NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 23

Happy Reading Guys!

____

Tubuh Arkan mendadak terasa dingin.

Seolah seluruh darah dalam tubuhnya berhenti mengalir sesaat.

Pikirannya langsung berputar cepat, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal.

Mungkin dokter salah.

Mungkin hasil pemeriksaannya keliru.

Mungkin ada sesuatu yang terlewat.

Namun, semakin ia mencoba menyangkalnya, semakin kuat pula fakta itu menghantam kesadarannya.

Tidak.

Ini rumah sakit besar.

Dokter bahkan menunjukkan hasil USG secara rinci.

Kesalahan seperti itu hampir mustahil terjadi.

Arkan perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Sintia.

Tatapannya berubah.

Selama ini ia tidak pernah mempertanyakan apa pun.

Tidak pernah mengantar Sintia memeriksakan kandungannya.

Tidak pernah melihat bukti hasil kontrolnya.

Tidak pernah memeriksa usia kehamilan secara langsung, karena sejak awal ia memilih percaya. Ia percaya bayi itu adalah darah daging kakaknya.

Ia percaya karena merasa bertanggung jawab.

Ia percaya karena menganggap itu satu-satunya amanah keluarga yang harus ia jaga.

Namun sekarang ....

Keyakinan yang selama ini dipegangnya mulai runtuh satu per satu.

Arkan mengepalkan tangannya begitu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas, rahangnya mengeras. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan.

Namun, tidak satu pun berhasil keluar dari bibirnya.

Arkan memejamkan mata sesaat.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena marah.

Melainkan karena merasa seperti orang bodoh.

Orang bodoh yang selama ini hidup dalam kebohongan tanpa pernah menyadarinya.

 

"Kau menyesal?"

Suara Damian terdengar rendah di telinga Sophia.

Dalam satu gerakan tenang, pria itu menggenggam tangan Sophia lalu menyematkan cincin di jari manisnya.

Sorak-sorai para tamu langsung memenuhi ruangan.

Namun, Sophia tidak mendengarnya. Tidak, sebetulnya ia mendengarnya, tetapi tidak mau memedulikannya.

Ia berdiri di sana seperti seseorang yang kehilangan arah. Seperti kapal yang baru saja dihantam badai dan dibiarkan terombang-ambing di tengah lautan tanpa tujuan.

Beberapa menit yang lalu ia masih percaya bahwa dirinya akan pergi bersama Arkan.

Namun, sekarang ....

Ia justru berdiri di atas panggung pertunangan yang bahkan tidak pernah benar-benar ia inginkan.

Damian mengangkat kotak cincin lainnya lalu menyerahkannya kepadanya.

"Giliranmu."

Sophia menatap cincin itu cukup lama.

Tangannya terasa berat saat meraihnya.

Saat ia mengangkat kepala, puluhan pasang mata sedang memerhatikan mereka dengan penuh antusias.

Seolah mereka adalah pasangan yang memang ditakdirkan bersama.

Seolah tidak ada yang salah.

Seolah tidak ada hati yang baru saja hancur beberapa saat lalu.

"Pasangkan!"

"Pasangkan!"

"Pasangkan!"

Sorakan tamu mulai terdengar dari berbagai arah.

Sophia menarik napas panjang.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menggenggam tangan Damian lalu memasangkan cincin itu ke jari pria tersebut.

Tepat saat cincin itu terpasang sempurna, Damian tiba-tiba menundukkan kepala.

Kecupan singkat mendarat di sudut bibir Sophia.

Sophia membeku.

Matanya langsung membelalak.

Sementara para tamu justru bersorak semakin keras.

Damian merangkul pinggangnya dengan santai seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar dilakukan seorang tunangan.

Melihat Sophia masih mematung, pria itu mendekat ke telinganya.

"Aku menyukai aromamu."

Sophia menegang.

Namun, Damian kembali melanjutkan kalimatnya.

"Tapi ada aroma lain."

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Tatapannya tampak santai, tetapi entah mengapa membuat Sophia semakin gugup.

"Sophia ...."

Napas hangat pria itu menyapu telinganya.

"... apa Arkan memelukmu?"

Sophia langsung memalingkan wajah.

Ia tidak menjawab.

Damian tampak tidak terlalu peduli.

Pria itu hanya mengusap pelan pipi Sophia dengan punggung jari telunjuknya, seolah takut sentuhan yang terlalu kuat akan membuat wanita itu semakin rapuh.

"Kau tidak perlu terkejut."

