NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menarik—4

Aletha melangkah kembali ke dalam ballroom yang masih bising oleh tawa basa-basi dan denting gelas kristal. Ia mengedarkan pandangan, melihat pamannya, Pramoedya, masih tertawa kaku di antara lingkaran para pengacara dan komisaris senior. Alih-alih bergabung dan berpura-pura tertarik pada obrolan pamannya Aletha memilih menjauh dari kerumunan.

Ia berjalan menuju salah satu meja bundar kosong di sudut ruangan yang sedikit temaram. Dengan gerakan yang sangat anggun, ia mendudukkan diri di kursi beludru. Jemari lentiknya meraih garpu kecil, menikmati hidangan appetizer mewah di piringnya, lalu menyesap red wine dari gelasnya dengan pembawaan tenang. Di tengah riuhnya pesta, Aletha tampak seperti sebuah lukisan mahal yang terisolasi dari dunia—mandiri, berkelas, dan sama sekali tidak butuh pengakuan siapa pun.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Langkah kaki tegap yang sangat familier mendekat ke arah mejanya. Aura dominasi yang pekat tiba-tiba menyelubungi atmosfer di sekitar meja bundar tersebut. Aletha tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma kayu cendana dan amber yang maskulin itu sudah memberi tahu jawabannya.

Danny berdiri di sisi meja, satu tangannya bertumpu santai di sandaran kursi kosong di sebelah Aletha.

"Boleh saya duduk sini?" tanya Danny.

Suara baritonnya tidak lagi terdengar sedingin di koridor toilet tadi. Ada nada rendah yang lebih santai, bahkan hampir menyerupai sebuah permohonan terselubung.

Aletha meletakkan gelas wine-nya perlahan. Ia mendongak, menatap Danny dengan sepasang mata-nya yang jernih. Kali ini, ia tidak membuang muka. Sesuai dengan strateginya, Aletha memberikan senyuman ramah yang seolah menggambarkan ke-tulusan— senyuman hangat yang sanggup melelehkan gunung es—sembari mengangguk kecil.

"Boleh, silakan," jawab Aletha manis, nadanya terdengar sangat bersahabat namun tetap menjaga batasan yang elegan.

Begitu Danny menarik kursi dan mendudukkan tubuh tegapnya di samping Aletha, seisi ballroom mendadak seperti kehilangan pasokan udara. Obrolan para konglomerat di beberapa meja terdekat langsung terhenti selama beberapa detik.

Mata semua orang tertuju ke sudut meja bundar itu dengan tatapan tidak percaya. Para pengusaha senior saling berbisik, sementara deretan gadis muda dan model papan atas yang hadir di sana menatap Aletha dengan pandangan iri. Mereka yang sejak awal acara berdandan habis-habisan dan mengantre hanya untuk bersalaman dengan Danny, kini harus menyaksikan pria paling berkuasa di Jakarta itu justru mendatangi meja seorang mahasiswi secara sukarela.

Danny tampaknya sama sekali tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang menghakimi mereka. Ia melonggarkan sedikit kancing tuksedonya, lalu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Aletha yang kembali memotong makanannya dengan tenang.

Danny terkekeh pelan—sebuah suara renyah yang belum pernah didengar oleh karyawannya di Dirgantara Group selama bertahun-tahun. Senyum tipis yang ringan dan tulus perlahan terukir di wajah tegasnya. Gila, sang monster bisnis malam ini mulai melunak.

"Baiklah, Aletha," Danny membuka percakapan, suaranya terdengar jauh lebih hangat dan bersahabat. "Sepertinya kita terlalu kaku ya tadi. Mari kita mulai dengan obrolan ringan."

Aletha menahan diri untuk tidak melempar seringai kemenangan. Bentengnya mulai runtuh, batinnya bergejolak penuh adrenalin. Namun secara lahiriah, ia hanya membalas senyuman Danny dengan tatapan mata yang teduh. "Tentu, Mr. Danny. Kupikir Anda hanya bisa bicara soal hukum korporasi dan akuisisi saham."

"Panggil Danny saja kalau kita sedang tidak di depan pamanmu," sahut Danny santai, matanya berbinar jenaka.

