NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6:Mata yang Tak Bisa Berbohong

Aku memalingkan wajah, tak sanggup menahan intensitas tatapannya. Kalimatnya barusan seolah menelanjangi semua usaha kerasku untuk melupakan. Aku merasa seperti pencuri yang tertangkap basah; ingin lari, tapi kakiku sudah terikat oleh rantai masa lalu yang ia pegang erat.

"Waktunya sudah habis, Pak," ucapku lirih sambil melirik jam tangan. Suaraku masih sedikit gemetar, namun aku berusaha sekuat tenaga mengembalikan topeng dinginku. "Sesuai janji Anda, sekarang kita bicara soal proyek."

Danendra terdiam sejenak, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan—ada sisa luka di sana, namun ia segera menghela napas panjang dan mengangguk. Ia memundurkan tubuhnya, memberikan jarak yang sedikit lebih lega untukku bernapas.

"Baik. Profesionalitas yang kamu inginkan, maka itu yang akan kamu dapatkan," sahutnya. Suaranya kembali berubah menjadi bariton yang tegas dan dingin, persis seperti saat di ruang rapat tadi.

Aku segera membuka buku catatanku, mencari pelarian di balik deretan angka dan poin-poin teknis. Selama sisa makan siang itu, kami benar-benar hanya bicara soal pekerjaan. Ia mengkritik beberapa bagian dari draf yang kubuat, menuntut ketelitian yang lebih tinggi, dan memaparkan standar pusat dengan sangat perfeksionis.

Namun, di balik semua istilah teknis dan perdebatan soal anggaran, aku bisa merasakan energinya yang dominan. Ia tidak lagi menyerangku dengan kata-kata cinta, melainkan dengan kecerdasannya yang mengintimidasi. Setiap kali jari tangannya menunjuk ke arah dokumen, aku teringat bagaimana jari itu dulu sering mengacak rambutku dengan gemas.

"Saya harap revisi ini sudah selesai besok pagi pukul sembilan. Saya tidak suka keterlambatan," ucapnya sambil menutup tabletnya saat jam makan siang hampir berakhir.

"Baik, Pak. Akan saya usahakan," jawabku formal.

Kami berdiri untuk meninggalkan kafe. Saat berjalan menuju pintu keluar, Danendra tiba-tiba berhenti tepat di depanku, membuatku nyaris menabrak punggung tegapnya. Ia berbalik, menundukkan sedikit kepalanya agar sejajar dengan wajahku.

"Zal," panggilnya.

Aku mendongak, terjebak dalam jarak yang terlalu dekat.

"Kamu bisa membohongi mulut kamu dengan bahasa formal, tapi mata kamu nggak bisa bohong. Kamu masih merasa bersalah, dan itu artinya... aku masih punya ruang di sana," ia berbisik pelan, lalu tersenyum tipis sebuah senyum kemenangan yang membuat dadaku kembali berdesir hebat.

Tanpa menunggu jawabanku, ia melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Aku berdiri mematung di ambang pintu kafe, merasakan udara siang Kota J yang panas namun hatiku justru terasa membeku.

Benar kata Danendra, aku sedang memakai zirah besi yang terlalu berat. Dan pertanyaannya sekarang adalah, sampai kapan aku bisa bertahan sebelum zirah ini hancur berkeping-keping di bawah kendalinya?

Perjalanan kembali ke kantor terasa jauh lebih panjang dan menyesakkan daripada saat berangkat tadi. Keheningan di dalam mobil terasa begitu solid, seolah-olah jika aku mengetuk udara di antara kami, ia akan berdenting.

Aku membuang muka sepenuhnya ke arah jendela, pura-pura sangat tertarik pada kemacetan Kota J dan deretan pedagang kaki lima yang kami lewati. Padahal, fokusku tidak ada di sana. Fokusku tertuju pada pantulan bayangan Danendra di kaca mobil. Dari sudut mataku, aku bisa melihatnya masih sibuk dengan tablet di tangannya. Jemarinya menari lincah di atas layar, sesekali ia mengernyit serius—ekspresi profesional yang membuatnya tampak berkali-kali lipat lebih asing sekaligus berwibawa.

Rasanya aneh. Duduk sedekat ini, menghirup aroma parfum yang sama, namun dipisahkan oleh jurang tak kasat mata yang kami gali sendiri selama enam tahun terakhir.

Setiap kali mobil mengerem mendadak dan bahu kami nyaris bersentuhan, jantungku melakukan lompatan kecil yang menyakitkan. Aku membenci diriku sendiri karena masih bisa merasakan debaran itu. Aku membenci kenyataan bahwa kata-katanya di kafe tadi—soal mata yang tak bisa berbohong—masih bergema di kepalaku seperti kutukan.

Apakah aku memang terlihat semudah itu dibaca? Apakah rasa bersalahku terpampang begitu nyata sampai dia merasa punya peluang untuk kembali?

Tiba-tiba, mobil melambat saat memasuki area parkir gedung kantor. Suasana formal yang kaku kembali menyergap. Begitu mobil berhenti sempurna, Danendra mematikan tabletnya dan merapikan kemejanya. Ia tidak langsung turun.

"Revisi itu, Zal," suaranya memecah kesunyian tanpa menoleh ke arahku. "Pastikan bukan hanya sekadar angka yang kamu perbaiki, tapi ketelitianmu. Saya tidak ingin melihat staf saya melakukan kesalahan amatir hanya karena pikirannya sedang tidak di tempat."

Kalimat itu tajam. Dingin. Seolah Danendra yang berbisik lembut di kafe tadi hanyalah ilusiku saja.

"Baik, Pak. Saya mengerti," jawabku, tetap dengan nada formal yang kupaksakan sekuat tenaga.

Ia turun lebih dulu tanpa menungguku, melangkah dengan langkah lebar dan tegas menuju lobi, meninggalkan aku yang masih berusaha mengumpulkan serpihan harga diriku yang tersisa di kursi belakang. Aku menarik napas panjang, mengusap wajahku perlahan.

"Zirah ini harus lebih kuat, Azzalia. Harus," bisikku pada diri sendiri sebelum akhirnya melangkah turun dan menyusul masuk ke dalam gedung, bersiap menghadapi sisa hari yang pastinya akan terasa sangat melelahkan.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!