Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Matahari siang menyengat lapangan basket outdoor universitas, namun panasnya cuaca tidak menyurutkan intensitas permainan di sana. Suara decit sepatu kets di atas semen dan pantulan bola yang berirama menjadi latar belakang dominan. Logan Enver-Valerio, dengan kaos tanpa lengan yang basah oleh keringat, melompat tinggi. Otot-otot lengannya menegang saat ia melakukan slam dunk yang menggetarkan ring basket.
"Gila, Logan! Kau benar-benar tidak memberi kami napas!" seru Bernado, sahabat karibnya, sambil terengah-engah dan menyeka keringat di dahinya.
Logan hanya menyeringai, menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Ia meraih botol air mineral di pinggir lapangan dan meneguknya hingga setengah kosong. Di saat itulah, seorang gadis cantik dengan rok tenis pendek dan rambut kuncir kuda mendekat. Namanya Chloe, gadis yang minggu lalu sempat menjadi "target" perhatian Logan sebelum skandal foto Vivian pecah.
"Logan," panggil Chloe dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kenapa kau menghilang? Kau bahkan tidak membalas pesanku dan tidak pernah lagi menelpon. Apa aku melakukan kesalahan?"
Teman-teman setim Logan mulai saling sikut, memberikan siulan nakal yang menggoda. Mereka sudah terbiasa melihat pemandangan ini—wanita-wanita yang datang memohon perhatian pada sang pangeran kampus.
Logan menurunkan botol minumnya, menatap Chloe dengan tatapan datar yang tidak terbaca. "Kau tidak melakukan kesalahan, Chloe. Hanya saja, prioritasku sudah berubah."
"Maksudmu?" Chloe mengerutkan kening, wajahnya tampak kecewa.
"Aku sudah memiliki kekasih. Kekasih yang nyata," ucap Logan tegas.
"Wuuuuuuu!" teriakan heboh pecah dari teman-teman Logan. Bernado bahkan sampai melompat ke punggung Logan sambil tertawa keras. "Dengar itu! Si Singa akhirnya dikurung dalam kandang! Siapa wanita beruntung itu, Logan? Apa 'Wanita Dewasa' yang fotonya kau tunjukkan tempo hari?"
Logan hanya terkekeh, tidak membantah sebutan itu meski dalam hati ia merasa Vivian jauh dari kata Dewasa. Ia melihat Chloe yang kini berbalik dengan wajah memerah, berjalan pergi dengan perasaan malu sekaligus marah.
Itulah Logan. Di mata kampus, dia adalah playboy kelas berat. Dia sering mematahkan hati wanita secepat ia mencetak poin di lapangan basket. Dia membiarkan citra itu melekat padanya karena itu adalah tameng terbaik agar tidak ada yang benar-benar bisa menyentuh hatinya yang pernah hancur.
Setelah Chloe pergi, Bernado duduk di samping Logan sambil mengatur napas. Ia menatap Logan dengan rasa penasaran yang sudah lama ia simpan.
"Logan, aku serius bertanya," bisik Bernado agar tidak terdengar yang lain. "Bagaimana caranya agar wanita-wanita itu tidak ada yang hamil anakmu? Maksudku, kau mengencani begitu banyak gadis, dan kau... yah, kau punya reputasi pria yang liar. Kau kuat juga ya menahan diri agar tidak kebobolan?"
Logan terdiam sejenak. Ia menatap bola basket di tangannya, memutarnya dengan ujung jari. Sebuah senyum tipis yang penuh rahasia muncul di wajahnya.
"Kau ingin tahu rahasianya, Bern?" Logan menoleh. "Rahasianya adalah... aku tidak pernah melakukan apa yang kau pikirkan."
Bernado melongo. "Apa? Jangan bercanda. Kau Logan Enver-Valerio! Semua orang tahu kau sering menghabiskan waktu berdua dengan mereka."
Logan menggeleng pelan. "Aku hanya memberikan apa yang mereka inginkan di depan umum. Pelukan, ciuman, perhatian. Tapi tidak lebih dari itu. Bagiku, membawa wanita ke ranjang adalah jenjang yang sangat serius. Itu adalah tempat di mana aku benar-benar menyerahkan diriku. Dan sampai saat ini, belum ada satu pun dari mereka yang pantas mendapatkan itu."
Bagi Logan, s*ks bukan sekadar pelepasan biologis. Meskipun ia berpenampilan berandal dan bicara mesum, ia memiliki kode moral yang aneh. Ia menganggap ranjangnya adalah tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh wanita yang benar-benar ia cintai dan percayai—sesuatu yang belum ia rasakan lagi sejak pengkhianatan Elena.
"Jadi... kau masih 'bersih'?" tanya Bernado dengan mata membelalak.
"Tergantung definisi 'bersih' menurutmu," sahut Logan sambil berdiri. "Tapi jika yang kau maksud adalah tidur dengan mereka? Jawabannya tidak pernah."
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana di kantor Wheeler Interior Design jauh lebih kaku dan profesional. Vivian sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar laptop dengan kening berkerut. Namun, alih-alih fokus pada palet warna untuk proyek barunya, pikirannya justru melayang pada Logan.
Ia teringat bagaimana Logan menjaganya di galeri semalam. Cara pemuda itu menggenggam tangannya, cara ia menatap George dengan penuh ancaman, dan cara ia membisikkan kata-kata manis yang terasa begitu nyata.
"Fokus, Vivian. Dia hanya bocah kontrak," gumam Vivian pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Sarah masuk dengan membawa buket bunga lili putih yang sangat besar. "Nona Wheeler, ini baru saja sampai. Tanpa kartu nama, tapi kurir bilang pengirimnya adalah pria yang sangat tampan dengan motor besar."
Vivian merasakan hatinya berdesir. "Letakkan saja di sana, Sarah."
Begitu Sarah keluar, Vivian segera mendekati bunga itu. Aroma wangi lili memenuhi ruangan. Di tengah-tengah bunga, terselip sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang berantakan namun tegas.
“Jangan terlalu keras bekerja. Aku tidak mau kekasihku sakit sebelum kontrak satu bulan ini berakhir. Ingat janjimu untuk makan malam denganku lagi. - L”
Vivian tersenyum tanpa sadar. Namun, sedetik kemudian, ia teringat pada asumsinya tentang Logan. Seorang pria sepertinya, yang sangat mahir merayu dan punya wajah seperti malaikat jatuh, pasti sudah tidur dengan banyak wanita. Pasti dia hanya menggunakan teknik yang sama untuk merayuku, pikir Vivian.
Ia merasa sedikit kesal memikirkan Logan mungkin sedang tertawa bersama gadis-gadis di kampusnya saat ini. Rasa cemburu yang tidak masuk akal mulai merayap di hatinya. Ia meraih ponselnya, berniat mengirim pesan ketus, namun ia berhenti.
"Kenapa aku harus peduli?" Vivian menghela napas. "Dia bebas tidur dengan siapa pun. Kami hanya kontrak."
Namun, di dalam lubang hatinya yang paling dalam, Vivian merasa takut. Takut jika suatu saat ia benar-benar jatuh cinta pada "bocah" ini, ia hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak daftar wanita yang pernah disinggahi Logan. Ia tidak tahu bahwa Logan, sang berandal yang ia pikir sudah sangat berpengalaman, sebenarnya sedang menjaga dirinya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Vivian selama dua puluh tujuh tahun ini.
Dua jiwa yang sama-sama bersembunyi di balik asumsi dan prasangka, kini sedang berjalan di atas tali tipis antara kebohongan dan perasaan yang mulai tumbuh secara nyata.
Di kampus dan di kantor, mereka menjalani hidup yang berbeda, namun pikiran mereka terikat pada satu sama lain dengan cara yang tidak bisa lagi mereka sangkal.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya