NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 20 : JANJI SUCI DI PESISIR ULUWATU

Langit di atas Uluwatu, Bali, sore itu seolah sedang memamerkan kemahakaryaannya. Warna biru pirus laut perlahan-lahan bertabrakan dengan gradasi jingga, ungu, dan merah jambu yang dramatis di ufuk barat. Di atas tebing karang yang menjulang tinggi, di sebuah resor privat yang seluruhnya telah dipesan oleh keluarga Arkatama, sebuah altar berbahan kaca transparan didirikan tepat di atas kolam infinity yang seolah-olah menyatu dengan cakrawala Samudera Hindia yang tak berujung.

Ini bukan sekadar pesta kemewahan. Ini adalah Resepsi Pernikahan Ulang—sebuah penebusan janji dari Devan Arkatama untuk Anya Clarissa. Jika pernikahan pertama mereka di Jakarta terasa seperti upacara pemakaman yang dingin dan penuh kepura-puraan, malam ini udara Bali dipenuhi oleh aroma bunga kamboja dan ketulusan yang begitu murni hingga terasa di setiap hembusan angin lautnya.

Anya Clarissa berdiri di depan cermin besar di dalam vila riasnya yang menghadap langsung ke laut. Detak jantungnya kali ini tidak lagi berpacu karena ketakutan atau kebencian. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia mengenakan gaun pengantin bergaya bohemian chic yang dirancang khusus oleh desainer ternama. Gaun itu terbuat dari renda sutra Italia yang sangat ringan, dengan potongan punggung terbuka yang elegan, memungkinkan angin laut memainkan helai-helai kainnya dengan lembut saat ia berjalan nanti.

"Anya sayang, kamu benar-benar seperti dewi laut malam ini," bisik Mama Clarissa yang masuk dengan gaun elegan berwarna sampanye. Ia memegang bahu putrinya, menatap pantulan Anya di cermin dengan mata yang berkaca-kaca. "Mama minta maaf karena dulu mendorongmu ke dalam situasi ini. Tapi melihat senyummu sekarang, Mama tahu bahwa Tuhan punya rencana yang lebih besar dari hutang-hutang Mama."

Anya berbalik dan memeluk mamanya erat. "Tidak apa-apa, Ma. Kalau bukan karena kejadian itu, Anya tidak akan pernah tahu bahwa di balik sikap dingin Devan, ada pria paling tulus yang pernah Anya temui. Anya bahagia, Ma."

Musik akustik dari petikan gitar dua belas senar mulai mengalun lembut, memainkan nada-nada yang menenangkan. Devan Arkatama sudah berdiri di ujung altar kaca itu. Pria yang biasanya hanya mau mengenakan setelan jas kaku seharga ratusan juta itu, kini tampil berbeda. Ia mengenakan setelan linen berwarna putih gading yang kasual namun sangat berkelas, dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan kulit kecokelatannya yang terbakar matahari Bali.

Saat Anya muncul di ujung jalan yang ditaburi kelopak mawar putih, Devan seolah lupa cara bernapas. Matanya tidak lepas dari sosok wanita yang kini berjalan perlahan ke arahnya. Di matanya, Anya bukan lagi arsitek lanskap yang galak atau rekan dalam kontrak bisnisnya; Anya adalah rumah tempatnya pulang.

Devan mengambil tangan Anya saat wanita itu sampai di hadapannya. Ia tidak membawa teks pidato yang disiapkan sekretarisnya. Ia hanya menatap mata cokelat Anya yang berkilau terkena cahaya matahari terbenam.

"Anya," suara Devan terdengar berat dan sedikit bergetar karena emosi yang meluap. "Dulu, aku memberikanmu dokumen setebal dua puluh halaman yang berisi pasal-pasal dingin tentang bagaimana kita harus bersikap. Malam ini, di depan Tuhan dan laut ini, aku ingin merobek setiap kata dalam kontrak itu. Aku tidak berjanji bahwa hidup bersamaku akan selalu seperti taman bunga yang kamu bangun. Aku tahu aku pria yang kaku dan menyebalkan. Tapi aku berjanji, di setiap badai yang menghantam, akulah yang akan menjadi pelindungmu pertama kali. Aku mencintaimu, Anya Clarissa. Bukan karena aku butuh seorang istri untuk statusku, tapi karena tanpamu, aku hanyalah angka yang tak memiliki arti."

Anya menangis, air mata kebahagiaan membasahi pipinya yang kemerahan. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya mampu mengangguk dan memeluk suaminya dengan kekuatan penuh. Para tamu—yang hanya terdiri dari sahabat dan keluarga yang benar-benar peduli—berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Tidak ada kepalsuan di sini. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan satu sama lain di tengah kekacauan dunia.

Setelah prosesi yang mengharukan, acara berlanjut ke pesta kebun yang lebih santai di sekitar kolam renang. Lampu-lampu fairy light digantung di antara pepohonan, menciptakan suasana magis. Di sinilah kekonyolan keluarga Arkatama kembali pecah.