Tatapannya begitu tenang.

"Aku akan memastikan janjimu ditepati."

Jantung Sophia berdegup semakin cepat.

"Aku akan memastikan seluruh hidupmu berada di tanganku."

Sophia menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, suara langkah kaki mendekat dari belakang.

"Sayangku, Sophia! Akhirnya kau resmi jadi menantuku."

Nyonya Sarah langsung memeluk Sophia begitu tiba di hadapan mereka.

Pelukan itu hangat.

Sangat hangat.

Namun, anehnya, Sophia justru semakin ingin menangis.

"Kau kenapa?" tanya wanita itu khawatir. "Wajahmu pucat sekali."

Sophia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.

Untung saja Damian segera angkat bicara.

"Dia kelelahan."

Nyonya Sarah langsung mengangguk mengerti.

"Tentu saja kelelahan. Pasti kau sangat mengkhawatirkan pertunangan sampai tidak bisa tidur."

Sementara itu, Tuan Liam hanya berdiri beberapa langkah dari mereka.

Pria paruh baya itu tidak ikut bertanya.

Ia hanya memerhatikan Sophia dalam diam.

Tatapan tajamnya membuat Sophia tanpa sadar menundukkan kepala.

Damian yang menyadarinya langsung menoleh.

"Ayah ingin mengatakan sesuatu?"

Tuan Liam tersenyum tipis.

Ia menggenggam tangan istrinya sebelum berkata pelan, "Seumur hidup kami, Damian seperti seekor singa yang hanya peduli pada wilayahnya sendiri. Selain bekerja dan mempertahankan apa yang menjadi miliknya, dia tidak pernah menoleh pada hal lain. Tapi ...."

Tatapan pria itu bergeser kepada Damian.

"Untuk pertama kalinya, aku melihatnya ribut hanya karena seorang wanita."

Suasana mendadak hening.

Nyonya Sarah langsung melirik suaminya.

Sementara Damian tampak diam seolah telinganya tidak mendengar apapun.

Tuan Liam melanjutkan.

"Kami sempat khawatir kalau dia tak memiliki nafsu apapun."

Tatapannya tenang, tetapi setiap kata yang keluar terasa begitu tajam.

"Melihat Damian terus menempel padamu, jujur saja itu membuatku tenang. Anak kami ternyata normal. Aku harap hubungan kalian memang bukan sekadar hubungan yang selewat saja "

Setelah mengatakan itu, Tuan Liam menarik tangan istrinya.

"Ayo."

Nyonya Sarah masih terlihat bingung, tetapi tetap mengikuti suaminya pergi.

Sophia menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Entah kenapa, untuk sesaat ia merasa Tuan Liam baru saja memperingatkan agar tidak bermain-main dengan kepercayaan mereka.

Perlahan Sophia menundukkan kepala.

Jemarinya saling bertaut gelisah.

Ia merasa asing.

Terlalu asing.

Padahal ratusan orang sedang mengelilinginya.

Damian memperhatikan perubahan ekspresinya.

Pria itu lalu menggenggam tangan Sophia.

Tangannya yang lain mengusap lembut rambut wanita tersebut.

Namun, sentuhan itu tidak membuat Sophia merasa lebih baik.

Sebaliknya.

Ia justru merasa semakin tertekan.

"Apa kau ingin pulang?"

Sophia mengangkat kepala.

Damian tersenyum tipis.

"Aku sudah menyiapkan kamar untukmu."

Sophia mengernyit.

"Di mana?"

"Di rumahku."

Sophia langsung menarik tangannya.

"Kau gila!"

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi wanita itu berubah drastis. Ia mulai habis kesabaran.

"Aku wanita yang belum menikah."

Nada suaranya bahkan terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya.

"Bagaimana mungkin kita satu rumah?"

Damian mengangkat alis.

Sophia melanjutkan dengan kesal.

"Bahkan hewan yang berbeda jenis saja bisa kehilangan kendali. Apalagi manusia."

Damian tampak menahan tawa.

Sementara Sophia semakin kesal, ia sangat mengenal pria di hadapannya. Damian sering kali bersikap terlalu dekat.

Terlalu berani.

Terlalu tidak tahu batas.

Kalau tinggal satu rumah dengannya? Sophia bahkan tidak berani membayangkannya.

Namun, Damian justru tersenyum semakin lebar.

"Apa kau tidak sabar menikah denganku?"

Sophia langsung melotot.

"Pikiranmu terlalu jauh."

