NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 5: Jamuan Berdarah

Sang Penjaga Rahasia

Tiba-tiba, dinding ruang kerja itu hancur berantakan. Seorang pria dengan baju zirah hitam legam dan helm berbentuk kepala serigala masuk. Ia adalah Panglima Seta, pembunuh nomor satu di Kota Karang Hitam.

"Kakek tua itu benar," ucap Seta dengan suara dingin yang bergema di dalam helmnya.

"Dan hari ini, kepalamu akan menjadi persembahan bagi tuan kami."

Seta menghunuskan pedang besarnya yang mengeluarkan api hitam.

Wussss!

Udara di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat panas dan menyesakkan.

Raka berdiri di depan Ki Ageng, melindunginya. Ia melepaskan jubah sutranya, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan tanda naga di dadanya yang kini mulai berdenyut kencang, memancarkan cahaya emas yang menyilaukan.

"Ki Ageng, tetaplah di belakangku," perintah Raka.

Seta melompat maju, mengayunkan pedang apinya. Raka dengan santai menangkis dengan tangan kosong yang kini dilapisi aura keemasan padat.

Clanggg!

Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan seluruh furnitur di ruangan tersebut."

"Hanya segini kekuatanmu?" tantang Raka.

Raka memusatkan energinya ke kaki.

Booms!

Ia melesat maju, memberikan serangkaian pukulan beruntun yang mengeluarkan suara seperti guntur."

Bugh! Bugh! Bugh!

Seta terdesak mundur, setiap pukulan Raka menghancurkan bagian dari baju zirah hitamnya. Di tengah pertarungan, Raka merasakan sebuah dorongan insting baru. Ia mengulurkan tangannya ke udara, dan entah dari mana, butiran cahaya emas berkumpul membentuk sebuah tombak cahaya.

"Mati Ka...uuuu!" teriak Raka.

Siuuuuutttt...

Tombak itu menembus bahu Seta, memaku pria itu ke dinding batu. Seta melolong kesakitan saat api hitamnya padam oleh cahaya suci Raka.

Ki Ageng mendekati Raka yang masih terengah-engah. "Kau harus pergi sekarang, Raka.

Ambil ini." Ki Ageng memberikan sebuah batu kristal kecil yang berisi peta bintang.

"Peta ini tidak akan membawamu ke Gunung Meru lewat jalur biasa, tapi lewat Gerbang Dimensi.

Cepat! Pengawal yang lain akan segera datang!"

Raka mengangguk. Ia mengangkat tubuh kurus Ki Ageng di pundaknya. "Aku tidak akan meninggalkanmu di sini."

Raka berlari menuju jendela besar yang menghadap ke laut lepas. Tanpa ragu, ia melompat dari ketinggian puluhan meter.

Byuuurrr!

Mereka tenggelam dalam air laut yang dingin, sementara di atas tebing, kediaman Gubernur mulai terbakar hebat akibat sisa-sisa energi pertarungan tadi.

Di bawah permukaan air, Raka melihat kristal di tangannya bersinar, menunjukkan jalan menuju sebuah gua bawah laut yang tersembunyi.

Perjalanannya mencari sang pemberi kekuatan kini telah menemukan titik terang, namun ia tahu, perang besar yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Cahaya kristal yang diberikan Ki Ageng Selo memandu mereka menembus terowongan bawah laut yang sempit.

Raka berenang dengan kekuatan luar biasa, satu tangannya mendekap Ki Ageng yang mulai kehabisan napas.

Tiba-tiba, mereka tersedot ke dalam sebuah pusaran air vertikal yang membawa mereka ke atas. Begitu mereka muncul di permukaan, Raka ternganga..

Mereka tidak lagi berada di laut lepas yang gelap. Mereka berada di sebuah danau kristal di tengah pulau yang tidak ada dalam peta mana pun.

Langit di atas pulau ini aneh, ada tiga buah matahari kecil yang menggantung diam, memancarkan cahaya jingga yang abadi.

Raka menyeret Ki Ageng ke tepian pasir putih yang halus.

"Tempat apa ini, Ki?"

Ki Ageng terbatuk, mengeluarkan air asin dari paru-parunya.

"Ini adalah... Lembah Dwipantara.

Tempat di mana waktu berhenti. Di sinilah sang Penguasa Jagat dulu berlatih sebelum dikhianati."

Raka, kau punya waktu yang sangat sedikit. Penguasa Lembah Kelam sudah merasakan bangkitnya kekuatanmu. Kau harus menguasai teknik Sembilan Matahari sekarang juga." Raka mengangguk."

Setelah Beberapa hari kemudian."

Latihan Tanpa Batas

Tiga hari berlalu dalam siklus latihan yang menyiksa. Ki Ageng memerintahkan Raka untuk duduk bertelanjang dada di atas puncak batu karang yang paling panas.

Raka harus menyerap panas dari tiga matahari di atasnya, menyimpannya di dalam tanda naga di dadanya, lalu mengalirkannya ke seluruh nadinya tanpa membakar dirinya sendiri.

Duar! Duar!

Setiap kali Raka gagal mengendalikan energi itu, tubuhnya meledak, melemparkannya ke dalam danau. Kulitnya memerah, otot-ototnya berkedut hebat.

"Bayangkan energi itu adalah aliran air, Raka! Jangan dilawan, tapi arahkan!" teriak Ki Ageng dari bawah.

Raka Mengangguk dan mengerti apa.yang di maksud Ki Ageng, Raka memejamkan mata. Ia memusatkan pikiran.

Suara dengungan energi mulai terdengar dari dalam tubuhnya."

Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang. Suara berat itu kembali, namun kali ini terasa sangat dekat.

"Jangan takut pada apinya, Nak. Kau adalah api itu sendiri."

Raka berteriak keras. Aaaaarrrr!

Cahaya emas meledak dari tubuhnya, membentuk tiga lingkaran cahaya di belakang punggungnya. Ia berhasil membuka gerbang ketiga dari Sembilan Matahari.

Namun, ledakan energi itu membuatnya lemas. Tubuhnya yang penuh keringat dan debu jatuh lunglai."

Malam harinya." Lembah Matahari dan Penyatuan Jiwa"

Mata Air Kehidupan

Malam itu, meski langit tetap jingga, Raka menyeret tubuhnya yang sudah lelah menuju sebuah mata air hangat di balik hutan bambu perak. Tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam. Ia butuh sesuatu untuk mendinginkan jiwanya.

Saat ia masuk ke dalam air yang bening, uap panas langsung keluar dari kulitnya. Raka bersandar pada batu besar, memejamkan mata.

Tiba-tiba ada sesosok suara" Latihan yang terlalu keras bisa merusak wadahmu, Pendekar muda."

Raka tersentak. Di depannya, muncul seorang wanita yang sangat cantik, seolah keluar dari kabut air. Ia hanya mengenakan sehelai kain sutra tipis yang nyaris transparan karena basah.

Wajahnya mengingatkan Raka pada Sekar, namun dengan aura yang jauh lebih dewasa dan mistis. Ia adalah Laksmi, roh penjaga Lembah Dwipantara.

Laksmi mendekat, berjalan di atas air dengan anggun.

"Tubuhmu terlalu panas. Kau butuh unsur dingin untuk menyeimbangkannya."

Laksmi menyentuh pundak Raka. Jemarinya yang dingin bagai es membuat Raka menyeringai kencang.

Raka merasakan getaran aneh yang menjalar dari sentuhan itu ke tulang belakangnya. Laksmi tanpa basa basi duduk di pangkuan Raka di dalam air, melingkarkan lengannya yang halus di leher Raka.

Deg...

Raka bisa merasakan detak jantung Laksmi yang tenang, berlawanan dengan detak jantungnya yang liar.

Kain sutra Laksmi yang basah menempel pada kulit dada Raka yang keras. Dalam keheningan lembah, Laksmi langsung mencium bibir Raka, Raka hanya terdiam, dan sebuah ciuman yang terasa seperti air es di tengah padang pasir.

"Biarkan aku membantumu mengalirkan energi itu," bisik Laksmi di telinga Raka.

Napasnya yang dingin memicu gairah Raka yang terpendam.

Tetapi tanpa di sadari Tangan Raka yang besar dan kasar merayap menyusuri lekuk pinggang Laksmi yang ramping, menariknya lebih dekat. Di bawah cahaya tiga matahari yang redup, mereka bersatu dalam tarian hasrat yang magis. Setiap sentuhan Laksmi bukan hanya memberikan kenikmatan jasmani, tapi juga mendinginkan jalur-jalur energi Raka yang tersumbat.

Raka menggeram rendah saat merasakan kekuatan sakti di dalam dadanya mulai stabil dan menyatu dengan kelembutan yang diberikan Laksmi."

Ruang di sekitar mereka seolah bergetar seiring dengan puncak penyatuan jiwa dan raga mereka."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!