Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Hal Yang Tidak Disadari
Perubahan kecil sering kali jauh lebih jujur dibanding pengakuan besar. Seseorang bisa berkata hidupnya masih sama, bahwa tak ada hal penting yang berubah, bahwa semua berjalan seperti biasanya. Namun kebiasaan-kebiasaan kecil hampir selalu membocorkan kenyataan lebih dulu, bahkan sebelum pemiliknya sadar sedang berubah.
Dan Raveon Arkhalis cukup peka untuk menangkap hal semacam itu.
Pagi itu kantin kampus belum terlalu ramai. Beberapa meja baru terisi setengah, suara mesin kopi terdengar dari sudut ruangan, sementara aroma roti panggang bercampur dengan udara dingin sisa hujan semalam. Cahaya matahari masuk tipis dari jendela besar, memantul di lantai yang masih sedikit lembap karena jejak sepatu mahasiswa yang baru datang.
Rave duduk di tempat biasanya, meja pojok yang menghadap pintu masuk. Segelas kopi hitam ada di depannya, masih mengepul, sementara ponselnya tergeletak tanpa disentuh sejak tadi. Sesekali matanya bergerak ke arah pintu, lalu kembali ke cangkir, seolah sedang menunggu sesuatu yang tak ingin ia akui.
Bukan karena menunggu seseorang.
Setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Namun saat Airel Virellia muncul di ambang pintu, ia langsung sadar bahwa sejak tadi memang itulah yang ia tunggu. Langkah gadis itu ringan, tas tersampir rapi di bahu, rambut diikat sederhana dengan beberapa helai jatuh di sisi wajah. Penampilannya tetap bersih dan teratur seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Rave mengernyit kecil sambil menatap lebih teliti. Ia pernah melihat Airel rapi berkali-kali, jadi perubahan itu bukan soal baju atau rambut semata. Ada warna tipis di bibir gadis itu, sangat halus sampai orang lain mungkin tak akan sadar, tapi cukup jelas bagi seseorang yang terbiasa memperhatikan.
Bukan soal penampilan.
Melainkan usaha kecil yang biasanya tidak ia lakukan.
Airel berhenti sejenak setelah masuk. Pandangannya berkeliling ruangan, bergerak dari meja ke meja, lalu ke sudut dekat kasir, baru kemudian menuju kursi kosong dekat jendela. Gerakan itu cepat, tapi tidak luput dari mata Rave.
Ia sedang mencari seseorang.
Bukan meja.
Bukan Kalista yang belum datang.
Seseorang.
Rave menyandarkan punggung ke kursi dan menghela napas pendek. Ia mengangkat cangkir kopi, menyesap sedikit, lalu tersenyum tipis tanpa rasa lucu.
Perubahan pertama. Airel kini selalu melihat pintu lebih dulu saat datang.
Ia bangkit membawa kopinya dan berjalan ke meja dekat jendela. Airel sedang membuka tas saat kursi di depannya ditarik pelan.
“Kamu datang pagi,” kata Rave.
Airel mendongak lalu menatapnya datar. “Kamu juga.”
“Ini tempat umum. Aku boleh duduk?”
“Kalau kamu tanya begitu, berarti tetap duduk.”
Rave menarik kursi dan duduk tanpa membantah. Ia meletakkan cangkir di meja, lalu memperhatikan Airel mengeluarkan kotak makan kecil dari dalam tas. Tutupnya dibuka, menampilkan buah potong yang ditata rapi dan sepotong roti isi.
Rave menatap beberapa detik.
Perubahan kedua. Airel membawa sarapan.
Dulu gadis itu sering datang dengan perut kosong lalu beralasan tidak sempat makan. Kadang ia hanya membeli air mineral dan berkata nanti makan siang sekalian. Kini ia justru datang dengan bekal lengkap.
“Kamu sakit?” tanya Rave santai.
Airel menatapnya heran. “Apa?”
“Kamu sarapan.”
“Orang sarapan itu normal.”
“Buat kamu, langka.”
Airel mendecak pelan sambil menusuk potongan apel dengan garpu plastik. “Aku cuma lagi pengin makan pagi.”
Rave mengangguk seolah percaya, padahal jelas tidak. Ia mengenal Airel cukup lama untuk tahu bahwa perubahan kecil seperti ini hampir selalu punya alasan. Dan biasanya alasan itu bernama seseorang.
Beberapa menit kemudian Kalista datang sambil membawa minuman dingin dan roti bakar. Begitu melihat mereka duduk berhadapan, gadis itu langsung menyeringai.
“Wah, lengkap banget pagi-pagi,” katanya sambil menarik kursi di samping Airel. “Kalian mulai rapat harian?”
“Enggak,” jawab Airel terlalu cepat.
Kalista menatap wajah sahabatnya beberapa saat, lalu menyipitkan mata. “Kamu pakai lip balm warna?”
Airel refleks menyentuh bibirnya. “Enggak.”
“Bohong. Ada tint sedikit.”
Rave diam sambil menyesap kopi. Ia tidak perlu ikut bicara karena ekspresi Airel sudah cukup menjawab semuanya. Gadis itu memalingkan wajah dan pura-pura sibuk makan, tapi telinganya mulai memerah.
Perubahan ketiga. Airel memperhatikan hal-hal kecil pada dirinya sendiri.
Kalista tertawa kecil. “Siapa nih?”
“Apaan sih,” gumam Airel.
Rave melihat cara Airel menghindari tatapan mereka. Ia tidak kesal, tidak juga membela diri berlebihan. Yang terlihat justru rasa malu yang tipis dan canggung.
Dan itu jauh lebih jelas dari pengakuan apa pun.
Setelah kelas siang selesai, koridor gedung utama dipenuhi mahasiswa yang baru keluar ruangan. Suara obrolan bercampur langkah kaki memenuhi lorong panjang. Rave yang baru turun dari lantai tiga melihat Airel berdiri dekat jendela sambil menatap layar ponselnya yang mati.
Bukan sedang bermain ponsel.
Melainkan memeriksa pantulan wajahnya di layar gelap itu.
Ia merapikan poni, mengusap bahu kemeja, lalu cepat-cepat menyimpan ponsel ketika sadar ada yang memperhatikan. Rave berjalan mendekat dengan kedua tangan masuk saku.
“Serius nanya,” katanya. “Kamu sakit apa jatuh cinta?”
Airel memutar mata. “Kamu ganggu banget.”
“Berarti pilihan kedua.”
Airel hendak berjalan pergi, tapi Rave menyamai langkahnya. Mereka berhenti di dekat tangga yang menghadap halaman belakang.
“Kamu berubah,” ucap Rave.
“Semua orang berubah.”
“Bukan gitu maksudku.”
Airel menoleh, lalu menyilangkan tangan. “Terus gimana?”
Rave menatapnya sebentar, mencoba mencari kata yang tepat. “Kamu lebih sering bengong.”
Airel diam.
“Lebih sering lihat pintu.”
Tatapan gadis itu beralih ke lantai.
“Lebih rapi.”
Airel memalingkan wajah.
Rave menarik napas, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan. “Dan lebih hidup.”
Kalimat terakhir membuat Airel tidak segera menjawab. Angin dari jendela lorong masuk perlahan, menggerakkan ujung rambutnya. Ia menatap halaman bawah cukup lama sebelum berbicara.
“Aku dulu mati, ya?”
“Enggak.” Nada suara Rave melunak. “Tapi kamu kayak jalan sambil nunggu sesuatu yang enggak datang.”
Airel menggenggam tali tasnya lebih erat. Ada jeda cukup panjang sebelum ia berkata pelan.
“Mungkin sekarang ada sesuatu yang datang.”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat dada Rave menegang. Tidak ada nama disebut, tidak ada pengakuan langsung. Namun ia tahu maksud kalimat itu.
“Seseorang?” tanyanya.
Airel tidak menjawab. Sudut bibirnya hanya bergerak tipis, nyaris seperti senyum yang ditahan.
Itu lebih jelas dari kata apa pun.
Rave menghela napas pelan. Di kepalanya, satu nama langsung muncul tanpa perlu dipikirkan lama.
Zevarion Hale.
Ia pernah beberapa kali melihat cara pria itu memandang Airel. Tenang, tidak terang-terangan, tetapi terlalu sadar untuk disebut kebetulan. Belakangan, Zev juga terlalu sering berada di tempat yang sama dengan gadis itu.
“Kamu percaya sama dia?” tanya Rave tiba-tiba.
Airel menoleh cepat. Ekspresinya berubah sedikit lebih serius.
“Aku bahkan belum tahu dia sepenuhnya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Karena aku memang belum punya jawaban.”
Rave menatap lurus ke matanya. “Justru itu yang bikin aku nanya.”
Airel mengernyit tipis. “Kamu kenapa?”
Rave mengalihkan pandangan ke bawah tangga. Ia sendiri tidak suka nada suaranya tadi. Terlalu tajam, terlalu menunjukkan bahwa ia peduli lebih dari yang seharusnya.
“Enggak kenapa-kenapa,” katanya akhirnya. “Aku cuma enggak suka orang misterius.”
Airel tertawa kecil. “Lucu. Kamu ngomongin orang misterius.”
“Bedanya aku jujur kalau enggak jelas.”
Airel menggeleng sambil mulai menuruni tangga. Namun langkahnya terlihat lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu. Bahunya lebih rileks, wajahnya lebih mudah tersenyum, dan ada cahaya kecil yang dulu lama menghilang.
Rave memperhatikannya dari belakang.
Seseorang memang sudah masuk ke hidup Airel.
Dan yang paling mengganggu, orang itu berhasil melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal dilakukan siapa pun.
Membuat Airel kembali terlihat hidup.
Sore harinya, Rave berdiri di area parkir sambil memainkan kunci motor di jari. Matahari mulai turun, memberi warna jingga di gedung-gedung kampus. Dari kejauhan ia melihat Airel berhenti di gerbang samping sambil memegang tali tas.
Beberapa detik kemudian, Zev datang dari arah berlawanan.
Mereka tidak langsung berdiri rapat. Tidak ada sentuhan berlebihan atau tingkah yang menarik perhatian. Hanya percakapan singkat, lalu keduanya berjalan bersama ke arah jalan raya dengan langkah santai.
Biasa saja.
Terlalu biasa, justru karena itu terasa dekat.
Rave menatap pemandangan itu dengan rahang mengeras. Ia tidak membenci Zev. Ia bahkan belum cukup mengenal pria itu untuk punya alasan membenci.
Namun nalurinya berkata satu hal.
Ada sesuatu yang tidak sederhana di balik Zevarion Hale.
Cara pria itu kadang tampak mengenal Airel sebelum benar-benar mengenalnya. Cara ia mendekat lalu menjauh, seolah menahan sesuatu yang tak ingin dibuka. Cara kehadirannya mengubah Airel begitu cepat.
Semua itu tidak terasa tenang.
Rave menunduk, menggenggam kunci motornya lebih erat. Ia tahu dirinya tidak berhak mengatur hidup Airel, apalagi menentukan siapa yang boleh dekat dengannya.
Namun bukan berarti ia akan diam saja.
Jika seseorang masuk ke hidup gadis itu, maka orang itu juga akan berhadapan dengannya. Dan bila Zev membawa sesuatu selain kebahagiaan, Rave berniat menjadi orang pertama yang menyadarinya.