NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Keheningan di Kamar yang Sama

​Vanya melangkah masuk ke dalam mansion dengan sisa tenaga yang hampir habis. Sepatu hak tingginya yang berdenting tajam di lantai marmer biasanya akan memicu komentar pedas dari Olivia atau sindiran dari Rose. Namun malam ini, suasana sangat berbeda. Olivia, Karlo, dan Rose duduk berjajar di sofa ruang tengah, namun tak satu pun dari mereka berani mengangkat wajah atau menatap Vanya. Mereka terdiam, entah karena malu melihat kesuksesan Vanya yang meroket atau karena sadar bahwa wanita yang sedang lewat itu adalah orang yang memberi mereka makan saat ini.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Vanya langsung menuju lantai atas. Tubuhnya butuh istirahat total sebelum jadwal penerbangan ke Paris lusa nanti.

​Saat ia membuka pintu kamar dan menyalakan lampu, langkahnya terhenti seketika.

​"Astaga!" seru Vanya pelan, refleks menutup matanya dengan tangan.

​Di depannya, Devan sedang berdiri di depan cermin besar dengan hanya mengenakan celana tidur panjang, membiarkan dadanya yang bidang bertelanjang tanpa sehelai benang pun. Rambutnya tampak sedikit berantakan, memberikan kesan liar yang jarang terlihat.

​"Kenapa? Baru lihat tubuh laki-laki?" ejek Devan sambil menoleh. Ada nada sinis namun juga ada sedikit keinginan untuk memancing reaksi Vanya.

​Vanya tidak menjawab. Ia mengatur napasnya yang sempat tersentak, lalu berjalan melewati Devan seolah-olah pria itu hanyalah pajangan dinding yang kebetulan ada di sana. Ia langsung masuk ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan Devan yang mendengus kesal karena merasa diabaikan.

​Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Vanya keluar dengan rambut yang masih lembap. Ia mengenakan baju tidur satin model slip dress pendek berwarna hitam yang sangat minimalis. Bahan licin itu membalut tubuhnya yang ramping dengan sempurna. Ia tidak berniat menggoda, ia hanya ingin kenyamanan setelah seharian memakai setelan kerja yang kaku.

​"Astaga..." kali ini giliran Vanya yang berseru saat melihat Devan belum juga beranjak dan kini justru sedang duduk santai di pinggir tempat tidur sambil menatapnya tajam.

​"Kenapa sih kaget terus? Ini kamarku juga kalau kau lupa," ucap Devan ketus. Matanya tak lepas memerhatikan Vanya dari ujung rambut hingga kaki. Ada sesuatu yang berbeda dari Vanya malam ini aura kekuasaannya di kantor mendadak luruh, menyisakan sisi wanita yang sangat rapuh namun memikat.

​Vanya tidak melayani perdebatan itu. Dengan gerakan efisien, ia membuka lemari besar di sudut kamar, mengambil sebuah bantal tambahan dan selimut tebal.

​"Mau apa kau?" tanya Devan heran.

​Vanya tidak menjawab. Ia berjalan menuju sofa panjang yang terletak di dekat balkon, menaruh bantal di sana, dan mulai membentangkan selimutnya.

​"Hei! Ada orang di sini, nggak dianggap banget!" seru Devan, suaranya naik satu okta. Ia merasa harga dirinya tersinggung melihat istrinya lebih memilih tidur di sofa daripada berbagi tempat tidur dengannya.

​Vanya akhirnya menoleh, menatap Devan dengan tatapan yang sangat datar, seolah sedang menatap tumpukan laporan yang membosankan.

​"Tidurlah, Devan. Aku lelah," ucap Vanya singkat sebelum merebahkan tubuhnya di sofa dan menyelimuti dirinya hingga ke dada.

​Di balik punggungnya yang membelakangi Devan, pikiran Vanya melayang jauh. Ia tersenyum getir dalam hati. Devan protes karena tidak dianggap? Tidakkah pria itu sadar bahwa selama tiga tahun pernikahan ini—sejak malam pertama yang dingin di mana Devan meninggalkannya demi Viona—Vanya sudah merasa menjadi janda?

​Bagi Vanya, tempat tidur itu bukan tempat untuk berbagi kasih, melainkan medan perang yang sudah lama ia tinggalkan. Ia sudah terbiasa dengan kesendirian, dan kehadiran Devan di kamar itu sekarang justru terasa seperti gangguan asing.

​Devan menatap punggung Vanya dengan perasaan campur aduk. Marah, gengsi, dan rasa penasaran yang aneh mulai berkecamuk. Ia terbiasa dikejar dan dipuja, namun wanita ini... wanita ini bahkan tidak meliriknya saat ia telanjang dada. Malam itu, untuk pertama kalinya, Devan merasa bahwa jarak antara tempat tidur dan sofa itu jauh lebih

​Suasana di dalam kamar yang luas itu terasa semakin canggung. Devan, yang merasa diabaikan karena Vanya lebih memilih meringkuk di sofa, tampak salah tingkah. Ia berdiri dari pinggir tempat tidur, berjalan mondar-mandir sebentar, lalu berdehem keras seolah ingin menarik kembali otoritasnya sebagai seorang suami yang selama ini berkuasa.

​"Ingat, Vanya!" suara Devan memecah kesunyian, nadanya meninggi namun terdengar tidak stabil. "Kamar ini tetap kamarku. Aku tidur di sini bukan tanpa alasan."

​Vanya tidak bergerak. Ia tetap membelakangi Devan, hanya helaan napas halusnya yang terdengar di antara deru AC.

​"Aku... aku di sini karena..." Devan bicara terbata-bata, mencari alasan yang tidak akan menjatuhkan harga dirinya lebih dalam lagi. "Karena Viona sedang ke luar negeri bersama teman-temannya. Jadi, jangan berpikir macam-macam. Aku di sini hanya karena tidak ada tempat lain yang lebih nyaman untuk tidur saat dia tidak ada. Ingat itu!"

​Alasan itu terdengar sangat menyedihkan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Seorang pria yang kembali ke rumah istrinya hanya karena kekasihnya sedang tidak ada, benar-benar menunjukkan betapa rendahnya posisi Devan saat ini. Ia mencoba terlihat seperti pria yang memegang kendali, namun justru terlihat seperti anak kecil yang kehilangan arah.

​Vanya akhirnya menarik napas panjang. Ia membalikkan badannya sedikit, menatap Devan dengan mata yang tampak sangat mengantuk dan sayu. Tidak ada amarah, tidak ada kecemburuan, bahkan tidak ada kejengkelan di mata itu. Hanya ada kekosongan yang membuat Devan merasa semakin kecil.

​"Iya, aku tahu," ucap Vanya lirih. Suaranya tenang, tanpa beban sedikit pun. "Sekarang tidurlah. Aku sangat lelah, Devan. Aku punya jadwal rapat penting besok pagi."

​Vanya kembali membalikkan tubuhnya, merapatkan selimut satinnya dan benar-benar menutup mata. Baginya, penjelasan Devan tidak lebih penting daripada laporan laba rugi yang ia baca tadi siang. Apakah Devan di sana karena Viona pergi atau karena alasan lain, itu tidak lagi relevan bagi hatinya yang sudah membeku selama tiga tahun terakhir.

​Devan tertegun di tempatnya berdiri. Ia berharap Vanya akan marah, atau setidaknya menyindirnya soal Viona. Namun, reaksi "iya aku tahu" dari Vanya jauh lebih menyakitkan daripada makian. Itu adalah bukti nyata bahwa kehadirannya—dan bahkan pengkhianatannya—sudah tidak lagi memengaruhi emosi wanita itu.

​Dengan perasaan dongkol yang tak beralasan, Devan akhirnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur king size yang mewah itu sendirian. Ia menatap langit-langit kamar, merasa sangat asing di rumahnya sendiri. Di sofa sana, istrinya tidur dengan tenang setelah berhasil menaklukkan pasar Eropa, sementara di tempat tidur ini, ia berbaring dengan sisa-sisa gengsi yang mulai tercecer.

​Malam itu, di kamar yang sama, ada dua orang yang terikat janji suci namun terpisah oleh jurang yang sangat dalam. Yang satu tidur dalam kelelahan karena membangun masa depan, yang satu terjaga karena dihantui oleh masa lalu yang mulai kehilangan kilaunya.

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!