Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Miranda segera mungkin mendekap tubuh putranya dengan dada yang sudah bergemuruh. Tubuhnya gemetar, tak menyangka pertemuan menyakitkan itu terjadi.
Dalam dekapan sang Bunda, Tama mendongak. "Bunda... Apa orang dewasa tadi juga menyakiti hati Bunda?"
Miranda menggeleng cepat. Berusaha tersenyum meskipun dadanya terasa sesak. "Nggak, sayang! Bunda nggak papa kok."
"Bunda... Andai saja Ayah masih bersama kita. Pasti Ayah bakal belain kita ya kalau ada orang yang ngehina kita," ucapan Tama menghantam tepat dada Miranda. Bocah sepolos Tama, tidak pernah tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.
Miranda mencoba tersenyum sambil terus mengusap lengan putranya. Sebagai sosok Ibu, ia tahu bagaimana terpukulnya menjadi Tama, disaat dunianya hancur sebelah. Arya bukan hanya sosok siaga. Tapi bagi Tama, Arya adalah dunianya. Arya selalu menyayangi Tama meskipun pria itu tahu, ia menikahi Miranda selepas kelahiran Tama.
Arya banyak mengajarkan kebaikan. Mengajarkan jalan menuju keabadian kelak. Meskipun Miranda pada saat dulu sempat ragu, namun karena perhatian yang tulus Arya, hatinya melunak. Setelah di pesunting, Miranda memutuskan berhijrah. Dari Arya lah Miranda mengenal jilbab sampai batas dada.
Dari Arya juga, Miranda meninggalkan semua pakaian ketatnya, dress pendeknya, terkecuali berada di hadapan suaminya sendiri.
"Sayang, kita pulang aja yuk! Ini udah sore. Kan nanti pukul 5 Tama harus mengaji," Miranda membawa putranya bangkit, dan mulai menegakan sepeda Tama.
Akan tetapi, ketika Miranda tak sengaja menoleh ke belakang, tatapanya bertemu dengan Ezar beberapa detik.
Disana, Ezar hendak menutup pintu mobil, namun pemandangan di kejauhan itu sukses membuat dadanya berdesir kembali.
"Mas... Kita melakukan ini? Bagaimana kalau aku hamil," Miranda meringsut didalam satu selimut yang sama dengan Ezar.
Dengan penuh kelembutan, Ezar memiringkan tubuhnya, telanjang dada, lalu menyapu wajah Miranda.
"Mir... Aku bersiap bertanggung jawab apapun yang terjadi sama kamu. Meskipun Tuhan kita tak sama, aku akan berusaha meminta restu sama Mamah. Aku akan mengikuti Agama kamu. Tapi ingat pesanku ya, Mir! Tunggu aku pulang. Aku hanya menyelesaikan pendidikanku 2 tahun saja."
Miranda dengan polosnya hanya dapat mengangguk patuh. Kabut asmara sudah membuat mata batinya tertutup. Dosa pun tak ada artinya.
Ezar perlahan menaikan kaca mobilnya kala tangan Sinta menjalar, menyentuh lenganya. "Sayang... Ada apa sih? Kamu mikirin apa sih, kok sejak tadi ngelamun aja?"
Pertanyaan Sinta hanya mampu Ezar jawab dengan senyum tipis cukup meragukan. Dan tak lama itu, mobil melaju kembali. Pertemuan menyakitkan itu sukses menghidupkan bara api yang telah lama padam. Dendam semakin tersulut kuat, namun di satu sisi, Ezar terkejut dengan penampilan Miranda sekarang.
"Dia berhijab? Apakah pria itu yang sudah mengubah Miranda jadi wanita muslimah? Aku harus mencari tahu dimana keberadaan pria brengsek itu. Rumah tangga kalian berdua harus hancur, agar kalian dapat merasakan bagaimana hancurnya aku dulu."
Hati Ezar bergolak. Antara cemburu yang sudah berkarat, cinta padam tanpa sulutan kekuatan. Semuanya sirna dalam penghianatan sekejab. Rasanya hampir tak kuat, melihat penghianat bahagia di atas lukanya.
Namun hingga kini. 5 tahun pun sudah berlalu. Ezar masih belum berdiri di atas kakinya sendiri untuk mencari bukti kebenaran. Karena rasa cinta serta hormatnya kepada sang ibu, apapun yang Ria katakan, itulah pedoman kekuatan untuknya. Termasuk membenci Miranda.
Mobil Ezar berhenti di depan gerbang mewah kediaman orang tua Sinta. Rencana makan malam romantis sirna, karena setelah pertemuan itu, hati Ezar mendadak gamang.
"Ezar, kamu yakin batalin dinner kita?"
Ezar masih tak bereaksi, sekedar menoleh pun tak mau. Kalimat Sinta menguar pada dinding-dinding udara, dan hanya masuk berseling keluar.
Sinta agak kesal. Wajahnya sudah menekuk. Ia sudah berniat keluar, tapi kalimat Ezar barusan cukup membuat hatinya tenang.
"Aku akan menggantinya pada hari Valentin nanti. Buang semua asumsimu, karena aku sangat sibuk!" Ezar menatap lurus kedepan. Ia mencoba meyakinkan hatinya lagi.