Mama Arkatama dan Mama Clarissa tampak sangat kompak malam ini. Mereka berdua memegang ponsel masing-masing dengan tongkat narsis, mengikuti Anya dan Devan ke mana pun mereka pergi layaknya paparazzi profesional yang haus akan berita eksklusif.

"Aduh, Devan! Dekatkan kepalamu ke bahu Anya! Biar fotonya estetik untuk dipajang di lobi kantor!" seru Mama Arkatama sambil naik ke atas kursi rotan demi mendapatkan sudut foto yang bagus.

"Ma, ini pernikahan, bukan sesi pemotretan majalah Forbes!" keluh Devan sambil mencoba menutupi wajahnya yang memerah karena malu di depan teman-teman bisnisnya.

Saat sesi makan malam prasmanan. Anya tiba-tiba merasa mual saat mencium aroma ikan bakar bumbu Bali yang sangat kuat. Perutnya bergejolak, dan ia terpaksa menutup mulutnya dengan tisu sambil menjauh sedikit dari meja makan.

Devan, yang ingat betul dengan "ramuan madu rahasia" dan jamu kesuburan yang dipaksakan Papanya seminggu lalu, langsung bereaksi dengan kecepatan cahaya. Wajahnya yang tadi tenang seketika berubah pucat pasi. Ia menghampiri Anya dengan wajah penuh kepanikan yang konyol.

"Anya?! Kamu mual? Kamu pusing? Kamu merasa mau muntah?!" tanya Devan dengan suara yang cukup keras hingga membuat beberapa tamu berhenti mengunyah.

"Hanya sedikit mual, Devan. Mungkin karena aku belum makan siang tadi," jawab Anya mencoba menenangkan.

"Papa! Mama! Anya mual! Apa ini berarti ramuan itu langsung bekerja?!" Devan berteriak ke arah Papa Arkatama yang sedang mengobrol di pojok.

Papa Arkatama yang sedang menyesap tehnya langsung berdiri dengan semangat yang luar biasa, seolah ia baru saja memenangkan tender triliunan rupiah. "Apa?! Sudah jadi?! Cucu pertama Arkatama?! Dokter! Di mana dokter resor ini? Cepat periksa menantuku!"

Seluruh tamu mendadak heboh. Mama Arkatama langsung menyodorkan biskuit jahe dan mulai menghitung kalender dengan jari-jarinya di depan umum. "Wah, waktu di Maldives itu... ditambah seminggu di Jakarta... lalu sekarang di Bali... pas! Pa, kita bakal punya cucu tahun depan!"

Anya menarik baju Devan dengan gemas, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. "Devan! Diam! Aku mual karena aku terlalu gugup untuk resepsi ini dan perutku kosong! Bukan karena aku hamil! Kamu ini benar-benar tidak bisa membedakan mual karena lapar dan mual karena hamil ya?!"

Devan yang sudah terlanjur bersemangat hanya bisa melongo kaku. "Oh... jadi... jadi belum ya?"

"Belum, Tuan CEO! Sabar sedikit!" ucap Anya sambil mencubit pipi suaminya di depan semua orang.

Seluruh tamu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kecewa Devan yang sangat konyol. Pria paling ditakuti di industri pelayaran nasional itu kini terlihat seperti bocah kecil yang kehilangan permennya hanya karena salah diagnosa pada istrinya.

Malam semakin larut, kembang api mulai menghiasi langit malam Uluwatu dengan warna-warna yang gemerlap. Anya dan Devan duduk di pinggir tebing, kaki mereka berayun bebas di udara, jauh dari kebisingan musik pesta. Mereka hanya berdua, mendengarkan suara ombak yang menghantam karang di bawah sana.

"Terima kasih untuk malam ini, Devan. Terima kasih karena sudah memberiku pernikahan yang nyata," ucap Anya sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Devan.

"Ini baru permulaan, Anya. Kita masih punya sembilan ratus delapan puluh bab lagi untuk dijalani bersama," Devan mencium puncak kepala Anya dengan lembut. "Dan soal 'salah sangka' kehamilan tadi... mungkin kita harus mulai mengerjakannya dengan lebih rajin malam ini supaya Papa tidak kecewa."

Anya tertawa kecil, memukul lengan Devan dengan manja. "Dasar beruang kutub mesum! Kerjakan dulu tuh tumpukan berkas kantor yang kamu bawa di koper!"

Di bawah cahaya jutaan bintang Bali, mereka menyadari bahwa tekanan keluarga yang dulu mereka kutuk sebagai penjara, ternyata adalah jembatan menuju kebahagiaan abadi ini. Kontrak telah menjadi sejarah, namun cinta yang tumbuh di antara mereka baru saja membuka lembaran pertamanya yang suci.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!