Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sugar baby
"Om, pernah kuliah nggak?"
Pertanyaan macam apa itu? Damon melirik Alea sebentar sebelum fokus ke jalan lagi. Baru satu menit gadis itu diam mengabaikannya, sekarang sudah kumat lagi.
"Menurutmu?"
"Ya mana aku tahu, kan yang ngejalanin hidup om, om sendiri, bukan aku. Kita juga beda generasi. Mana aku tahu om pernah jadi anak kampus yo ..."
Damon menarik nafas kasar.
"Kalau aku tidak pernah kuliah, menurutmu bagaimana aku bisa meraih gelar dokterku?"
"Eitss, jangan salah. Jaman sekarang banyak ijasah palsu loh. Asal ada duit, apapun bisa di dapat. Jaman now ini bro,"
"Semua bisa diatur," lanjut Alea santai, bahkan sempat mengangguk-angguk sendiri merasa ucapannya sangat masuk akal.
Damon mengencangkan genggaman di setir.
"Jadi menurutmu aku beli ijazah?" tanyanya datar, tapi nadanya mulai berbahaya.
Alea menatapnya lalu tersenyum lebar.
"Nggak, nggak, heheh. Jangan tersinggung dong, itu saja tersinggung. Aku cuma bilang sesuai fakta yang terjadi di lapangan. Banyak yang kayak gitu sekarang. Tapi sekelas om Damon pasti nggak mungkin kan?"
"Kau masih bertanya?"
Damon betul-betul kesal. Kalau tahu begitu ia tidak mengangkut gadis ini dan langsung ke rumah sakit saja.
"Cih, sensitif banget sih. Padahal cuma wanita yang biasanya dapat tamu bulanan, tapi dia yang sensitif."
"Alea."
"Iya?" Alea melirik Damon ceria. Seolah melupakan kata-katanya semalam yang mengatakan kalau mereka musuhan.
"Diamlah. Kau terlalu banyak bicara."
Alea mencebik lalu menggerutu pelan.
"Dasar menyebalkan."
"Aku dengar Alea."
Alea terdiam. Benar-benar diam. Hanya mencak-mencak sendiri. Damon melirik dari sudut matanya dan sudut bibirnya terangkat.
Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Tidak ada suara cerewet Alea, tidak ada celetukan random yang biasanya membuat kepala Damon berdenyut. Dan anehnya … justru itu terasa janggal. Damon melirik sekilas ke arah Alea.
Gadis itu duduk bersandar, wajahnya menghadap ke jendela. Bibirnya sedikit mengerucut, alisnya berkerut halus. Jelas, dia masih kesal. Tapi tetap memilih diam.
"Kenapa diam?" tanya Damon tiba-tiba.
Alea langsung menoleh cepat.
"Loh? Katanya disuruh diam."
"Itu tadi."
Gadis itu merengut. Rasanya dia ingin menabok laki-laki yang sedang menyetir itu tapi tidak bisa karena dia tahu dirinya lebih muda. Gak boleh gak sopan banget sama yang lebih tua. Alea mendengus pelan, menahan diri sekuat mungkin.
"Aku lagi mode tenang, jadi gak usah ajak aku bicara. Gak ada bahan juga, karena lawan bicara aku beda generasi. Nggak
sefrekuensi pokoknya."
Damon melirik sekilas, alisnya terangkat tipis.
"Beda generasi?" ulangnya pelan.
"Iya," jawab Alea cepat, masih menghadap ke jendela.
"Om tuh generasi… apa ya… generasi kaku. Sedangkan aku generasi fleksibel. Jadi ya gak nyambung. Selain itu om belasan tahun lebih tua dari aku. Om masih sadar umur kan?"
Ya ampun anak ini. Oke. Damon sudah salah mengajaknya bicara. Kalo mode tenangnya saja seperti itu, bagaimana kalau dia tidak sedang dalam mode tenang? Damon menghembuskan napas panjang, benar-benar menyerah untuk beberapa detik.
"Eh om om!"
Alea tiba-tiba bersuara kencang. Damon yang tidak siap hampir me-rem mendadak mobilnya.
"Tidak perlu teriak-teriak begitu Alea." dia melirik Alea gondok, sementara gadis itu hanya tersenyum polos tanpa dosa. Bagaimana dia bisa marah coba?
"Maaf bos, berhenti di depan sana aja. Jangan langsung di depan gerbang kampus." kata Alea.
"Kenapa?"
"Karena aku gak mau anak-anak kampus itu ngeliat aku di anterin sama laki-laki dewasa."
"Alasannya?"
"Ya karena nanti aku bakalan di kirain sugar baby, gak mau dong jadi sugar baby."
Damon tercengang sebentar lalu tertawa dongkol setengah mati. Tawa itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat Alea merasa aneh.
"Kok dia ketawa? Nggak tiba-tiba penyakit gilanya kambuh kan?"
"Aku tidak gila Alea." Damon menatapnya tajam.
"Oh, makasih udah di konfirmasi."
Damon menghembuskan napas panjang, mencoba menahan sesuatu, entah kesal, atau justru tawa yang hampir lolos lagi.
"Kau ini…" gumamnya pelan, lalu menggeleng.
Mobil akhirnya berhenti di titik yang diminta. Tidak terlalu dekat dengan gerbang kampus, tapi cukup aman untuk turun tanpa menarik perhatian.
"Turun," ucap Damon singkat.
Alea membuka seatbelt, tapi tidak langsung keluar. Ia malah menoleh, menatap Damon dengan ekspresi menilai dari ujung kepala sampai kaki.
"Apa lagi? tanya Damon datar. Alea menyipitkan mata.
"Sebenernya om ini kalau nggak jutek... Ganteng abis. Bisa aku jodohin sama emak-emak di pinggir jalan kenangan. Itu tuh, yang make-up-nya full banget. Emak-emak girang."
"ALEA!"
"Bye om! Makasih tumpangannya."
Alea segera turun dari mobil Damon sambil tertawa dan berlari sekencang mungkin. Damon menghembuskan nafas kasarnya panjang sekali.
"Astaga anak itu, nakal sekali. Lama-lama aku bisa overdosis menghadapinya."
Damon masih duduk di balik kemudi, tangannya mengetuk pelan setir mobil. Matanya mengikuti sosok Alea yang berlari menjauh, rambut setengah keringnya terayun ke sana kemari, langkahnya cepat tapi tetap ceroboh.
"Aneh," gumamnya pelan.
Ia seharusnya kesal. Bahkan sangat kesal. Gadis itu berisik, tidak tahu aturan, seenaknya bicara, dan yang paling mengganggu, selalu berhasil membuat ritme hidupnya yang rapi jadi kacau. Tapi …
Sudut bibirnya justru terangkat tipis. Damon menggelengkan kepala, lalu menyalakan kembali mobilnya. Ia melajukan kendaraan itu menuju rumah sakit, berusaha mengembalikan pikirannya ke pekerjaan. Namun entah kenapa, beberapa detik sekali bayangan Alea kembali muncul di kepalanya. Mulai dari wajah kesalnya, omelannya yang tidak ada jeda, sampai caranya menatap lurus tanpa takut saat berbicara dengannya.
"Cerewet sekali," gumamnya lagi, kali ini lebih pelan.