"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Sebulan berlalu sejak kabar bahagia itu datang. Hari ini, Melisa Wulandari akhirnya harus meninggalkan kampung halamannya demi masa depan yang lebih baik.
Di depan rumah, koper besar berwarna biru tua berdiri tegak di sampingnya. Tas ransel yang penuh dengan perlengkapan sudah tersandang di punggungnya. Ia sudah siap berangkat. Tapi hatinya terasa berat.
Di hadapannya, Bu Risma berdiri dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seakan ingin berkata sesuatu, tetapi hanya udara yang keluar. Ia menggenggam tangan putrinya erat, seolah tak rela melepaskannya pergi.
"Pak, Buk… Ica pamit dulu," suara Meli terdengar lirih, namun penuh tekad.
Bu Risma mengangguk cepat, menyeka air mata yang mulai menggenang. "Iya, Ca… Kamu baik-baik di sana, ya. Jaga diri, jaga kesehatan. Jangan sampai sakit, makan yang teratur… kalau ada apa-apa, langsung kasih kabar Ibu, ya?"
Meli tersenyum, mencoba menenangkan ibunya. "Iya, Buk. Ica janji."
Pak Dani yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah mendekat. Tatapan teduhnya sarat dengan emosi yang ia tahan. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik putrinya ke dalam pelukan.
"Hati-hati, ya, Ca. Kalau ada kesulitan, jangan sungkan bilang ke Bapak. Jangan terlalu percaya sama orang yang baru dikenal. Inget, kamu sekarang di kota orang, bukan di desa lagi."
Meli mengangguk pelan dalam dekapan ayahnya. Ia tahu, di balik nada suaranya yang tegar, ada hati seorang ayah yang sebenarnya tak tega melepas anak perempuannya sendirian ke tempat asing.
Dari kejauhan, suara klakson mobil terdengar. Sopir yang akan mengantarnya ke terminal memberi isyarat agar ia segera masuk.
Dengan langkah berat, Meli akhirnya naik ke dalam mobil. Dari jendela, ia melihat ibunya mengusap pipi, sedangkan ayahnya tetap berdiri tegak. Yulita, adik kecilnya, melambai dengan mata berkaca-kaca.
"Mbak, jangan lupa pulang, ya!" serunya.
Meli mengangguk, tersenyum meski hatinya terasa nyeri. "Iya, ta… Mbak pasti pulang."
Mobil perlahan melaju, meninggalkan rumah sederhana yang telah menjadi dunianya sejak kecil. Sekarang, ia menuju dunia yang sama sekali baru.
Di tangannya, ia menggenggam selembar kertas berisi alamat kost yang ia dapatkan dari media sosial. Tidak ada sanak saudara yang menunggunya di kota. Tidak ada teman yang akan membimbingnya.
Hanya ada dirinya sendiri.
Perjalanan panjang pun dimulai. Dari desa kecilnya menuju kota yang jauh, ia harus menempuh perjalanan dua hari tiga malam dengan bus. Jika menggunakan pesawat, mungkin tak sampai sehari. Tapi naik pesawat bukan pilihan. Ia harus menghemat biaya.
Di kursinya, Meli menatap keluar jendela. Sawah-sawah hijau yang biasa ia lihat setiap hari perlahan berganti dengan jalanan berdebu. Langit senja menemani perjalanannya, seolah memberi selamat dan mengucapkan perpisahan sekaligus.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Ini bukan akhir, melainkan awal dari segalanya.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya Meli tiba di kota yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi dan baca di buku pelajaran. Tapi kenyataannya jauh lebih menyesakkan daripada yang ia bayangkan.
Berdiri di pinggir jalan, ia menatap hiruk-pikuk kota dengan mata lelah. Jalanan dipenuhi kendaraan yang berbaris panjang, suara klakson terdengar nyaring menusuk telinga. Asap knalpot bercampur dengan panasnya terik matahari, membuat kepalanya pening.
Ia mengeratkan genggaman pada pegangan koper, mencoba menenangkan diri. Namun kenyataannya, ia kebingungan.
Sudah tiga kali ia memutari area ini, tetapi tetap saja tidak menemukan alamat yang tertera di kertasnya. Beberapa kali ia bertanya pada orang-orang, tetapi jawaban yang diberikan selalu sama—arah yang membuatnya kembali ke tempat ini lagi dan lagi.
Meli ingin menangis.
Kakinya terasa pegal, bajunya sudah basah oleh keringat, dan dahaganya semakin menyiksa. Ia ingin menyerah, tetapi ke mana? Ia tidak punya tempat lain untuk dituju.
Saat ia berdiri di trotoar, mencoba mengatur napas, seseorang tiba-tiba menghampirinya.