"Bukankah itu yang sedang kau pikirkan? Kau mengatakan kalau kau wanita yang belum menikah. Pertunangan dan pernikahan hanya beda satu langkah. Aku bisa menikahimu malam ini, kalau kau mau," timpal Damian.

"Berhenti mengatakan omong kosong."

Sophia menghela napas kesal.

"Itu hanya peringatan."

Damian tertawa pelan.

Tangannya yang semula berada di pinggang Sophia naik menuju bahunya. Pria itu menarik wanita itu agar sedikit lebih dekat, lalu menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Sophia langsung menegang.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kalau begitu kau bisa bekerja sebagai asistenkku."

Sophia berkedip.

"Apa?"

"Kau akan memeriksa semua berkas yang kubaca."

Damian terlihat santai.

"Di kamarku."

Sophia hampir tersedak.

Tangannya refleks terangkat ingin memukul pria itu. Namun, sebelum sempat melakukannya, Damian melanjutkan.

"Jack juga akan berada di sana."

Gerakan Sophia langsung berhenti. Meski begitu, ia tetap menatap Damian dengan penuh kecurigaan. Ia tidak percaya. Pria ini sudah terlalu sering mengelabuinya.

Menyetujui ajakan Damian terasa seperti melangkah masuk ke kandang serigala atas kemauan sendiri.

Apalagi dengan tatapan Damian sekarang.

Tatapan yang terlalu tenang.

Terlalu percaya diri.

Sangat berbahaya.

Karena tidak mendapat jawaban, Damian tersenyum.

"Kalau begitu aku anggap kau setuju."

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tidak perlu."

Damian mengangkat bahu santai.

"Lagipula kau sudah menyerahkan dirimu kepadaku."

Sophia langsung mengerutkan dahi.

"Kata-kata tidak bisa dijadikan jaminan."

"Oh?"

Damian memasukkan tangan ke dalam sakunya.

Kemudian mengeluarkan sebuah pulpen hitam.

Begitu melihat benda itu, firasat buruk Sophia langsung muncul.

Klik.

Suara rekaman langsung terdengar.

"... aku lebih baik menyerahkan hidupku padamu daripada kembali padanya."

Wajah Sophia langsung berubah.

"Itu .... "

Sophia berusaha merebut pulpen tersebut.

Namun, Damian dengan santai mengangkat tangannya lebih tinggi.

"Sia-sia."

"Aku akan menghancurkan benda itu!"

"Terlambat."

Senyum Damian semakin dalam.

"Aku sudah menyerahkan salinannya kepada Jack."

Sophia membeku.

Benar-benar membeku.

Untuk pertama kalinya ia merasa kehabisan akal menghadapi seseorang.

Bagaimana bisa ada manusia yang membawa alat perekam ke mana-mana seperti ini?

Apa pria itu memang berniat merekam semua ucapan orang lalu menjadikannya senjata suatu hari nanti?

Melihat ekspresi putus asa Sophia, Damian justru tampak sangat puas.

Jelas itu membuat Sophia semakin ingin memukul kepalanya.

____

Di dalam ruang rawat yang sunyi, Arkan masih duduk di kursi yang berada di samping ranjang.

Empat jam telah berlalu sejak Sintia dibawa ke rumah sakit.

Namun wanita itu belum juga membuka mata.

Arkan tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menatap sosok yang terbaring di hadapannya.

Tatapannya dingin.

Begitu dingin hingga membuat suasana ruangan terasa menyesakkan.

Kalau sebelumnya ia memandang Sintia karena rasa tanggung jawab, kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, ia memandang wanita itu dengan penuh kecurigaan.

Tatapannya perlahan jatuh ke perut Sintia.

Senyum tipis yang dingin muncul di sudut bibirnya.

Semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa janggal.

Selama ini perut Sintia hampir tidak pernah terlihat membesar. Memang sesekali wanita itu mengenakan pakaian longgar, tetapi Arkan tidak pernah benar-benar memerhatikannya.

Apa yang perlu diperhatikan? Ia seorang pria. Lagipula, selama ini ia hanya peduli pada satu hal.

Bahwa bayi itu baik-baik saja.

Bahwa bayi itu adalah darah daging kakaknya.

Selain itu, ia tidak pernah ingin tahu lebih jauh.

Namun, sekarang ....

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih! 。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

1
falea sezi
anak siapa yg dikandungnya sintia
falea sezi
🤣🤣🤣kapok ketipu jalang makan itu rasa. kasian😒
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!