NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lautan Karimunjawa menjadi saksi

Suatu hari, Ahmad duduk di akar pohon beringin, membidik sasaran dengan ketapel kayunya. Plak!

Kerikil itu menghantam kaleng kaleng bekas dengan telak. Mbah Sidik yang sedang mengasah arit di dekatnya mendadak berhenti. Suara plak itu seolah-olah menjadi kunci yang membuka kotak kenangan yang terkunci puluhan tahun di kepalanya.

"Ahmad, kemari nak," panggil Mbah Sidik.

 Ahmad mendekat, matanya berbinar. "Dulu, bapak tidak pakai ketapel. Bapak pakai senapan, tapi tujuannya sama: membidik demi keselamatan orang banyak."

Mbah Sidik mulai bercerita tentang masa mudanya, saat ia memimpin sebuah kompi gerilya untuk menembus Benteng Portugis yang berdiri angkuh di atas bukit karang, tepat di pinggir pantai Jepara.

"Waktu itu, warga desa ditawan di dalam sel bawah tanah benteng itu. Penjajah Portugis sangat kejam, Ahmad. Benteng itu dijaga meriam-meriam besar yang moncongnya menghadap ke laut dan ke darat," kenang Mbah Sidik.

Sebagai komandan, Sidik muda mengatur strategi "Senyap di Bawah Bulan". Mereka merayap di antara tebing-tebing curam, mendaki dinding batu yang licin oleh lumut dan air laut. Perkelahian pecah di dalam koridor benteng yang sempit. Dentuman meriam beradu dengan pekikan takbir.

Di salah satu sel paling gelap, Sidik mendobrak pintu besi. Di sanalah ia pertama kali melihat Zaenab. Zaenab muda bukan wanita lemah; ia sedang mencoba melindungi anak-anak kecil meski tangannya dirantai. Tatapan mata Zaenab yang berani itulah yang membuat Sidik seketika bersumpah akan melindunginya seumur hidup.

***

Setelah warga berhasil dibebaskan, Sidik membawa mereka lari ke dermaga rahasia. Mereka menaiki sebuah kapal kayu besar, berniat membawa warga menjauh dari jangkauan artileri Portugis ke arah utara.

"Kita menuju Karimunjawa, Ahmad. Pulau yang jauh, agar warga bisa aman," lanjut Mbah Sidik.

Namun, alam punya rencana lain. Di tengah laut Jawa, badai besar datang. Gelombang setinggi rumah menghantam kapal mereka. Kapal itu terombang-ambing hingga akhirnya terdampar di sebuah pantai berpasir putih yang asing. Kapal mereka rusak parah.

"Dua minggu, Ahmad. Kita terjebak di sana. Tidak ada bantuan, hanya ada kelapa jatuh dan ikan yang kita tangkap. Di saat-saat sulit itulah, Bapak dan Ibu Zaenab saling mengenal. Ibu yang merawat luka-luka Bapak, dan Bapak yang menjamin tidak ada penjajah yang bisa menyentuh pulau itu."

Ketapelmu membidik kaleng, namun ingatanku membidik masa,

Saat besi-besi benteng runtuh oleh doa dan karsa.

Ada seorang gadis di balik jeruji yang pekat,

Yang membuat langkah Bapak tak lagi mengenal rasa takut yang lekat.

Lautan Karimunjawa menjadi saksi dua minggu yang sunyi,

Di mana ombak besar mengajari kami tentang janji.

Bukan sekadar pelarian dari desing peluru,

Tapi tentang hati yang mulai menemukan muara yang baru.

Ahmad, ketapel itu alat, tapi hatimulah sang penentu,

Gunakanlah untuk menjaga, bukan untuk membuat hati membatu.

Sebab sekuat apa pun benteng yang kau hadapi,

Ia akan runtuh oleh ketulusan yang kau bawa di dalam diri.

Ahmad mendengarkan tanpa berkedip. "Lalu, bagaimana cara Bapak pulang dari pulau itu, Pak?"

Mbah Sidik tersenyum misterius. "Itu rahasia antara Bapak dan Ibu. Yang jelas, saat kami pulang, kami bukan lagi sekadar komandan dan warga yang diselamatkan. Kami pulang sebagai sepasang jiwa yang sudah diikat oleh takdir laut dan darat."

Mbah Sidik mengusap kepala Ahmad. Kenangan pahit di Benteng Portugis itu kini telah menjadi manis, tersimpan rapi di balik senyuman Zaenab yang sedang menyiapkan teh di teras rumah.

Di pulau itu, suasana sangat tegang. Warga ketakutan karena mereka tahu kapal pengejar Portugis pasti sedang menyisir lautan. Zaenab, yang baru saja dibebaskan, tampak sangat kaku. Ia selalu duduk menjauh dari prajurit, sorot matanya tajam dan penuh waspada.

Suatu sore, Sidik menghampiri Zaenab yang sedang berusaha memecah kelapa dengan batu.

"Nduk, kelapa itu jangan dipukul pakai batu. Dia itu seperti perasaan wanita, harus dibelai lembut baru mau terbuka," seloroh Sidik sambil mengambil alih kelapa itu. Dengan satu sentakan parang yang presisi namun santai, kelapa itu terbelah sempurna.

Zaenab hanya mendengus. "Komandan ini bicara apa? Kita sedang terjebak, maut di depan mata, tapi masih bisa bercanda."

Sidik menyodorkan air kelapa itu dengan senyum miringnya yang khas. "Kalau mati besok, setidaknya hari ini kita mati dalam keadaan kenyang dan melihat yang manis-manis. Maksud saya air kelapanya, Nduk. Tapi kalau kamu merasa tersindir, ya syukur."

Zaenab hampir saja tersenyum, namun ia tahan. "Akang ini sombong ya? Pandai berperang tapi mulutnya seperti burung perkutut."

"Bukan sombong, Zae. Ini namanya strategi psikologis. Kalau komandannya cemberut terus, ombak besar ini bisa-bisa makin marah karena saingannya bertambah satu," jawab Sidik enteng sambil mengedipkan sebelah mata.

***

Kedamaian singkat itu pecah saat tiga kapal sekoci Portugis mendarat di sisi timur pulau. Mereka melacak jejak asap api unggun warga. Sidik langsung berubah. Aura humorisnya lenyap, berganti menjadi komandan yang tegas dan dingin.

"Semua masuk ke dalam hutan! Zaenab, kau pimpin wanita dan anak-anak ke balik gua karang. Jangan keluar sampai kau dengar siulan burung hantu dariku!" perintah Sidik dengan nada yang tak terbantah.

Di bawah rimbunnya hutan tropis Karimunjawa, Sidik dan segelintir prajuritnya melakukan perang gerilya yang mematikan. Mereka menggunakan jebakan bambu dan lubang-lubang penyamaran. Sidik sendiri bergerak seperti hantu, muncul dari balik pohon, melumpuhkan lawan, lalu menghilang lagi.

Saat fajar tiba, pasukan Portugis yang tersisa lari kocar-kacir kembali ke sekoci mereka. Mereka mengira pulau itu dihuni oleh ribuan prajurit, padahal hanya Sidik dan strateginya yang cerdik.

Setelah keadaan aman, Sidik menemukan Zaenab di depan gua. Zaenab melihat Sidik kembali dengan seragam yang sobek dan pelipis yang berdarah, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum jenaka.

"Bagaimana, Nduk? Burung hantunya sudah selesai bernyanyi," ucap Sidik lemas namun tetap berusaha menggoda.

Zaenab tidak lagi kaku. Ia berlari menghampiri Sidik, mengambil kain dari kerudungnya untuk membasuh darah di wajah sang komandan. "Akang itu gila. Kenapa masih bisa tersenyum setelah dikepung serdadu sebanyak itu?"

Sidik menatap mata Zaenab dalam-dalam. "Karena aku tahu, ada seseorang yang menunggu burung hantu itu bersiul. Zae, kalau kita selamat sampai daratan Jawa, maukah kau menemaniku naik ontel? Aku tidak punya kuda, tapi aku punya bahu yang cukup kuat untuk kau bersandar seumur hidup."

Zaenab tertunduk, wajahnya merona merah sepeti langit senja Karimunjawa. "Akang memang pandai merayu. Tapi... aku tidak mau naik ontel kalau Akang tidak berhenti bicara lucu saat aku sedang marah."

"Wah, itu syarat yang berat, Nduk! Tapi demi kamu, jangankan berhenti bicara, berhenti bernapas pun aku sanggup—tapi nanti siapa yang menyunat anak-anak kita?"

Zaenab tertawa lepas. Di saat itulah, di tengah deburan ombak besar dan sisa mesiu, cinta mereka resmi bertunas.

Di ujung parang ada ketegasan yang nyata,

Namun di ujung lidah ada rayuan yang tertata.

Portugis lari karena peluruku yang jitu,

Namun hatimu luluh karena tawaku yang menyatu.

Karimunjawa menjadi saksi dua minggu yang magis,

Di mana air mata ketakutan berubah menjadi manis.

Kau adalah benteng terakhir yang harus kutaklukkan,

Bukan dengan senjata, tapi dengan rida dan perhatian.

Ahmad, lihatlah ibumu di sana sedang tersenyum,

Mengingat masa saat bapakmu ini masih harum.

Cinta itu seperti perang, nak... butuh strategi,

Tapi yang paling utama, ia butuh hati yang takkan pergi.

Ahmad tertawa mendengar cerita Mbah Sidik. "Jadi Bapak dulu tukang rayu ya?"

"Bukan tukang rayu, Ahmad. Bapak itu hanya menyampaikan kebenaran dengan cara yang estetis," jawab Mbah Sidik sambil tertawa keras, sementara Zaenab dari kejauhan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum simpul, teringat masa-masa indah di pulau itu.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!