Tak lama kemudian, pelayan mengantarkan menu utama berupa wagyu ribeye steak yang dimasak sempurna ke meja mereka. Aroma gurih daging premium langsung menguar. Danny memotong seiris kecil steak di piringnya dengan lihai. Namun, alih-alih memakannya sendiri, ia justru mengarahkan garpunya sedikit ke arah Aletha dengan gestur yang sangat kasual—seperti dua orang teman dekat yang sudah kenal bertahun-tahun.

"Cicipi ini," ujar Danny, nadanya terdengar ramah dan akrab. "Koki hotel ini adalah salah satu yang terbaik untuk urusan meat-grading. Kamu pasti suka."

Aletha memandangi potongan daging di depan matanya, lalu beralih menatap wajah Danny yang kini tampak begitu hangat tanpa beban kekuasaan di pundaknya. Permainan catur yang awalnya menegangkan, kini perlahan bergeser menjadi sebuah kedekatan yang berbahaya. Aletha menerima potongan itu dengan anggun, menikmati bagaimana seorang Danny Atonio kini telah masuk sepenuhnya ke dalam permainan yang ia ciptakan.

Aletha menerima potongan steak itu dengan gerakan lambat yang sangat elegan, mengunyahnya sembari mempertahankan kontak mata yang tenang dengan Danny. Di luar dugaan, pria yang dicap sebagai 'monster dingin' oleh ketiga sahabatnya di kantin kampus lalu, kini justru duduk menyamping, melipat satu kakinya, dan memusatkan seluruh atensinya hanya kepada Aletha. Obrolan mengalir lebih jauh—mulai dari selera musik, arsitektur kota Jakarta, hingga beberapa lelucon sarkas tentang betapa membosankannya acara-acara formal korporat seperti ini. Danny tertawa beberapa kali, sebuah pemandangan langka yang membuat para kolega bisnis di kejauhan semakin kasak-kusuk.

Namun, di tengah kehangatan obrolan yang mulai mencair itu, Aletha tetap menjaga benteng pertahanannya. Ia tidak memberikan segalanya, ia tetap bergerak menjadi teka-teki, menjawab seperlunya dengan cerdas tanpa terlihat terlalu menggebu-gebu.

Hingga akhirnya, jam besar di sudut ballroom menunjukkan waktu yang semakin larut. Beberapa tamu kehormatan mulai berpamitan. Aletha melirik sekilas ke arah pamannya, Pramoedya, yang tampak sedang bersiap-siap untuk pulang, mengancingkan jasnya sembari mencari-cari keberadaan keponakannya.

Danny yang menyadari perubahan arah pandang Aletha, ikut melirik ke arah Pramoedya. Pria itu menurunkan gelasnya, lalu kembali menatap Aletha dengan tatapan yang kini tampak lebih serius, namun kehilangan keangkuhannya yang biasa.

"Acara ini sudah mau selesai," ucap Danny, suaranya terdengar agak berat, seolah terselip rasa tidak rela percakapan mereka harus berakhir di sini. Ia merogoh saku tuksedonya, mengeluarkan sebuah ponsel berspesifikasi khusus yang elegan. "Boleh saya minta nomor ponselmu, Aletha?"

Aletha tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ponsel di tangan Danny, lalu menaikkan pandangannya ke wajah tegas pria itu. Sebuah senyuman misterius kembali terukir di bibir maroon-nya. Sebelum Aletha sempat membuka suara, Danny tiba-tiba menegakkan tubuhnya.

"Tunggu sebentar," ujar Danny.

Aletha mengangkat sebelah alisnya, sedikit bingung dengan perubahan sikap Danny. Namun, sedetik kemudian, ia menyadari apa yang akan dilakukan oleh CEO Dirgantara Group itu.

Danny berdiri dari kursinya. Bukannya langsung mendesak Aletha atau bersikap dominan layaknya pria kaya yang merasa berhak mendapatkan nomor wanita mana pun, Danny justru melangkah menghampiri Pramoedya yang berdiri beberapa meter dari meja mereka.

