NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Gema di Balik Memoar dan Bayang-Bayang Singapura

Waktu bergulir seperti aliran sungai yang tenang namun menghanyutkan. Abimanyu kini bukan lagi bayi merah yang hanya bisa menangis; di usia menjelang satu tahun, ia sudah mulai merambat di antara rak-rak buku perpustakaan pribadi Arumi, sesekali menarik ujung buku bersampul tebal dengan rasa ingin tahu yang besar.

Kehadiran Abi telah mengubah ritme rumah itu menjadi lebih berwarna, namun bagi Arumi, tahun ini juga menjadi tahun pembuktian intelektualnya.

Memoar yang ia tulis dengan penuh air mata dan kejujuran, "Akar yang Menghujam", akhirnya resmi diluncurkan. Arumi tidak menyangka bahwa kisahnya—tentang menjadi "pengganti" yang menemukan harga diri—akan meledak di pasaran. Buku itu menjadi simbol pemberdayaan bagi banyak wanita yang merasa terjebak dalam ekspektasi keluarga.

"Kamu siap, Arumi?" Adrian bertanya sambil merapikan dasinya di depan cermin. Malam ini adalah acara perayaan ulang tahun pertama Abi sekaligus syukuran atas kesuksesan buku Arumi yang berhasil menembus pasar internasional.

Arumi, yang mengenakan gaun sutra berwarna abu-abu mutiara yang elegan, mengangguk. "Aku hanya berharap Paman Bram tidak merusak suasana dengan pembicaraan soal saham lagi."

Adrian tersenyum kecil, ia menghampiri istrinya dan mengecup keningnya. "Paman Bram sudah cukup sibuk mengurusi investasinya yang merosot. Malam ini hanya milik kita. Dan milik Abi."

Pesta berlangsung hangat di taman belakang rumah mereka. Tidak ada panggung mewah, hanya deretan lampu gantung yang menciptakan suasana magis. Teman-teman penulis Arumi, kolega bisnis Adrian yang terpilih, serta keluarga besar berkumpul dalam harmoni.

Namun, di tengah keriuhan itu, seorang asisten Adrian mendekat dengan wajah cemas. Ia membisikkan sesuatu yang membuat senyum di wajah Adrian memudar seketika.

"Ada apa, Mas?" tanya Arumi waspada.

"Clara," bisik Adrian. "Dia ada di depan. Dia tidak diundang, tapi dia memaksa masuk. Dia bilang membawa informasi krusial tentang firma hukum yang sedang mengaudit Valois Energy di Singapura."

Arumi menarik napas panjang. "Biarkan dia masuk, Mas. Jika kita menolaknya sekarang, dia akan membuat keributan di depan media yang mungkin ada di luar. Bawa dia ke ruang kerjamu. Kita temui dia di sana."

Di ruang kerja yang kedap suara, Clara berdiri menatap lukisan pemandangan Jogja milik Arumi. Penampilannya jauh berbeda dari setahun yang lalu. Ia tampak lebih kurus, matanya cekung, dan keangkuhannya kini tertutup oleh lapisan keputusasaan yang tipis.

"Apa maumu, Clara?" suara Adrian terdengar dingin, tangannya menggenggam tangan Arumi dengan erat.

Clara berbalik, bibirnya yang merah memulas senyum pahit. "Aku tidak datang untuk menggodamu lagi, Adrian. Aku juga tidak datang untuk merusak kebahagiaan istrimu yang... sukses itu. Aku datang untuk menawarkan kesepakatan. Ayahku dipenjara di Singapura, dan aset kami dibekukan. Tapi, aku memegang dokumen rahasia tentang keterlibatan Paman Bram dalam skema investasi bodoh yang hampir menjatuhkan Valois dan mungkin akan menyeret Pramoedya Group jika ini meledak."

Adrian dan Arumi saling berpandangan. Jadi, inilah alasan Paman Bram begitu ngotot ingin mengadakan pesta besar dan menonjolkan Abi: dia butuh pengalihan isu dan suntikan modal dari investor baru untuk menutupi lubang keuangan yang ia buat sendiri.

"Kenapa kamu memberitahu kami?" tanya Arumi tenang.

"Karena aku butuh perlindungan hukum dan jalan keluar dari Singapura," jawab Clara jujur. "Dan karena aku benci melihat Paman Bram menang sementara aku kehilangan segalanya. Aku tahu kalian adalah satu-satunya orang di keluarga ini yang masih punya integritas."

Malam itu, setelah Clara pergi dan pesta berakhir, Arumi dan Adrian duduk terdiam di kamar mereka. Abi sudah terlelap di boksnya, tidak tahu bahwa dunia di sekitarnya baru saja berguncang oleh skandal besar.

"Mas, apa yang akan kita lakukan?" tanya Arumi.

"Jika kita membongkar ini, Paman Bram akan hancur, tapi nama Pramoedya juga akan terseret."

Adrian menatap jurnal yang diberikan Arumi padanya setahun lalu. "Kamu menulis di memoarmu bahwa kejujuran adalah akar yang paling kuat. Jika kita menutupi ini, kita tidak lebih baik dari mereka. Kita akan melakukan audit internal besar-besaran. Kita akan bersihkan perusahaan ini dari parasit, meski itu berarti kita harus kehilangan sebagian kekayaan kita."

