Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Tanpa diduga Arif Muhamad benar-benar mendekati Kirana, setelah sesi diskusi selesai dia berdiri tepat di depan Kirana dengan sikap percaya diri.
Senyumnya ramah dan tenang lalu dia mengulurkan tangannya.
“Saya Arif Muhamad, from Malaysia.”
Kirana membalas uluran tangan itu. “Aku Kirana, dari Indonesia.”
Arif tersenyum. “Saya tahu.”
Kirana sedikit terkejut namun belum sempat bertanya Arif sudah melanjutkan.
“Aku suka sekali dengan pendapat kamu, tentang politik dan militer,” ujarnya terlihat tulus, Kirana tersenyum kecil sedikit tersanjung.
“Terima kasih.” sahut Kurana, Arif menatapnya lebih dalam.
“Apa kamu bersedia berdiskusi lebih lanjut? Mungkin di luar kampus?” Nada suaranya santai namun jelas itu bukan sekadar ajakan akademis biasa.
Kirana terdiam sejenak matanya memperhatikan Arif Perwira muda itu memang menarik, tampan, dan karismatik.
Kirana menarik napas pelan hendak menjawab.
“Bo,”
Namun sebuah suara memotong.
“Kirana, bisa bicara sebentar?” Damar tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya tatapannya lurus tertuju kepada Kirana.
Arif menoleh kearah Damar Kirana juga, suasana langsung berubah canggung.
“Eh, aku sedang bicara dengan saudara Arif,” ujar Kirana pelan, wajah Damar sedikit mengeras namun dia tetap menahan diri.
“Sebentar saja.” Belum sempat Kirana menolak tangan Damar sudah menggenggam pergelangan tangannya.
“Eh” Kirana terkejut Arif juga, namun Damar tidak memberi mereka ruang.
“Ikut aku.” Nada suaranya tenang tapi tidak memberi pilihan.
Kirana menoleh ke arah Arif. “Maaf"
Arif tetap tersenyum.“Iya, tidak apa-apa kita bisa diskusi lain waktu,” katanya santai.
Namun kalimat itu justru membuat rahang Damar menegang,Damar menarik Kirana sedikit lebih cepat menjauh dari tempat itu.
Begitu mereka cukup jauh Kirana langsung menarik tangannya.
“Ada apa sih?” tanyanya heran nada suaranya terdengar sedikit kesal.
“Ini kampus Damar, dan itu nggak sopan aku sedang bicara dengan orang lain.”
Damar memalingkan wajahnya beberapa detik seolah mencari kata yang tepat.
“Kamu pikir dia benar-benar mau diskusi sama kamu?” ucap Damar ketus, Kirana mengerjap.
“Maksud kamu?”
“Itu cuma alasan,” lanjut Damar. “Dia cuma,”
Damar berhenti tidak melanjutkan kalimatnya, Kirana semakin bingung.
Namun perlahan Kirana mulai memahami, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kamu,” katanya pelan, “cemburu?” Kata Kirana sedikit mesem.
Damar terhentak dia langsung terdiam, tatapannya berubah dia nampak panik, dia tidak menyangkal dan juga tidak mengiyakan.
Damar berdehem menyembunyikan kegelisahannya.
“Kelas diskusinya sudah selesai, kan?” ucap Damar, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Atau kamu masih mau ngobrol sama mereka?” Sabung Damar lagi keki.
Kirana menatapnya beberapa detik sambil tersenyum.
“Ini sudah mau pulang,” jawabnya.
Damar tersenyum tipis lalu menatap Kirana. “Ayo kita pulang sama-sama.”
“Hah?” Kirana terkejut mendengarnya, suasana hening sejenak Damar mencoba tetap tenang.
“Aku sudah lapar,” katanya datar seolah itu alasan utamanya.
Lalu Damar berjalan lebih dulu, Kirana masih diam di tempat namun akhirnya mengikuti Damar. Damar memperlambat langkahnya menunggu hingga Kirana sejajar dengannya.
“Kamu nggak keberatan kan,” ucap Damar santai, “Kalau masakin aku nasi goreng?” sambung Damar,
Kirana menoleh memperhatikannya, ada sesuatu dalam nada suaranya itu bukan sekadar permintaan sederhana.
“Jadi,” kata Kirana pelan, “ini soal nasi goreng?”
Damar tidak langsung menjawab dia hanya melirik sekilas.
“Iya.” jawabnya singkat.
“Sekarang?” tanya Kirana lagi.
“Iya, kalau kamu tidak keberatan.”
Kirana mengangkat alis. “Di apartemenku?”
Damar berpikir sejenak lalu menatapnya.
“Di apartemenku saja.” Nada suaranya sedikit lebih tegas seolah ada alasan tertentu.
Kirana tersenyum kecil dia tahu Damar sedang menyembunyikan sesuatu, perasaan Damar yang sebenarnya yang mulai sulit Damar kendalikan.
“Baiklah,” kata Kirana akhirnya. “Aku masakin nasi goreng buat kamu.” Damar menoleh dia tersenyum tipis, mereka terus berjalan berdampingan.
Tanpa sadar jarak di antara mereka kembali memudar dan kali ini bukan Kirana yang mengejar tapi Damar yang mulai mendekat.