Aletha memperhatikan dari kejauhan dengan mata berbinar kagum yang terselubung. Gila, cowok ini... batin Aletha bergejolak. Danny Atonio, pria yang paling ditakuti di dunia bisnis Metropolitan, malam ini menurunkan egonya demi menjaga tata krama di depan seorang pengacara senior. Dia tidak bertingkah seperti bajingan kaya yang biasa Aletha temui; dia menunjukkan kelasnya sebagai seorang pria terhormat.

Danny berhenti di depan Pramoedya. Jelas terlihat bagaimana tubuh Pramoedya sedikit menegang karena terkejut dihampiri secara personal oleh sang penguasa Dirgantara Group.

"Pak Pramoedya," panggil Danny dengan suara bariton yang sopan.

"Ah, iya, Mr. Danny? Ada yang bisa saya bantu sebelum saya pamit?" tanya Pramoedya dengan sikap hormat.

Danny mengangguk tipis, melirik sekilas ke arah Aletha yang masih duduk di mejanya, lalu kembali menatap Pramoedya. "Saya sangat menikmati mengobrol dengan keponakan Anda malam ini. Jika Anda tidak keberatan, saya ingin meminta izin untuk meminta nomor ponsel Aletha. Apakah diizinkan?"

Mata Pramoedya membelalak di balik kacamatanya. Ia nyaris tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Danny Atonio? Meminta izin kepada dirinya hanya untuk meminta nomor telepon seorang mahasiswi? Ini benar-benar di luar nalar. Di lingkaran atas, semua orang tahu Danny tidak pernah mempedulikan perasaan atau izin siapa pun jika dia menginginkan sesuatu. Tapi malam ini, di hadapan Pramoedya yang usianya jauh lebih tua, Danny memilih untuk menundukkan kepalanya sejenak demi sebuah etika.

Pramoedya berdeham, mencoba menguasai rasa terkejutnya yang luar biasa. "Ah... tentu, tentu saja, Mr. Danny. Jika Aletha sendiri tidak keberatan, saya sama sekali tidak punya alasan untuk melarang. Itu sepenuhnya hak Aletha."

"Terima kasih, Pak Pramoedya. Saya menghargai hormat Anda," jawab Danny dengan senyum tipis yang sangat sopan, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.

Danny berbalik dan melangkah kembali ke meja bundar, di mana Aletha sudah menunggu dengan menopang dagunya menggunakan satu tangan. Tatapan mata Aletha malam ini benar-benar dipenuhi oleh kepuasan yang mutlak. Taruhannya dengan Angelina, Chelsea, dan Electra? Rasanya hadiah-hadiah mewah itu sudah berada di dalam genggamannya bahkan sebelum malam berganti.

Danny kembali duduk di samping Aletha, menyodorkan ponselnya yang layarnya sudah menampilkan menu kontak kosong.

"Pamanmu sudah memberi lampu hijau," ucap Danny dengan nada suara yang sedikit menggoda, senyum ringannya kembali muncul. "Sekarang, tinggal keputusanmu, Aletha Adinata. Apakah saya bisa mendapatkan nomor ponselmu, atau saya harus mengerahkan seluruh tim IT Dirgantara Group hanya untuk mencari tahu kontak seorang mahasiswi semester tiga?"

Aletha terkekeh pelan, suara tawanya terdengar begitu memikat di telinga Danny. Ia mengambil ponsel mahal itu dari tangan Danny, jemari lentiknya dengan cepat mengetikkan deretan angka di sana.

"Anda tidak perlu seputus asa itu, Danny," sahut Aletha dengan nada santai sembari menyerahkan kembali ponsel tersebut. "Gunakan dengan bijak. Saya tidak suka pria yang terlalu sering meneror saya."

Danny menerima ponselnya, menatap nama Aletha yang kini resmi tersimpan di sana. "Saya tidak berjanji, Aletha. Tapi saya pastikan, pesan pertama saya tidak akan membuatmu bosan."

Malam itu, di bawah pendar lampu kristal Hotel Mulia, langkah pertama di atas papan catur telah selesai diambil. Aletha berjalan pulang bersama pamannya dengan senyum kemenangan yang tertahan, sementara Danny Atonio berdiri di lobi, menatap layar ponselnya dengan binar mata yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun—binar seorang pemburu yang akhirnya menemukan lawan yang sepadan.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!