Arumi tersenyum bangga. "Aku akan mendukungmu, Mas. Kita mulai dari awal jika perlu. Kita masih punya satu sama lain, dan kita punya karya."

l

Bulan-bulan berikutnya adalah masa yang paling sulit bagi Adrian. Skandal Paman Bram meledak di media ekonomi. Saham Pramoedya Group sempat merosot tajam. Adrian harus bekerja siang dan malam untuk meyakinkan investor bahwa kepemimpinan barunya akan jauh lebih transparan.

Paman Bram akhirnya dipaksa mengundurkan diri dan menghadapi tuntutan hukum. Di tengah badai itu, Arumi menjadi tiang penyangga yang luar biasa. Ia menggunakan royalti dari bukunya untuk membantu mendanai beberapa proyek kemanusiaan perusahaan yang sempat terhenti, membuktikan bahwa ia bukan sekadar "istri" tapi mitra finansial dan moral yang tangguh.

Publik justru bersimpati. Narasi tentang Adrian yang berani membedah borok keluarganya sendiri demi integritas menjadi berita utama yang positif. Citra Adrian berubah dari sekadar "anak orang kaya" menjadi "pemimpin transformatif".

Setahun setelah peluncuran bukunya, Arumi mendapatkan undangan kehormatan untuk berbicara di London Book Fair. Bukunya akan diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa Eropa.

"Mas, bagaimana kalau kita bawa Abi ke London?" ajak Arumi saat mereka sedang berkemas.

"London di musim gugur? Kedengarannya sempurna," sahut Adrian. "Aku juga ada pertemuan dengan beberapa investor ramah lingkungan di sana. Kita bisa menjadikan ini perjalanan kerja sekaligus liburan keluarga pertama kita di luar negeri."

Sesampainya di London, Arumi merasa seperti berada di dalam salah satu novelnya. Udara dingin, daun-daun yang menguning di Hyde Park, dan kesibukan kota tua itu memberikan energi baru.

Di atas panggung utama pameran buku, Arumi berdiri dengan penuh percaya diri. Ratusan orang mendengarkannya bicara tentang kekuatan narasi perempuan. Di barisan depan, Adrian duduk memangku Abi yang tampak sibuk mengunyah biskuit bayi, menatap ibunya dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu.

"Kekuatan terbesar seorang manusia bukanlah saat dia tidak pernah jatuh," ujar Arumi di akhir pidatonya. "Melainkan saat dia berani mengakui bahwa posisinya hanyalah sebuah 'kebetulan', namun dia memilih untuk menjadikannya sebuah 'keputusan'. Saya berdiri di sini bukan sebagai pengganti siapa pun, tapi sebagai penulis dari takdir saya sendiri."

Tepuk tangan berdiri (standing ovation) menggema di aula tersebut. Arumi melihat Adrian berdiri, matanya berkaca-kaca bangga.

Sore harinya, mereka berjalan-jalan di sepanjang tepi Sungai Thames. Jembatan Tower Bridge berdiri megah di latar belakang. Adrian mendorong kereta bayi Abi, sementara Arumi merangkul lengannya.

"Mas," panggil Arumi lembut.

"Ya, Sayang?"

"Jika dulu Siska tidak kabur, atau jika kita tidak pernah menandatangani kontrak gila itu... apakah menurutmu kita akan tetap bertemu?"

Adrian berhenti melangkah, ia menatap sungai yang mengalir tenang di bawah mereka.

"Mungkin. Tapi mungkin aku tidak akan pernah menjadi pria yang layak untukmu jika aku tidak melewati luka itu lebih dulu. Takdir punya cara yang sangat aneh untuk mempertemukan dua orang yang saling membutuhkan, Arumi."

Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan kontrak baru, melainkan sebuah cincin berlian yang jauh lebih indah dari yang ia berikan di malam pernikahan kontrak mereka.

"Arumi Pramoedya, kontrak kita sudah lama berakhir. Tapi aku ingin menawarkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak punya batas waktu, tidak punya klausul pembatalan, dan hanya punya satu syarat: cintamu. Maukah kamu tetap menjadi rekan hidupku, ibu dari anak-anakku, dan pusat dari duniaku... selamanya?"

Arumi tidak perlu berpikir dua kali. Air mata kebahagiaan membasahi pipinya saat ia mengangguk. "Ya, Mas. Selamanya."

Di bawah langit London yang mulai meredup, di tengah ribuan manusia yang berlalu lalang, tiga jiwa itu merasa benar-benar utuh. Mereka telah melewati pengkhianatan, intrik korporasi, dan keraguan diri. Kini, mereka bukan lagi tentang "siapa menggantikan siapa". Mereka adalah tentang sebuah keluarga yang berdiri di atas akar yang menghujam kuat, siap menghadapi musim apa pun yang akan datang.

Abimanyu tiba-tiba tertawa kecil di keretanya, seolah mengerti bahwa Hari ini telah berakhir dengan sangat sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!