NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Meski hari itu matahari bersinar terang benderang, menembus kaca-kaca jendela besar dan memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan, namun cahaya itu tidak mampu menembus ketegangan yang kini menyelimuti hati dua manusia yang sama-sama keras kepala, Sherina Mutiara dan Arsya Abrisam.

Sejak hari penyerahan tugas yang berakhir dengan penilaian dingin namun terselip kekaguman rahasia itu, hubungan keduanya berada di ambang batas yang sangat tipis.

Arsya, yang mulai merasa ada sesuatu yang berubah di hatinya namun berusaha ia tolak mati-matian, justru bersikap semakin tajam, semakin kritis, dan semakin keras, seolah ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa perasaan kagum yang sempat muncul itu hanyalah kekeliruan semata.

Sementara Sherina, yang telah membuktikan kemampuannya dan merasa sedikit lega, kini mulai memiliki rasa percaya diri yang lebih besar, dan tidak lagi mau diam saja menerima setiap tuduhan atau penilaian sepihak yang menurutnya tidak benar.

Pagi itu, sebuah insiden tak terduga terjadi, yang menjadi pemicu ledakan dari segala ketegangan yang selama ini tertahan. Di atas meja kerja Arsya, terdapat berkas laporan akhir mengenai proyek pengembangan produk untuk kawasan Timur Nusantara. Berkas yang telah diperbaiki dan disempurnakan oleh Sherina sesuai dengan catatan-catatan yang pernah disampaikan Arsya sebelumnya.

Berkas itu seharusnya sudah lengkap, akurat, dan siap untuk diserahkan ke tingkat manajemen yang lebih tinggi. Namun, saat Arsya sedang meneliti dokumen itu dengan ketelitian penuh, keningnya tiba-tiba berkerut dalam, matanya menatap tajam ke salah satu halaman di bagian perhitungan keuangan, dan raut wajahnya yang sedari tadi dingin kini berubah menjadi marah yang meluap-luap.

Dengan kasar, Arsya merobek sedikit berkas itu, lalu berjalan melangkah cepat menuju meja kerja Sherina. Langkah kakinya berat dan berirama keras di atas lantai marmer, seolah setiap langkahnya membawa badai kemarahan yang besar.

Seluruh ruangan seketika menjadi hening. Para staf saling pandang dengan wajah pucat, merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Mereka tahu betapa pentingnya dokumen itu, dan betapa murkanya pemimpin mereka jika menemukan kesalahan sekecil apa pun.

Sherina, yang sedang sibuk mencatat hal-hal baru di buku catatannya, terkejut saat bayangan tubuh tinggi besar Arsya tiba-tiba menaungi mejanya. Ia mengangkat wajah, dan seketika hatinya mencelos melihat ekspresi wajah pemimpin itu. Arsya terlihat sangat marah, matanya menyala merah menahan amarah, dan rahangnya mengerat kuat. Di tangannya, Arsya menggenggam berkas yang baru saja dikerjakannya dengan susah payah.

"Apa maksud semua ini?!" seru Arsya dengan suara rendah namun berisi kemarahan yang meledak-ledak, cukup keras untuk didengar oleh seluruh isi ruangan. Ia membanting berkas itu ke atas meja kerja Sherina, membuat bunyi benturan yang cukup keras, dan halaman-halaman kertas itu berantakan berserakan.

Sherina tertegun, matanya menatap berkas itu lalu kembali menatap wajah Arsya yang penuh amarah.

"Ada apa, Pak? Ada kesalahan apa lagi yang Bapak temukan? Saya sudah memeriksa berkas ini berulang kali, hingga larut malam, memastikan setiap angka dan setiap tulisan sudah benar dan tepat sesuai petunjuk Bapak."

Arsya tertawa sinis, suara tawanya garing dan penuh ejekan. Ia menunjuk salah satu baris angka di halaman yang terbuka itu dengan telunjuk tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap tersembunyi rapat di balik saku celana, seolah keberadaan tangan itu pun ikut tersulut emosi.

"Memeriksa berulang kali katamu?!" bentak Arsya, suaranya meninggi, bergema keras di ruangan yang hening itu.

"Jika kau benar-benar memeriksanya, maka kau tidak akan membiarkan kesalahan sebesar ini terlewatkan begitu saja! Lihatlah di sini! Perhitungan estimasi biaya logistik yang kau tulis ini berbeda jauh dengan data pendukung yang kau lampirkan di halaman belakang! Angkanya tidak sinkron, selisihnya jutaan rupiah! Ini adalah kesalahan fatal, Nona Mutiara! Kesalahan yang bisa membuat seluruh rencana kerja ini berantakan, kesalahan yang bisa membuat kami terlihat bodoh di mata direksi perusahaan! Dan kau berani bilang kau sudah memeriksanya dengan teliti?!"

Sherina menunduk cepat, matanya meneliti angka-angka yang ditunjuk Arsya itu dengan saksama. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat betul bagian ini. Ia ingat betul ia telah menghitungnya dengan cermat, telah membandingkannya dengan data lapangan, dan telah memastikan kebenarannya.

Namun, saat ia melihat tulisan di kertas itu, ia terkejut. Angka yang tertulis di sini berbeda dengan apa yang ia tulis sebelumnya. Ada perubahan, ada penyesuaian yang tidak ia lakukan.

Perlahan Sherina mengangkat wajahnya kembali, matanya menatap lurus ke manik mata Arsya yang masih menyala marah. Rasa sakit hati dan rasa tidak adil menyusup cepat ke seluruh jiwanya. Ia tahu betul kemampuannya, ia tahu betul ketelitiannya. Ia yakin seratus persen bahwa saat ia menyerahkan berkas ini kemarin sore, angka-angkanya sudah benar dan akurat. Perubahan ini pasti terjadi setelah berkas itu berada di luar tangannya.

"Pak Arsya," ucap Sherina dengan suara yang bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa marah yang mulai ia tahan.

"Angka-angka yang ada di sini... bukanlah apa yang saya tulis dan serahkan kemarin sore. Saya menjamin itu. Saya telah menghitung dan memeriksa bagian ini berkali-kali, hingga saya hafal betul angkanya. Saat berkas ini ada di tangan saya, semuanya sudah sinkron dan benar. Ada yang mengubahnya, ada yang mengganggunya setelah saya selesai bekerja."

Arsya mendengus kasar, menatap Sherina dengan pandangan yang semakin meremehkan dan penuh prasangka. Baginya, ucapan itu hanyalah alasan basi yang biasa dipakai orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Terlebih lagi, bagi Arsya, Sherina adalah anak orang kaya, orang yang terbiasa hidup mudah, orang yang menurutnya tidak memiliki rasa tanggung jawab yang kuat.

"Alasan!" potong Arsya ketus, matanya menatap tajam hingga membuat Sherina merasa terhimpit.

"Itu hanya alasanmu, bukan? Jika ada yang salah, pasti bukan salahmu. Pasti ada orang lain yang bersalah, pasti ada hal lain yang mengganggu. Kau tidak pernah mau mengakui bahwa sangat mungkin, hanya mungkin saja, kau yang kurang teliti! Kau yang ceroboh! Kau yang tidak serius bekerja! Seperti yang selalu saya duga, kau memang tidak memiliki rasa tanggung jawab! Bagimu, pekerjaan ini hanyalah permainan, hanyalah cara mengisi waktu luang. Kau tidak peduli jika kesalahanmu ini merugikan perusahaan, kau tidak peduli jika kesalahanmu ini membuat kami semua kerepotan. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri dan citra baikmu!"

Tuduhan itu meluncur deras dari mulut Arsya, menohok tepat ke hati Sherina. Kata-kata itu begitu tajam, begitu menyakitkan, dan begitu tidak adil. Arsya tidak mau mendengar penjelasannya sedikit pun. Ia langsung menyimpulkan semuanya berdasarkan prasangka lamanya, berdasarkan pandangannya bahwa Sherina pasti lemah dan ceroboh.

Rasa lelahnya yang selama ini ia tahan, keringat yang ia teteskan, malam-malam panjang yang ia lewati demi menyempurnakan tugas itu, semuanya seolah dianggap tidak ada, semuanya seolah dibuang begitu saja hanya karena satu kesalahan yang bahkan bukan dibuatnya.

Wajah Sherina memerah menahan amarah yang membara. Harga dirinya yang tinggi tidak mau menerima perlakuan semena-mena ini lagi. Ia tidak lagi mau menunduk diam dan menerima segala tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ia mengangkat dagunya, menatap balik mata Arsya dengan tatapan yang sama tajamnya, sama keras kepalanya, dan sama berapi-apinya.

"Pak Arsya Abrisam!" seru Sherina lantang, suaranya bergetar namun tegas, bergema memenuhi ruangan dan membuat beberapa staf terkejut hingga hampir bangkit dari kursi mereka.

"Bapak berbicara seolah-olah Bapak sudah mengetahui segalanya, padahal Bapak sama sekali tidak tahu apa-apa! Bapak menuduh saya ceroboh, menuduh saya tidak bertanggung jawab, menuduh saya menganggap pekerjaan ini permainan... semua itu hanya berdasarkan prasangka Bapak semata! Semua itu hanya karena Bapak selalu melihat saya sebagai anak orang kaya yang tidak tahu apa-apa! Bapak selalu menilai saya buruk bahkan sebelum Bapak memeriksa kebenarannya!"

Sherina menunjuk berkas yang berserakan di mejanya itu dengan tangan yang gemetar kuat.

"Saya bekerja siang dan malam untuk tugas ini! Saya mengorbankan istirahat saya, saya mengorbankan waktu saya, saya mengerahkan seluruh kemampuan saya hanya untuk membuktikan diri saya di sini! Dan hasilnya? Bapak tetap saja sama! Bapak tetap saja melihat saya dengan kacamata lama Bapak! Bapak tidak mau percaya penjelasan saya, Bapak tidak mau melihat usaha saya! Bapak hanya ingin mencari kesalahan saya, Bapak hanya ingin mencari cara untuk membuktikan bahwa dugaan Bapak adalah benar! Tuduhan Bapak ini tidak adil! Sangat tidak adil! Dan saya tidak akan menerimanya lagi!"

Arsya tertegun sejenak, tidak menyangka gadis yang selama ini terlihat lembut dan sopan itu berani berbicara balik kepadanya dengan nada setajam ini. Ia tidak menyangka ada orang, apalagi seorang bawahan, yang berani menentangnya dan menuduhnya tidak adil.

Rasa marahnya semakin memuncak, bercampur dengan rasa terkejut dan rasa ingin menang dalam perdebatan ini. Baginya, dirinya selalu benar, dan orang yang salah adalah mereka yang tidak mampu memenuhi standar kerjanya yang tinggi.

"Jangan kau ajariku tentang keadilan, Nona Mutiara!" bentak Arsya balik, wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Sherina, napasnya terasa panas.

"Akulah yang bertanggung jawab atas setiap lembar kertas yang keluar dari divisi ini! Akulah yang menanggung risiko atas setiap kesalahan yang terjadi! Dan saat ada kesalahan, saya harus mencari siapa yang bersalah! Dan saat itu terjadi pada berkas yang kau kerjakan, lalu kau bilang bukan salahmu, lalu siapa yang salah? Kau pikir ada hantu yang mengubah angkanya? Jangan mencari-cari alasan bodoh! Kau yang salah, kau yang tidak teliti, dan kau yang harus bertanggung jawab! Sikap keras kepalamu ini sama buruknya dengan ketidaktelitianmu!"

"Dan sikap Bapak yang selalu berprasangka buruk itulah yang menjadi masalah utamanya!" jawab Sherina tak kalah keras, matanya berkaca-kaca namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan pemuda itu.

"Bapak menilai saya berdasarkan siapa ayah saya, bukan berdasarkan apa yang saya lakukan! Bapak tidak pernah mau melihat bahwa saya berjuang sama kerasnya, bahkan mungkin lebih keras dari orang lain, hanya untuk diakui setara! Atau karena masa lalu Bapak, lalu menyembunyikan rasa sakit hati Bapak di balik sikap dingin dan kejam ini, lalu Bapak melampiaskan semuanya kepada saya hanya karena saya terlahir berbeda! Bapak bukan pemimpin yang adil, Pak! Bapak hanya orang yang penuh dendam dan prasangka!"

Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja dari mulut Sherina, keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, tanpa ia sadari betapa tajamnya kalimat itu menusuk langsung ke luka terbesar di hati Arsya.

Sebutan tentang masa lalu membuat darah Arsya mendidih. Wajahnya yang pucat kini berubah merah padam karena marah yang tak terhingga. Di matanya, ada kilatan rasa sakit yang samar yang berusaha ia tutupi dengan kemarahan. Ia merasa bagian paling rahasia dan paling menyakitkan dari dirinya baru saja disentil oleh gadis di hadapannya ini.

Arsya dengan suara yang hampir parau karena menahan emosi yang begitu besar, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, hingga urat-urat di lengannya menonjol.

"Kau tidak tahu apa apa tentang rasa sakit, apa itu penderitaan, dan apa itu berjuang! Kau tidak berhak menghakimi saya! Dan mulai detik ini, kau boleh percaya atau tidak, saya akan membuat hidupmu di sini jauh lebih sulit! Selama kau ada di bawah pimpinan saya, saya akan pastikan kau bekerja dengan standar tertinggi yang kau bilang mampu kau lakukan! Saya tidak akan lagi bersikap lunak, dan saya tidak akan lagi mendengarkan satu pun alasanmu! Kita lihat saja nanti, apakah kau benar-benar sehebat ucapanmu, atau kau hanya gadis manja yang pandai berdebat saja!"

Sherina menatap tajam balik, mengusap air mata yang hampir menetes dengan kasar.

"Silakan saja, Pak! Saya tidak takut! Saya akan buktikan kepada Bapak, lewat kerja nyata, bahwa saya benar-benar mampu! Dan suatu saat nanti, Bapak akan sadar betapa salahnya Bapak menilai saya, dan betapa salahnya prasangka Bapak selama ini!"

Arsya tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap Sherina dengan pandangan penuh kebencian dan tantangan, lalu dengan kasar ia berbalik badan dan melangkah pergi kembali ke ruang kerjanya, membanting pintu hingga bergema keras ke seluruh ruangan.

Di belakangnya, Sherina masih berdiri tegap di tempatnya, napasnya terengah-engah karena emosi yang meluap, di tengah pandangan rekan-rekan kerjanya yang tertegun dan diam seribu bahasa.

Insiden itu selesai, namun bukan mengakhiri masalah, melainkan justru membuat jurang pemisah di antara keduanya semakin lebar dan dalam. Keduanya sama-sama keras kepala, sama-sama memegang pendirian masing-masing, dan sama-sama merasa benar.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!