atmosfer njawani langsung terasa. Mata mereka dimanjakan oleh keelokan interior yang tertata rapi di dalam lemari kaca. Namun, bagi Aluna dan Xavier, keindahan klasik yang syahdu itu sama sekali tidak memiliki daya tarik, apalagi mampu menghalau ketegangan yang menyesakkan dada. Itu yang mereka rasa saat ini.
"Vier, lo ganti baju dulu. Jangan sampai The Unbeatable tiba-tiba demam terus pingsan gara-gara kehujanan," ujarnya sambil menyerahkan paper bag berisi pakaian yang tadi sempat dibelinya di Azka Collection, butik yang berdiri bersebelahan dengan Kafe Renjana.
Xavier sejenak terdiam, tangannya terulur ragu menerima paper bag dari tangan Ryuga. Dengan langkah lunglai, ia berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Dua cangkir kopi Arabika dan secangkir vanilla latte kini telah tersaji di atas meja, berteman aneka camilan hangat khas Kafe Renjana: pisang goreng kepok bertabur gula palem, singkong goreng merekah, dan jadah bakar.
Ryuga menyesap kopinya perlahan, lalu mengunci atensinya pada Xavier yang baru saja duduk setelah berganti pakaian.
"Lo udah siap ngejelasin?" tanyanya dengan nada khas yang terdengar santai. Pertanyaan itu tentu ia tujukan pada kakak iparnya.
Xavier mengangguk samar. Lantas meraup udara dalam-dalam--mengumpulkan kekuatan sebelum mengutarakan penjelasan pada Aluna mengenai perbuatan bejat yang telah ia lakukan terhadap Sukma.
Tiga puluh menit berlalu. Keheningan merayap turun seusai Xavier mengutarakan semuanya dengan suara yang terdengar berat, bergetar, dan menyiratkan rasa bersalah yang teramat mendalam.
Aluna tak kuasa lagi membendung air matanya yang luruh begitu saja, mengiringi rasa kecewa dan amarah yang seketika membakar dada, tepat setelah ia mengetahui kebejatan Xavier--kakak kandung yang selama ini sangat disayangi dan dihormatinya.
Dengan suara pecah menahan isak, ia menumpahkan seluruh rasa kecewanya yang telanjur membubung tinggi dan menatap lurus mata elang kakaknya yang kini meredup.
"Kak Vier sadar nggak, sih? Kakak itu punya adik perempuan! Aku dan Kak Karina!" tangis Aluna akhirnya pecah, dadanya naik turun menahan sesak. "Coba Kak Vier bayangkan, gimana kalau posisi Sukma itu ada di aku atau Kak Karina? Gimana kalau ada lelaki bejat yang merenggut kesucian kami dan tega menghancurkan hidup kami sekeji itu? Apa Kak Vier bakal tinggal diam?!"
Xavier hanya bisa bungkam. Lidahnya serasa mendadak kelu dan kaku. Letupan amarah adik bungsunya benar-benar menampar harga dirinya telak hingga tak ada satu pun kalimat pembelaan yang mampu lolos dari tenggorokannya.
Melihat situasi yang kian memanas, Ryuga berusaha menengahi. Ia mengusap pelan bahu Aluna, mencoba membagi ketenangan. "Love, tenang dulu. Tarik napas pelan-pelan," bisiknya lembut sebelum beralih menatap Xavier.
"Sekarang mau lo apa, Vier? Lo mau terus-terusan sembunyi di balik punggung Geng Bima Sakti?" Ryuga menjeda kalimatnya sejenak, menatap dingin sang kakak ipar. "Menyombongkan pamor The Unbeatable yang sama sekali nggak pantas disematkan di nama seorang pengecut. Atau, jadi kesatria yang berani mengaku salah dan mau bertanggung jawab?"
Xavier meraup wajahnya kasar, menyugar rambutnya yang masih agak basah akibat guyuran air langit. Ketakutan yang teramat sangat akhirnya memaksa Sang Narendra membuka suara, mengungkap alasan utama kenapa ia memilih jalan menjadi seorang pengecut.
"Gue... gue takut," lirih Xavier dengan suara parau yang bergetar hebat. "Kondisi jantung Gea nggak baik. Gue nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau Gea sampai tahu perbuatan bejat yang udah gue lakuin ke Sukma. Gea bisa syok berat dan kondisinya pasti bakal langsung drop drastis. Gue nggak mau kehilangan Gea!"
Ryuga mengembuskan napas panjang, begitu pula dengan Aluna. Sepasang suami istri itu berusaha keras menahan buncahan amarah serta kekecewaan yang sebenarnya ingin sekali mereka tumpahkan. Namun, karena tahu persis bahwa kondisi kesehatan Gea memang jauh dari kata baik-baik saja, keduanya mencoba untuk menahan diri dan memaklumi.
Meski demikian, maklum bukan berarti mereka akan membiarkan Xavier tetap bungkam dan tutup mata menyaksikan kehancuran Sukma selamanya. Mereka hanya sedang memberikan kesempatan bagi Sang Narendra memilih waktu yang paling tepat untuk menguak rahasia kelam dengan lisannya sendiri.
"Vier, gue paham gimana kacaunya pikiran lo saat ini. Tapi lo mesti inget, bukan cuma Gea yang harus lo pikirin, tapi juga masa depan Sukma," ucap Ryuga sembari merendahkan nada suaranya, memberikan penekanan yang dingin.
"Lo mesti segera nyari keberadaan Sukma, minta maaf ke dia, dan tebus dosa besar lo. Mengenai Gea... mau nggak mau, lo mesti jujur sama dia sebelum orang lain yang mendahului. Kalau sampai orang lain yang bongkar, itu bisa berakibat jauh lebih fatal buat jantungnya."
Xavier bergeming. Jantungnya berdenyut nyeri. Perasaannya serasa tak keruan kala terbayang apa yang akan terjadi jika ucapan Ryuga benar-benar terbukti di kemudian hari.
Bisa saja Gea--gadis yang teramat dicintainya itu--langsung anfal jika sampai ada orang lain yang mendahului membeberkan fakta menyakitkan: bahwa Xavier Narendra Aditama telah menodai marwah seorang gadis yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun.
Rongga dada Xavier mendadak terasa begitu sempit dan terhimpit, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam ruangan privasi Kafe Renjana sengaja ditarik paksa oleh takdir yang kini berbalik memusuhinya.
Sumpah serapah Sukma mulai menjadi nyata. Ia yang dulu selalu memuja, mencintai, dan menyebut nama Xavier dalam bait doa malamnya, perlahan-lahan telah menjelma menjadi neraka terpanjang bagi Sang Narendra.
Sementara itu, jauh di Desa W...
Sukma menemukan ketenangan dalam pelukan hangat orang-orang baik yang teramat sayang dan berempati padanya. Kehadiran mereka sejenak membuatnya terlupa pada bayang-bayang kelam yang hampir membuatnya menyerah pada kehidupan.
Senyum Sukma seketika mengembang begitu sepasang kakinya mulai menginjak pelataran Yayasan Abimana. Di sana, indra penglihatannya langsung tertuju pada gurat wajah ceria anak-anak desa--yang rupanya memiliki garis nasib sama dengan dirinya: yatim piatu.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier