NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: TOPENG SANG DERMAWAN

Hujan belum juga reda ketika mobil ambulans milik Rumah Sakit Islam Jakarta Pusat meluncur masuk ke gang sempit itu. Bukan ambulans biasa, melainkan unit VIP dengan sirine yang dimatikan, hanya lampu biru berkedip pelan memberi jalan.

Warga yang tadinya masih berkerumun, mulut terbuka lebar melihat pemandangan tak lazim ini. Dari dalam mobil turun bukan paramedis berseragam dinas, melainkan tim dokter spesialis terbaik yang biasanya hanya melayani presiden atau konglomerat. Mereka membawa tandu emas berlapis kain putih bersih, bergerak sigap namun penuh hormat

Pak RT yang tadi masih berani mengancam Aris, kini mundur perlahan, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. "Si-siapa yang memanggil ambulans sekelas ini? Di gang kumuh begini?" bisiknya pada Pak Kapolsek yang wajahnya sudah pucat pasi.

Aris tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak di samping Rina, tangannya masih menggenggam erat bahu gadis itu. Tatapannya tajam menatap Pak Hendra yang kini tampak gelisah di dalam mobil Alphard-nya.

"Ustadz Aris?" salah seorang dokter senior, Dr. Haryono, menghampiri dengan langkah cepat. Ia membungkuk hormat, sebuah gerakan yang membuat seluruh warga ternganga. "Mohon maaf kami terlambat. Tim kami sudah standby sejak Bapak mengirim pesan semalam."

Aris mengangguk pelan, wajahnya tetap datar namun matanya menyiratkan perintah tegas. "Prioritas utama: Keamanan dan kerahasiaan pasien. Pastikan tidak ada satu pun orang dari luar yang boleh mendekat, termasuk keluarga kandungnya jika mereka masih berniat menyakiti. Dan pastikan visum dilakukan oleh tim forensik terpercaya, bukan polisi lokal yang bisa disetir."

"Siap, Tuan," jawab Dr. Haryono mantap.

Kata "Tuan"?

Bu Siti yang sedari tadi terduduk lemas di atas genangan air, mendadak tersentak. Matanya membelalak menatap Aris. "T-Tuan? Ustadz... apa maksudnya? Kamu dipanggil Tuan sama dokter besar begini?"

Aris akhirnya menoleh. Untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai, topeng "ustadz miskin" itu mulai retak. Bahunya yang tadi terlihat membungkuk karena beban masalah, kini tegak lurus memancarkan aura kewibawaan yang berbeda. Aura seseorang yang terbiasa memberi perintah pada ribuan karyawan, bukan sekadar mengimami puluhan jamaah.

"Ibu Siti," suara Aris terdengar berat, berwibawa, namun tetap mengandung kesedihan yang dalam. "Saya memang seorang dai. Saya memang mengajar ngaji di musholla ujung gang ini dengan ikhlas. Tapi saya lupa memberitahu satu hal: Musholla itu, rumah sakit tempat Ibu pernah berobat gratis tahun lalu, dan yayasan yatim piatu yang menampung anak-anak korban bencana di Jawa Tengah... semuanya saya bangun."

Hening.

Suasana gang itu seolah dibekukan. Tidak ada suara motor, tidak ada suara obrolan tetangga. Hanya suara hujan yang memukul atap seng dan napas para warga yang tertahan.

"Apa... apa maksudmu?" Pak Hendra tiba-tiba membuka pintu mobilnya, turun dengan langkah goyah. Wajahnya yang tadi arogan kini dipenuhi ketidakpercayaan. "Kamu... kamu Aris Pratama? Miliarder muda yang membangun Menara Aris di Sudirman? Yang donasi triliunan untuk pendidikan Islam?"

Aris menatap Hendra lurus-lurus. Tidak ada kebencian, hanya kekecewaan yang mendalam. "Ya, Pak Hendra. Saya Aris Pratama. Saya memilih hidup sederhana di sini, menjadi ustadz kampung, karena saya ingin merasakan denyut nadi umat yang sebenarnya. Saya ingin tahu apakah agama kita masih hidup di hati rakyat kecil, atau hanya jadi komoditas politik dan bisnis seperti yang Bapak lakukan."

Aris melangkah mendekati Hendra. Langkahnya pelan, tapi setiap hentakan kakinya terasa menggetarkan tanah. Warga secara otomatis membelah jalan, memberi ruang bagi sang pengusaha itu.

"Bapak pikir uang bisa membeli segalanya?" tanya Aris pelan, suaranya terdengar jelas di tengah heningnya pagi itu. "Bapak pikir karena saya hidup sederhana, saya tidak punya kuasa? Bapak salah besar. Kekuasaan terbesar bukan pada berapa banyak rekening yang dimiliki, tapi pada seberapa banyak hati yang bisa kita lindungi."

Dr. Haryono sudah siap dengan tandu. Dua suster wanita dengan wajah ramah mendekati Rina. "Nak, mari kita ke rumah sakit. Kami akan rawat kamu seperti putri kami sendiri. Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi."

Rina menatap Aris dengan mata berkaca-kaca. "Ustadz... kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tidak dari awal?"

Aris tersenyum tipis, senyum yang sangat manusiawi, penuh kelembutan seorang ayah. "Karena kalau saya bilang siapa saya sejak awal, Nak, kalian semua akan mendekat karena uang saya, bukan karena Allah. Saya ingin dicintai karena ilmu yang saya bagikan, bukan karena rekening yang saya punya. Tapi hari ini... hari ini saya harus menggunakan 'kartu as' saya bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan keadilan tegak lurus."