"Dek, ngapain bengong di sini? Nanti dicopet, lho, barang-barangnya."
Meli tersentak dan segera menoleh. Seorang pria dewasa dengan kaus oblong dan celana jeans berdiri di sampingnya. Umurnya mungkin sekitar tiga puluhan, dengan wajah yang terlihat cukup ramah, meskipun sedikit kelelahan.
Namun, kata "copet" membuatnya semakin panik. Ia buru-buru merapatkan tasnya ke dada, matanya mengawasi sekeliling dengan waspada. Kota ini benar-benar membuatnya paranoid.
Tapi, ini mungkin kesempatan. Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Meli mengulurkan kertas yang ia genggam sejak tadi. "Pak, saya sedang mencari alamat ini. Tapi dari tadi muter-muter nggak ketemu…" suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
Pria itu menerima kertasnya, membaca sejenak, lalu terkekeh pelan. "Wah, ini mah deket banget. Cuma di samping toko saya."
Meli menatapnya dengan mata membulat. "Serius, Pak?"
"Iya. Daripada nyasar lagi, yuk, sekalian saya juga mau balik ke toko."
Meli menggigit bibir. Ini pertama kalinya ia harus memutuskan apakah harus percaya pada orang asing atau tidak. Kota ini terlalu besar dan terlalu asing baginya, dan ia terlalu lelah untuk memikirkan kemungkinan buruk.
Akhirnya, dengan hati-hati, ia mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih."
Tanpa banyak bicara, pria itu berjalan lebih dulu, dan Meli mengikuti di belakangnya dengan langkah ragu. Ia hanya bisa berharap bahwa keputusannya kali ini tidak membawa dirinya ke dalam bahaya.
Benar saja, tak sampai sepuluh menit berjalan, pria itu berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat dengan cat tembok yang sudah sedikit pudar. Plang kayu di dekat pintu bertuliskan KOST PUTRI BU SRI dengan huruf kapital yang mulai mengelupas.
"Tuh, Dek. Ini kosannya," ujar pria itu sambil menunjuk ke arah bangunan tersebut.
Meli menatapnya dengan perasaan campur aduk. Kos yang selama ini hanya ia ketahui dari informasi di media sosial, kini berdiri nyata di hadapannya. Ia akhirnya sampai.
Ia menoleh ke arah pria itu dan membungkukkan badan sedikit sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih banyak, Pak. Kalau bukan karena Bapak, saya mungkin masih muter-muter sampai malam."
Pria itu hanya terkekeh. "Iya, hati-hati ya, Dek. Jangan gampang percaya sama orang di kota besar, apalagi kalau baru pertama kali datang. Banyak orang baik, tapi nggak sedikit juga yang jahat."
Meli mengangguk paham. Sejujurnya, ia masih sedikit takut. Kota ini terlalu besar, terlalu ramai, dan terlalu asing baginya.
Saat ia hendak melangkah masuk, ia menyadari sesuatu—ia bahkan belum tahu nama pria yang menolongnya. Ia menoleh lagi, tetapi pria itu sudah berjalan kembali ke tokonya, menghilang di balik keramaian jalanan.
Dengan menghela napas, Meli menggenggam koper dan melangkah masuk ke dalam area kos. Pintu utama terbuka sedikit, memperlihatkan bagian dalam rumah yang cukup rapi. Di dekat tangga, ada beberapa jemuran handuk dan sandal berserakan, pertanda bahwa tempat ini memang dihuni oleh beberapa orang.
Ia berjalan ke dalam, mencari seseorang yang bisa ia tanyai. Tak butuh waktu lama, seorang wanita paruh baya dengan kerudung sederhana muncul dari dalam, membawa segelas teh hangat. Matanya menyipit saat melihat Meli berdiri canggung di dekat pintu.
"Mbak, cari siapa?" tanyanya ramah.
Meli segera tersadar dan tersenyum. "Permisi, Bu. Saya Melisa Wulandari. Mau daftar sebagai penghuni kos di sini. Apa benar ini kos Bu Sri?"
Wanita itu mengangguk, tersenyum hangat. "Oh, iya, benar. Saya Bu Sri. Kamu yang dari desa ya? Yang kemarin tanya-tanya lewat pesan?"
Meli mengangguk cepat. "Iya, Bu. Itu saya."
Bu Sri mengangguk paham, lalu menepuk pelan lengannya. "Masuk dulu, Nak. Kamu pasti capek. Kita ngobrol di dalam aja."
Meli mengikuti Bu Sri masuk, meletakkan koper di sudut ruangan, dan duduk di kursi kayu yang sedikit berdecit saat diduduki. Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang melelahkan, ia tiba di tempat yang akan menjadi rumah barunya.