Sinta urungkan niatnya turun. Satu kecupan hangat berhasil mendarat pada rahang tegas Ezar.
Cup!
"It's okay, sayang! Aku dapat memakluminya," kalimat itu penuh cinta. Bibirnya melekuk indah, lalu bergegas turun.
Daaaa, Sayang......
Sinta melambaikan tangan, dan mobil Ezar kembali melaju dengan kecepatan normal.
****
Sore itu, matahari belum sepenuhnya turun. Warna jingga merebah indah, berkabut tipis menciptakan suasana hangat.
Saat ini Miranda baru saja dalam perjalanan pulang menjemput Tama belajar mengaji. Lokasinya tidak jauh. Berada di sebelah masjid perumahannya.
"Bunda... Bunda... Kata Ustadzah, besuk ada tantunan di Masjid. Dan, Tama tepilih jadi calah catu anak yang mendapat tantunan. Tapi Bunda... Kok hanya Tama sama Puni ya? Temen-temen Tama lainya tenapa nggak di ajak juga?"
Baru saja Miranda mematikan motornya di dalam garansi. Tama langsung saja memberinya sederet pernyataan yang cukup menyesakan. Dengan wajah tenang, sikap lembut, Miranda menuntun putranya untuk di ajaknya masuk ke dalam terlebih dulu.
"Bilang apa kalau mau masuk? Assalamualaikum rumahku....."
"Assalamualaikum lumahku....." Tama juga mengikuti kalimat yang sama.
Begitu masuk, Miranda menyeru putranya untuk duduk. Di depan televisi itu, tepatnya di atas karpet anak, Miranda mulai menjelaskan.
"Tama, dengerin Bunda ya, sayang! Tama 'kan anak yatim. Anak yatim itu udah nggak punya Ayah lagi. 'kan... Ayah sedang buatkan kita rumah di surga. Tama lupa ya?"
Tama agak meringis sambil menggaruk kepalanya. "Jadi... Ayahnya Puni juga sedang bangun lumah di sulga ya, Bunda?"
"Iya, Sayang... Kelak, kita akan tetap jadi tetangganya Puni terus," hanya itu kalimat yang mampu menenangkan perasaan Tama.
Puni adalah gadis kecil seusia Tama. Sama-sama kehilangan Ayahnya. Namun, Ayah Puni meninggal karena sakit yang sudah cukup parah.
Setelah memandikan Tama, dan kini bocah tampan itu sudah segar dengan aroma minyak telon yang menguar begitu bedak seperti taburan gula halus pada wajah Tama.
Aroma lembut itu membuat seisi rumah Miranda lebih menghangatkan.
"Tama... Sini deh, Bunda mau bicara sebentar," Miranda yang duduk di atas sofa, kini tampak sibuk menyiapkan semua data-data penting. Setelah melamar beberapa hari yang lalu, akhirnya Miranda di terima kerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion.
Tama seger bangkit. Dengan memakai setelan piyama spiderman itu, Tama semakin terlihat menggemaskan, apalagi bedak yang tadi belum sepenuhnya hilang.
"Apa, Bunda?"
Miranda menghentikan aktivitas geraknya. "Tama... Besuk 'kan Bunda udah mulai bekerja. Tama besuk sekolahnya sama Uti ya, sayang!"
Tama mulai sedikit berpikir. Namun setelah cukup, ia mengangguk setuju. "Baik, Bunda!"
"Ya sudah... Kamu boleh nonton tv lagi. Bunda mau sholat magrib dulu ya. Tama duduk aja di sebelah Bunda."
Malam pun berguling dengan cepat. Tak terasa matahari mulai merentangkan sinarnya, menyebarkan rasa sejuk di fajar hari.
Miranda terbangun. Biasanya, setiap subuh Arya selalu membangunkannya untuk di ajak sholat berjamaah bersama-sama. Namun kini, senyum menenangkan itu hanya tinggal kenangan.
"Kamu pria yang baik, Mas! Aku beruntung bertemu denganmu...." puas mengusap foto sang suami diatas nakas, Miranda bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Waktu berjalan sangat cepat. Dari subuh belum Istirahat, tahu-tahu sudah pukul setengah tujuh.
Miranda bangunkan putranya. Setelah semuanya siap, Tama juga sudah dalam keadaan rapi memakai seragam, Miranda bergegas menuju rumah mertuanya yang tak jauh dari perumahannya. Hanya 5 menit jika menggunakan sepeda motor.
Dan hampir pukul delapan, sepeda motor Miranda baru saja tiba di sebuah gedung mewah menjulang tinggi dengan tulisan,
~Prajaya Group~
Berdiri di depan pintu lobi sendirian, Miranda dengan setelan kerja cukup sopan dan jilbab bewarna peach senada blousenya, kini menarik napas dalam sebelum benar-benar melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Dari tempat parkir yang cukup berjarak, seorang pria tersenyum miring dibalik kacamata hitamnya.
"Rupanya, dia pertama kerja di sini? Selamat datang, Miranda. Aku tak menyangka... Tuhan merestui pertemuan kedua kita kembali. Tapi maaf jika nanti ada sedikit permainan yang menegangkan. Ku buat kamu merasakan sakittt, dan bagaimana tersudutnya kehilangan kepercayaan."
Ezar melepas kacamatanya, lalu segera turun dari dalam mobil.