Aris berbalik menghadap Bu Siti yang kini menangis meraung-raung, bukan karena sedih, tapi karena penyesalan yang amat sangat. Wanita itu menyadari betapa bodohnya dirinya. Ia telah menolak malaikat yang menyamar sebagai pengemis di depan pintunya sendiri.

"Mas... Mas Aris..." isak Bu Siti mencoba merangkak mendekati Aris. "Maafkan saya... saya tidak tahu... saya kira Mas cuma ustadz biasa... tolong... jangan biarkan anak saya dibawa pergi... saya ibunya..."

Aris berhenti sejenak. Hatinya perih melihat ibu itu, tapi prinsipnya lebih kuat. "Bu, saya maafkan ketidaktahuan Ibu. Tapi saya tidak bisa memaafkan pilihan Ibu tadi malam. Saat Ibu memilih membela pemerkosa demi uang daripada memeluk anak sendiri yang terluka. Itu bukan kebodohan, Bu. Itu pengkhianatan

Aris menoleh pada Dr. Haryono. "Bawa Rina. Pastikan keamanan maksimal. Jika ada satu orang pun yang mencoba menghalangi, termasuk polisi korup atau keluarga yang toxic, gunakan hak hukum yayasan kita. Saya akan tanggung jawab sepenuhnya."

"Siap, Tuan Aris!"

Rina dinaikkan ke atas tandu dengan penuh hormat. Sebelum ambulans berangkat, ia menoleh sekali lagi ke arah Aris. "Terima kasih, Ustadz. Terima kasih sudah menyelamatkan saya."

Ambulans itu melaju pergi, meninggalkan gang yang masih dalam keadaan syok berat

Pak Hendra berdiri terpaku di samping mobil mewahnya. Kakinya gemetar hebat. Ia baru menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukan sekadar ustadz kampung yang bisa diancam, tapi salah satu orang paling berpengaruh di negeri ini. Karirnya, bisnisnya, bahkan kebebasannya, kini berada di ujung tanduk.

"Mas Aris..." suara Pak Kapolsek tiba-tiba terdengar lirih, penuh ketakutan. "Saya... saya tidak tahu... kalau begini situasinya... saya mohon..."

Aris menatap polisi itu. "Bapak punya dua pilihan sekarang. Ikuti perintah saya untuk menangkap pelaku kejahatan sesungguhnya, atau ikut terseret sebagai bagian dari kejahatan itu karena menutup-nutupi kasus. Pilihan ada di tangan Bapak."

Polisi itu langsung menunduk dalam-dalam. "Siap, Tuan! Saya akan langsung proses penangkapan Pak Hendra sekarang juga! Tidak ada kompromi!"

Dalam hitungan menit, Pak Hendra yang tadi sombong, kini digiring dengan borgol tangan oleh polisi yang tadi ia suap. Wajahnya tertutup jaket agar tidak terlihat wartawan yang mulai berdatangan setelah mendapat bocoran informasi dari staf yayasan Aris.

Saat kerumunan bubar dan gang kembali sepi, hanya tersisa Aris yang berdiri sendirian di bawah hujan. Ia melepas kopiahnya, membiarkan air hujan membasahi wajah dan rambutnya. Rasa lelah yang luar biasa menyerbu tubuhnya.

Ia bukan superhero. Ia hanya manusia biasa yang lelah melihat kemunafikan. Ia membangun masjid dengan uang miliaran rupiah, tapi hatinya hancur melihat jemaahnya lebih mencintai uang daripada kebenaran.

Seorang anak kecil, anak tukang bakso yang biasa langganan Aris, mendekat ragu-ragu. Ia menyodorkan secangkir kopi panas yang dibungkus plastik.

"Ustadz... eh, Tuan... ini kopi," kata anak itu polos. "Biar nggak kedinginan

Aris tersenyum, menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Ia berjongkok hingga sejajar dengan anak itu. "Panggil saja Ustadz Aris, Nak. Gelar 'Tuan' itu buat di kantor. Di sini, di hadapan Allah dan kalian, saya hanya hamba yang butuh pelajaran."

Anak itu mengangguk, lalu bertanya dengan polos, "Ustadz, kenapa orang kaya jahat ya? Padahal Ustadz kan kaya, tapi baik."

Pertanyaan itu menusuk dada Aris lebih dalam daripada segala hinaan tadi pagi. Air matanya akhirnya tumpah, bercampur dengan air hujan.

"Karena harta itu ujian, Nak," bisik Aris parau. "Dan kebanyakan orang gagal dalam ujian ini. Termasuk saya, mungkin. Saya terlalu sibuk membangun masjid fisik, sampai lupa membangun masjid di hati manusia-orang di sekitar saya."

Arif berdiri, menatap langit Jakarta yang mulai cerah. Matahari muncul malu-malu di balik awan gelap.

Perjuangannya belum selesai. Menghukum Hendra itu mudah dengan uang dan kuasa. Tapi mengubah mentalitas masyarakat yang sudah terlanjur busuk oleh materi? Itu adalah pekerjaan seumur hidup.

Namun setidaknya, hari ini, satu nyawa selamat. Satu kebenaran ditegakkan. Dan satu topeng berhasil dilepas.

Aris meneguk kopinya yang pahit, lalu tersenyum getir.

"Besok," gumamnya pada diri sendiri. "Besok saya akan lanjutkan khutbah tentang kejujuran. Tanpa topeng, tanpa rasa takut. Karena Allah tidak melihat berapa saldo rekening kita, tapi seberapa bersih hati kita saat memegang kekuasaan."

Ia berjalan pulang menuju musholla kecilnya yang atapnya masih bocor. Langkahnya ringan, meski beban di pundaknya semakin berat. Karena ia tahu, perjalanan seorang pejuang kebenaran tidak pernah sunyi dari badai.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!